Translate

Telusuri via Blog Ini

Sabtu, 26 November 2011

Pesan Tahun Baru 1 Muharam 1433 Hijriah:


Hijrah dari Sistem Jahiliah Menuju Sistem Islam 
Oleh : Nazli M. Agustina.
Kembali umat Islam memasuki tahun baru hijriah; 1433 H. Tentu bukan tanpa arti Khalifah Umar bin al Khattab ra. Menjadikan peristiwa hijrahnya Rasulullullah SAW dari Makkah ke Madinah sebagai awal penanggalan dalam Islam. 

Hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah sesungguhnya merupakan tonggak penting dari babak baru perjuangan umat Islam. Di Madinah Rasulullah SAW membangun peradaban baru dengan negara baru dan sistem kehidupan yang didasarkan kepada Islam. Rasulullah SAW diangkat menjadi pemimpin negara yang bertanggung jawab mengurus urusan umat (rakyat) secara keseluruhan. Sementara hukum yang berlaku adalah hukum Islam. Keberadaan pemimpin, rakyat dan hukum ini cukup untuk mengatakan apa yang dibangun oleh Rasulullah SAW di Madinah adalah sebuah negara atau memenuhi karakteristik sebuah negara. Yaitu negara baru yang unik, yang dihuni oleh warga negara yang beragam (pluralitas bukan pluralisme). Ada Yahudi Bani Auf, Yahudi Bani Najjar, termasuk masih terdapat orang-orang musyrik penyembah berhala. Namun pluralitas ini tidak menghalangi pemberlakuan hukum Islam oleh negara. Sebab hukum Islam memang bukan hanya untuk muslim tapi merupakan rahmat bagi seluruh alam, bagi seluruh manusia, termasuk non muslim. 

Kepemimpinan baru ini sekaligus menggantikan kepemimpinan yang korup, lemah dan menzalimi rakyat, yaitu sistem jahiliah yang tidak manusiawi dan menyengsarakan rakyat. 

Pesan politik dari hijrahnya Rasulullah Saw inilah yang sering dilupakan oleh umat Islam saat ini. Sebagaimana pada masa Rasulullah SAW perubahan mendasar akan terjadi bila terjadi perubahan kepemimpinan dan sistemnya. Ini pula yang akan menjadi solusi terhadap berbagai persoalan dunia Islam, bahkan dunia secara global saat ini. 

Menuju Syariah Islam yang Mensejahterakan

Kita tahu, bahwa dunia saat ini berada di bawah kepemimpinan dan sistem Kapitalisme yang telah membawa bencana kemanusiaan yang luar biasa; kemiskinan global, ketimpangan negara maju dan dunia ketiga, pembunuhan massal atas nama demokrasi dan perang melawan terorisme di Irak dan Afghanistan, perampokan kekayaan alam dunia ketiga yang memiskinkan rakyat mereka, kriminalitas yang kian meningkat serta krisis spiritual. Ini semua adalah buah busuk yang dihasilkan dari sistem yang rusak ini. 

Jika kita napak tilas hijrahnya Nabi SAW maka kita akan melihat bahwa tatkala risalah Islam diterapkan secara sempurna oleh Rasulullah SAW di Makkah, umat manusia merasakan indahnya hidup di bawah naungan Daulah Islam. Keadaan ini terus berlanjut pada masa Khulafaur Rasyidin dan para Khalifah yang silih berganti memimpin dunia selama 13 abad. 

Pertama : Politik yang berkeadilan. Dalam politik Islam, Islam memberikan hak dan kewajiban yang sama bagi Muslim dan non Muslim. Diantaranya : seluruh hukum Islam diterapkan atas kaum Muslim, membiarkan non Muslim dengan akidah dan ibadah mereka. Gambaran implementasi konsep politik Islam yang berkeadilan tampak dalam : (1) pemberian sertifikat tanah (Tahun 925 H/1519 M) kepada para pengungsi Yahudi yang lari dari kekejaman inkuisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam di Andalusia. (2) Surat ucapan terima kasih dari pemerintah Amerika Serikat atas bantuan pangan yang dikirim Khalifah ke AS yang sedang dilanda kelaparan pasca perang dengan Inggris (abad 18), (3) Pasukan Khilafah Turki Utsmani tiba di Aceh (1566-1577), termasuk para ahli senjata api, penembak dan para teknisi untuk mengamankan wilayah Syamatiirah (Sumatera) dari Portugis. Dengan bantuan ini Aceh menyerang Portugis di Malaka. 

Kedua, Negara menjamin kebutuhan pokok rakyat. Gambaran jaminan kesejahteraan pemenuhan kebutuhan pokok ini terlihat jelas pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintah, bahwa tidak ditemukan seorang miskin pun untuk menerima zakat. 

Ketiga, Jaminan pendidikan terbaik dan gratis. Dalam sistem Islam, pendidikan bertujuan menciptakan manusia yang berkepribadian Islam yaitu memiliki pola pikir Islami dan sikap Islami. Penguasaan ilmu pengetahuan dan skill yang mumpuni dengan menjadikan akidah Islam sebagai asas pendidikan. Gambaran jaminan pendidikan adalah standar gaji guru pada masa pemerintahan Umar bin al Khattab sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gr emas) dan diikuti oleh Khalifah berikutnya. Selain itu, para Khalifah memberikan penghargaan sangat besar terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya. Hal lain juga tampak saat Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky (Abad 11 H) mendirikan Madrasah an-Nuriyah di Damaskus yang memiliki fasilitas asrama siswa, perumahan staff pengajar dan para pelayan. 

Itulah sebahagian gambaran bagaimana sistem Islam memberikan kesejahteraan hakiki kepada manusia. Sebuah sistem kehidupan yang berasal dari Sang Pencipta alam semesta dan sesuai dengan fitrah manusia. Perubahan hakiki adalah perubahan yang dapat menyelesaikan secara tuntas seluruh persoalan kaum Muslim di seluruh dunia. Perubahan semacam itu hanya dapat dicapai dengan membangun kekuatan politik internasional Khilafah Islamiyyah yang menyatukan seluruh potensi kaum Muslim baik SDM maupun SDA nya serta menerapkan syariah Islam secara total. 

Karena itu menyatakan penerapan syariah Islam dalam naungan Khilafah tidak wajib adalah suatu kebodohan, sebab ini adalah kewajiban. Juga termasuk kebodohan jika menyatakan bahwa penerapan syariah Islam dalam naungan khilafah adalah ancaman bagi negara dan rakyat. Sebab bagaimana mungkin negara yang akan menerapkan hukum Allah SWT yang memiliki sifat Maha Pengasih dan Penyayang dikatakan sebagai ancaman bagi manusia? 

Dengan demikian. Peringatan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW sudah saatnya dijadikan momentum untuk segera meninggalkan sistem Jahiliah, yakni sistem kapitalis-sekular yang diberlakukan saat ini, menuju sistem Islam. Apalagi terbukti, sistem kapitalis-sekular telah menimbulkan banyak penderitaan bagi manusia. 

Penulis: Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia

Minggu, 13 November 2011

92. QUR’AN SURAH XCII : AL-LAIL/MALAM


XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.

92.        QUR’AN SURAH  XCII :  AL-LAIL/MALAM
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama surah yang termasuk topik sentralnya (1-10) yang digunakan sebagai sumpah bersama dengan Tuhan yang menciptakan wanita dan pria untuk menyatakan bahwa upaya manusia itu bermacam-macam. Dilanjutkan dengan siapa yang menafkahkan hartanya , Allah akan memudahkan untuk berbuat kebaikan dan siapa yang bachil, merasa dirinya kecukupan dan mendustakan balasan yang baik, maka akan dipersukar jalannya untuk berbuat kebaikan. Topik ditutup dengan pernyataan bahwa hartanya tidak berguna.
TEMA  SURAH :
Tuhan akan membantu meringankan jalan orang-orang yang berjalan dijalan-Nya dan sebaliknya akan menyulitkan jalan mereka yang mendustakan-Nya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Manusia yang menjalankan kebaikan, maka kebaikannya itu akan meringankannya untuk lebih baik dan sebaliknya.
93.             QUR’AN SURAH  XCIII :  AD-DHUHAA/WAKTU MATAHARI SEPENGGALANGAN NAIK
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah, sekaligus topik sentral surah dan digunakan sebagai sumpah dengan fenomena alam yang lain untuk menyatakan jaminan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan manusia dan tidak pula membenci manusia. Topik ditutup dengan pernyataan bahwa akhir perjuangan itu lebih baik daripada permulaan.
TEMA  SURAH :
Dalam saat saat yang berat yang dialami manusia, manusia harus tetap yakin bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan hamba-Nya dan keadaan yang berat itu bukan tanda kebencian-Nya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Manusia harus yakin dalam keadaan yang bagaimanapun beratnya Tuhan tidak akan meningglkan nya, dan keadaan itu bukan tanda kebencian-Nya. Ingat bahwa akhir kehidupan bukanlah didunia ini, dan itu pasti lebih baik.
94.        QUR’AN SURAH  XCIV : ALAM NASYRAH/MELAPANGKAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah, sekaligus topik sentral surah yang menegas kan, bukankah Tuhan yang melapangkan dada manusia, meringankan beban yang memberatkan punggungnya, dan meninggikan sebutannya, dan menyatakan selanjutnya bahwa disamping kesulitan pasti ada kemudahan, yang diulang 2 kali. ( 1-6)
TEMA  SURAH :
Manusia dalam menghadapi kesulitan selalu berkeluh kesah, suatu sikap yang merugikan. Diyakinkan Tuhan bahwa disetiap kesulitan pasti ada kemudahan. Yang menyatakan ini ialah Tuhan yang meringankan manusia dari bebannya dan melapangkan dadanya dari rasa kesempitan yang menyekik jiwa manusia.
SUDUT PANDANG SURAH :
Suatu landasan optimistik telah diberikan oleh Tuhan yang telah melapangkan dada, meringankan beban manusia yang beriman dan bertawakkal.
95.        QUR’AN SURAH  XCV :  AT-TIIN/BUAH TIIN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah digunakan sebagai sumpah bersama dengan buah Zaitun, gunung Sinai dan negeri Mekah, untuk menyatakan bahwa sesungguhnya manusia itu telah diciptakan dalam bentuk yang paling baik; kemudian dikembalikan ke tempat yang paling rendah, kecuali YANG BERIMAN DAN BERAMAL SHALEH. ( 1-6)
TEMA SURAH :
Manusia itu sesungguhnya makhluk Tuhan yang diberi bentuk paling baik, tetapi dapat kembali ke jajaran yang paling rendah, sesuai dengan sikap dan perbuatannya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Keadaan manusia itu selalu dalam keadaan yang terombang-ambing, sekali waktu ia berada pada puncak ketinggian kemakhlukan, waktu yang lain dapat merosot kelembah terdalam kemakhlukan. Untuk mempertahankan dirinya dalam puncak ketinggian kemakhlukan manusia harus BERIMAN dan BERAMAL SHALEH, artinya aktif dalam kancah kehidupan namun tetap dalam norma kemukminan.
96.        QUR’AN SURAH  XCVI :  AL-’ALAQ/SEGUMPAL DARAH
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah sekaligus topik sentralnya (1-8), yang merupakan perintah untuk :- membaca dengan nama Tuhan yang menciptakan manusia dari segumpal darah; Tuhan yang paling Pemurah dan yang mengajarkan manusia dengan kalam apa yang tidak dapat diketahui manusia. Dilanjutkan dengan pernyataan yang konfirmatif, bahwa manusia itu suka MELAMPAUI BATAS, karena ia merasa berkecukupan. Topik ditutup dengan ketegasan bahwa manusia pasti kembali pada Tuhannya.
TEMA  SURAH :
Bahwa manusia itu suka melampaui batas, karena ia merasa berkecukupan itu pasti,  karena Tuhan yang mengajarkan manusia via kalam-Nya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Manusia wajar, patut sampai wajib MEMPERCAYAI  apa yang dituliskan dalam wahyu, karena yang menuliskan itu Tuhan yang Maha Pemurah dan yang menciptakan manusia.
97.        QUR’AN SURAH  XCVII :  AL-QADR/KEMULIAAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada pembukanya yang menyatakan bahwa malam diturunkannya Al-Qur’an itu merupakan malam yang mulia.
TEMA  SURAH :
Saat Wahyu terakhir diturunkan Tuhan saat yang mulia. Kemuliaan ini karena ada sesuatu yang sangat penting yang terjadi. Jadi suatu kejadian dapat meningkatkan NILAI waktu dan ruang / tempat  kejadian. Waktu kita kalau tidak kita isi dengan sesuatu tidak bernilai; kalau diisi dengan amal baik, maka waktu bernilai positif, sebaliknya kalau kita isi dengan kebatilan, maka nilainya menjadi negative. Begitu pula dengan tempat atau lingkungan.
SUDUT PANDANG SURAH :
Nilai lingkungan itu ditentukan oleh suatu kejadia yang mengisinya. Tergantung dari macam kejadiannya , nilai lingkungan itu dapat tambah atau berkurang, begitu pula UMUR MANUSIA. Panjang umur tidak menentukan banyaknya kebaikan seseorang !

By  A Baghowi Bachar

(Posting 13 November 2011/ 17 Dh-Hijja 1432 H)

Sabtu, 05 November 2011

Renungan


Makna dan Hikmah Berkorban  


Ajaran berkorban sebenarnya telah dilaksanakan sejak awal sejarah kemanusiaan, yaitu oleh Habil dan Qobil, putra Nabi Adam. Kurban Qobil ditolak, karena dilakukan tidak dengan hati yang ikhlas dan bukan harta yang terbaik. Berbeda dengan itu adalah kurban yang dilakukan oleh Habil, diterima oleh Allah. Habil mengorbankan hartanya yang terbaik dan dilakukan dengan penuh keikhlasan. 

Selanjutnya ajaran kurban juga dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Peristiwa yang sangat dahsyat, bahwa yang dikorbankan oleh Nabi Ibrahim adalah satu-satunya putranya, yang sangat dicintai. Tugas berat itu dilaksanakan olehnya untuk memenuhi perintah Tuhan yang diterima lewat mimpi. Keduanya, baik Ismail maupun Ibrahim memenuhi perintah itu, sekalipun tugas itu amat berat, karena di luar batas-batas kemanusiaan. 

Melihat sejarah Habil dan Qobil hingga Ibrahim dan Ismail, maka rupanya kurban adalah menjadi pintu yang harus dilalui untuk meraih derajat mulia di sisi Tuhan. Bahwa kemuliaan sejati harus dibayar dengan cara berkorban dan bukan dibeli. Berkorban berbeda dengan membeli. Berkorban adalah memberikan sesuatu miliknya yang terbaik yang didasari oleh rasa ikhlas. 

Kemuliaan seseorang tidak bisa didapatkan dari cara membeli, tetapi hanya bisa diperoleh dari berkorban. Betapa mulianya berkorban sebenarnya juga bisa ditangkap dari perjalanan hidup manusia di setiap waktu, tidak terkecuali pada zaman sekarang ini. Orang-orang yang mau berkorban akan selalu mendapatkan kemuliaan. Para pahlawan bangsa hingga nama mereka diingat, sejarah hidupnya selalu dijadikan tauladan, dan kata-katanya dijadikan pegangan hidup adalah karena pengorbanannya. 

Pada saat sekarang ini, jiwa dan kesediaan berkorban terasa semakin hilang dan digantikan dengan kebiasaan bertransaksi, atau berjual beli. Tidak sedikit pemimpin tatkala mendapatkan posisinya itu diperoleh dari berkorban, melainkan dari membeli atau bertransaksi, hingga muncul istilah jual beli jabatan. Akibatnya, yang bersangkutan sama sekali tidak mendapatkan kemuliaan dari jabatannya itu. Sebaliknya, justru menjadi nista, yaitu dikejar-kejar kejaksaan, polisi atau KPK dan akhirnya dipenjarakan. 

Pada saat sekarang ini, di tengah-tengah hiruk pikuk terjadinya berbagai penyimpangan, korupsi, manipulasi, dan berbagai mafia yang berakibat merendahkan derajat kemanusiaan, maka para pemimpin bangsa seharusnya segera menyeru untuk melakukan gerakan berkorban, dan bukan bertransaksi. Bertransaksi, termasuk transaksi kekuasaan telah terbukti berakibat mensengsarakan dan bahkan menistakan diri yang bersangkutan. 

Sejarah Habil, Ibrahim dan Ismail, bahkan juga sejarah para pahlawan bangsa kita telah memberikan tauladan yang sangat mulia, yaitu berkorban dari apa yang terbaik dan dilakukan dengan ikhlas. Jika bangsa ini ke depan ingin mendapatkan kemuliaan, maka tauladan itu harus dijalani. Gerakan berkorban, harus dimulai dari atas, yaitu dari semua kalangan elite bangsa. Sebaliknya, kebijakan berupa meningkatkan fasilitas para pejabat, termasuk berbagai tunjangan, remunerasi yang akan diterima, -------di tengah-tengah rakyat yang belum sepenuhnya makmur seperti sekarang ini, maka perlu dihindari. 

Di tengah-tengah rakyat sedang mengalami kesulitan hidup seperti sekarang ini, mestinya para pemimpin dan pejabat pemerintah, bersedia berkorban. Gerakan berkorban sebenarnya adalah juga sekaligus sebagai cara mudah, murah, dan sederhana menghilangkan kebiasaan korupsi dan hidup serakah. Orang yang terbiasa memberi atau berkorban akan menjauhkan diri dari hidup berlebih-lebihan, tamak, dan serakah. 

Untuk menghilangkan korupsi di negeri ini harus ada gerakan mengubah budaya. Yaitu budaya menerima harus diubah menjadi budaya memberi. Memberi atau memposisikan tangan di atas akan selalu lebih mulia dari tangan di bawah, apalagi diperoleh dengan cara mencuri atau korupsi. Hari raya kurban yang sebentar lagi tiba, harus dijadikan momentum untuk memulai gerakan mulia itu. Wallahu a’lam