Translate

Telusuri via Blog Ini

Selasa, 07 Desember 2010

XI. MAKNA DARI FAKTA

PERUBAHAN TERTIB SUSUNAN AL-QUR’AN.
Kadang kadang manusia lupa atau melupakan suatu fakta yang nyata, sedangkan perintah pertama Tuhan waktu menurunkan Wahyu-Nya yang terakhir dimulai dengan perintah  ‘bacalah‘. Kalau itu penting, mengapa Nabi tidak menerangkannya pada umatnya ?. Karena tentu saja umatnya tidak menanyakan. Mengapa ?, Karena tidak membutuhkan!. Sebab mereka masih memiliki Nabi, dimana segala permasalahan dapat dikembalikan. Para sahabat yang masih dekatpun tidak memerlukannya, karena ingatan akan bimbingan Nabi masih terasakan. Yang telah jauhpun kadang kadang tidak memerlukan karena masih merasa ada penghubungnya, meskipun mereka tidak menyadari bahwa jarak antara penghubungnya telah jauh, dan ada peninggalannya yang dikenal sebagai hadits dan sunnahnya. Para tabi’it tabi’in dan para umat paska sahabat masih memiliki tinggalan yang masih dirasa dekat dengan Nabi dan selanjutnya setelahnya masih ada tinggalan para Ulama yang berupa Buku Kuning.
Namun ada fakta dimana mereka memejamkan mata terhadapnya, mengapa keadaan umat Muhammad tidak berada dibarisan depan lagi setelah abad ke XII M. meskipun masih ada peninggalan para Ulama dan mujadid ? Apakah ini tidak mengandung arti bahwa yang mereka anggap pengganti Rosul itu tidak mampuni untuk membawa umatnya seperti Nabi ? Jangan menyalahkan Nabi, karena Nabi tidak pernah menunjuk siapa yang dapat menggantikan kedudukan-nya; Nabi hanya meninggalkan Al-Qur’an dan Sunahnya. Kedua hal itulah yang mampu menggantikan kedudukannya.
Suatu FAKTA, bahwa WAHYU yang ditinggalkan Nabi, yang dikenal sebagai AL-QUR’AN itu tertib susunan surah dan ayatnya berbeda dengan yang beliau terima dari Tuhan, sedang jumlah kata, ayat, surahnya tetap sama ! Fakta yang kurang mendapatkan perhatian dari umatnya. Mengapa tertib susunan surah dan ayanya  wahyu diubah ? Apakah keadaan demikian, perubahan tertib susunan wahyu yang diterima para Rosul sebelum Muhammad juga diubah tertib susunannya oleh Sang Pencipta ?,  TIDAK !. Apakah dapat disimpulkan, bahwa perubahan tertib susunan wahyu terakhir itu karena tidak akan ada Rosul lagi ?.  Apakah hubungan langsung antara LANGIT – BUMI terputus sampai sekian ?.  Kalau demikian apakah makna yang terkandung dalam fakta ini ?. Yang diubah ialah tertib susunan ayat dan surahnya, sedangkan kata, kalimat, surahnya yang menunjuk pada kandungan dan ungkapan tidak diubah. Ini berarti, bahwa yang diubah ‘cara penggunaan atau dengan terminologi lain ‘cara pendekatan’-nya.
Ini ditopang dengan kenyataan, bahwa Nabi waktu mengadakan transformasi sosio-moral- kultural menggunakan urutan nuzul ; dapat dikatakan bahwa pada waktu itu hubungan langsung antara LANGIT - BUMI terbuka selama 22 tahun, 2 bulan, 20 hari, periode dakwah Nabi. Nabi melalui Wahyu, tahap demi tahap membina masarakatnya menuju ke masarakat yang dikehendaki Tuhan, mengadakan transformasi sosio-moral dari masarakat yang berpola jahiliyah menjadi masarakat yang ber-POLA ILAHIYAH. Proses ini dalam terminologi ilmu sekarang disebut piece-meal social engineering , pendekataannya dapat dikatakan pendekatan edukatif atau dalam suasana Pancasila dikenal sebagai pendekatan TERPIMPIN.  
Sebelum Nabi wafat , atas perintah Tuhan tiap wahyu yang baru diturunkan, harus ditempatkan di tempat yang ditunjukkan Tuhan diantara wahyu yang diturunkan lebih dulu, sehingga tersusun sebagaimana sekarang yang diberi  nama  Al-Qur’an. Setelah Nabi wafat, dan tidak akan diutus Nabi baru dengan wahyu baru, maka umat pasca-Nabi harus melanjutkan mengelola kehidupannya mengikuti wahyu yang ada yang telah dituliskan dan disusun  yang disebut Al-Qur’an. 
Jadi ada 2 hal yang dihadapi umat pasca-Nabi :
  1. Tidak lagi ada hubungan langsung antara LANGIT-BUMI, yang di-ungkapkan dengan Diutusnya Rosul baru
  2. Tidak ada lagi wahyu baru sesudah tersusunnya Al-Qur’an.
Dari kedua hal tersebut dapat disimpulkan, bahwa umat-pasca-Nabi dianggap Tuhan mampu mengelola kehidupan ini menurut POLA  ILAHIYAH yang telah dimulai Nabi dengan bimbingan wahyu yang sama dengan yang ditinggalkanya setelah beliau wafat. Ini berarti bahwa perubahan tertib susunan wahyu dari nuzulnya, menunjuk pada perubahan pendekatan, dari ‘keadaan terbimbing’ menjadi tanpa bimbingan’ untuk melanjutkan tugas yang sama, menciptakan suatu kehidupan/peradaban yang disimbulkan sebagai baldatun toyyibatun wa Robbul ghofur !
Kalau pendekatan dengan-bimbingan kita sebut pendekatan - terpimpin/edukatif maka pendekatan tanpa-bimbingan dapat kita sebut dengan zelfstudie/belajar mandiri menuju umat yang autodidact/ mandiri. Di-istilahkan dengan terminologi dunia pendidikan dapat disebut dengan kata pendekatan materiil/teoritis.
Selanjutnya PESAN yang dikemas dalam suatu tulisan/naskah itu, kecuali diwarnai oleh tertib susunan kalimat-kalimatnya, juga diwarnai oleh gaya bahasa yang digunakan. Gaya bahasa ini dimaterialisasikan dalam kalimat/phrase/ayat yang merupakan unit struktural terkecil dari suatu bagian/bab/surah-nya. Ungkapan gaya bahasa ini tidak menunjuk pada ‘kandungan’, tetapi pada ‘pendekatan’, katakanlah untuk membedakan dari pendekatan pemahaman kandungan ( yang disebut pendekatan makro), disini kita sebut pendekatan mikro.
Jadi Al-Qur’an memiliki pendekatan mikro dan makro. Pendekatan makro, yang juga disebut pendekatan materiil digunakan untuk cara kita mempelajari kandungan Al-Qur’an, sedangkan untuk mempelajari kandungan surah-surahnya, kita harus menambah dengan pendekatan mikro, atau pendekatan filologik atau sebut saja pendekatan bahasawi. Inilah hubungan antara pendekatan surah dan ayat-ayat yang membentuknya.
Serupa dengn cara pendekatan di atas ialah bila kita mendekati ayat dan unit struktural terkecilnya ialah kosa kata-nya. Oleh karena itu kita sama sekali tidak boleh mencari makna kosa-kata Al-Qur’an dari luar Al-Qur’an. Tiap kosa kata Al-Qur’an mempunyai denotasi & konotasi khusus Qur’ani.
Inilah MAKNA dari FAKTA yang berupa perubahan tertib susunan nuzul ayat dan surah, yang sayang sekali belum mendapatkan perhatian yang memadai dari umat Islam pasca Nabi, sehingga kita mendapatkan kesulitan dalam menciptakan metoda tafsir yang memadai. Bagi mereka yang membaca analisa diatas, mungkin masih ada yang mengganjal dalam benaknya, ialah apakah satu naskah yang didekati dengan 2 pendekatan yang berbeda tidak merubah hasil yang dicapai ?. Mari kita coba melihatnya lebih lanjut.  
Yang dimaksud dengan PENDEKATAN disini ialah cara untuk memahami wahyu, sehingga mampu mulai dari mengerti, memahami sampai melaksanakan pesan yang dikandungnya. Pada zaman Nabi, Nabilah yang merupakan referensi tunggal untuk memahami wahyu, sekaligus melaksanakannya. Kedua, turunnya wahyu itu berangsur-angsur, sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk menangkap reason d’etre-nya, kecuali Nabi yang langsung dibimbing Tuhan. Tiap waktu Nabi menerima wahyu, dia langsung memahami makna yang terkandung didalamnya dan langsung mampu menjabarkan dalam sikap dan perilaku, meskipun Al-Qur’an belum lengkap.
Keadaan ini dapat dilukiskan demikian: dilihat dari cara penerimaan wahyu oleh Nabi, Nabi sekaligus mampu menguasai ke 3 dimensinya, ialah dimensi penguasaan konsep/atau dimensi kognitif , kedua demensi affektif  dan ketiga demensi psychomotor SEKALIGUS dapat diperoleh atau dengan kata lain teori dan pelaksanaannya sekaligus dapat diamalkan atau dengan lain kata : aspect weltanschauung, aspek Ilmu dan aspek teknologi sekaligus dapat dikuasai atau dengan terminologi Al-Qur’an: akidah dan syare’at ubudiyah serta muamalah, atau ilmu, iman  dan amal dapat sekaligus dikuasai.
Masa Nabi telah lalu, tinggallah kenangan yang dirindukan....namun itu telah hilang dan tidak mungkin kembali atau dikembalikan. Pada zaman pasca -Nabi, bimbingan Nabi diwakili oleh apa yang telah diwariskan yang berupa HADITS. tetapi WARISANNYA telah berubah menjadi konsep juga. seperti wahyu yang harus diusahakan aplikasinya. Baik sunnah Nabi maupun Al-Qur’an hanya berupa materi yang mengandung- baik konsep-konsep elementer maupun konsep konsep yang majmuk.
Untuk meng-aplikasikan setiap konsep, maka :
Pengertiannya harus dipahami dahulu, kemudian menemukan cara pelaksanaan nya, baru di-laksanakan, atau dengan kata lain dimensi kognitif harus dikuasai dahulu, di-ikuti penghayatan dimensi affektifnya, baru dapat dikembangkan  dimensi psychomotornya. Atau dengan kata lain : penguasaan weltanschauung/ atau akidah disusul dengan penguasaan ilmunya/ syare’atnya, baru menciptakan alat atau tehnologinya atau sistemnya. Jadi untuk menjadi muslim prosesnya lebih panjang daripada pada zaman Nabi. Pertama harus dikuasai materi wahyu, baru menciptakan ilmunya [karos] diikuti dengan penjabarannya dalam ujud teknologi atau sistem engineering. Memahami ilmu secara demikianlah yang dimaksud dengan pendekatan materiil. Jadi dengan perubahan pendekatan kandungan dengan tujuan wahyu tidak berubah !
Yang menjadi penyebab utama adanya perubahan tertib susunan, ialah tidak diutusnya Rasul dan tidak diturunkannya wahyu lagi !
Perubahan tertib susunan wahyu merupakan tuntunan Tuhan yang dapat menggantikan bimbingan seorang Rasul.
MENGAPA  TIDAK  KITA  TANGGAPI  DENGAN SEMESTINYA ???
 
BY  A BAGHOWI BACHAR

Sabtu, 20 November 2010

Renungan

Menatap   kehidupan  yang berjalan  mengikuti waktu, atau mengejar waktu atau atau meninggalkan  waktu; apa yang "kau cari manusia?"  kesenangan ? kepuasan ? kebahagian? atau kekuatan ? atau ????   " cari jawab mu atau obral pertanyaanmu?".  Dunia seperti lapang kosong atau bola  gundul atau seperti  hutan belantara atau hirup-pikuk kemacetan  manusia dan kendaraan di jalan-jalan  sempit !!??  Waouuooo ngapain aja  kamu !! ?? asyik  sekali  dengan  "BB"mu, eh kamu !! asyik  dengan jari-jemarimu di HP kecilmu, eh  kamu !!?? asyik  dengan TV -nonton gosip-gosip   "murahan".......semua asyik dengan dunia  fatamorgana yang  Hedonistik... Semua -waktu  bermain ..seperti "Game"  di dunia maya atau dunia kebohongan yang di ciptakan oleh kreator-kreator  kehidupan "demi kesenangan, demi  kebahagian, demi  kepuasan..."  katanya... Sungguh  fantasi tercipta  oleh  pikiran-pikiran ....manusia... waouuu  pikiran orang "gila"  waouu   "dalang-dalang   dan wayang-wayang"   edan !!!. Dunia   menjadi  begitu fatamorgana/ begitu  palsu-   Kehidupan  yang penuh "tipu daya".
.....Berjalan .....perlahan-lahan ....semakin  lama semakin  lelah .. dan berhenti......ooohh  kehidupan...

VIII. PESAN YANG TERKEMAS.

Dalam Cerita-Cerita Kandungan Al-Qur’an

Kesan utama bagi mereka yang membaca Al-Qur’an ialah banyaknya cerita- cerita yang dipaparkan dan berkesan tumpul, membosankan, dengan alur cerita yang mirip satu dengan yang lain dan tidak pernah mencapai klimaks cerita, yang memudahkan untuk mengingat kembali. Sulit kita menangkap arti dan maknanya. Untuk memudahkan penggambaran wajah cerita yang disampaikan, kita akan melihat dari apa yang dinyatakan Al-Qur’an tentang dirinya.

Al-Qur’an mengklaim dirinya sempurna, terinci, menjelaskan segala sesuatu, tidak kebengkokan dan pertentangan didalamnya, sebagai hudaa Tuhan untuk merekayasa kehidupan duniawi sepanjang masa. Suatu klaim yang tidak tanggung-tanggung !

Dari pernyataan ini maka mudah dimengerti, bahw Al-Qur’an mengandung :
  1. Kejadian-kejadian kehidupan masa lalu, pada zaman pra-Nabi sebagai DATA yang digunakan sebagai ilustrasi, contoh kasus dan lain sebagainya.
  2. Kejadian kejadian pada zaman Nabi, waktu wahyu diturunkan sebagai FAKTA, yang menunjukkan cara pelaksanaannya dalam proses transformasi sosio-moral sehingga berhasil dengan terbentuknya negara-ummah Madinah, yang oleh peradaban disebut Negara kota/city state
  3. Kejadian kejadian yang bisa terjadi, sebagai suatu INFORMASI yang dapat digunakan untuk mengantisipasi permasalahan permasalahan masa depan, zaman pasca-Nabi
  4. Citra kehidupan yang seharusnya/Life Mean To Be, sebagai jalan keluar dari semua kemelut kehidupan serta jaminan tercapainya tujuan penciptaan manusia dan alam.
  5. Hasil akhir upaya manusia, baik yang berhasil maupun yang gagal sebagai reward system yang berfungsi untuk melahirkan motivasi.

Jadi dalam pandangan Al-Qur’an hanya ada 2 macam hasil yang dapat diperoleh manusia, ialah :
  1. Bila manusia memilih jalan bukan yang dikehendaki Tuhan, yang akan bermuara pada suatu kegagalan total, yang ingin disingkiri tiap insan sehat. Hal ini digambarkan secara allegoris sebagai suatu penderitaan total yang berkepanjangan, baik fisik, mental maupun spiritual yang dilukiskan sebagai NERAKA
  2. Sebaliknya bagi mereka yang memilih jalan Tuhan, akan menikmati suatu keberhasilan sempurna yang didambakan tiap manusia, suatu gambaran utopia di luar jangkauan fantasi akal manusia yang dilukiskan dengan kata SURGA.
    Disamping itu Al-Qur’an juga memberi-tahukan sumber kegagalan yang terdapat dalam diri manusia, karena tidak ada kegagalan diluar diri manusia, namun selalu disertai jalan keluarnya, baik dalam dimensi idiil-falsafati /mental-spiritual maupun dalam dimensi tehnis pelaksanaannya/individual-sosial. Jadi Al-Qur’an memberikan data, fakta dan informasi serta dampak/hasil sebagai variabel yang harus diperhitungkan dalam memahami kehidupan. Inilah kelebihan Al-Qur’an dari ilmu, karena Al-Qur’an mampu memberikan variabel tidak hanya dalam 3 dimensi waktu, masa lalu, masa kini dan masa mendatang, serta gambaran alternatif dampak yang akan diperoleh, yang tidak hanya bersifat spekulatif, yang berupa kemungkinan kemungkinan, tetapi berupa kepastian.
     
    Jadi kelebihan Al-Qur’an, ialah mampu memberikan kecuali pandangan jauh kedepan, juga ramalan yang bersifat profetik. Variabel variabel yang diberikan, kecuali meliputi seluruh dimensi waktu, juga meliputi seluruh dimensi ruang gerak manusia, seperti dimensi spiritual, mental dan perilaku/sosio-kultural.
    Dengan demikian Al-Qur’an mampu memberikan penela’ahan tentang realitas fenomenologi kehidupan secara komprehensif dan tidak problematis. Sebaliknya ilmu pengetahuan selalu memandang objeknya selektif, parsial dan dengan demikian ipso fakto problematis. Kalau ilmu tidak mampu memberikan patokan moral, maka Al-Qur’an sanggup memberikannya, dengan kata lain Al-Qur’an mampu memberikan doktrin penyelamatan. 

    Diskripsi Al-Qur’an tentang fenomena kehidupan, ialah suatu diskripsi yang dicita-citakan oleh Ilmu ilmu sosial, yang dapat menisbahkan antara “yang ada”/“yang bisa ada“/“yang mungkin ada” ( yang “cenderung” ada) dan “yang seharusnya ada” atau “ das sollen”/“mean to be “. Diskripsinya tentang kedua macam realita ini dalam Al-Qur’an bersifat memadai-makna/sine adequat, jelas terpisah, sehingga sedikitpun tidak mengandung nexus/kekaburan antara keduanya. Selanjutnya Al-Qur’an menunjukkan jalan/metoda untuk membawa “ yang cenderung ada “ ke “ yang seharusnya “, mulai dari kehidupan individu sampai ke kehidupan sosio-kultural; metoda inilah yang disebut “jalan keselamatan”.

    Banyak orang menuduh bahwa apa yang diberikan Al-Qur’an itu bersifat utopis, diluar jangkauan akal manusia, karena pada ujung gambarannya tentang masa depan tidak hanya bermuara pada visi keberhasilan sempurna yang didambakan tiap manusia, tetapi juga visi kegagalan total yang tidak pernah dicita-citakan manusia. Dari gambaran global ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
    Al-Qura’an berbicara tentang kehidupan bukan dalam kerangka ilmiah semata, tetapi dalam kerangka hudaa Sang Pencipta, dalam arti makna kehidupan sehari-hari diukur dan ditempatkan dalam “kerangka makna kehendak-Nya” artinya Al-Qur’an mengetengahkan bagaimana seharusnya merekayasa kehidupan seperti Yang DIA kehendaki. Untuk itu logis, bahwa pesan yang disampaikannya mengandung:
    1. Pernyataan, pemberitaan, pemberitahuan dan pekabaran yang bersifat selektif, parsial dan akhirnya dapat menjadi problematik yang dilukiskan dalam ayat-ayatnya..
    2. Unit konsepsi hudaa dan furqon dengan isu-isu sentral yang selektif, namun dengan jangkauan yang komprehensif, yang digambarkan dalam tema surah surahnya.
    3. Cara merekayasa kehidupan dari yang not-mean-to-be menuju yang mean-to-be. Dengan menunjukkan pokok pokok hambatan, kendala yang ada didalam diri manusia dalam topik topik surah surahnya. Rekayasa ini mulai dari rekayasa sikap mental (akidah) sampai rekayasa perilaku (syare’at ).

    Dapatkah kita fahami sekarang mengapa kandungan Al-Qur’an itu secara sepintas memberi kesan bertele-tele ?. Inilah sebabnya maka banyak peringatan Tuhan yang menyatakan supaya manusia dalam mempelajari Al-Qur’an dilarang tergesa-gesa. PESAN yang tidak pernah sampai pada kebanyakan manusia !!

    KETERGESA-GESAAN MENGHALANG MANUSIA UNTUK MEMAHAMI SESUATU
    by  A Baghowi Bachar 

    Kamis, 23 September 2010

    VII. REALITA MENURUT AL-QUR’AN.

    Dilihat dari sudut manusia oleh manusia, dapatlah dikatakan bahwa manusia secara mandiri mampu mempertahankan hidupnya dimuka bumi tanpa bantuan siapapun. Manusialah yang menguasai bumi; hitam kata manusia, hitam pula wajah kehidupan. Putih kata manusia, putih pula wajah kehidupan. Kemampuan survive manusia ini didasarkan pada kemampuan akalnya yang membuahkan pandangan hidup, yang selanjutnya melahirkan falsafah dan ilmu serta tehnologi yang sanggup menguasai isi kehidupan ini.

    Menurut pendapat manusia, ini dikarenakan manusia mampu menemukan hakekat realita, menangkap kebenaran hakiki dari segalanya tanpa bantuan dari luar dirinya. Bahkan manusia merasa mampu memberi makna kehidupan duniawi ini melalui ilmu yang ia ciptakan. Meskipun masih banyak manusia yang mengakui adanya sesuatu kekuatan diluar dirinya, ada Realita tertinggi, namun sifatnya masih dianggap intra-cosmos, dan impersonal yang meliputi yang natural, maupun supranatural.

    Manusia itu masih anak kosmos, maka manusiapun diliputi sifat supra-natural juga. Unsur inilah yang merupakan kekuatan manusiawinya,yang mampu melepaskan dirinya dari cengkeraman unsur naturalnya sehingga dia selalu dan akan selalu mampu survive dalam kancah kehidupan ini. Melalui kekuatan pandangannya terhadap alam nyata yang didasarkan pada pengamatan fenomenologik, manusia menyimpulkan pendapatnya :
    Alam ini terjadi dengan sendirinya dan berkembang dengan sendirinya, mengikuti suatu hukum yang dapat dibaca oleh manusia dan difahaminya; yang kemudian disebut sebagai hukum alam. Darimana asalnya tidak menjadi masalah. Keperiadaan manusia sendiri juga demikian.
    Hanya melalui penguasaan hukum ini manusia mampu survive sebagai anak kosmos. Makin jauh manusia mampu melepaskan diri dari ikatan hukum alam ini, makin besar kesempatannya untuk survive. Akhirnya manusia mampu menguasai hukum itu, sehingga terjamin untuk tidak hanya survive, tetapi sekaligus menaklukkannya. Kerusakan yang ditimbulkan dalam penaklukan alam ini tidak dianggap sebagai suatu kegagalan, tetapi suatu dampak sampingan yang dilahirkan oleh suatu kebetulan. Benarkah demikian ?

    Semua ini terjadi karena manusia hanya mengamati segala sesuatu yang menampakkan diri, baik langsung maupun tidak langsung, dalam arti penampakan diri itu hanya melalui jejaknya atau akibat yang ditimbulkannya. Meskipun manusia mampu mempertajam dan meluaskan pengamatannya melalui penemuan tehnologi, namun bila alam tidak menampakkan dirinya, manusia, bagaimanapun canggihnya tidak akan mampu mengamatinya.

    Pengamatan manusia tidak mungkin melampaui batasan ruang-waktu, meskipun akalnya mampu melampauinya. Disamping itu segala sesuatu disamping exist/ada , juga mengandung makna. Mampukah manusia menangkap makna sesuatu yang sebenarnya ?. Makna yang tetap ada diluar diri manusia ?. Bukan makna yang dihubungkan dengan kepentingan/interest manusia !. Mampukah manusia mengamati fenomena itu secara lengkap ?. Sebab tiap fenomena itu tidak berdiri sendiri, tetapi berada dalam kerangka fenomena yang lebih luas.
    Mungkin manusia mampu melacak fenomena yang terjadi sebelumnya, meskipun tidak mungkin tuntas sampai final cause, tetapi mampukah manusia mendeteksi fenomena yang akan muncul ?. Mungkin hanya mampu mengira dengan memperhitungkan fenomena yang sudah terjadi dan yang kini diamatinya. Suatu perhitungan yang masih banyak pengandaian. Apakah dengan cara ini manusia mampu melihat realita yang sebenarnya ataukah dia hanya melihat CITRA manusia tentang realita ?. Mampukah manusia suatu saat mampu melihat hakekat realita yang sebenarnya ?

    Bagaimana Pandangan Al-Qur’an Tentang Realita ?

    Al-Qur’an menyatakan bahwa realita ini diciptakan oleh Allah ( QS.7:51 ; 16:40 ) dan diciptakan tidak- tanpa- tujuan. ( QS.3:191 ; 15:85 ; 21:16,17 ; 38:27 ; 39:5 ; 44:38,39 ; 46:3 ; 64:3 ). Dan diciptakan untuk kepentingan manusia ( QS 14:32,34 ; 16:10,14 ;).
    Dan realita/alam ini merupakan kitab Tuhan yang juga harus dibaca oleh manusia karena banyak pelajaran yang dapat diambil daripadanya (QS. 16: 65-68), diantaranya merupakan bukti adanya Sang Pencipta (QS. 2:164; 3:25,190; 16:13; 25:45-46; 29:44; 30:46,50; 36:37-41; 67:3) dan bukti kekuasaan Tuhan (QS. 15:16 ; 16:3, 4, 5, 8, 10, 11, 12) dan dipelihara oleh Tuhan/‘amr yang diexpresikan dalam hukum alam. (QS.41:11 ; 55:5,7 ;67:3,5) dan semua bertasbih/tunduk patuh pada Tuhan.( QS. 57:1 ; 59:1 ; 64:1).

    Dari pernyataan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pandangan Al-Qur’an terhadap alam/ realita itu lengkap mulai dari asal usul, makna sampai akhirnya.(QS.50:6-10 ).Jadi menurut Al-Qur’an evolusi kehidupan ini dibagi dalam 2 perioda utama, ialah :
    • Kehidupan sebelum diciptakannya manusia, yang berjalan seluruhnya mengikuti cara pemeliharaan/‘amr kholiq, sehingga bumi siap untuk dihuni manusia
    • Kehidupan sesudah diciptakannya manusia dimana jalannya kehidupan tidak lagi seluruhnya mengikuti ‘amr Tuhan, karena adanya intervensi manusia.
    Al-Qur’an mendiskripsikan realita yang ada ini dalam kerangka tujuan penciptaannya sehingga mampu memberikan hakekat yang mendasari proses yang ada dan makna fenomena yang tampak. Dengan demikian diskripsi Al-Qur’an itu lebih lengkap dan lebih benar daripada pengamatan manusia tentang realita. Wajarlah bila manusia juga wajib megambil Al-Qur’an untuk menyempurnakan pengamatannya tentang realita. REALITA yang sebenarnya REALITA, bukan CITRA MANUSIA tentang REALITA.

    Kesimpulan apa yang dapat kita ambil ?

    Dampak pandangan manusia tentang REALITA :
    1. Bahwa alam ini terjadi dengan sendirinya dan berkembang dengan sendirinya mengan-dung arti bahwa keperiadaan alam ini tidak mengandung tujuan. Konsekwensinya pengertian kata kriteria tidak lagi mantap dan mutlak dan hanya menjadi nisbi, temporer dan individuil sehingga akan bersifat egosentris/anthroposentris yang selanjutnya akan melahirkan sifat individualistik dan egoistik.
    2. Alam berjalan secara autochton dan bersifat sebagai suatu automaton. Apakah sumber otomasi itu ada dalam dirinya atau akibat interaksi dengan lingkungannya tidak menjadi masalah. Akibatnya siapa yang menguasai alam dialah yang berkuasa atas kehidupan dialah yang akan menentukan hitam-putihnya kehidupan. Tidaklah terdapat rasa tanggung-jawab kecuali pada dirinya. Ini sama saja dengan tidak di-isyaratkan ketentuan tanggung-jawab.
    3. Keperiadaan manusia tidak berbeda dengan keperiadaan alam. Existensi manusiapun tidak mengenal tujuan, sehingga tidak pula mengenal tanggung-jawab. Lahirlah adagium ‘hidup semau gue’. Inilah sumber kelahiran pragmatisme, positivisme, materialisme dan secularisme.
    Sebaliknya apa konsekwensi yang lahir dari pandangan Al-Qur’an  terhadap REALITA ?

    Menurut Al-Qur’an REALITA yang ada ini :
    • Diciptakan dengan suatu tujuan, sehingga untuk mencapai tujuan itu Sang Pencipta harus mengatur dan merekayasa-nya. Meskipun dari luar alam itu autochton, namun sumbernya ditentukan oleh Sang Pencipta melalui, menurut terminologi Al-Qur’an , apa yang disebut fitroh & takdir yang dilekatkan pada tiap tiap makhluk-Nya, yang menampakkan diri sebagai hukum alam. Jadi Tuhan mengatur dari dalam diri tiap makhluk-Nya.
    • Demikian pula makhluk manusia. Dia diciptakan dengan suatu tujuan tertentu. Hanya pada manusia di-anugerahkan free-will yang tidak diberikan pada makhluk-makhluk-Nya yang lain. Maka pada manusia diberi tambahan alat pemelihara/‘amr yang berupa dien. Kalau makhluk selain manusia ‘amr Tuhan bersifat imperatif, maka ‘amr Tuhan terhadap manusia disamping yang bersifat imperatif yang berlaku bagi raga/wahana. Untuk Ruh, ada ‘amr tambahan yang bersifat facultative, Kalau makhluk selain manusia menerima ketentuan yang mengikat. Maka manusia menerima amanah. Amanah inilah yang melahirkan tanggung-jawab, waktu bertanggung-jawab, macam pertanggungan-jawab serta reward dan punishment yang berupa surga & neraka.
    Apakah manusia tidak ingin melengkapi data data tentang REALITA ini, sehingga mampu merekayasa kehidupannya -yang akan menyelamatkan kehidupan ini- yang berarti juga menyelamatkan dirinya ?. Informasi apa yang harus menusia cari dalam Al-Qur’an, Tentu saja informasi yang tidak disajikan oleh alam, ialah data data yang dikenal dengan istilah ghoib. Sesuatu yang ghoib ialah sesuatu yang tidak mungkin didapat oleh manusia dari pengamatannya terhadap alam. Sesuatu yang ghoib ialah sesuatu yang tidak dapat di-deteksi, tetapi dapat dimengerti, difahami oleh akidah cq. akal setelah diberitahu oleh Sang Pencipta.

    WAHYU MELENGKAPI ARTI REALITA !

    by A.Baghowi B

    VI. KEDUDUKAN PROSES BERFIKIR DALAM AL-QUR’AN

    Berfikir !. Tidak ada manusia yang merasa tidak berfikir ! Marahlah manusia kalau dikatakan tidak berfikir. Namun mengapa Al-Qur’an menyatakan pada QS.34:46 :

    “ Katakanlah sesungguhnya Aku hanya menasehatkan padamu dengan satu perkara saja: Hadapkanlah dirimu pada ALLAH, berdua-dua atau sendiri sendiri , kemudian berpikirlah !

    Hanya satu perkara yang dipesankan : berpikir.
    Menurut manusia segala apa yang dikerjakan atau di-upayakan ialah hasil pemikiran. Ini memang seharusnya. Kenyataannya/kelihatannya tidak demikian, sehingga Tuhan berpesan seperti yang tercantum dalam ayat tersebut diatas. Sumber berfikir ialah akal, meskipun kata ‘aql sebagai kata benda tidak diketemukan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menggunakan kata kerjanya.

    Akal menurut Al-Quran mengandung arti :
    •  Kemampuan spiritual dengan aktivitasnya olah bathin
    •  Kemampuan mental dengan aktivitasnya olah nalar
    •  Kemampuan bertindak dengan aktivitasnya olah lahir

    Dengan olah bathin dimaksudkan usaha-usaha memahami dan menghayati konsep-konsep normatif dan sebagai hasilnya ialah lebih ditekankan pada penghayatan nilai yang dikandungnya/mengarah ke proses internalisasi nilai.

    Olah nalar ialah upaya memahami konsep teori, baik yang berupa sistem idea maupun sistem nilai. Hasilnya merupakan kerangka teori dan kerangka nilai.
    Olah lahir adalah usaha untuk menjabarkan konsep konsep diatas dalam sikap dan perilaku serta alat peraganya yang berupa hasil budaya/tehnologi.

    Jangkauan kata ‘aql lebih jauh dari jangkauan kata ratio, sehingga kata ’ilm juga melampaui batas makna ilmu atau science. Olah bathin ini dinyatakan Al-Qur’an dalam QS.26:193,194 dimana manusia memahami sesuatu melalui hatinya. Disinilah berkiprahnya ahli tasawuf. Olah nalar dinyatakan dalam QS 7:52, dimana akal bergerak secara rasional baik dalam bidang ilmu maupun falsafah. Disini bergeraknya para ahli kalam. Olah lahir, disinilah masuk pengertian hikmah yang dapat diartikan dalam bahasa ilmiah mengandung pengertian feasibility dan acceptibility. Disini diperlukan input dari lingkungan yang berupa kendala, tantangan atau penunjang. Inilah yang merupakan bidang jihad/social struggle. sedangkan kedua bidang diatas merupakan bidang ijtihad/intelectual struggle.

    Tidak ada satu nash-pun yang mengatur modus operandinya/mekanisme berfikir.
     

    Ini berarti Tuhan menyerahkan mekanismenya ini pada manusia melalui fenomena alam yang telah diciptakan-Nya. Disini letak kebebasan manusia karena modus operandi itu tidak menentukan kebenaran hasil. Yang menentukan ialah landasannya.

    SAPERE AUDE !!!

    by A Baghowi B

    Selasa, 21 September 2010

    V. PELAJARAN KISAH-KISAH QUR’ANI


    Salah satu kesan yang kuat yang diperoleh orang yang membaca Al-Qur’an ialah banyaknya kisah kisah sejarah atau cerita/dongeng, sehingga ALLAH menegaskan bahwa AL-Qur’an bukan buku cerita, dengan pernyataan yang lebih keras, ialah :
    Orang-Orang Musyrik Menganggap Al-Qur’an Dongengan Purbakala Belaka‘. (QS.8:31).
    Pernyataan ini mengandung dua arti :
    • Pertama bahwa kesan itu benar
    • Namun janganlah kita termasuk golongan orang musyrik.
    Jadi kita harus mampu memahami kisah/dongeng yang terdapat dalam Al-Qur’an itu sebagai bagian dari Huda dan Furqon. 

    Bagaimana cara kita memahaminya ?

    Al-Qur’an diturunkan sebagai huda dan furqon untuk merekayasa kehidupan ini.
    Salah satu jalan untuk memahami arti dan makna kehidupan ialah melalui pelajaran perjalanan hidup umat manusia, dengan mencoba menafsirkan sejarah.

    Pada saat ini ada beberapa aliran penafsiran sejarah :
    • Kelompok manusia beragama: yang menafsirkan sejarah, baik perjalanan evolusi alam -maupun sejarah perjalanan hidup sebagai manifestasi kehendak Tuhan melulu. Kesulitannya dalam memahami konsep ini ialah bahwa manusia tidak pernah mampu memahami kehendak Tuhan.
    • Kelompok yang mendasarkan interpretasinya pada politik. Ulah politik manusialah yang melahirkan fenomena kehidupan. Berpolitik artinya berebut hegemoni dalam bidang kehidupan. Inilah sebabnya sejarah itu di-identikan dengan kisah para penguasa, raja, kaisar, diktator disamping sistem sistem pemerintahan dan hebatnya persenjataan.
    • Kelompok manusia yang condong menggunakan pendekatan kepahlawanan atau heroisme (para pengikut Carlyle). Pendekatan ini sangat erat hubungannya dengan butir diatas, tetapi lebih bersifat individuil. Penggerak sejarah ialah pribadi pribadi para pahlawan.
    • Kelompok yang percaya bahwa penggerak sejarah ialah Idea (pengikut Hegel). Idea kecuali merupakan sumber gerak juga merupakan tujuan. Misalnya kelompok demokrasi. Kelompok ini mengabaikan budaya/peradaban yang melahirkan idea .Idea digunakan sebagai ideologi.
    • Kelompok manusia yang melihat sejarah sebagai rangkaian peperangan. Mereka melihat sejarah sebagai suatu rangkaian perebutan hegemoni, kalau perlu dengan melaui annihilisasi kelompok yang lain.
    • Kelompok Marxis yang mendekati sejarah melalui penafsiran pemenuhan kebutuhan atau ekonomi: produksi, distribusi dan pertukaran barang itulah yang melandasi proses kehidupan. Marx menyatakan bahwa yang terpenting ialah faktor ekonomi yang menentukan suprastruktur peradaban, yang kemudian diperkuat oleh ideologi , politik, keyakinan/agama serta kesusastraan yang seiring.

    Dari butir-butir diatas dapat disimpulkan bahwa kecuali butir 1., faktor penggerak utama sejarah lahir dari kesadaran keperiadaan/existensial manusia, yang diujudkan oleh keinginan/kehendak/ irodat-nya. Dengan demikian faktor penggerak bersifat anthropocentris, egosentris dan subjektif manusiawi. Tidak ada ujud kehidupan yang disebut kehidupan-mean-to-be , tidak dikenal istilah das sollen, tidak ada pengertian nilai, tidak ada suatu KEBENARAN, yang ada ialah “yang dianggap benar”. Kalau anggapan ini benar, maka apa yang dapat kita ambil dari mempelajari sejarah , kecuali bahwa hubungan antar manusia itu berupa suatu hubungan permusuhan/pergulatan/persaingan dan hubungan manusia dengan lingkungannya yang bersifat exploitatif/penguasaan . Yang ada dalam benak manusia hanyalah kemenangan, penguasaan, penjajahan untuk dirinya yang berarti pelecehan dan penghinaan serta pemerasan bagi yang lain. Homo homini lupus dan exploitation de l’homme par l’homme !!!

    Apa yang kita dapatkan dari cara pendekatan Al-Qur’an terhadap sejarah?

    Banyak cerita cerita , kisah kisah ditulis dalam Al-Qur’an, bahkan ada satu surah yang diberi judul Al-Qashshash/cerita cerita/kisah kisah. ( QS.28 ) yang menerangkan makna yang terkandung dalam kisah. Kisah tidak dituliskan sebagai layaknya suatu perjalanan sejarah dengan menyebut tempat dan tahun kejadian dengan jelas, malahan banyak mengandung dialog dialog , sehingga lebih mendekati cerita hikayat /legenda yang terlepas dari space-time-cultural-continuum daripada cerita sejarah. yang lebih realitis. Hikayat ialah suatu cerita tentang kejadian masa lampau yang lebih mengandung hakekat/ inti/nilai/makna daripada fenomena lahiriahnya (Kamus bahasa Indonesia Purwodarminto).
    Katakanlah yang dituliskan Al-Qur’an adalah ruhnya sejarah, yang meliputi sikap manusia terhadap Tuhan cq Rasul dan wahyu-Nya. Ini didasarkan pada anggapan Al-Qur’an tentang apa itu kehidupan.

    Menurut Al-Qur’an:

    Kehidupan ialah INTERVENSI manusia terhadap ‘AMR Tuhan yang dilekatkan pada fitroh dan takdir pada makhluk-makhluk-Nya dan di-expresikan sebagai hukum alam dan sosial. Dengan demikian tiap upaya manusia dalam mengelola kehidupan ini selalu berhadapan langsung dengan Tuhannya. Mudah dimengerti sekarang, bahwa dalam cerita cerita Al-Qur’an, musibah yang dialami mereka yang menentang Rosul dan da’wahnya disebut sebagai balasan/azab Tuhan. Makna yang terkandung dalam pesan yang dilukiskan dalam kisah kisah Al-Qur’an ialah : bahwa siapapun yang menentang hudaa Tuhan pasti akan hancur, kehidupan ini akan rusak.

    Apa perbedaan pandangan manusia dan Al-Qur’an terhadap sejarah ?

    Pandangan manusia yang dikemukakan dalam 6 butir diatas dapat dibagi dalam 2 golongan,ialah:

    1. Kelompok pertama ini memandang fenomena kehidupan ini merupakan expresi dari ‘amr Tuhan seluruhnya, sehingga manusia itu hanyalah alat belaka., sesuai dengan pandangan kaum jabariyah.
    2. Kelompok kedua yang diwakili kelima kelompok lainnya, menggambarkan bahwa fenomena kehidupan itu seluruhnya merupakan hasil irodat manusia, sejajar dengan pandangan kaum qodariyah.

    Al-Qur’an memandang fenomena kehidupan ini sebagai hasil intervensi irodat manusia terhadap ‘Amr Tuhan yang diexpresikan dalam hukum alam dan sosial. Adanya intervensi menunjuk adanya aktor intelektualisnya, faktor yang aktif [makhluk manusia yang dianugrahi iradat] dan faktor yang reaktif [makhluk selain manusia]. Sebelum kita membahas selanjutnya, masih ada satu ganjalan dalam memahami cerita-cerita Al-Qur’an yang kesannya tidak sesuai dengan fenomena kehidupan saat ini.
    Kalau dalam Al-Qur’an yang menerima azab itu ialah mereka yang menentang Tuhan cq. Rosul dan ajarannya saja, fenomena saat ini, yang terkena azab merata, yang menentang maupun yang beriman, malahan terkesan lebih banyak daerah umat Islam. Cerita dalam Al-Qur’an ialah cerita perjalanan umat sebelum diturunkan Al-Qur’an, wahyu pada waktu itu hantya diperuntukkan bagi suatu kaum/bangsa, sehingga pemisahan antara orang yang mengikuti Rasul dan yang menentang jelas batasnya. Dengan pembalasan Tuhan terhadap kaum yang menentangnya jelas lokasinya, pembalasan dapat dilakukan pada waktu itu. Sedangkan pada zaman Muhammad, wahyu yang diturnkan untuk seluruh manusia/bangsa dan domisili para yang beriman dan yang menentang jumbuh. Karenanya Tuhan mengundurkan azab- Nya pada zaman paska kerasulan Muhammad sampai hari kiamat.
    Mengenai umat zaman dan paska-zaman diturunkan Al-Qur’an, Al-Qur’an melukiskan kerusakan alam lingkungan dan kehidupan itu akibat ulah tangan tangan manusia, dan tidak sebagai azab, karena datangnya azab ditangguhkan setelah kiamat. Sepintas kelihatannya kontradiktif, tetapi kalau kita kaji lebih lanjut kontradiksi ini akan hilang:

    1. Cerita cerita dalam Al-Qur’an itu merupakan contoh- contoh kasuistik yang diangkat untuk umat zaman dan pasca zaman diturunkannya Al-Qur’an
    2. Keadaan umat sebelum Muhammad itu berbeda, karena Rosul hanya diutus untuk satu bangsa, bangsa Rasul, jadi daerah peristiwanya terbatas dan terpisah dari daerah lain.
    3. Al-Qur’an diturunkan untuk seluruh umat manusia sedunia, sehingga batas area yang dihuni umat Muhammad dan umat-non-Muhammad jumbuh
    4. Daya penalaran umat pra-Muhammad jauh berbeda dengan daya penalaran umat-pasca-Muhammad setelah Al-Qur’an membimbing penalaran manusia.

    Dengan demikian kalau azab/ujian/akibat intervensi dilaksanakan seperti pada umat pra-Muhammad, kemungkinan seluruh bumi akan rusak. Selanjutnya karena tidak akan ada lagi Nabi atau Rosul yang akan mengingatkan dan memperingatkan manusia, maka Al-Qur’anlah yang mengambil alih tugas Rosul dengan moderatornya uamat Muhammad. Caranya ialah dengan ungkapannya bahwa kerusakan yang terjadi itu karena ulah tangan manusia.
    Dengan demikian Al-Qur’an dapat mengambil alih tugas Rosul ! Cakrawala inilah yang diberikan oleh cerita cerita yang banyak dijumpai dalam Al-Qur’an.

    By A.Baghowi Bachar

    Senin, 20 September 2010

    IV. PENALARAN QUR’ANI.

    Iradat/kehendak bebas merupakan rahmat Tuhan yang hanya diberikan pada manusia. Modus operandinya melalui akal/penalaran. Maka pantas bila Al-Qur’an memberikan hudaa dan furqon untuk cara penggunaannya. Anehnya yang diberikan bukanlah cara/metoda/mekanisme/modus operandi-nya, tetapi hambatan, kendala, rintangan atau jebakan yang menghadang manusia dalam menggunaan akal.

    Bahaya yang dihadapi akal ialah:
    • Paksaan/ikrah, baik melalui usaha usaha intimidasi, brainwashing atau indoktrinasi seperti yang tersebut dalam QS. 2:256. Bentuk yang lebih halus melalui jalan penjajahan budaya, ekonomi dan politik, dimana pemaksaan itu tidak disadari oleh yang dijajah.
    • Ikut-ikutan secara membabi buta/taklid . Bahaya ini didapat melalui peniruan, penjiplakan atau kelatahan seperti yang dinyatakan oleh QS.4:135 ; 38:26.
    • Perkiraan/prasangka/anggapan/dzan yang didorong oleh nafsu, seperti yang tersebut dalam QS.10:36 ; 49:12.
    • Pesona/sihr seperti terdapat pada QS.2:102
    • Angan angan/keinginan seperti pada QS. 22:52
    • Tunduk pada suatu kelembagaan rahbaniah/aliran/isme pada QS. 9:31.
    Inilah sebabnya ‘lingkungan hidup Qur’ani’ harus diciptakan, karena lingkungan yang lain, seperti alam demokrasipun belum menjamin akan terwujudnya kemerdekaan berfikir.

    Akhir abad XX M. ini, proses globalisasi budaya melanda dunia dimana tiap bangsa terperangkap tidak hanya dalam lingkup sosial ekonomi, politik dan budaya tetapi juga dalam weltanschauung, pandangan hidup dan nilai, tanpa disadari .... suatu penjajahan mental-spiritual yang mempengaruhi alam fikiran. Penjajahan ini dilakukan melalui informasi yang dipercayai sebagai ‘bebas nilai’, melalui iklan, berita berita, film, drama, dan Sains dengan meta-sainsnya serta ideologi yang mengandung doktrin-doktrin.

    Dari pernyataan pernyataan Al-Qur’an tersebut diatas, Al-Qur’an yang diturunkan pada abad ke VII.M. telah mampu melihat kedepan untuk memperingatkan manusia terhadap bahaya yang besar dan merusak yang akan melanda kehidupan. Tidak hanya itu, bahkan mampu menunjukkan titik sentral/hakekat musuh manusia. Peradaban yang ada (Barat) telah mengangkat SETINGGI-TINGGINYA sampai memper-tuhan akal/ratio. Setelah Al-Qur’an memperingatkan manusia tentang bahaya penggunaan akal/kemampuan tertinggi manusia, selanjutnya Al-Qur’an memperingatkan tentang sumber pengetahuan/ilmu yang merupakan working’s materials untuk mengelola kehidupan ini.

    Menurut Al-Qur’an sumber ilmu itu ada , disamping Alam , diri umat manusia, juga wahyu seperti yang disebut dalam QS. 38:29 dan 47:22. Kalau kita hanya mengambil sebagian dari sumber itu, tentu kita tidak dapat melihat realita seperti yang ada dan pandangan kita akan terperangkap dalam labyrinth struktur penalaran yang kita ciptakan sendiri seperti keadaan kita sekarang. Kita hanya menangkap sebagian dari realita, ialah realita yang tertangkap secara indrawi, realita yang fana, sedangkan realita ghoib, yang hanya mampu kita ketahui melalui informasi yang berasal dari Tuhan tidak dapat kita tangkap. (QS. 96:1-5) Selama informasi yang kita gunakan tidak lengkap, bagaimana kita mampu mengelola kehidupan dengan benar, bagaimanapun cara nalar kita, kita kembangkan. Karena bukan metoda penalaran saja yang akan membawa kita mendekati kebenaran tetapi juga kelengkapan sumber informasinya !

    Kalau manusia dalam kehidupan ini tidak mengakui Al-Qur’an, sebaliknya Al-Qur’an mengakuii existensi manusia beserta akalnya sebagai bagian dari alam. Karena itu Al-Qur’an memadukan revelation/wahyu dan reason/nalar, wahyu dan akal, uchrowi dan duniawi, karos dan logos, sakral dan profan, transcendental dan sekular.

    Atas dasar ini Al-Qur’an mengarahkan logikanya berdasarkan :
    • BADAHA/Self-Evident Truth , suatu pembuktian secara tautologik. Dalam segala ungkapannya tidak mungkin orang “ mampu mengingkari” kebenaran yang diajukan, atau argumentasi yang digunakan ( QS. 52:35,36; 21:22 dan 23:91 ). Dalam dunia ilmiah, logika inii terdapat pada tingkat matematik. Axioma yang digunakan ialah kandungan akidah/tauchid.
    • NAZAR/MULAHAZA/human observation/sense perception. ( QS. 80: 24-32 ;10:101).Dalam dunia ilmu sesuai dengan tingkatan ilmiah/scientific level of thought
    • TAJRIBA/human experience, termasuk pengalaman dan penghayatan. (lahiriah dan bathiniyah) 
    Metoda -Qur’ani ternyata melebihi metoda-Yunani yang hanya bersifat spekulatif. Disamping itu Al-Qur’an tidak membutakan diri terhadap sifat dan kecenderungan manusia yang dapat mempengaruhi cara penalarannya melalui apa yang dikenal sebagai hidden assumptions yang memberi warna pada ilmu yang diciptakannya, yang merusak kehidupan.
    Oleh karena itu Al-Qur’an menambahkan kriteria dalam penalarannya, ialah :
    • MASLAHA/kepentingan umum/human interest. ( QS.5:6 ; 29:45 ; 11:85-87 ).                      Cara ini dapat memadukan yang halal/benar dengan yang baik/berguna , dalam terminologi sosekpolbud dirumuskan sebagai formal = legal = benar = baik = berguna = menguntungkan untuk keseluruhan, yang pada waktu ini menjadi berantakan. Yang dimaksud dalam pengertian maslaha ialah meliputi pemeliharaan : hidup/jiwa manusia ; milik/property; keluarga/family life; akal ; semua yang dapat merusak ini dicegah/dilarang/diharamkan.
    Selanjutnya Al-Qur’an mengakui existensi nurani/human conscience yang diabaikan oleh dunia ilmiah manusia. Nurani ada diluar akal. Aktivitas nurani dapat dikatakan penalaran bathiniyah, yang perwujudan paling luarnya berupa intuisi dan paling dalam ialah hati/qolb/nurani [S.Q.?] Kalau manusia menggunakan seluruh potensi-nya dalam bernalar dan berperilaku, maka akan terpadu otak dan hati, akal dan nurani, ilmu dan akhlak, hukum dan moral ......... inilah gambaran manusia seutuhnya yang ingin dicapai Al-Qur’an.

    Penalaran bathiniyah bukan penalaran abstrak/spekulatif/utopis, tetapi suatu penalaran untuk mendapatkan suatu insight dan makna sesuatu. Pengetahuan maknawi ialah pengetahuan yang mengandung nilai yang akan mewarnai pribadi seseorang. Penalaran semacam ini dinyatakan oleh QS. 17:14 ; 75:14,15 ; 81:8 ,9 ; 49:12 .
    Melalui cara penalaran demikian manusia merupakan sosok yang utuh, bulat, suatu gestalt, suatu totalitas, bukan suatu yang terdiri dari bagian bagiannya : akal, indera, hati, nurani, interest, kecenderungan dan imaginasinya dst [aidah] Inilah wajah penalaran Qur’ani yang jauh berbeda dengan penalaran insani.

    Akal itu menurut Al-Qur’an sifatnya terbatas. (QS. 27:65 ; 17:85)

    Mengapa perintah menalar ditujukan pada seluruh pribadi manusia ? Karena Tuhan menghendaki manusia tidak berhenti pada menalar [mengerti dan memahami ] tetapi harus melanjutkan sampai meyakini dan menjiwai yang melahirkan aktivitas/tindakan/amaliah/perilaku/pelaksanaan. Keperiadaan sesuatu itu tidak mempunyai makna bila berdiri sendiri. Sesuatu akan bermakna bila ia dihubungkan dengan yang lain. Terjadilah inter-relasi sampai inter-dependensi dan ini lahir karena adanya perbedaan. Perbedaanlah yang memberi arti tiap sesuatu, karena melahirkan alternatif. Adanya alternatif berarti ada pilihan yang selanjutnya melahirkan kreativitas yang diexpresikan dalam suatu keinginan sampai kehendak. Kehendak inilah yang kemudian menciptakan tindakan. Inilah sebabnya bahasa Al-Qur’an disebut bahasa maknawi dan penalarannya disebut penalaran maknawi/kreatif atau produktif. 

    Tidak ada seorangpun yang menginginkan bahwa penalarannya tidak memberikan apa-apa pada dirinya. Apa beda makna yang diperoleh manusia bila dia menggunakan penalaran Qur’ani dan penalaran ilmiah yang menguasai dunia sekarang ? Dengan penalaran ilmiah manusia melihat kehidupan itu terkotak-kotak [reduksionistis ], sehingga tiap disciplin ilmu menjadi mandiri. Hasilnya memang tidak memuaskan manusia, sehingga manusia mencoba memandang kehidupan secara lebih komprehensif atau hermenuetik, melalui upaya pendekatan inter-, trans- atau multidisipliner. Namun dengan cara demikian tujuan melihat kehidupan secara in toto tidak akan berhasil, karena nilai keseluruhan itu lebih dari jumlah nilai tiap bagiannya.

    Pandangan mengkotak-kotakkan kehidupan menjadikan kehidupan “tidak-bermakna”,sehingga manusia berusaha untuk mendapatkan “maknanya “ kembali dengan menghubungkannya langsung dengan diri-nya, keinginannya atau dengan kepentingan kelompok, golongan , bangsa, ideologi dst. Dengan demikian makna ini menjadi bersifat ego- atau golongan- atau interest- centris yang mengambil sifat subjektif. Pengertian makna yang seharusnya terikat pada kehidupan itu sendiri, yang berarti untuk kita semua berubah menjadi untuk aku, kelompok-ku, golongan-ku, bangsa-ku dst. Arti kata makna berubah menjadi guna, sehingga bersifat pragmatis. Bahkan manusia melanjutkan sikap pragmatis ini dari kepentingan manusiawinya ke kepentingan alat yang dia ciptakan, misalnya Ilmu. Lahirlah adagium ilmu-untuk- ilmu bukan lagi ilmu untuk manusia. Apapun akibatnya, manusia tidak lagi peduli !

    Al-Qur’an menghubungkan segala sesuatunya dengan tujuan penciptaan, tujuan taklif Kholik pada manusia. Hubungan ini tidak bersifat individuil, kelompok, golongan, bukan pula bersifat sektoral, tetapi universal, global yang disebutnya objektif, jadi bersifat realistis tanpa pragmatis. Dengan demikian maslaha tercapai. Inilah PENALARAN QUR’ANI yang menopang tujuan diturunkannya AD-DIEN. Penalaran Qur’ani akan menyatukan manusia tanpa memperdulikan warna kulit, keyakinannya, status sosialnya dst. Informasi bukan lagi merupakan kekuatan dan kekuasaan, tetapi akan menjadi rahmat.

    Pada abad ke XXI M. ini ilmu Informatika telah berkembang dengan cepat, namun apakah ilmu serta implementasinya menjadikan ilmu itu sebagai rahmat ? Alat untuk memudahkan hubungan antar manusia menjamur, sehingga jumlah aliran informasi yang berupa gelombang electromagnetik memenuhi atmosfer kita, sedangkan ilmu kita belum sampai menjangkau apa akibatnya. Bahkan memudahkan ilmu itu untuk menjadi ALAT PENJAJAHAN PERADABAN BARU. Lahirlah DADJJAL baru !!

    Mengapa manusia selalu saja mengabaikan AJARAN TUHAN-nya ??

    by A.Baghowi Bachar

    Kamis, 09 September 2010

    Sekilas Tentang Klinik Makmur Jaya

    Klinik MakmurJaya berdiri Mei 2009 sampai saat ini dengan Visi menjadi klinik swasta yang melayani pengobatan dasar dan promosi kesehatan masyarakat dengan pendekatan kasih sayang dan empati, serta dengan biaya terjangkau dan murah sesuai kemampuan sosial-ekonomi masyarakat. Misinya. menjadi klinik pengobatan terdepan terutama dalam melayani pasien tidak mampu, pasien ekonomi lemah dan pasien dengan sistem asuransi kesehatan. menjadi klinik dengan pendekatan dokter keluarga khususnya pasien asuransi kesehatan. menjadi klinik dengan pengobatan dasar yang mampu melayani pasien rawat jalan yang tidak perlu rawat inap. menjadi klinik perujukan bagi pengobatan lanjutan yang diperlukan dengan perawatan ke RS.
    Saat ini berjalan kedepan, klinik makmurjaya telah melayani pasein dalam waktu 24 jam dengan dokter jaga yang siap ditempat; baik bagi pasien umum atau peserta ASKES, Jamsostek. suatu hal nilai lebih bagi peserta ASKES-Jamsostek adalah waktu pelayanan yang tidak terbatas- baik setiap hari hari kerja atau hari libur. bila dahulu dibatasi pada jam tertentu dan harus antri lama, sekarang bisa lebih lenggang waktunya atau tidak terlalu antri. Kerjasama klinik makmur jaya dengan PT ASKES, JAMSOSTEK merupakan terobosan baru yang dilakukan sebagai bentuk pro-pasien/peserta yang lebih baik dari sebelumnya. hal ini sesuai dengan visi dan misi dari klinik makmurjaya-yang menjadikan pasien bukan sebagai objek tapi sebagai patner, subjek dalam sistem pelayanan kesehatan. diharapkan dengan interaksi klinik-pasien-asuransi terjadi secara baik dengan dimensi timbal-balik, maka tujuan-masing masing dapat tercapai.arti sehat menjadi tidak sekedar mengobati yang sakit secara fisik, tetapi juga dalam arti psikis, sosial-ekonomi, sistem pengolahan kesehatan yang baik. mudah-mudahan klinik makmurjaya menjadi bagian dalam solusi kesehatan masyarakat seterusnya. amin(admin.

    Senin, 06 September 2010

    III. LOGIKA UNGKAPAN AL-QUR’AN.

    Al-Qur’an yang berlaku bagi seluruh manusia sepanjang masa, melukiskan sesuatu itu secara mutlak, dalam arti terlepas dari batasan ruang - waktu dan budaya, ia berada diluar space-time-cultural continuum. Dengan demikian bahasa Al-Qur’an tidak mengenal istilah ‘proses’. Al-Qur’an melukiskan segala sesuatu dengan mengambil titik pangkal dan titik akhir. Manusia sebaliknya, melihat segala sesuatu dalam kerangka ruang dan waktu, tanpa menjangkau titik mula dan titik akhir. Dia melihat segala sesuatu sebagai suatu proses. Melihat sesuatu dalam proses tidak pernah melihat secara tuntas dan sempurna, karena makin diperluas batasnya, baik mengenai ruang atau waktu, makin banyak variabel yang tidak terjangkau, makin sulit ia menarik suatu kesimpulan. Inilah sebabnya manusia cenderung untuk menyederhanakan/reduksionisasi segala sesuatu.

    Pengertian proses melahirkan pengertian hubungan kausalitas yang selanjutnya akan melahirkan pengertian sebab - akibat. Sayangnya manusia hanya mampu mengamati rangkaian sebab-akibat itu dalam jangkauan proses yang pendek. Jangkauannya hanya mampu meliput dari apa yang dikenal sebagai efficient cause/sebab langsung sampai direct effect/akibat langsung. Sebaliknya Al-Qur’an melihat sesuatu itu dari titik awal sampai titik akhir atau dari sebab mula/asal usul/final cause/ causale causans sampai akibat akhir atau final effect atau tujuan. Pengamatan manusia hanya berupa moment - opname/pengamatan sewaktu dari suatu proses yang tidak terbatas, sehingga pandangan manusia tidak mampu mencapai suatu pandangan holistik; pandangannya bersifat reduksional.

    Dalam menghadapi proses yang kompleks, manusia akan berusaha untuk membagi-bagi proses itu, sehingga menjadi sederhana dengan akibat bahwa yang diperolehnya tidak mungkin menjangkau seluruh realita yang diamatinya, sehingga kesimpulan yang diperolehnya tidak mungkin benar 100%. Meskipun kesimpulan kesimpulan itu dirangkai dalam waktu panjang, di-sistematisir, ilmu yang tersusunpun tidak mungkin menjangkau realita yang utuh, pasti terjadi pembiasan pandangan tentang realita yang diamatinya. Inilah sebabnya dalam perjalanannya, ilmu hanya mampu membuktikan akan kesalahannya.

    Al-Qur’an itu melihat segala sesuatu mulai dari titik awal sampai titik akhir, sehingga pandangannya tuntas, holistik, komprehensif dalam kemasan yang sederhana, bukan dalam arti menyederhanakan/ reductionism. Bagi manusia ungkapan Al-Qur’an akan terasa adanya discontuinitas, loncatan loncatan yang tidak runtun. Inilah salah satu hal yang menyulitkan manusia mempelajari Al-Qur’an, ialah diskripsinya yang holistik yang tidak melukiskan ‘efficient cause’ dan ‘direct effect’, yang dapat memperlihatkan adanya rangkaian fenomena yang runtut dalam jangka pendek. 

    Kedua: kesederhanaan ungkapan Al-Qur’an yang berbeda dengan kesederhanaan perumusan manusia. Yang pertama lahir justru dari pandangan yang holistik - komprehensif, yang kedua dari reduksionisme sehingga bersifat parsial. Bagaimanapun juga ‘keseluruhan itu berbeda dengan jumlah bagian-bagiannya” 

    Kesederhanaan perumusan Al-Qur’an menunjuk pada kompleksitas yang tinggi, sedangkan kesederhanaan perumusan manusia menunjuk pada ketidak-mampuan menggapai keseluruhan realita. Perbedaan pandangan ini akan melahirkan perbedaan logika.

    Diskripsi Al-qur’an tentang realita itu suatu diskripsi yang bersifat holistik, sehingga Al-Qur’an tidak pernah berbicara tentang proses, dengan kata lain Al-Qur’an tidak pernah mengangkat modus operandi sesuatu dalam pembicaraannya, karena modus operandi itu tidak menentukan akan kemutlakan kebenaran yang diperolehnya.

    Bagaimana Al-Qur’an mengemukakan sesuatu melalui ungkapan yang holistik ? Al-Qur’an mengemukakannya melalui beberapa cara , misalnya:
    • Dengan melalui badaha/self-evident-truth      (QS. 21:22 ; 23:91; 52:35-36 dst )
    • Dengan melalui nazar atau malahaja/human observation/sense perception (QS. 10:101; 80: 24-32 dst).
    • Melalui tajriba / human experience ( QS.10:22-23 ; 56:83-87 dst )
    • Melalui masalah/human interests gain (QS. 5:6 ; 10:108 ; 29:45 dst.)
    Semua ini dihubungkan dengan tujuan/final effect (axiologis ?), sedangkan dalam memberikan argumentasi Al-Qur’an selalu mengembalikannya pada sumbernya/final cause (ontologis ?) Melihat butir butir diatas dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an berbicara dengan manusia tidak hanya melalui akal/ratio saja, tetapi berbicara pada manusia dalam kemampuan totalitasnya [afidah] artinya Al-Qur’an berbicara pada nurani, intuisi, imaginasi, keinginan, pengalaman disamping pada kecenderungan-kecenderungan manusia. Manusia sudah terbiasa dengan penalaran sektoralnya, sehingga ini juga menyulitkan manusia dalam memahami Al-Qur’an.

    Yang menyulitkan manusia dalam memahami Al-Qur’an bukannya Al-Qur’an tetapi kebiasaan manusia sendiri !

    EGOSENTRISME manusia menghalanginya dalam
    MEMAHAMI KITABULLAH.

    by A.Baghowi Bachar