Translate

Telusuri via Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Metode tafsir Al_Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode tafsir Al_Quran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Juli 2025

MENGUAK DAN MEMAHAMI KITABULLAH, AL QUR'AN

Kata Al-Qur’an kalau digunakan sebagai nama kitab berarti ‘bacaan’. Istilah ini sama sekali tidak menunjukkan kandungan maupun bidang yang digeluti kitab itu. Kitab dalam pengertian Al-Kitab atau Buku Suci diidentikkan dengan kata scripture yang berarti a body of writings considered as authoritative atau a classically embodying the essence of a way of life, movement, era or nation.

 Dalam diskripsi ini, yang membedakan Al-Qur’an dengan buku-buku lain ialah kata ‘authoritative’ yang berarti demanding a submission , dan kata classically yang berarti of the highest quality, having a value or position recognized and unquestioned. Ini memberi pengertian bahwa Al-Qur’an merupakan suatu bacaan yang menghendaki ketundukkan pembacanya. Jadi siapa yang membaca Al-Qur’an diharapkan memahami, meyakini, menghayati menundukkan diri, baru melaksanakan apa yang terkandung di dalamnya. Qoro’na wa atho’na.

 Darimana datangnya sifat authoritative (otoritas) Al-Qur’an ?

Surat pertama yang diturunkan berbunyi:

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan,
Menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah ! Tuhanmu yang Maha Pemurah,
Yang mengajar dengan kalam,
Mengajar manusia apa yang tidak dapat diketahuinya.....

Jumat, 08 Mei 2020

XIV. MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH ; AL KAAFIRUN


TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.

109.   QUR’AN SURAH  CIX :  AL-KAAFIRUUN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada pembuka surah, sekaligus topik sentralnya ( 1-5), yang menjelas kan bagaimana seharusnya sikap umat Islam terhadap orang-orang kafir terhadap penyembahan terhadap Tuhan masing masing.
TEMA  SURAH :
Karena Tuhan yang disembah itu BERBEDA, maka sikap kita harus tegas, ialah kita TIDAK menyembah TUHAN-MU dan kamu tidak menyembah Tuhanku. Ini bukan dalam pengertian toleransi, apalagi kompromi, tapi menarik garis batas yang tegas yang menyatakan TIDAK ADANYA KESAMAAN.
SUDUT PANDANG SURAH :
Sikap orang muslim terhadap orang orang kafir lahir dari PERBEDAAN TUHAN YANG DISEMBAH dan bukan dari masalah masalah pribadi.

110.   QUR’AN SURAH  CX :  AN-NASHR/PERTOLONGAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah hanya terdiri dari satu topik dan nama judul surah terdapat pada ayat pertama, yang menegaskan: bila pada suatu waktu pertolongan Tuhan datang dan kita melihat manusia berdujun-dujun masuk agama Allah, maka kita wajib bertasbigh dan mohon ampun, karena Tuhan Maha Penerima taubat. Jadi bukan kebanggaan, atau merasa lebih !
TEMA  SURAH :
Justru datangnya pertolongan Tuhan harus disambut dengan tasbigh dan mohon ampun.
SUDUT PANDANG SURAH :
Tiap datangnya pertolongan Tuhan, yang berarti tiap kemenangan yang kita capai, kita wajib menyambut dengan TASBIGH dan MOHON AMPUN. Ini berarti DILARANG  SOMBONG, justru harus LEBIH MERENDAHKAN DIRI.
3.      QUR’AN SURAH  CXI :  AL -LAHAB
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 3. ayat penutup dari topik sentral surah (1-3 )   Pada  ayat pertama juga terdapat nama itu , tetapi digunakan sebagai nama alias/nama ejekan seseorang yang paling gigih menentang Nabi. Manusia semacam inilah yang akan diazab dineraka, dalam api yang bergejolak. Dan bagi dia harta benda dan apa yang diusahakannya tidak ada gunanya sama sekali.
TEMA  SURAH :
Bagi manusia yang menentang Nabi semua apa yang diusahakan tidak berguna sama sekali.
SUDUT PANDANG SURAH :
Ukuran apa yang diusahakan manusia untuk menilai (bukan mengadili) manusia lain, ialah SIKAP-nya terhadap Nabi dan ajarannya.
4.      QUR’AN SURAH  CXII :   AL-IKHLASH
TOPIK SENTRAL :
Nama judul surah tidak terdapat dalam satu ayat2nya, sehingga kita harus mencari salah satu ayatnya yang mampu memberi makna pada nama judulnya. Kapan kita ini bisa bersikap IKHLASH atau TULUS ?  Manusia itu bisa tulus, bila ia tahu dan sadar akan kemutlakan ketergantungannya pada sesuatu. Hanya terhadap sesuatu itu dia bisa tulus. Ayat yang paling dekat dengan pengertian ini ialah ayat ke 2: Allah adalah Tumpuan segala harapan !
TEMA SURAH :
Sifat Tuhan yang bagaimana yang dapat membuat manusia ikhlas menundukkan dirinya pada-Nya ? Ialah Dia yang merupakan satu satunya tumpuan harapan manusia. Ketergantungan mutlaknya manusia pada Allah.
SUDUT PANDANG SURAH :
Tauchid, peng-Esa-an Tuhan, bukan untuk Tuhan tetapi untuk kepentingan manusia. Ilmu inilah yang mampu melahirkan ke-tulusan manusia dalam menundukkan dirinya pada-Nya.
5.      QUR’AN SURAH  CXIII :  AL-FALAQ/WAKTU SUBUH
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah ini hanya terdiri dari satu Topik, dan nama judul surah terdapat pada ayat pembukanya dan digunakan sebagai salah satu sifat Tuhan, pada siapa manusia patut memohon perlindungannya terhadap: kejahatan makhluq-Nya; kejahatan gelapnya malam; kejahatan para penyihir dan kejahatan pendengki waktu ia dengki.
TEMA  SURAH :
Paling patut untuk menjadi pelindung ialah Dia yang menguasai sumber bahaya, ialah Dia yang MENCIPTAKANNYA.
SUDUT PANDANG SURAH :
Apakah kita patut mencari pelindung selain yang menciptakan sumber bahaya yang mengancam diri kita manusia ?
6.      QUR’AN SURAH  CXIV :  AN-NAAS
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada semua ayat ayatnya kecuali pada ayat ke 4. Nama judul digunakan untuk menunjuk nama Tuhan yang ada hubungannya dengan manusia dan siapa yang menghadapi bahaya dan darimana datangnya bahaya.
TEMA  SURAH :
Seperti surah terdahulu, untuk memilih pelindung ialah Dia yang menguasai sumber bahaya dan yang mengetahui darimana asalnya bahaya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah ini menujukkan SIAPA YANG PATUT menjadi PELINDUNG MANUSIA dan menunjukkan bahwa BAHAYA YANG MENGANCAM MANUSIA itu berasal dari JIN dan MANUSIA. Artinya datang dari luar dan dalam diri manusia.


”INILAH TEMA TEMA SURAH DAN SUDUT PANDANG SURAH SURAH AL-QUR’AN, BUKAN KANDUNGAN SURAH.
DARI TEMA TEMA SURAH INI MANUSIA AKAN MENDAPATKAN PENGETAHUAN TENTANG CARA AL-QUR’AN MEMANDANG KEHIDUPAN SEHINGGA MANUSIA AKAN MENDAPATKAN PENGERTIAN, PEMAHAMAN DAN MOTIVASI YANG AKAN MELAHIRKAN KEKUATAN UNTUK MENUNDUKKAN DIRI SECARA KAAFFAH PADA KEHENDAK ILAHI.
KANDUNGAN SURAHLAH NANTI YANG AKAN MEMBEBERKAN BENTUK KEHENDAK  ILAHI-NYA.”
   


By  A Baghowi Bachar

XIV. MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH: ASH SHAFFAAT



TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.

37.     QUR’AN SURAH   XXXVII :  ASH-SHAFFAAT/BARISAN
TOPIK SENTRAL SURAH:
Nama judul surah terdapat sebagai sumpah untuk menegaskan bahwa Tuhan manusia itu ESA, Tunggal, yang menciptakan alam raya dan menjaganya dari ganguan syetan. Ada 3 hal yang digunakan sebagai sumpah :
R  Barisan yang teratur
R  Rombongan yang bernahi mungkar
R  Rombongan yang mempelajari pelajaran/pengingat/dzikr
Kemudian diikuti dengan ayat, bahwa bagi mereka yang dapat menangkap pembicaraan/kalimat Tuhan/wahyu , mereka itu akan diiringi dengan cahaya yang cemerlang. Dilanjutkan dengan dialog dengan kaum musyrikin Mekah tentang adanya hari kiamat dan apa yang bisa terjadi.
Nama judul yang kedua terdapat pada ayat ke 164 yang termasuk topik akhir dari surah. Topik yang merupakan bantahan yang tegas, bahwa apa yang dituduhkan manusia tentang sifat Tuhan yang mempunyai anak itu tidak berdasar sama sekali. Ayat yang ada nama judul surah itu, pengakuan dari para malaikat, bahwa mereka selalu dalam barisan waktu bertasbigh pada Tuhan.
TEMA  SURAH :
Surah ini menegaskan akan ke-Esa-an Allah dan kebenaran akan adanya Kiamat. Dan menggunakan 3 hal sebagai penguat/sumpah. 3 hal itu ialah 3 sikap manusia yang vital dalam melahirkan keimanan akan ke-ESA-an Tuhan yang diejawantahkan dalam upaya merekayasa kehidupan menuju ke peradaban Ilahiyah/peradaban MONOTHEISTIK .  Disini ditekankan akan fungsi uchuwah, membrantas kebathilan dan mempelajari wahyu. Keadaan manusia selalu sebaliknya: terpecah belah, hanya berbuat baik dan mengabaikan peringatan. Harus diingat, bahwa nahi mungkar jauh lebih vital daripada amar ma’ruf ! Artinya manusia harus MAMPU dan MAU berkata TIDAK !
Topik akhir yang mengandung nama judul surah hanya menguatkan topik pertama.
SUDUT PANDANG SURAH :
Ada beberapa persaratan yang mutlak untuk menciptakan peradaban Ilahiyah dimuka bumi ini. Persaratan inilah yang harus di-upayakan manusia, sehingga tercapai umah yang :
  • Merupakan barisan yang berlapis lapis,
  • Mengikis kebathilan dan
  • Selalu mempelajari wahyu-nya.
Keadaan yang dilupakan kebanyakan umat. Realitas keperiadakan ummat merupakan keadaan yang terbalik : terpecah-belah, menghunjam ayat ayat kalamullah, membebek sekularalisme dst.
38     QUR’AN SURAH   XXXVIII :  SHAAD
TOPIK SENTRAL SURAH :    
Nama judul surah berupa huruf hijazi yang merupakan kalimat ghoib dan digunakan sebagai kata pembuka surah, dilanjutkan dengan sumpah Tuhan dengan Al-Qur’an sebagai dzikr/pengingat. Namun orang-orang kafir yang congkak mengingkarinya dan memilih tuhan tuhan nenek moyang mereka untuk disembah. Diteruskan dengan kisah kaum Nuh, ‘Aad, Fir’aun, Tsamud , kaum Luth dan Syu’eb yang dibinasakan Tuhan karena keingkarannya. Topik ditutup dengan konfirmasi bahwa Al-Qur’an itu mengandung penuh keberkatan , ayat ayatnya supaya diperhatikan hingga orang orang yang berfikir mendapatkan pelajaran. ( ayat 1 s/d 29).
TEMA  SURAH :
Fungsi utama Al-Qur’an itu sebagai  PENGINGAT/DZIKR. Mengingatkan siapa manusia itu, siapa Tuhan dan apa itu wahyu, sehingga manusia dapat bersikap benar.
SUDUT PANDANG SURAH :
Fungsi Al-Qur’an yang tidak boleh di-abaikan manusia. Kita harus MENGGUNAKAN  Al-Qur’an sebagai PENGINGAT/DZIKR, artinya selalu diulang-ulang mempelajarinya selama hidup dan selalu digunakan sebagai rujukan/referensi dalam merekayasa kehidupan ini.

39     QUR’AN SURAH   XXXIX :  AZ-ZUMAR/ROMBONGAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 71 dan 73, yang melukiskan tentang keperiadaan orang-orang yang ingkar yang digiring ke neraka ber-rombongan, demikian pula orang-orang yang beriman, ber-rombongan dimasukkan ke surga. Ayat ayat ini termasuk dalam ayat ayat topik penutup surah yang terdiri dari ayat 64 s/d 75 yang menceriterakan tentang hasil akhir yang diperoleh oleh mereka yang ingkar dan mereka yang beriman. Topik ditutup dengan pernyataan bahwa akhir kehidupan ini seluruh kehidupan/alam raya berada digenggaman Tuhan. Topik dibuka dengan bagaimana seharusnya manusia bersikap, bila diajak untuk menyembah selain Allah. Sebab mereka yang menyekutukan Allah pasti akan terhapus semua amalannya dan termasuk orang-orang yang merugi.
TEMA  SURAH :
Topik ini menunjukkan Final effect, bukan final ketentuan manusia. Artinya neraka atau surga itu bukan ketentuan Tuhan, tetapi benar benar AKIBAT ulah manusia sendiri.
SUDUT PANDANG SURAH :
Neraka dan surga adalah hasil ulah manusia sendiri, BUKAN ketentuan Tuhan.

By  A Baghowi Bachar

(Posting  2 Agustus  2011/ 2 RAMADHAN)

Minggu, 11 Desember 2016

Mengapa Perlu Metoda Tafsir Al Quran?..(2)



Akhirnya apakah ‘ metoda tafsir’ yang dapat digunakan pada abad ini sebagai landasan ijma‘ tidak perlu dicari, karena yang ada pada saat ini hanyalah persyaratan mufassirnya saja ?. Apakah metoda yang ada yang telah dianggap baku, terutama di negara kita ini telah mencukupi ?. Kalau iya, mengapa ijma’ tidak pernah mencapai tujuannya untuk menyatukan pendapat umat ?. Mengapa para ulama kita selalu saja berbeda pendapat tanpa ada usaha maksimal untuk saling mendekati dan mengapa banyak terjadi percekcokan, bahkan permusuhan ?. Mengapa falsafah hidup Qur’an , yang notabene datang dari Sang Pencipta , tidak dapat mengimbangi falsafah hidup dunia(materialisme-liberalisme) yang ada ?.  Mengapa banyak tulisan tulisan yang mengkritik, bahkan banyak pula yang menghujat kitab kitab tafsir, bahkan Al Qur’an yang tidak rasional ?. 

Sekian banyak pertanyaan yang menghujam benak penulis, yang membuat sangat prihatin menghadapi masa depan kehidupan manusia. Sangat tegas dan jelas, bahwa Allah , Pencipta dan Penguasa kehidupan telah menurunkan Wahyu terakhir-Nya, untuk memerintahkan pada seluruh manusia, makhluk-Nya yang telah menirima penugasan untuk mewujudkan kehidupan duniawinya sebagai Peradaban Ilahiyah berdasarkan Al Qur’an.

Namun apa yang terjadi ?, Justru Peradaban Jahiliyah (peradaban sekuler, materialisme-liberalisme ) yang sekarang menguasai kehidupan duniawi manusia. Inilah alasan utama penulis memberanikan diri untuk menuliskan tulisan ini, karena hanya Kitab Wahyu Al Qur’an yang diturunkan untuk seluruh kaum, bangsa manusia.

Mudah mudahan Allah mengampuni penulis , bila tulisan ini justru melahirkan hal hal yang lebih buruk dari sebelumnya dan kalau sekiranya tulisan ada gunanya meskipun sebutir zarrah, mudah mudahan Allah membukakan mata hati kita semua untuk melanjutkan upaya meningkatkan derajad kekaaffahan umat manusia , terutama umat Muhammad, sehingga mampu melaksanakan perintah-Nya yang berbunyi: “liyudz-hira-hu ala ad-dieni kullihi”.

Upaya untuk ini jelas diperlukan perubahan cakrawala beragama, yang dimulai dengan mencoba melihat wajah Al Qur’an dari sekedar sekumpulan 6.236 ayat yang terbagi dalam 114 surah menjadi suatu diskursus lengkap (text book) yang mengandung kehendak Ilahi. Bagaimana manusia seharusnya menata hidup duniawinya. Apakah Al Qur’an dapat difahami melalui pendekatan “ Ilmiah” seperti ilmu ilmu lain, yang mampu melahirkan peradaban pada waktu ini ?. Pandangan ini akan melahirkan perubahan ‘ metoda ilmu tafsir’ yang melahirkan pandangan hidup / weltanschauung theokratik yang mampu menandingi ideologi demkrasi ?.

Diharapkan bawah penemuan Sistematika Al Qur’an akan melahirkan suatu tafsir alternatif yang berupa Tafsir Perspektif ( al-syuri) atau Tafsir Sistematik. Artinya kita akan mampu menggunakan Al Quran untuk menciptakan sistem peradaban Ilahiyah di muka bumi seperti tugas yang diembankan pada umat manusia melalui umat Muhammad ?!

Tafsir ini diharapkan akan dapat melampaui batasan tafsir dari ayat ke ayat, dari surah ke surah yang terkesan fragmentaris dan berulang-ulang, ipso facto ( kenyataan yang ada) selalu bersifat problematis. Sistematika ini harus mampu membangun tafsir tematik dan sistematik sedemikian rupa, sehingga mampu melahirkan konsep universal tentang kehidupan Islami ( dunia, manusia dan sistem ideologi-sosial –ekonomi-politik- budayanya).

Ini berarti bahwa tafsir harus mampu mencakup kemajuan iptek dalam arti bahwa agama islam itu dapat diterima oleh dunia manusia. Dengan demikan akan terasa adanya tali penghubung antara langit dan bumi sebagai disebut dalam QS, Azzukruf (43): 84.

” wa huwalladzii fissamaa’ ilahu wa fil ardhi ilahu wa huwal hakiimul a’lim “
Dan Dia-lah Tuhan (yang disembah) dilangit dan Tuhan (yang disembah) di bumi dan Dia-lah yang Maha bijaksana lagi Maha mengetahui

Jadi melalui metoda tafsir ini diharapkan lahirnya dimensi revolusioner dari khazanah intelektual lama, yang terdiri dari tiga macam ilmu pengetahuan:
  1. Ilmu-ilmu Normatif Rasional (al-ulum al naqliyah al aqliyah), seperti ilmu Usul Al Dien, Usul al Fiqh, ilmu Tasawuf dan seterusnya, sehingga lahir “ falsafah hidup Qur’ani” atau Karos.
  2. Ilmu-ilmu Rasional Semata ( apa yang disebut ilmu kauniyah/logos/ falsafah ilmu sekarang, yang mampu menglah kehidupan ini dari segi fisik (materi) hingga sosial budaya, yang akan melahirkan tehnologi dan sistem perekayasaan kehidupan sosial budaya dalam kerangka Qur’ani dan melahirkan iptek yang lahir dari imtaq.
  3. Ilmu-ilmu Normatif Tradisional ( al naqliyah), seperti ilmu Al Qur’an, hadist, sirah Nabi dan tafsir yang dapat digunakan tiap manusia sebagai penunjang (Jurisprudensi) dalam upayanya memahami wahyu secara mandiri, disamping lahirnya ilmu agama yang hidup, mampu mencakup perubahan perubahan yang dihasilkan oleh hasil perkembangan ilmu pengetahuan sampai falsafah hidup modern dan menjabarkannya dalam kehidupan sehari-harinya. 
Pada saat ini Ilmu tafsir yang dominan hanya yang tradisional, yang ternyata belum mampu menempatkan tingkat ilmiahnya sejajar dengan Sains-Meta, Sains-Falsafah, Hidup-Ideologi, yang melahirkan sistem –sistem kehidupan yang membangun peradaban sekuler yang menguasai kehidupan.

Hasil umat islam tidak lagi merupakan Umatan wasathan dan menjadi umat pinggiran dalam kehidupan ini. Perkembangan ilmu cepat sekali maju mulai Abad XIX yang diupayakan bukan oleh umat islam, sehingga baik yang berupa ranah materi, maupun ranah pemikirannya belum mampu menjamah kehidupan umat. Bahkan sikap umat pada umumnya malah menjauhinya atau membebeknya

Penafsiran Al Qur’an seharusnya mampu melahirkan ilmu agama atau karos yang mampu menghasilkan ranah sistem perekayasaan kehidupan dan ranah penalaran seperti fungsi sains pada waktu ini.

INSHAA ALLAH !

Referensi :
Dari  Pengantar buku:  SISTEMATIKA AL QURAN, Mengungkap Pesan Ilahi  didalam  Susunan Kitab Suci  - by Ahmad Baghowi Bachar.

Mengapa Perlu Metoda Tafsir Al Quran ? (1)

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menghapuskan hyme pemujaan metoda tafsir yang sudah diterima tanpa protes dan kritik (' taken for granted') oleh sebagian besar umat. Sesungguhnya telah banyak Ulama besar yang ada diluar tanah air, mulai 2-3 abad yang lalu, yang telah memulai dengan mencari suatu metoda tafsir alternatif, meskipun mereka belum menyatakannya dalam bahasa yang gamblang, terang dan tegas dan langsung sebagai suatu metoda tafsir. Penulis sangat memprihatinkan keadaan umat pada waktu ini yang kelihatannya makin lemah, karena ukhwah diniyah makin menipis dan banyak organisasi, partai , bahkan negara negara islam , yang telah menerima peradaban sekuler. Islamnya yang tampak, hanya seremonial 'ubudiyah nya. Seremoni pemujaan , seperti agama agama yang lain, kebanyakan umat malah memuja dan mengikuti ideologi sekuler, sehingga saat ini peradaban sekulerlah yang menguasai dunia. 

Sebaliknya mereka yang tidak mau tunduk pada negara atau pemerintahan yang sekuler, mengambil sikap ekstrim dan dikenal sebagai kaum ekstremis, yang saya kira tidak pernah diajarkan Nabi dan ajaran Islam. 

Apakah ini disebabkan karena penafsirannya tentang ajaran Islam melalui Al Qur'an, dengan ilmu tafsir tradisional yang ada, tidak lagi mumpuni untuk melawan globalisasi peradaban sekuler ?. 

Penulis juga tidak mempunyai pretensi, bahwa penulis berani mensejajarkan diri dengan para ulama, para mujahid itu. Tulisan ini lahir dari suatu dorongan keinginan untuk memahami Al Qur'an bagi seorang awam, pendatang baru dalam mencari apa makna beragama menurut Al Qur'an, sebagai satu satunya buku standar bagi seorang muslim. Karena melalui jalan tradisional yang ada, penulis belum mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang selalu menggoda benak. 

Apa yang penulis dapatkan dari cara yang selama ini diperoleh, tidak dapat memberikan kemantapan pemahaman dalam keinginan untuk memahami ajaran agama melalui Al Qur'an. Semua pertanyaan yang diajukan pada para ulama yang dianggap mampu menjawab, penulis belum mendapatkan jawabannya yang dapat penulis gunakan sebagai cara untuk memahami Al Qur'an secara mandiri, karena dalam Islam tidak ada lembaga kependetaan dan taklid diharamkan. 

Jawabannya belum dapat menjawab secara memuaskan penulis, karena semuanya hanya berwujud “barang jadi” yang harus diterima, jauh dari suatu metodologi yang dapat memberi kemampuan untuk dapat mandiri, bebas dari taklid. Karena penulis yakin akan ungkapan Al Qur'an sendiri, bahwa Al Qur'an diturunkan untuk semua manusia, sehingga tiap manusia wajib, harus dan pasti mampu memhami Al Qur'an sendiri, tentu saja sesuai dengan kemampuannya, pasti ada sesuatu metoda sebagai acara untuk mempelajari sendiri, serupa dengan mempelajari ilmu dari naskah tulis ilmiah (text book). 

Apa yang sangat memperihatikan penulis, umat Muhammad tidak akan punah, tetapi akan mengalami kepunahan keislamannya (mindset -imtaqnya), mengalami proses “ fading away “, seperti yang diungkapkan nabi waktu dipanggil kembali Tuhan dengan keluhannya “Ummatii, ummatii...!” 

Permasalah yang menggoda penulis ialah: 

1. Apakah benar Al Qur’an, hanya sebagai kumpulan / kolongmerasi dari 6.236 ayat, seperti yang lazim digambarkan oleh ‘Uummul Qur’an ? 

2. Apakah maknah surah ? Apakah hanya suatu petunjuk tempat ayat ? Nama surah bahkan dapat diganti dengan normor urut saja. Sedangkan nama judul surah itu terasa aneh dan sulit dipahami untuk menebak pokok isi kandungan surahnya/ tema surahnya 

3. Apakah ‘unit fungsional terkecil ‘ Al Qur’an sebagai “ hudaa dan furqan” ? dan apa ‘unit struktural terkecilnya ‘ ? 

4. Apakah makna nama judul judul surah ? 

5. Mengapa tertib susunan ayat dan surah wahyu diubah dari tertib susunan nuzul nya menjadi tertib susunan surah dan ayat Al Qur’an ? 

6. Apakah pokok kandungan Al Qur’an ?, Kandungan surah ?, Kandungan ayat 

7. Mengapa kalau dibaca secara selintas isinya terasa tidak runtut?,  Bagaimana cara Al Qur’an mengemas pesannya ? 

8. Mengapa diperlukan ilmu tafsir ?,Apakah tidak cukup dengan alih bahasa saja ? 

9. Apakah itu benar bahasa yang digunakan Al Qur’an itu bahasa ethnis Arab.? 

10. Kalau Al Qur’an mengklaim dirinya berlaku bagi setiap manusia tanpa mengingat budaya dan tingkat pendidikannya/ penalarannya, bagaimana rumusan bahasanya sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pesan yang dikandungnya 

11. Kalau Al Qur’an mengklaim dirinya berlaku sepanjang masa, apakah semua masalah dan permasalahan hidup di masa mendatang itu dapat diantipasi, di prediksi atau dicakup atau dikooptasi oleh Al Qur’an , bagaimana cara mengatasinya ?

Inilah pertanyaan pertanyaan yang penulis belum mendapatkan jawabannya dengan tuntas




(by A Baghowi B.   bersambung....)

Minggu, 05 Juli 2015

AL QURAN SURAT KE 97

 AL-QADR/KEMULIAAN,  
Topik sentral  surat  ke 97, al Qadr yaitu terdapat pada pembukaannya - yang menyatakan bahwa malam diturunkannya Al-Qur’an itu merupakan malam yang  dimuliakan Allah SWT.  
Sedangkan  Tema  suratnya  adalah sebagai  berikut ;  Waktu wahyu terakhir diturunkan Allah pada saat yang dimuliakan. Kemuliaan ini karena ada sesuatu yang sangat penting yang terjadi. Suatu kejadian yang dapat meningkatkan NILAI waktu dan ruang / tempat  kejadian. Waktu kita - kalau diisi dengan amal baik, maka waktu bernilai positif, sebaliknya kalau kita isi dengan kebatilan, maka nilainya menjadi negatif. Begitu pula dengan tempat atau lingkungan. 

Sudut pandangan Al Quran dalam   surat  Al Qadr  berkaitan dengan nilai  yaitu nilai lingkungannya - yang ditentukan oleh suatu kejadian yang mengisinya. Tergantung dari macam kejadiannya , nilai lingkungan itu dapat bertambah atau berkurang, begitu pula UMUR MANUSIA. Panjang umur tidak menentukan banyaknya kebaikan seseorang ! , Dengan kata lain- Kuantitas dan Kualitas kebaikan di tentukan oleh  waktu  dan lingkungan -amal ibadah seseorang; bukan usia kronologis(fisik)(  tetapi usia kemuliaan (spiritual) 

(A bhagowi B)



Minggu, 10 Maret 2013

AL QURAN


XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH

TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.

109.  QUR’AN SURAH  CIX :  AL-KAAFIRUUN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada pembuka surah, sekaligus topik sentralnya ( 1-5), yang menjelas kan bagaimana seharusnya sikap umat Islam terhadap orang-orang kafir terhadap penyembahan terhadap Tuhan masing masing.
TEMA  SURAH :
Karena Tuhan yang disembah itu BERBEDA, maka sikap kita harus tegas, ialah kita TIDAK menyembah TUHAN-MU dan kamu tidak menyembah Tuhanku. Ini bukan dalam pengertian toleransi, apalagi kompromi, tapi menarik garis batas yang tegas yang menyatakan TIDAK ADANYA KESAMAAN.
SUDUT PANDANG SURAH :
Sikap orang muslim terhadap orang orang kafir lahir dari PERBEDAAN TUHAN YANG DISEMBAH dan bukan dari masalah masalah pribadi.
110.  QUR’AN SURAH  CX :  AN-NASHR/PERTOLONGAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah hanya terdiri dari satu topik dan nama judul surah terdapat pada ayat pertama, yang menegaskan: bila pada suatu waktu pertolongan Tuhan datang dan kita melihat manusia berdujun-dujun masuk agama Allah, maka kita wajib bertasbigh dan mohon ampun, karena Tuhan Maha Penerima taubat. Jadi bukan kebanggaan, atau merasa lebih !
TEMA  SURAH :
Justru datangnya pertolongan Tuhan harus disambut dengan tasbigh dan mohon ampun.
SUDUT PANDANG SURAH :
Tiap datangnya pertolongan Tuhan, yang berarti tiap kemenangan yang kita capai, kita wajib menyambut dengan TASBIGH dan MOHON AMPUN. Ini berarti DILARANG  SOMBONG, justru harus LEBIH MERENDAHKAN DIRI.
111.  QUR’AN SURAH  CXI :  AL -LAHAB
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 3. ayat penutup dari topik sentral surah (1-3 )   Pada  ayat pertama juga terdapat nama itu , tetapi digunakan sebagai nama alias/nama ejekan seseorang yang paling gigih menentang Nabi. Manusia semacam inilah yang akan diazab dineraka, dalam api yang bergejolak. Dan bagi dia harta benda dan apa yang diusahakannya tidak ada gunanya sama sekali.
TEMA  SURAH :
Bagi manusia yang menentang Nabi semua apa yang diusahakan tidak berguna sama sekali.
SUDUT PANDANG SURAH :
Ukuran apa yang diusahakan manusia untuk menilai (bukan mengadili) manusia lain, ialah SIKAP-nya terhadap Nabi dan ajarannya.
112.   QUR’AN SURAH  CXII :   AL-IKHLASH
TOPIK SENTRAL :
Nama judul surah tidak terdapat dalam satu ayat-ayatnya, sehingga kita harus mencari salah satu ayatnya yang mampu memberi makna pada nama judulnya. Kapan kita ini bisa bersikap IKHLASH atau TULUS ?  Manusia itu bisa tulus, bila ia tahu dan sadar akan kemutlakan ketergantungannya pada sesuatu. Hanya terhadap sesuatu itu dia bisa tulus. Ayat yang paling dekat dengan pengertian ini ialah ayat ke 2: Allah adalah Tumpuan segala harapan !
TEMA SURAH :
Sifat Tuhan yang bagaimana yang dapat membuat manusia ikhlas menundukkan dirinya pada-Nya ? Ialah Dia yang merupakan satu satunya tumpuan harapan manusia. Ketergantungan mutlaknya manusia pada Allah.
SUDUT PANDANG SURAH :
Tauhid, peng-Esa-an Tuhan, bukan untuk Tuhan tetapi untuk kepentingan manusia. Ilmu inilah yang mampu melahirkan ke-tulusan manusia dalam menundukkan dirinya pada-Nya.
113.   QUR’AN SURAH  CXIII :  AL-FALAQ/WAKTU SUBUH
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah ini hanya terdiri dari satu Topik, dan nama judul surah terdapat pada ayat pembukanya dan digunakan sebagai salah satu sifat Tuhan, pada siapa manusia patut memohon perlindungannya terhadap: kejahatan makhluq-Nya; kejahatan gelapnya malam; kejahatan para penyihir dan kejahatan pendengki waktu ia dengki.
TEMA  SURAH :
Paling patut untuk menjadi pelindung ialah Dia yang menguasai sumber bahaya, ialah Dia yang MENCIPTAKANNYA.
SUDUT PANDANG SURAH :
Apakah kita patut mencari pelindung selain yang menciptakan sumber bahaya yang mengancam diri kita manusia ?
114.   QUR’AN SURAH  CXIV :  AN-NAAS
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada semua ayat ayatnya kecuali pada ayat ke 4. Nama judul digunakan untuk menunjuk nama Tuhan yang ada hubungannya dengan manusia dan siapa yang menghadapi bahaya dan darimana datangnya bahaya.
TEMA  SURAH :
Seperti surah terdahulu, untuk memilih pelindung ialah Dia yang menguasai sumber bahaya dan yang mengetahui darimana asalnya bahaya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah ini menujukkan SIAPA YANG PATUT menjadi PELINDUNG MANUSIA dan menunjukkan bahwa BAHAYA YANG MENGANCAM MANUSIA itu berasal dari JIN dan MANUSIA. Artinya datang dari luar dan dalam diri manusia.


”INILAH TEMA TEMA SURAH DAN SUDUT PANDANG SURAH SURAH AL-QUR’AN, BUKAN KANDUNGAN SURAH.
DARI TEMA TEMA SURAH INI MANUSIA AKAN MENDAPATKAN PENGETAHUAN TENTANG CARA AL-QUR’AN MEMANDANG KEHIDUPAN SEHINGGA MANUSIA AKAN MENDAPATKAN PENGERTIAN, PEMAHAMAN DAN MOTIVASI YANG AKAN MELAHIRKAN KEKUATAN UNTUK MENUNDUKKAN DIRI SECARA KAFFAH PADA KEHENDAK ILAHI.
KANDUNGAN SURAHLAH NANTI YANG AKAN MEMBEBERKAN BENTUK KEHENDAK  ILAHI-NYA.”
   


By  A Baghowi Bachar

Minggu, 08 April 2012

105. QUR’AN SURAH CV : AL -FIIL


XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  
ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.
105.  QUR’AN SURAH  CV :   AL -FIIL
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah ini hanya terdiri dari satu topic. Nama surah terdapat pada ayat pertama yang menunjuk pada suatu kejadian penyerangan kota Mekah oleh pasukan gajah dari Afrika. Negara Nasrani.Dilanjutkan bahwa akhirnya penyerangan itu gagal, karena Tuhan menolongnya melalui burung burung yang menghujani mereka dengan batu batu kecil. Tujuan penyerangan itu akan merusak atau memindahkan Ka’bah dari Mekah.
TEMA  SURAH :
Disini suatu kejadian sosial-politis dihubungkan dengan fenomena alam dan pertolongan Tuhan.
SUDUT PANDANG SURAH :
Perbedaan pandangan antara pandangan WAHYU dan manusia terhadap suatu fenomen sosial-politik. Fenomena alam digunakan sebagai “penyambung”. Ini berdasarkan perbedaan landasan yang digunakan manusia dan wahyu dalam menginterpretasi suatu kejadian. Fenomena kehidupan menurut manusia : suatu interaksi antara manusia dan manusia/Alam, sedangkan menurut wahyu: suatu intervensi manusia terhadap ‘AMR Tuhan.
106.  QUR’AN SURAH  CVI :   AL-QURAISY
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah ini juga terdiri dari satu topik, yang menceriterakan kebiasaan hidup kaum Quraisy [penyembah berhala], ialah mondar-mandir ke negeri lain untuk berdagang /mencari hidup. Hendaklah kaum Quraisy itu menyembah Tuhannya Ka’bah yang memberi makan pada mereka, sehingga tidak mengalami kelaparan dan mengamankan mereka dari ketakutan.
TEMA  SURAH:
Seperti surah sebelumnya disini dihubungkan antara aktivitas sosial manusia dengan pertolongan Tuhan.
SUDUT PANDANG SURAH:
Manusia harus sadar, bahwa dia itu makhluk, sehingga semua yang dihasilkan manusia itu pasti ada hubungannya dengan ketergantungannya pada Tuhan. Mengulangi, bahwa tiap aktivitas manusia berarti meng-intervensi terhadap cara Tuhan memelihara makhluk-Nya.
107.  QUR’AN SURAH  CVII :  AL- MAA’UUN/SESUATU YANG BERGUNA
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat penutup surah, sekaligus penutup topik sentralnya karena surah ini hanya terdiri dari satu topik. Surah dibuka dengan ayat : Apakah manusia mengetahui siapa yang dapat disebut mendustakan agama? Dilanjutkan dengan jawabannya dengan 5 sifat orang yang termasuk mendustakan agama. Yang terakhir ialah : mereka yang enggan memberi bantuan yang berguna.
TEMA SURAH :
5 sifat manusia yang dikategorisasikan dalam mendustakan agama ialah:
R  Orang yang menghardik anak yatim
R  Tidak menganjurkan memberi makan orang miskin
R  Orang yang shalat , tetapi lalai dalam shalatnya
R  Orang orang yang ria dan
R  Orang yang enggan memberi bantuan yang berguna
3 dari 5 sifat itu mengenai kehidupan bermasarakat, 1 hubungan manusia langsung dengan Tuhannya dan satu hubungan manusia dengan dirinya. Dalam hidup seorang manusia selalu berhubungan dengan DIRI-nya, TUHAN-nya dan sesama MANUSIA.

SUDUT PANDANG SURAH :
Beragama meliputi semua dimensi kehidupan manusia, ialah dimensi spiritual/keyakinan/akidah, dimensi mental/moral akhlaq syare’at ubudiyah dan dimensi sosial/syare’at muamalah.
108.   QUR’AN SURAH  CVIII :  AL-KAUTSAR/NIKMAT YANG BANYAK
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka topik, sekaligus surah yang menyatakan bahwa: Tuhan telah memberi manusia nikmat yang banyak. Kemudian dilanjutkan bagaimana manusia harus menyikapi keadaan tersebut: mendirikan shalat dan siap berkorban. Dilanjutkan dengan hasilnya ialah: terputusnya tali kebencian mereka yang membencinya.
TEMA  SURAH :
Terputusnya tali kebencian antar manusia itu dapat diciptakan dengan mendirikan shalat dan berkorban dalam arti memperhatikan kepentingan sesamanya atau kepentingan pribadi dikalahkan dengan kepentingan umum, karena kesadaraannya bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan nikmat yang banyak pada manusia.
SUDUT PANDANG SURAH :
Tali kebencian merupakan sebab kerusakan kehidupan manusia bersama. Jalan keluarnya ialah mengikis fachsya dan mungkar (shalat) dan menciptakan meratakan nikmat yang diberikan Tuhan diantara semua manusia (berkorban = melepaskan sebagian haknya, yang dimetaforikan dengan mengorbankan kepentingan pribadinya terhadap kepentingan umum).


By  A Baghowi Bachar

(Posting  8 April 2012/6 Jumada I  1433 H)