Translate

Telusuri via Blog Ini

Jumat, 23 November 2018

Makna waktu detik demi detik

ALHAMDULILAH, .........kata yang terucap selalu dalam hati, kata yang terus menurus melantun setiap detik, setiap nafas, setiap langkah, setiap pujian, setiap mata terpejam dan terbuka ....sebagai wujud rasa syukur kepada Allah subhana wa ta'ala  yang telah memberi hidup dan kehidupan bagiku.

makna waktu "detik demi detik" disegala aktifitas hidup memberi sudut pandangan pada makna arti "sebutir jarah" - "materi" dalam teori fisika quantum; dalam kitab suci al Qur'an.

sedetik berbuat baik dan sebaliknya sedetik berbuat jahat; 
sedetik melangkah, sedetik sebab-akibat, sedetik dampak dan hasilnya; 
sedetik denyut nadi dan jantung, sedetik nafas  dan nyawa ,sedetik hidup dan kehidupan;
sedetik bahagia, sedetik dalam sedih-gembira, kaya -miskin;
sedetik  dalam alam dunia dan sedetik dalam alam kubur/akhirat.

pilihan pilihan kehendak bebas  manusia (free will)  adalah pilihan bebas  dalam perilaku hidup atau melakoni hidupnya, mau berperan "sebagai apa, mau menjadi siapa ", bagaimana , dimana peran itu di perankan?  

Dalam soal kehidupan sosial-bermasyarakat,  banyak orang mengambil peran atau posisi "pemegang kebenaran dan kebaikan" dan orang lain diangap sebagai "pemegang keingkaran dan kejahatan" dan menduduki hirarki sosial, lembaga sosial  sebagai  tokoh masyarakat,tokoh adat, ulama, kyai, pendeta, suhu, rahib, rabi(kaum pemuka agamawan). Pemegang warisan nabi atau rasul berarti pemegang kedudukan yang penting sebagai otoritas keagamaan , otoritas fatwa, otoritas norma-moral, spiritual dan juga menjadi tauladan atau panutan dalam masyarakat atau umatnya. 

Kerumitan  masalah sosial masyarakat yang berkembang di era globalisasi atau era milinial , kecepatan -percepatan arus informasi, akulturasi budaya pun sangat mempengaruhi nilai nilai yang sudah mapan sebagai "norma agama atau nilai nilai kebenaran / agama" menjadi terbiaskan atau erosi atau dipertanyakan oleh pelaku pelaku sebagai penganutnya atau sebaliknya tidak menjadi penganutnya lagi atau menjadi  pelaku pelaku yang tidak peduli dengan norma agama atau menjadi pelaku  Atheis. 

Agama bisa menjadi bersifat ritual belaka  ketika pelaku pelaku  agama hanya memahami agama hanya ritual ritual  / upacara -upacara untuk sembahyang atau memuja tuhanya saja. Agama hanya bagian kepatuhan terhadap tatacara tatacara yang harus diikuti dari tahapan awal sampai akhir; kewajiban yang harus dilakukan, dibimbing oleh seorang ketua / imam dan diikuti oleh pelaku/peserta. Kebaikan atau kesolehan  pelaku adalah pelaku yang rajin mengikuti tatacara /ritual /sembahyang.

Agama bisa menjadi bersifat inheren yang tidak terpisahkan antara ibadah ritual- ubudiyah dengan mu'amalah , yang tidak saja menjadikan hubungannya dengan tuhannya  lebih patuh dan dekat tetapi hubungannya dengan sosial masyarakat atau sesama  manusia menjadi sinkron dengan kepatuhan dan dekatnya kepada tuhannya; berbuat baik kepada sesamanya atau makhluk lain semata karena berbuat baik kepada tuhannya yang maha pencipta.

Konsep yang sederhana dalam beribadah menjadi bias atau rumit/kompleks, ketika  ada sekelompok orang atau kelompok atau tokoh menjadikan nilai nilai agama , kebaikan agama , ubudiyah-mu'amalah  "sebagai miliknya", klaim bahwa yang lain " tidak benar atau sesat". 
Pelaku pelaku agama pun, seolah seolah menjadi sulit berbuat kebaikan untuk dirinya - apalagi untuk orang lain; disinilah makna agama menjadi bias, seolah menjadi asing, membingungkan. Hilangnya  wajah atau sifat,  watak  agama  yang ramah, rahmatan alamin, menenangkan, menyejukan dan membahagiakan dari perilaku orang-orang pengaku beragama. Agama berubah seperti makluk, benda, monster  yang berwajah sangar, seram, menakutkan yang mengancam siapa saja bila tidak mengikuti "kata katanya",bahkan mengancam dibunuh bila melanggar aturan hukumnya. Begitukah pelaku pelakunya seperti bangga  menjadi "Algojo" pembela agama, pembela kebenaran tanpa rasa takut, tanpa belas kasihan, tanpa ampun dan sebaliknya bernafsu atas nama agama mengeksekusi setiap orang yang dianggap bersalah; yang miris korbannya berteriak menyebut tuhannya dengan "Allahu akbar".  Kekacauan diantara penganut agama yang sama sama menyebut Allah sebagai tuhannya.  

Wahai diriku..... peperangan terbesar bagimu adalah perang melawan nafsumu; perang melawan egomu, arogansimu, kebodohanmu atau kepintaranmu. engkau merasa kebenaran tuhan  adalah apayang kau pelajari, hasil engkau mengaji dengan guru gurumu yang engkau puji, hasil kemenanganmu dari berdiskusi dan berdebat  soal kebenaran dan kebathilan...dan kini engkaulah pemenang sebagai tokoh, ketua, pemimpin, imam besar; sekarang engkaulah mengklaim otoritas kebenaran dan kebathilan  dari  umat mu. ketika engaku berbicara , ungkapan "kata kata mu" bak seperti fatwa , seperti  norma hukum, seperti kaidah agama yang harus diikuti atau menjadi tuntunan atau referensi kehidupan umat. Wahai....diriku ...jangan lah begitu, ...engkau telah mengambil otoritas tuhan dalam tanganmu dan kau duduki kursi ketuhan untuk menyebarkan  nafsumu sendiri, bukan atas kehendak tuhan sendiri.

sedetik demi detik...tik ..tok..tik..tok... waktu terbaca dalam jarum jam aku terbangun dalam kesadaranku, detik demi detik aku dalam sakit, detik demi detik berharap sembuh, detik demi detik diberi  nafas kehidupan, detik demi detik  beramal kebaikan untuk diriku, detik demi detik berbuat baik buat semua manusia dan alam,  detik demi detik kesadaran ku bangkit dari tidur- dari keterlenaan dan detik demi detik aku menemukan  diriku dalam kasih sayang Allah, dalam  kebaikan agamaku, dalam makna waktu "detik demi detik"

Pesan singkat : 

Alhamdulillah, detik jam terus berbunyi terdengar dalam denyut jantung dan nafasku, berarti aku masih diberi kehidupan di dunia ini  untuk selalu, detik demi detik  berbuat baik dan menjadi rahmat bagi semua makluk Allah.