Translate

Telusuri via Blog Ini

Memuat...

Selasa, 27 April 2010

Pemeriksaan HSG

Pada pasangan yang infertil (tidak subur), sering dilakukan pemeriksaan yang dinamakan HSG (Histerosalpingografi). HSG dilakukan guna mendeteksi kondisi rahim dan saluran indung telur. Pemeriksaan  HSG dilakukan  dengan memasukan  cateter kecil ukuran 8 mm (foley cateter no.8)  dengan memasangnya  kedalam  mulut  rahim(cerviks)  dan  memfiksasinya dengan balon udara pada ujung cateter  agar tidak lepas ketika  di masukan  cairan kontras yang mengandung Yodium - yang terlihat berwarna putih(opak) jika di sinar X/Rontgen, dan mempergunakan sinar X untuk  diagnostik. Gambaran kontras  akan "mencetak" bentuk rahim dan saluran indung telur (tuba) dan keadaan  sekitar  rahim/ adnexa.  Sehingga dokter dapat mengetahui dan menentukan ada tidaknya kelainan di  rahim  atau sumbatan pada saluran   kandung telur  atau jaringan sekitar  rahim dan saluran kandung telur (tuba falopii kanan dan kiri).

Indikasi HSG  yang lain  bisa dideteksi yaitu:  Mioma uteri, Polip rahim, Adesi (perlengketan) atau jaringan ikat,  Endometriosis 

Pemeriksaan HSG paling banyak dilakukan pada wanita  dengan indikasi  atau alasan masalah kesuburan atau terlambat  mendapatkan keturunan setelah  menikah sekian lama, atau karena ada keluhan kandungan. Setiap wanita  ingin  mendapatkan keturunan  dan mencari pengobatan untuk bisa hamil , sebaiknya menjalani pemeriksaan ini, untuk mengetahui  apakah  ada gangguan kesuburan  bersifat organik/struktur anatomi atau  bukan  dari  rahim atau dan tuba. keuntungan  lain pemeriksaan HSG  dapat juga menjadi  terapi dan meningkatkan angka kehamilan pada sejumlah wanita, karena kontras  yodium  pada pemeriksaan HSG dapat  bersifat sebagai pelumas- membantu membersihkan dan membuka sumbatan tuba yang ringan, merangsang   mukosa /lendir saluran kandungan.

Prosedur HSG dilakukan di Bagian Radiologi. dilakukan  dengan persiapan dan penjadwalan  atau perjanjian antara Bagian Radiologi  dengan Pasien. Kemudian  setelah   mengajukan surat permintaan  dari dokter Obsgyn ke bagian  radiologi, pasien mendapatkan  keterangan prosedur  pemeriksaan dari   petugas/ dokter radiologi berupa   informed  consent secara  lisan   dan   jadwal  pemeriksaan, serta hal persiapan  diri ,  bahan dan alat. Pemeriksaan   biasanya  di lakukan   menjelang  3-4 hari sebelum  puncak   masa  subur (perkiraaan ovulasi) atau pada  hari ke 9-11 dari awal siklus  menstruasi  -yang normal (siklus rata-rata 28-30 hari). Pemeriksaan  dilakukan  oleh  dokter Spesialis radiologi dan radiografer.


Pada  Waktu  pemeriksaan - pasien datang  sesuai jadwalnya, petugas  atau dokter akan  memberi    penjelasan kembali (informed  consent) dan menilai  kesiapan pasien,  baik secara fisik dan mental dan kemudian  dibuat surat  persetujuan  tindakan yang  ditandatangi  oleh  pasien sendiri atau suami/keluarga terdekat dan petugas/dokter. Selanjutnya, Pasien dipersilakan masuk ke ruang   pemeriksaan radiologi dengan memakai baju khusus pasien, alat dan bahan  untuk  pemeriksaan  sudah lengkap dipersiapkan pada tempat  pemeriksaan.
Prosedur selanjutnya  adalah sebagai berikut:
  • Pasien berbaring dalam posisi litotomi (sama seperti prosedur pap smear) posisi  harus rileks/ tidak  boleh  kaku/tegang, sebaiknya   pasien  dalam keadaan senyaman mungkin, dengan   berdoa sebelumnya. Demikian  juga Dokter atau petugas harus bersikap rileks juga dan berkomunikasi dengan pasien  agar tahapan pemeriksaan  berlangsung baik  dan pasien dapat  menjadi nyaman, tenang.
  • Dilakukan  vulva-vaginal higiene dengan  betadine, sebaiknya pasien sudah mencukur rambut di daerah  vulva
  • Spekulum diberi pelicin /jelly agar mudah   dan tidak sakit dimasukan kedalam  vagina, spekulum dibuka sampai  terlihat portio/mulut leher rahim. Periksa permukaan dinding vagina, portio - secara inspekulo,  bentuk celah, posisi,  apakah adanya  erosi, pus/ kelainan.
  • Kemudian   permukaan  portio dibersihkan dengan  betadin sampai permukan orifisium/celah  bersih atau terlihat  jelas
  • Kemudian   diukur posisi /kedalaman  uterus/rahim  dengan  sonde
  • Kateter foley no  8 di  jepit dengan  tang panjang dimasukan  kearah  celah portio  sampai   bagian  balon cateter   masuk  kedalam  mulut  rahim
  • Kateter  kemudian  di fiksasi  dengan mengembangkan  balon dengan udara sebanyak  3 cc dengan spuit 5 cc, ketika  itu dapat timbul  rasa   mules- bila  pasien tegang atau mulut rahim  kaku. setelah terfiksasi   maindrain  cateter   di lepas keluar cateter.
  • Zat kontras lalu dimasukkan perlahan dengan spuit 10 cc ke dalam rahim lewat kateter sebanyak 3 cc, kemudian  di foto, lalu di tambah lagi  sampai jumlahnya  5cc kemudian di foto lagi.
  • Bila kontras  mengisi  ke dalam tuba dan tumpah ke dalam rongga perut (spill) dan visuaslisasi   rahim dan  tuba  sudah dianggap  cukup, maka kontras  tidak di tambah lagi. tetapi   bila  kontras  tidak lancar dan  tidak tampak spill, kontras  di tambahkan  maksimal sampai 10cc, dan sebagai terapi bila ada obstruksi parsial
  • Biasanya   ketika  spill  pasien  merasa  sakit  mules -seperti -menstruasi, tapi  hanya sebentar saat awalnya saja, kemudian menghilang, kadang-kadang  bisa agak lama, dengan  bantuan obat anti nyeri /mules dapat mengurangi keluhan. bila  tidak tampak spill  bisanya   pasien  tidak mengeluh nyeri atau bisa hanya  mules saja.
  • Setelah dianggap  cukup/selesai pasien diminta  buang air kecil di  kamar  kecil(WC), kemudian   di foto kembali untuk  melihat  kontras  yang tersisa
  • Bila lancar dari pemasangan   spekulum(cocor bebek), pemasangan cateter sampai  injeksi kontras dan foto, memerlukan waktu pemeriksaan,  paling cepat 10 menit  dan bila ada  sumbatan/ tidak  lancar paling lama 30 menit.
  • Hasilnya   dapat  diberitahukan ke pasien, agar  pasien  menjadi lebih nyaman dan memberi energi positif  setelah  pemeriksaan. 
  • Dokter   radiologi  membuat  hasil pemeriksaan  dalam  bentuk ekspertise kepada dokter  pengirim.
Kesulitan   Pemeriksaan  HSG  dapat  timbul  biasanya : 
  • Pasien   sebelumnya sudah takut, tegang, dan kurang kooperatif  sehingga   pemasangan   alat spikulum sulit dan berarti cateter  tidak dapat di pasang dan difiksasi ke mulut  rahim
  • Pasien  memiliki   kelainan posisi atau bentuk  mulut  rahim atau hymen atau vagina yang rigid karena ketakutan/tegang
  • Komunikasi atau   informed consent  Pasien dan dokter sebelum  pemeriksaan kurang baik 
Untuk  mengatasi hal tersebut dan memudahkan pemeriksaan dapat diberikan kepada  pasien sebelum  pemeriksaan  konsuling/hipnoterapi agar  pasien tenang dan merasa  nyaman,siap secara mental, tetapi  bila  pasien masih  takut  atau tegang atau sakit  dapat  diberikan sebelumnya  atau  sesudahnya  obat premedikasi/ penenang/penghilang  sakit oleh dokter.

Sebagaimana tindakan diagnostik lain, pasien  mengeluh setelah pemeriksaan adanya komplikasi/efek samping yang timbul. Tetapi sangat jarang sekali (hanya 1%) seperti: spotting(bercak darah), nyeri-mules, infeksi rahim, reaksi alergi  kontras, sampai pingsan karena refleks vagal (syncope). 


Pengalaman  penulis, keluhan efek  samping  sangat jarang sekali. kebanyakan  pasien  sebelumnya di"hantui  rasa  takut"  karena  sebelumnya membaca hal-hal  yang " kurang menyenangkan sekitar  pemeriksaan HSG" atau juga  bisa terjadi   karena  teknik  pemeriksaan  HSG  masih  menggunakan  "cara  lama dengan  penjepitan  portio  dengan tenaculum".  Mudah-mudahan   tulisan dapat  memberi informasi dan membantu pemahaman    ibu-ibu   yang  disarankan  untuk pemeriksaan  HSG oleh dokter Kandungannya.  

Hasil HSG.
Injeksi kontras  pertama  sebanyak  3 cc- belum  tampak  tumpah ke luar rongga pinggul melalui  tuba fallopi (Spill)

Injeksi kontras   kedua   - 5cc- tampak Spill , pada tuba fallopi  kiri  yang posisinya  lebih rendah  dari bagian  kanan

Injeksi  kontras  - 5 cc, Tidak tampak Spill pada  tuba fallopi  kanan; tampak  tuba  bagian kanan bagian  ampula  melebar dan menggumpal

Setelah  Buang  air kemih(Post Voiding)-kontras  sebagian menyebar  kedalam  rongga pinggul dan sebagian masih tampak  kontras  masih  tertahan  dalam    tuba  fallopi  kanan

Hasil normal berupa tidak adanya sumbatan pada kedua tuba (tuba paten) serta bentuk dan ukuran rahim yang normal. Hasil tidak normal yang mungkin ditemukan adalah sumbatan pada tuba (non-paten tuba), adanya adesi pada dinding rahim (ada bagian yang saling berlengketan) serta bentuk rahim yang tidak seperti biasanya. Jika hasil HSG normal- berarti tidak ada kelainan organik, maka diperlukan pemeriksaan lanjutan lainnya guna mencari penyebab ketidaksuburannya, sedangkan jika hasilnya tidak normal maka dibutuhkan tindakan medis guna mengatasi kelainan yang ada seperti jika terjadi sumbatan tuba perlu dilakukan tindakan peniupan tuba (hidrotubasi atau pertubasi).


Pada  kasus  gambaran  HSG  diatas  dapat disimpulkan: 
Tuba   fallopi  kiri  paten , bagian kanan  tersumbat/non paten pada   distal tuba(ampula) 

Baca  juga  pengalaman  pasien  penulis:
http://catatandee.blogspot.com/2009/07/pemeriksaan-hsg-di-rs-syarif.html
by Admin



Tidak ada komentar: