Translate

Telusuri via Blog Ini

Rabu, 25 November 2015

Hari Guru 25 November 2015



Selamat Hari Guru , 

Kembali ke " Ruh Guru " ideal /sejatinya dari bias "realitas hidup" sebagai tuntutan materi yang menjadikan guru tidak ideal; guru sekarang ini seperti menghadapi atau situasi yang berlawanan sebagai tuntutan; seperti pergulatan antara kompetensi vs kesejahteraan, sistem pendidikan vs kebijakan negara/pemerintah, tujuan vs hasil..dstnya ..hal ini seperti rentang panjang ... dalam persimpangan...yang "rancu"... belum ada suatu "titik sama" melangkah... yang sinkron-harmoni ...sebagai "harapan bersama dan berderajat tinggi/sebagi marwah guru.." Hal ini pun terjadi pada pendidikan dokter dan tenaga kesehatan...yang "semraut-paut" ..kehilangan "ruh nya" ...pendidikan ..."manusia indonesia"..menjadi apa saja seperti menjadi "parsial" tidak "total/utuh"...................sangat menyedihkan/memperihatinkan 
Semoga pola pikir guru/dosen selalu diberikan penyadaran kepada hakekat - ruh, tujuan pendidikan dan akhir dari ..tugas -kewajibannya mendidik murid / mahasiswa sebagai pengabdiannya kepada masyarakat, pengemban amanah Allah SWT... mensejahterakan dan memakmurkan dunia melalui ilmu dan tehnologi yang "baik/haq" bukan yang "bathil"/ menyesatkan.
Terima kasih ....Guru guruku dan murid/mahasiswaku.... tanpa MU ...tidak ada  ilmu yang diamalkan , bermanfat dan mensejahterakan...

Rabu, 14 Oktober 2015

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH 1 MUHARAM 1937H



Tahun Rohani, tahun spiritual di mulai dari tahun Hijriah.... tapak tilas keimanan dan perjuangan dalam menuju dan menjalankan amanah Allah sebagai hamba Allah , sebagai khalifah fil ardh dalam mencapai alama semesta yang rahmatan alamin, baldatun wa robbun ghoffur. Hijrah bermakna pembaruan, pencerahan, perubahan lebih baik....dari sikap yang jumud, status quo, jahiliyah...menjadi "move on to Allah" yang di abadikan sebagai waktu dalam hitungan bulan qomariyah- sebagai " tahun Hijriah " ; Tahun Hijriah adalah tahun umat islam dimulai hijrah umat islam dari Mekkah ke Medinah-atas printah Allah melalui wahyuNya  kepada Rasulullah -Nabi Muhammad SAW; Tonggak sejarah ini oleh Umar bin khattab -khulafaurrasyidin ke 2 ditetapkan sebagai awal tahun hijriah.

Jumat, 25 September 2015

SELAMAT IEDUL ADHA 1436 Hijiriah/2015






Idul Adha (di Republik Indonesia, Hari Raya Haji, bahasa Arab: عيد الأضحى) adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim (Abraham), yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, akan mengorbankan putranya Ismail, kemudian digantikan oleh-Nya dengan domba.
Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Ied bersama-sama di tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.
Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam.
Pusat perayaan Idul Adha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Mekkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik Haji.
Hari Idul Adha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim. Terkadang Idul Adha disebut pula sebagai Idul Qurban atau Lebaran Haji.

Makna Iedul Adha adalah hakekat nilai keimanan/keyakinan seorang terhadap Maha Penciptanya tentang nilai nilai hidup, cinta, kepemilikan, godaan, keraguan, ujian , hambatan, permusuhan , kegigihan dan kekuatan dalam kehidupan menjadi seorang muslim yang baik. Pengorbanan disimbolkan dengan kehidupan keluarga , kecintaan terhadap istri/suami dan khususnya anak - darah daging dan simbol kecintaan tersebut diwakili hewan ternak-peliharaan; domba/kambing, sapi/kerbau, kuda, onta. Simbol pengorbanan terhadap anak yang dicintai(nabi ismail), godaan,keraguan, ujian dan sikap gigih -teguh (nabi ibrahim) menghadapi syetan dan permusuhan terhadap syetan adalah setiap muslim diperintahkan berkorban dengan Hewan kurban yang baik, sebagai simbol juga kemenangan melawan syetan dan bukti kecintaan/keimanan terhadap Allah SWT. Daging korban dibagikan sebagai wujud amalan sholeh-kepedulihan bagi orang/masyarakat disekitarnya. Pengorbanan berarti sebagai evaluasi diri setiap muslim atas kecintaannya terhadap duniawi dan hakekat kecintaan terhadap manusia atau Allah. Maha Besar Allah .

Selasa, 18 Agustus 2015

MERDEKA ....AYO KERJA BANGSAKU


M a k n a 70 Tahun, Kemerdekaan Negaraku - Republik Indonesia,

Bukan saja berarti " merdeka secara fisik - bertanah air indonesia, tetapi merdeka secara intelektual, jiwa, spiritual dan atau kata lain dalam wujud merdeka dalam daya cipta atau ber-kebudayaan - ekonomi, sosial, politik, keamanan dan beragama..dll.." 

Bebas dari belenggu kemiskinan, korupsi, narkoba, "kebodohan/jahiliyah", ketidak-adilan hukum, mafia ekonomi-monopoli-nepotis... dan sekterian radikalisme, dll.

Perubahan peradaban dan dinamika internasional di era cyberspace; era transformasi - komunikasi informasi, ilmu dan tehnologi dan interaksi sosial manusia terkoneksi dan  terjadi transaksi atau akulturisasi secara cepat bahkan dalam hitungan kecepatan cahaya (300ribu km/detik)..yang dapat berakibat -sebab positif atau negatif....
Benturan -benturan atau  singgungan sosial, budaya, politik, keamanan dapat berdampak merenggangkan kesatuan dan persatuan negara dan bangsa indonesia; bahkan memecah dan meruntuhkan bangun besar "indonesia".

Pejuang generasi sekarang dan generasi "muda dan akan datang" harus " peduli kepada perjuangan menjaga dan merawat serta menegakan dan membangun "persatuan dan kesatuan " bangsa dan negara-- lebih fokus dan prioritas - kepada pembangunan karakter manusia indonesia yang berkualitas- berintergritas kuat- sebagai patriot bangsa...membangun nasionalisme..melalui pendidikan sejarah..kebudayaan..etika, antropologi selain sain dan tehnologi...

S e m o g a ....



HIDUPLAH DAN JAYA LAH SERTA SEJAHTERA LAH INDONESIA RAYA KU

70 TAHUN BERLALU DAN SELAMANYA LAH INDONESIAKU

MERDEKA .!!!

Aamiin YRA/

Jumat, 24 Juli 2015

Makna Idul Fitri dan Silahturahim


"Kembali ke Fitrah"- kembali kepada kesucian ;  kembali ke jati diri sebagai orang beriman, orang islam, orang yang patuh dan tunduk kepada Maha Pencipta-nya kembali sebagai  orang yang menang  .. dan...sebagainya. Begitulah menggemanya ungkapan tersebut di ucapkan, dituliskan, disebarkan oleh ustadz, media informasi, media sosial dan oleh kita dalam silahturahim. Betapa mulianya  ungkapan - makna  dari kembali ke fitrah seusai kita melaksanakan Puasa  ramadhan dan merayakannya pada 1  Syawal.  Selepas  waktu yang terus berjalan.... seperti tertiup angin...bekas  jejak ungkapan-makna idul fitri pun seperti menghilang....bahkan  berselang  berapa hari setelah 1 Syawal. ..ungkapan terbaik- dalam wujud mudik lebaran- silahturahim antar keluarga, saudara, teman, yang lalu-  mulai meluntur atau mengalami erosi.  Hal ini terungkap dari  ucapan atau pernyataan, tulisan  di media sosial atau elektronik, media informasi tertulis yang menunjukan sikap -perilaku yang mencerminkan intoleransi, menyebarkan fitnah, menyulutkan permusuhan, kebencian bahkan adudomba untuk saling bermusuhan, berperang... 
Sangat disayangkan "tokoh atau orang menjadi contoh /panutan" ikut mengumbar "issue issue" yang mempengaruhi  umat /masyarakat dengan wajah yang "Marah" bukan menyejukan dan mendamaikan -merukunkan umat dalam setiap  timbul konflik atau masalah antar warga, masyarakat, agama(SARA). Sangat  disayangkan "buah ramadhan" tidak tampak terlihat -terwujud dalam tutur kata, tulisan sebagai orang yang damai, peduli sosial dan lingkungan, orang yang menjadi rahmatan alamin. 
Jelaslah Islam itu Damai dan Sejahtera; Sebab itu ramadhan, syawal, menjadi  moment  moment latihan -  menjadi orang yang  lembut hatinya,  jernih pikiranya, dan teduh-sejuk  emosinya...selain terjaga   setiap waktu oleh  moment sholat dan rukun rukun islam yang lain.  Sangat lah  berbeda  jika  sebaliknya ...hati yang keras, pikiran yang kotor, emosi yang panas-gelisah ...tidaklah mungkin mewujudkan  islam yang damai-sejahtera atau rahmatan alamin. oleh karena itu wujud  islam adalah  damai dan sejahtera - sesuai sebagai  agama yang fitrah; sesuai dengan fitrah  manusia yaitu sebagai Hambah Allah, Makhluk  Allah.

Makna Silahturahim adalah fitrah manusia  sebagai  makluk  sosial yang saling bergantung, saling membutuhkan dalam tali kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan/pertemanan atau satu umah ; umat manusia.  Sesungguhnya  silahturahim menghilangkan  permusuhan, perselisihan, konflik diantara manusia sehingga mengrekonstruksi menjadi persaudaraan, perdamaian, dan mewujudkan kebersamaan  dan kesejahteraan umat manusia.  

"Wajah umat islam " terwujud  dalam  tali silahturahim yang kuat  dalam kontruksi Islam yang Damai dan Sejahtera. Suatu Utopia  bila "terpecah" tali silaturahim. Rekontruksi-restrukturisasi sosial -budaya,ekonomi, politik, - terjadi  pada  saat  bulan puasa ramadhan dan bulan syawal-  menjadi momen "start" untuk  memperbaiki dan menjaga   serta  meningkatkan "jati diri" umat islam.
Profil  umat  islam "mudah terlihat" dari profilnya di media sosial/informasi; ungkapan sikap-perilaku, pikiran -emosi menjadi ukuran/parameter/faktor dari  wujud "wajah " orang yang  mengungkapkan "kematangan" sikap-prilakunya dalam ber-islam. Tentunya diharapkan - selepas  Idul fitri  1436 Hijriah ini,  profil ungkapan  di media sosial / informasi lebih baik, lebih hati hati, lebih  sejuk, damai dan  menguatkan tali silahturahim


Kamis, 16 Juli 2015

IDUL FITRI 1436 H

Allahu Akbar- Allahu Akbar - Allahu Akbar
Allahu  Akbar Kabiro, Walhamdulillahi Katsiro..
Wasubhanallohi Bukrotaw Wa'ashila...
Laa ilaha Illallohu Wala Na'budu Illa Iyyahu ..
Muhlishina Lahuddin, Walaw Karihal Kafirun..
Laa ilahaillahu Wahdah, Shodaqo Wa'dah..
Wanashoro 'abdah, Wa'a'aza Jundahu Wahazamal Ahzaba Wahdah..
Laa ilaha Illallohu Wallohu Akbar..
Allohu Akbar Walillahilhamd...
Maha  Besar  Allah ...segala puji  hanya  kepada -Nya


Sebulan  sudah kita  puasa ramadhan dan  tiba saatnya datang 1 Syawal -Hari  Idul Fitri 1436 H  kita rayakan...Hari  kembali Fitrah  -menapaki  kehidupan baru dengan jiwa yang bersih-suci  penuh optimisme, semangat, motivasi  fitri/ terbarukan dengan amal sholeh yang lebih baik dan mulia;  menapaki jejak  11 bulan ke depan menuju  bulan ramadhan 14037 dan seterusnya--seperti  peredaran Bumi dan Matahari, atau Bulan dan Bumi; tapak tilas  waktu berulang -ulang menuju   Taqwa..sebagai  Kemuliaan  manusia  hidup  di dunia dan juga menyiapkan kehidupan akhiratnya.

Beda fitrah  manusia  dengan  makhluk lain  adalah  manusia  mempunyai "kehendak bebas/free will" dan mengemban amanah sebagai khalifah fil ardhi, sedangkan persamaannya manusia tunduk dan patuh kepada  hukum alam-tunduk dengan waktu dan tempat/ruangan. Karena kehendak bebas manusia dipengaruhi oleh nafsu dan akalnya yang bisa merekayasa  kehidupan lingkungan sekitarnya atau alam yang bisa " merusak" kehidupan lain atau membangun kehidupan yang lebih"sesuai" atau layak dengan kehidupan yang damai-sejahtera. Makhluk  lain   beradaptasi dan tunduk -taat  dengan fitrahnya dan manusia sangat mempengaruhi kehidupan mereka; bahkan ancaman kepunahan terjadi karena intervensi manusia kepada  mereka. oleh karena itu manusia pun bertanggung jawab atas  kelestarian alam dan makhluk hidup lain. Kesadaran  tentang hal itu sering  dilupakan  manusia karena  hawa nafsunya atau  pikirannya yang merusak/negatif. Kesadaran akan kembali ke jati diri yang damai- penuh kasih sayang terhadap alam dan lingkungan kehidupannya itulah menjadi keharusan manusia kembali ke fitrahnya sebagai makhluk. 

Kembali ke Fitrah adalah kembali kepada nilai nilai kehidupan seperti  kehendak Allah  bukan kehendak bebas manusia, dengan cara pengendalikan hawa nafsu dan akal manusia sesuai syareat sehingga dapat melaksanakan fungsi -tugas sebagai khalifah fil ardhi menjadikan kehidupan Bumi dan Langit yang rahmatan alamin/badaltun thoyyibatun warobbun ghofur-  Kehidupan yang  penuh  Rahmat bagi alam,  penuh Kebaikan dan ampunan Allah 

Tapak  tilas   berulang puasa  ramadhan, dari dan ke  1  syawal - ibarat  seperti  tawaf  haji- 7 kali mengelilingi Ka'bah sebagai pusat kehidupan alam semesta atau  juga seperti peredaran bumi, matahari, galaksi adalah re-evaluasi -intropeksi-reinforcement-repowering kehidupan- recycle of  life  agar kita  selalu bisa  memperbaiki  diri dan memuliakan  kualitas kehidupan kita -bukan saja kuantitas amalan sholeh. Oleh karena  itu merindukan selalu datangnya  bulan puasa  ramadhan dan "menangiskan" berlalunya bulan ramadhan. 

Berharap dapat menemui kembali "seperti kekasih"- kembali datang kepadanya. Kekuatiran, kecemasan  dan kepasraan  bila tidak dapat bertemu lagi. Itulah dampak psikologis - makna dan hikmahnya kembali ke fitrah setelah  satu bulan  berpuasa ramadhan. berharap bertemu 11 bulan lagi dan kembali berpuasa di bulan Ramaddhan 

Semoga kita kembali dan kembali ke Fitrah..sampai  ajal-maut mengembalikan kita kepada sang Maha Pencipta-Allah SWT dalam keadaan  Taqwa.

Rabu, 08 Juli 2015

Berpuasa Ramadhan, Otak kanan dan kiri

Bagaimana kah .otak kanan dan otak kiri bekerja selama ber- Puasa ?

Proses mental-emosi, psikis-empati - simpati(kepedulian), romantis, kekhusukan, solidaritas sosial, toleransi,, kebersamaan..yang bersifat abstrak--kualitatif....adalah proses otak kanan.
sedangkan otak kiri ...mengukur , menghitung secara matematika, batasan, jumlah, lama, untung-rugi, kurang bagi, kelipatan....bersifat real/ fisik kuantitatif

Puasa Ramadhan secara syareat ....mengintergrasikan, mengendalikan kerja otak kanan dan kiri bekerja seimbang, harmonis,serasi...yang menjadikan orang kidal atau bukan merasakan "sensasi berbeda " dalam berpuasa.... nilai nilai spiritual dirasakan menonjol dalam ukuran kuantitas (pada orang kidal ) dan kualitas (pada orang non kidal) ; proses saling menyilang(cross check)

"kepekaan " yang meningkat secara sinergis ... menjadikan proses otak kanan dan kiri lebih meningkat seimbang dan optimal.... tetapi bila puasa dijalankan hanya secara kuantitas atau kualitas.... akan dirasakan puasa hanya sebagai menahan lapar dan haus dalam hitungan jam...hari( otak kiri mendominasi)... atau puasa dirasakan menahan marah, emosi, nafsu...(otak kanan mendominasi)

Oleh karena itu " beruntung dan berbahagialah " orang yang berpuasa ramadhan yang dapat menjalankan puasanya sesuai syareat - mendapatkan menginterigrasikan dan mengendalikan dan meningkatkan fungsi otak kanan dan kiri secara seimbang/sinergis- sebagai Nilai Taqwa
Subhanallah...

Minggu, 05 Juli 2015

AL QURAN SURAT KE 97

 AL-QADR/KEMULIAAN,  
Topik sentral  surat  ke 97, al Qadr yaitu terdapat pada pembukaannya - yang menyatakan bahwa malam diturunkannya Al-Qur’an itu merupakan malam yang  dimuliakan Allah SWT.  
Sedangkan  Tema  suratnya  adalah sebagai  berikut ;  Waktu wahyu terakhir diturunkan Allah pada saat yang dimuliakan. Kemuliaan ini karena ada sesuatu yang sangat penting yang terjadi. Suatu kejadian yang dapat meningkatkan NILAI waktu dan ruang / tempat  kejadian. Waktu kita - kalau diisi dengan amal baik, maka waktu bernilai positif, sebaliknya kalau kita isi dengan kebatilan, maka nilainya menjadi negatif. Begitu pula dengan tempat atau lingkungan. 

Sudut pandangan Al Quran dalam   surat  Al Qadr  berkaitan dengan nilai  yaitu nilai lingkungannya - yang ditentukan oleh suatu kejadian yang mengisinya. Tergantung dari macam kejadiannya , nilai lingkungan itu dapat bertambah atau berkurang, begitu pula UMUR MANUSIA. Panjang umur tidak menentukan banyaknya kebaikan seseorang ! , Dengan kata lain- Kuantitas dan Kualitas kebaikan di tentukan oleh  waktu  dan lingkungan -amal ibadah seseorang; bukan usia kronologis(fisik)(  tetapi usia kemuliaan (spiritual) 

(A bhagowi B)



Senin, 29 Juni 2015

Puasa Ramadhan:


HIKMAH:
Berbeda   dengan  puasa -puasa yang  lain ,  "Puasa RAMADHAN"adalah  suatu proses fisiologis, biologis, mental(fisik), spiritual/ bathiniah -yang berlandaskan ketentuan syareat.
Proses yang berawal  dan berakhir  selama  satu bulan - dalam bulan ramadhan; adalah suatu proses   yang bersifat memberi kekuatan, kesehatan, kemurahan, kepeduliaan atau empati- simpati atau kepekaan diri, kesabaran, ketaatan, keberkahan, kemaknaan dalam hidup dengan cara  re-evaluasi-rekonstruksi-restrukrisasi diri ; makna hidup dan menghidupkan sebagai makhluk (yang diciptakan) dalam mengabdi kepada Allah SWT( sebagai Maha Pencipta-nya)

Proses  tapak tilas kehidupan kita -  yang berputar,  dari ramadhan- ke ramadhan. seperti smartphone/komputer  yang perlu dirawat dan dipelihara fungsi dan manfaatnya dengan cara meng- upgrade, meng-default   agar tetap seperti keadaan  asal usulnya semula  yaitu kembali ke fitrah sebagai manusia;  sesuai tujuan Maha pencipta yang menciptakannya, yaitu  sebagai Hamba Allah- Khalifah fil ardhi..
Oleh karena itu, Puasa  ramadhan  menjadi  "bulan"  memuliakan manusia; bulan  hijrah yang menaikan derajat manusia sampai derajat TAQWA; dengan kata lain bulan Kemuliaan- dengan derajat seribu bulan.Suatu perumpamaan yang sangat tinggi   nilainya  dari pencapaian usaha manusia bila melaksanakan puasa sesuai syareat  dan  manfaatnya dalam kehidupan dunia dan akhirat;  Allah  jadikan hubungan  langit dan bumi menjadi erat dan  atau dunia  dan akhirat menjadi menyatu sebagai Makhluk dengan Khaliknya-  Allah SWT. 

Puasa Ramadhan  mengembalikan  eksistensi manusia  kepada asal -usul kejadianya - sesuai  Fitrahnya; "semua  nafsu  dan kehendak bebasnya(free will)"  sesuai syareat Allah. Suatu proses  dinamis  dalam skala waktu dan tempat kejadian dari segala amalan ibadah yang dituntun oleh Al Quran  dan Sunnah  Rasullah-yang dijadikan  sebagai sumber pikiran, tolak ukur, parameter , timbangan, rujukan , contoh,  dan lain sebagainya   dari permasalahan kehidupan manusia - baik dunia dan akhirat. Kehilangan  jati diri /eksistensi  manusia menciptakan kehidupan yang menyimpang, mengambang, terombang -ambing; ibarat  seperti busa   dilautan luas, hidup tanpa arah dan tujuan. salah satu cara Tuhan mendidik dan melatih, membentuk karakter manusia yang  tangguh dan kuat agar  mampu dalam  menjalankan dan melaksanakan   amanah Allah SWT-sebagai Khalifah fil  ardhi.

Puasa  Ramadhan, bulan penggemblengan mental, fisik,bathin, spiritual  selama  satu bulan melalui tahapan-tahapan proses syareat yang  telah dituntunkan.
Semoga kita dapat selalu menjalankan  tapak tilas-puasa ramadhan bersinambungan dengan  baik dan mendapat kemurahan, kemudahan, keberkahan, keredhoan Allah SWT, serta  Kebahagian hidup dunia -akhirat.  aamiin ya rabbil alamin.


Subhanallah, Allahu akbar.


Rabu, 21 Januari 2015

Kebebasan berpendapat "yang tidak bebas" versi peradaban vs biadab

Kebebasan  berpendapat "yang tidak bebas"  versi peradaban vs biadab

Dalih kebebasan berekspresi digunakan Barat - itulah statemen kebenaran yang selalu didengungkan pada " media peradaban mereka". Sementara  mereka mengungkapkan "syahwatnya" untuk memperolok-olok , menghina dan menistakan -orang lain atau  tokoh atau bangsa atau agama yang menjadi objek mereka, menjadi "korban" mereka, yang terakhir "serangan berulang" terhadap nabi-rosul  umat Islam -Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. yang menimbulkan  serangan "balasan(?)"  terhadap mereka secara fisik ; majalah satir Prancis Charlie Hebdo.
Masyarakat menanggapi peristiwa yang menimpa majalah satir Prancis Charlie Hebdo. Ada yang menggunakan kepala dingin dan ada yang sebaliknya. Majalah satir Prancis Charlie Hebdo yang menerbitkan karikatur penistaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam diserang oleh dua orang yang tidak terima nabinya dilecehkan. Akibatnya, sebanyak 12 orang tewas dalam serangan itu.
Namun aksi provokatif berupa penistaan Islam dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dilakukan berulang-ulang itu justru dibela oleh Pemerintah Prancis dan dibenarkan oleh Mahkamah Agung Prancis. Aksi-aksi itu jelas bisa memicu kemarahan pada diri seorang Muslim.
Hanya mengutuk pelaku serangan itu dan sebaliknya tidak mengutuk Charlie Hebdo jelas tidak adil. Sayang, itulah yang tampak lebih menonjol saat ini. Begitu pintarnya media Barat mengarahkan opini publik seakan-akan satu-satunya yang patut dikecam dan dilawan adalah orang-orang muslim yang melakukan pembelaan terhadap nabi mereka.

Standar Ganda Barat

Ini bukan berarti meremehkan serangan yang terjadi Rabu (7/1) lalu itu. Serangan itu jelas tidak bisa menyelesaikan masalah.
Serangan itu juga jelas berdampak negatif bagi orang-orang Eropa non-Muslim, bisa menjauhkan mereka dari usaha mengenal Islam. Serangan itu juga mendatangkan dampak negatif dan kesulitan tersendiri bagi generasi Muslim di Eropa.
Islamophobia pasca serangan itu terlihat meningkat di Eropa. Di Prancis dan beberapa negara Eropa lainnya, serangan dan pelecehan terhadap masjid dan fasilitas Islam lainnya dikabarkan meningkat. Beberapa masjid yang berada di Prancis menjadi sasaran penyerangan sejumlah kelompok. Mereka menghadapi gelombang kekerasan, termasuk pembakaran, penembakan dan penodaan kesucian masjidi.
Majalah Charlie Hebdo sendiri telah beberapa kali memuat gambar kartun yang melecehkan terkait Nabi Muhammad, baru-baru ini mengulangi hal yang sama. Tentunya, hal ini menimbulkan berbagai reaksi dari para umat Muslim di seluruh dunia.

Barat menganggap serangan ke kantor Charlie Hebdo itu sebagai serangan terhadap nilai-nilai dan sistem yang diyakini Barat.
Presiden Prancis Francois Hollande menegaskan dalam orasinya di depan kantor majalah tersebut bahwa serangan itu “menyentuh prinsip-prinsip dari Republik Perancis, yaitu kebebasan dan kebebasan berekspresi.” Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan, “Kami tidak akan mentoleransi para teroris itu menghancurkan atau menyerang nilai-nilai demokrasi kami dan kebebasan berbicara.”
Bahkan Perdana Menteri Prancis Manuel Valls mengatakan, “Demonstrasi ini harus menunjukkan kekuatan dan kehormatan orang Prancis yang akan menyerukan kecintaan mereka terhadap kebebasan dan toleransi.”
Klaim kebebasan berekspresi Barat nampaknya hanya klaim kosong. Di mana klaim kebebasan itu ketika mereka mempersulit bahkan melarang Muslimah mengenakan jilbab di ruang publik, hak mereka mendapat pendidikan dirampas, kecuali mereka menanggalkan jilbab. Bahkan memakai cadar dianggap bersalah secara hukum dan dijatuhi sanksi dengan membayar denda.
Dalih kebebasan berekspresi mereka gunakan sesuai dengan kepentingan mereka. Sementara menghina dan menistakan Islam dan Nabi Muhammad dibela dengan alasan kebebasan berekspresi. Sebaliknya, menyoal kejahatan dan pembantaian oleh Yahudi atas ribuan warga Palestina kerap dituding anti semit.
Dalam kasus Charlie Hebdo, ketika mayoritas negeri Islam memprotes dan menuntut Charlie Hebdo menanggalkan karikatur penistaan Nabi, mereka tidak menggubrisnya. Berbeda pada 2008 lalu ketika salah seorang kartunis Charlie Hebdo, membuat karikatur anak laki-laki Nicholas Sarkozy yang menikahi ahli waris Yahudi karena uang. Karikatur itu tampaknya merendahkan Sarkozy. Maurice Sinet pun dipecat dari majalah Charlie Hebdo.
Jelas, kebebasan berekspresi hanya dimanfaatkan sesuai dengan kepentingan Barat. Kaum Muslim dipaksa bungkam untuk menerima penistaan terhadap Islam/ Nabi Muhammad. Jika tidak, mereka akan disebut fundamentalis, radikal, teroris.

Dalam Hukum Pidana :  menghina, menistakan, mencemarkan, menghasut, mengfitna, berbohong.....dapat dihukum -dipenjara...yang berlaku secara universal....  Bagaimana  nilai nilai   demokrasi ( Barat ?) dengan kebebasan  berekspresi- toleransi  bisa "menabrak/membentur/menyerang"  hukum-hukum peradaban Barat sendiri ?...Maka jangan salahkan ; ketika  hukum negara  itu tidak berlaku adil...maka hukum rimba/hukum masyarakat  berlaku sendiri...dan itu menjadi kebenaran yang berlaku universal, seperti yang terjadi tidak saja terhadap Charlie Hebdo, tapi di masyarakat barat sendiri; masyarakat bertindak sendiri "melawan hukum yang berlaku" yang dianggap tidak adil;  itulah  Hukum Biadab/Rimba   versus Hukum Peradaban
Jadi dengan kata lain,  Tidak ada kebebasan   berekspresi , pendapat , toleransi  tanpa rambu-rambu atau aturan norma atau hukum , tetapi  sebaliknya berekspresi, berpendapat, bertoleransi dengan menghargai , menghormati, memperhatikan orang lain/ bangsa/ agama. Itulah peradaban manusia yang beradab-  yang saling  toleransi, menghormati, menghargai  perbedaan ras,  agama, kultur/budaya,  bukan sebaliknya   yang  "biadab".