Translate

Telusuri via Blog Ini

Minggu, 29 November 2020

"Cara Allah Menegur Manusia" dengan COVID 19


corona virus disease 2019

Virus adalah agen infeksi berukuran kecil yang bereproduksi di dalam sel inang yang hidup. Ketika terinfeksi, sel inang dipaksa untuk menghasilkan ribuan salinan identik virus asli dengan cepat. Virus sendiri tidak memiliki sel; pembentukan virus-virus baru berlangsung dalam sel inang yang terinfeksi.

Penyakit virus corona (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru-baru ini ditemukan.  Sebagian besar orang yang tertular COVID-19 akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa penanganan khusus.

Virus yang menyebabkan COVID-19 terutama ditransmisikan melalui droplet (percikan air liur) yang dihasilkan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau mengembuskan nafas. Droplet ini terlalu berat dan tidak bisa bertahan di udara, sehingga dengan cepat jatuh dan menempel pada lantai atau permukaan lainnya.

Kita dapat tertular saat menghirup udara yang mengandung virus jika kita berada terlalu dekat dengan orang yang sudah terinfeksi COVID-19. kita juga dapat tertular jika menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut kita. 

Kasus  COVID  19 terjadi secara cepat keseluruh dunia dan  Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan tanggal 12 Maret 2020 sebagai status Pandemi COVID 19. sejak ditemukan pertama kali di Wuhan Cina pada  pertengahan Desember 2019  sampai sekarang , telah tercatat kasus penderita COVID 19 sebanyak 62,3 juta  orang ,  sembuh  39,8 juta orang, meninggal 1,45 juta orang. di Indonesia pertanggal 29 November 2020. tercatat sebanyak sebagai penderita 534,266 orang  , sembuh  445,793 orang, meninggal 16.815 orang



Kasus baru per tanggal  28 November 2020  di Indonesia

Hampir   satu  tahun virus  corona  19 berulang tahun, seluruh negara di  dunia masih dalam ancaman dan serangan COVID 19, serta  masih menerapkan  protokol kesehatan sesuai rekomendasi WHO, untuk melawan COVID 19 dan mulai di cobakan vaksinasi virus dengan obat vaksin khusus covid 19 secara massal ke seluruh dunia - terutama pada tahun 2021. 

Akibat  COVID  19 telah berdampak ke seluruh aspek kehidupan manusia, baik langsung dan tidak langsung. Penerapan  jaga jarak   secara sosial, fisik, karantina virus  merubah kebiasaan semua manusia dalam berinteraksi  termasuk dalam kegiatan ekonomi, sosial, sekolah, seni budaya, kegiatan ibadah, politik  dan keamanan.  Pola  baru diterapkan sebagai budaya atau kebiasaan baru ; "era  new normal",  untuk mengatasi dampak  terhadap ekonomi dan bangkit dari resesi ekonomi karena mandeknya kegiatan  ekonomi akibat dari pembatasan atau karantina wilayah bagi pelaku ekonomi. 

Bagaimana  seluruh elemen masyarakat, pemerintah, tenaga medis-kesehatan, relawan ,  polisi, tentara bekerja untuk  mencegah  agar penyakit   virus ini dapat diatasi dan tidak menyebar -menginfeksi orang orang yang  rentan atau dengan kondisi memiliki penyakit lain yang dapat melemahkan imunnya atau disebut orang dengan komorbid. Bahkan dari mereka  mereka  telah menjadi korban "ganasnya"  virus corona  terutama tenaga medis-dokter, paramedis-perawat, aparat keamanan. 

Dalam perjuangan melawan COVID 19  selama hampir 1 tahun ini, terutama bagi  mereka di garis terdepan -yang merawat pasien Covid 19 di ICU, rawat inap  isolasi -seperti  dokter dan perawat, petugas  kesehatan, staf rumah sakit, sopir ambulan, cleaning service, aparat keamanan -serta Tim Satgas COVID 19. sudah menjadi  resiko yang harus dihadapi setiap harinya. Namun  
masih  ada orang orang yang tidak menyadari dan  membuat hoaks tentang  COVID 19 sebagai hal yang "sepele" dan  bahkan "COVID 19 " itu tidak ada -hanya konspirasi cina,  mafia obat virus, dan lain lain.

Berbagai regulasi dibuat oleh pemerintah pemerintah  / negara negara  di dunia dan  WHO. Regulasi berdasarkan zona    bebas, hijau, kuning, merah dan hitam; ada karantina wilayah dengan menerapkan PSBB(pembatasan sosial berskala besar) bahkan lockdown terutama  pada zone merah dan hitam.  Perang melawan COVID 19 memerlukan komitmen bersama dan  kerjasama dari seluruh komponen masyarakat, bangsa dan negara, tanpa itu maka kita tidak dapat menang melawan COVID  19. dampaknya adalah kehancuran ekonomi, ketepurukan sosial, keamanan dan politik-hukum. 

Kerawanan akibat pelanggaran protokol kesehatan seperti  Kerumunan  massal, tidak menjaga  jarak, tidak memakai masker, tidak mencuci tangan  dapat meningkatkan  kembali penyebaran  virus dan infeksi berulang dan sangat  tinggi resiko kematiannya terhadap orang dengan penyakit  komorbid (seperti, kencing manis, jantung koroner, hipertensi, penyakit imun ). Mereka yang  tanpa komorbid dapat tertular COVID 19 - tanpa gejala ataupun gejala yang  ringan, tetapi dapat menularkan ke orang normal yang belum tertular. Rangkaian penularan ini yang harus terus di putus dengan "gerakan 3 M" yaitu Memakai Masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak + Menghindari Kerumunan. 

Ketidak patuhan atau tidak kepedulian terhadap protokol kesehatan pada kejadian penjemputan massa di bandara , acara pernikahan, pertunjukan musik, olah raga, tempat ibadah, peringatan ulang  tahun, dan lain lain. perlu  dicegah dan diberi sangsi yang tegas. karena  melukai hati mereka yang telah berjuang melawan covid 19 dan memberatkan pemerintah dalam "Pemulihan ekonomi nasional".

Pemerintah mendapat tanggung jawab untuk merawat dan menyembuhkan pasien covid 19 secara gratis; biaya setiap pasien covid 19 rata rata  lebih kurang  80 juta rupiah, bahkan pada kasus berat bisa ratusan juga(400jutaan rupiah). Pemerintah  menanggung  biaya rumah sakit covid 19, sehingga  peningkatan kasus  baru dapat menambah  alokasi dana untuk covid 19 dan mengurangi dana untuk pemulihan ekonomi nasional - memperlambat mengatasi pengangguran  akibat PHK atau tenaga kerja baru yang mencari perkerjaan. 

Pandemi PENYAKIT VIRUS CORONA adalah fenomena  alamiah  atau  sunnahtullah yang berlaku terhadap seluruh manusia,  tanpa kecuali apapun   statusnya -mulai  rakyat kecil-miskin  sampai bangsawan-elite- kaya,  bukan ulama  sampai ulama, bukan pemimpin sampai pemimpin, bahkan status  negara belum maju sampai adidaya-sangat maju. 

Inilah  CARA  ALLAH  SWT  menegur  kesombongan kita -manusia, dengan  makluk mikrokosmos, virus corona, bahkan kita merasakan "kesombongan virus corona 19".  Mudah mudahan kita "menyadari dengan sungguh sungguh" untuk merubah kebiasaan hidup kita lebih baik lagi dengan "alam-lingkungan",  beradaptasi pada kebudayaan baru dunia " new normal  dengan 3 M"


wallahu'alam

protokol kesehatan  di Mesjid/Rumah  Ibadah


Selasa, 24 November 2020

"Beragama" itu Sederhana, Mudah !!.


perilaku baik adalah perilaku orang beragama
"sederhana, mudah dan  bahagia" 

"beragama" membuat diri tercerahkan dan bahagia, juga orang lain, lingkungan ikut tercerahkan dan bahagia. beragama itu sederhana.


Berbagai perilaku orang orang yang mengaku beragama, belakang ini menjadi berita yang viral, heboh. bagaimana rupa "terkesan" orang yang 'tidak mengikuti aturan' , mau enak sendiri, merasa benar sendiri, mudah emosi dan marah, bicaranya kasar dan keras, suka mengancam dan perkusi orang lain, suka dengan kekerasan atas nama tuhan, dan lain lain. "kesan" wajah agama dan orang beragama dengan profil yang seram, angker, menakutkan bagi orang lain atau penganut agama lain. 


Bagaimana pemimpin atau ketua dan pengikut pengajian memahami agama ? bagaimana mempraktekan ajaran dan tauladan beragama dalam hubungan antara sesama manusia(mu'amalah) dan terhadap Tuhannya(ubudiyah) ? 

Realita saat ini menjadikan agama seperti sulit dipraktekkan atau menjadi momok dalam bermasyarakat sehingga mengesankan agama hanya dokrin yang membelenggu, tidak mencerahkan, memaksa dan menghukum pelakunya; akibat lain agama hanya sebagai simbol atau identitas sosial atau bagian kelompok. Agama menjadi wilayah yang sempit, eksklusif, sebagai otoritas ketuhanan. Hanya orang orang tertentu yang beragama mendapat otoritas keagamaan sebagai orang suci, orang yang dekat dengan tuhan. orang lain harus mengikuti jenjang ke-agamaan bila mendapat "status/makam" otoritas keagamaan tertinggi. Bagaimana orang harus belajar, berguru, membaca kitab kitab agama, bersekolah agama dari madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah, S1,S2,S3 ? Bagaimana orang belajar kitab suci dan kitab kitab tafsirnya serta fatwa fatwa ulama ?. Apakah jalan mencapai status taqwa atau otoritas keagamaan harus seperti itu ? Apakah orang yang menempuh jalur akademik saja bisa mencapai status keagamaan tertinggi sebagai orang yang dekat tuhan ? dan pertanyaan pertanyaan lain yang pada hakekatnya adalah betapa "panjang" untuk "beragama". 


Jalan panjang mencapai agama yang dipahami dan dipraktekkan serta realita jaman - sering menimbulkan benturan atau konflik baik berasal dari diri sendiri , maupun didapat dari contoh perilaku tokoh agama atau pemimpin agama atau kelompok kelompok dalam agama. Ruang publik yang terbuka , menjadi tontonan umat, ketika perilaku orang mengataskan agama merusak kerukunan bermasyarakat atau berpolitik dengan menggunakan agama sebagai alat politik identitas. Nilai beragama pada perilaku beragama tidak ada atau tidak sesuai prakteknya, akibatnya umat atau pengikutnya tidak bisa menjadi teladan atau contoh buruk wajah agama. 


Esensi beragama adalah mencerahkan dan membahagiakan hidup dan kehidupan pelakunya; dampaknya bagian orang lain dan lingkungannya juga sama sehingga terwujud suasana -kondisi hidup dan kehidupan penuh kasih sayang, ramah, tentram, damai, sentosa/sejahtera. Wujud itu hanya berasal dari kesadaran diri masing masing pelaku beragama, bukan dari luar kesadaran atau bahasa lain wujud itu automatis timbul mulai dari "alam bawah sadar dan alam sadar" setiap orang beragama yang "baik".


Agama memang dapat sebagai alat, perangkat, metode dalam mencapai tujuan kehidupan yang ideal atau diimpikan tetapi memerlukan tehnologi, cara menggunakannya atau standar operasional prosedur(SOP) baik untuk diri sendiri atau bermasyarakat, berbangsa-bernegara; dari kerangka yang sederhana sampai yang kompleks.


Pada konteks individu, beragama artinya bernilai pada kemampuan mengendalikan diri dan berbuat kebaikan kepada orang lain, berkinerja melayani, membantu, bertanggung jawab pada tugas pokok serta fungsinya(tupoksi), demikian dalam keluarga, bermasyarakat,berbangsa bernegara- patuh terhadap norma masyarakat, peraturan pemerintah dan undang undang negara.


Sederhananya nilai agama mengikat segala perbuatan -kebaikan muamalah dengan nilai ketuhanan (ubudiyah) pelaku orang beragama, yang memberi nilai ketulusan, kepasrahan, kejujuran, ikhlasan, nilai balasan berupa kebaikan yang bertambah(Barokah) dan Pengetahuan -Ilmu yang luas (al-Hikmah) dari Allah subhana wa 'ala.


Itulah beragama, Agama itu mudah, mencerahkan, membahagiakan.

Jumat, 06 November 2020

Syukur atas Nikmat Allah.

 Syukur Nikmat:

Ketika Sakit:

  • Sakit mata ketika bisa melihat
  • Sakit gigi ketika bisa menggigit
  • Sakit muntah dan mual ketika bisa makan dan minum
  • Sakit perut kembung ketika buang angin dan sendawa
  • Sakit tidak bisa BAB ketika bisa
  • Sakit BAB mencret -diare ketika normal
  • Sakit tidak bisa BAK ketika bisa
  • Sakit kencing batu ketika keluar batu
  • Sakit batu kandung empedu ketika hilang
  • Sakit sesak nafas ketika bisa nafas lega
  • Sakit kehilangan keseimbangan badan dan Vertigo ketika bisa berjalan biasa dan bergerak
  • Sakit anggota gerak badan ketika bisa membawa barang atau bergerak luwes
  • Sakit tidak bisa tidur ketika bisa tidur
  • Sakit tidur terus ketika bisa bangun dan beraktifitas
  • Sakit tidak bisa berbicara ketika bisa bicara
  • Sakit banyak bicara ketika bisa sedikit bicara
  • Sakit hati dan sedih ketika bisa tertawa dan bahagia
  • Sakit dari kematian ketika bisa diberi kehidupan(kesembuhan);

    • Sakit tumor ganas ketika sembuh
    • Sakit terinfeksi COVID 19 ketika  sembuh
    • Sakit Koma  ketika sembuh
    • Sakit Perdarahan berat ketika sembuh
    • Sakit Syok berat ketika  sembuh
    • Sakit  Dehidrasi berat ketika sembuh
    • Sakit Sepsis berat ketika sembuh
    • Sakit depresi berat ketika sembuh
  • dst.nya.

Apakah masih kita mendustakan nikmat Allah dg tanpa mensyukurinya ?


Ketika  Sehat :

  • Mata dan indra ketika bisa melihat,merasakan,mengesankan keindahan objek alam, orang, objek hidup, fenomena, buku offline dan online  ilmu-pengetahuan - hasil tehnologi.
  • Mulut dan Gigi ketika bisa makan dan minum  -hal yang lezat dan tidak lezat  masuk kedalam pencernaan tubuh atau hal berupa obat yang dimakan dan minum.
  • Hidung ketika dapat mencium bau harum dan busuk, dapat menghisap udara segar dengan lega.
  • Telinga  ketika dapat mendengar suara yang keras dan lemah, suara yang indah dan fals, suara yang berbeda frekuensi dan temponya
  • Organ (liver, pankreas, kandung empedu,limpa)  dan Saluran pencernaan tubuh(esofagus, gaster,duodenum, small bowel, colon- rektum ketika  mencerna makanan dan minuman , obat , menyerap dan membuang  hasil metabolisme dari dan ke seluruh organ tubuh yang lain dengan baik.
  • Organ Ginjal dan Saluran kemih(ureter, kandung kemih) ketika mengalirkan, menyaring(filter), membuang dan menyerap kembali hasil metabolisme tubuh dalam bentuk cairan yang kotor dan bersih, mengatur keseimbangan cairan tubuh, tekanan darah.
  • Organ Jantung dan pembuluh darah(arteri,vena, lymph) ketika memompa, mengatur -distribusi input-output hasil metabolisme dari dan ke dalam sel sel tubuh dan ruang ruang antara sel  ke seluruh organ tubuh, mulai dari otak sampai ujung kaki, dari permukaan kulit-rambut  sampai  organ organ dalam tubuh; menjaga dalam keadaan keseimbangan hemostasis
  • Otak besar, otak kecil, batang otak ketika  memproses  semua aktifitas organ tubuh yang disadari dan tanpa disadari(volunter-involunter) dan  meng-kontrol -kendali, rencana, dan  action dari input-out data  data yang diterima dari dalam otak(memory idea, pikiran, perasaan, emosi, spiritual) dan luar otak(persepsi  dari interaksi dengan lingkungan).
  • Tubuh dan anggota tubuh  ketika  dapat  bergerak, berjalan, berlari, melompat secara maksimal; memegang, mencekram, menggantung, mengepal, meninju dengan kuat.
Apakah masih kita mendustakan nikmat Allah dg tanpa mensyukurinya ?

  • Tubuh yang sehat:
  • ketika bisa berpikir, mengingat, menghapal, belajar-membaca-melihat-mendengar-merasakan dan  menyimpulkan sesuatu dengan baik dan bijak
  • ketika   dapat  berbagi  kebaikan   dalam bentuk  mengajar -ilmu, mengajar keterampilan, berbagi sedekah, infak, berbagi pikiran dan tenaga  dengan baik
  • ketika dapat bekerja  melayani orang lain dengan profesional 
  • ketika dapat mengikuti perkembangan dan meningkatkan kemampuan profesional 
  • ketika  dapat mengevaluasi diri dan merencanakan dan melaksanakan pekerjaan profesi
  • ketika  dapat  bersosialisasi  dan berkiprah baik dengan  keluarga, tetangga, masyarakat
  • ketika  dapat  menyumbangkan sesuatu kebaikan kepada bangsa dan negara 
  • Ketika miskin  tapi sehat
  • ketika kaya  tapi sakit
Apakah masih kita mendustakan nikmat Allah dg tanpa mensyukurinya ?

 

Minggu, 01 November 2020

"Hack otak " / otak-atik 'OTAK'




"Hack Otak "-  Apa  itu   dan bagaimana ? caranya memprogram "bahasa otak" dengan merubah kalimat afirmasi dari negatif menjadi positif; dari pesimis, sulit, sial, males, pemarah, jahil, dengki, sedih, mental blok, putus asa, sulit belajar, galau, dll. menjadi bahasa yang positif, seperti saya kuat, move on, optimis, sedang belajar maju atau ujian naik kelas, semua masalah ada jalan solusinya, saya selalu bersyukur, saya senang orang lain sukses dan saya yang berikutnya sukses, dstnya.



NLP (neuro linguistic programming) sesuatu metode yang  digunakan untuk  merubah mindset otak yang negatif -yang menyebabkan " "konflik" dalam otak, menjadi positif -menghilangkan konflik/ gangguan sikap- perilaku akibat mindset otak yg salah akibat trauma fisik-psikis masalah lalu atau terus menerus berlangsung yang berhubungan dengan keluarga, masyarakat, lingkungan alam, pendidikan/sekolah; yang kemudian dihubungkan dengan masa depan, yang menimbulkan " kekuatiran hambatan (blok), ketidak berdayaan, perang atau kalah, dll." Aki batnya "pintu rizki, pintu bahagia" seperti tertutup. Berpikir positif dan berusaha berbuat baik, berdoa dengan bahasa bersyukur dapat " memperbaiki atau merubah mindset otak yang salah menjadi benar". Orang lain tidak dapat merubah seseorang jadi baik tetapi hanya orang tersebut yang bisa merubahnya (meng-hack otaknya sendiri). Tepat sekali apa yang dikatakan" musuh yang besar adalah melawan nafsu-kehendak dari dirimu sendiri". 

Melawan artinya ada konflik yg harus dihilangkan. 

Bahagia artinya tidak ada konflik antara harapan dan kenyataan yg menimbulkan rasa syukur. 

(Catatan : hikmah rizki,syukur)