Translate

Telusuri via Blog Ini

Minggu, 31 Juli 2011

35. QUR’AN SURAH XXXV : AL - FATHIR/PENCIPTA; AL - MALAIKAH


XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.


35.        QUR’AN SURAH   XXXV :  AL - FATHIR/PENCIPTA; AL - MALAIKAH
TOPIK SENTRAL SURAH:
Kedua nama judul surah terdapat pada ayat pertama dari topik pertama surah yang melukiskan tentang Sang Pencipta dan sesungguhnya janji Tuhan itu pasti. Dilanjutkan dengan peringatan supaya tidak terpesona dan terperdaya oleh kehidupan dunia serta para penipu serta ditegaskan tentang tidak-berdayanya manusia. Dilanjutkan dengan ke-unikan ciptaan-Nya dan ditutup dengan pernyataan yang tegas, bahwa ilah selain Allah, tidak akan mendengar dan mengabulkan do’a manusia. ( Ayat 1 s/d 14 )
Para Malaikat ialah utusan utusan Tuhan yang merupakan salah satu  jenis makhluk-Nya.
TEMA  SURAH :
Dari topik sentral dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia itu bagaimanapun juga merupakan makhluk yang tidak berdaya sama sekali dibandingkan dengan Tuhan. Maka manusia itu sesungguhnya tergantung MUTLAK pada Sang Pencipta.
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah ini menempatkan manusia pada tempatnya yang sebenarnya dalam hubungannya dengan Tuhan. Manusia harus menyadari bahwa ia TERGANTUNG MUTLAK pada ALLAH, bukan pada ilah yang lain. Atas dasar KESADARAN KEMAKHLUKAN inilah manusia harus berperilaku dan menciptakan peradabannya.

36.        QUR’AN SURAH   XXXVI :  YASIN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah dan bersifat ghoib. Diikuti dengan Al-Qur’an sebagai sumpah dan ketegasan akan kebenaran ke-rasul-an Muhammad. Diteruskan dengan fungsi Al-Qur’an bagi manusia yang nenek moyangnya belum diberi peringatan atau yang lalai. Ditutup dengan suatu konfirmasi akan datangnya hari pembangkitan manusia yang telah mati dan perhitungan amal perbuatannya.
TEMA  SURAH :
Surah menegaskan akan kebenaran kerasulan Muhammad dengan menggunakan Al-Qur’an yang mengandung hikmah sebagai sumpah dan kebenaran akan datangnya hari kiamat yang merupakan hari pertanggung- jawaban.
Surah ini dianggap mumpuni dalam segala hal, karena mengandung peringatan yang lugas dan tegas akan kebenaran kerasulan Muhammad dan diperkuat dengan kata Al-Qur’an sebagai sumpah, serta didalamnya terdapat dialog tidak saja antara Tuhan/Rasul dan manusia, tetapi juga antar nafs/akal manusia dengan nurani/ fitroh manusia. Mengapa ? Karena adanya kolusi antar akal dan hati, antar nafs dan fitroh merupakan bencana yang tidak tertolong lagi bagi manusia.


SUDUT PANDANG SURAH :
Hari kiamat sebagai hari pertanggung-jawaban dan kebenaran kerasulan Muhammad sebagai sumpah, artinya membenarkan kandungan wahyu yang dibawa Muhammad merupakan suatu KEBENARAN MUTLAK. Tidak ada alasan bagi manusia untuk TIDAK-TAHU tentang hal itu, karena manusia telah dianugerahi NURANI/RUH dan AFIDAH (berupa panca indera dan akal/ratio) . Afidah seharusnya merupakan alat nurani untuk berjalan mengikuti WahyuNya yang merupakan Huda dan Furqon-Nya dalam merekayasa kehidupan dunia , karena FITROH WAHYU itu belahan dengan FITROH MANUSIA. Jadi surah ini mengingatkan manusia untuk selalu menjaga kesucian DIRI-nya.


By  A Baghowi Bachar

Kamis, 21 Juli 2011

31. QUR’AN SURAH XXXI : LUKMAN

XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH

TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH 
ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.

31.        QUR’AN  SURAH  XXXI :  LUKMAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 12 yang terdapat pada topik ke 2, yang dibuka dengan pernyataan Tuhan, “ Allah telah memberikan HIKMAH pada Lukman, ialah kemampuan bersyukur pada Allah, yang pada hakekatnya bersyukur terhadap dirinya. ” Ayat ini dilanjutkan dengan wasiat Lukman pada anak-anaknya :  Janganlah kamu sekali-kali menyekutukan Tuhan !  Kemudian diikuti perintah Tuhan :
R  Berbuat baik terhadap kedua orang tuanya.: bersyukur pada tuhan dan kedua orang tua
R  Hanya boleh tidak mematuhi kedua orang tua, bila keduanya musyrik, namun tetap baik
R  Menggauli dalam kehidupan ini
R  Dirikan sholat dan tunaikan zakat
R  Bernahi mungkar
R  Sabar dalam penderitaan
R  Jangan sombong, jalan dengan wajar dan bicara lembut.
TEMA SURAH :
Diberi hikmah artinya diberi kemampuan untuk bersyukur pada Tuhan. Jadi hikmah ialah suatu kekuatan motivatif yang melahirkan SIKAP  BERSYUKUR. Disini kelihatannya “ sikap bersyukur “ itu memerlukan hidayah , artinya untuk memiliki kemampuan itu diperlukan persaratan yang tidak ringan. Tidak semua orang mampu bersyukur ! Surah ini dibuka dengan pernyataan Tuhan, bahwa Al-Qur’an ini mengandung hikmah. Ini berarti manusia yang mengenal  Al-Qur’an dengan baik, dialah  yang akan mendapatkan hikmah (kemampuan bersyukur)
SUDUT PANDANG SURAH :
Hikmah ialah suatu KEMAMPUAN untuk melaksanakan ajaran Al-Qur’an. Jadi BERILMU AGAMA bukanlah tujuan. Banyak manusia yang menguasai Al-Qur’an, namun PERILAKU-nya jauh dari akhlak Qur’ani. Inilah sebabnya Tuhan meng-introdusir kata IMAN. Ber-Iman berarti Ber-Agama!
Kemudian dilanjutkan dengan kepastian putusan Tuhan, bahwa mereka yang berdosa akan di-azabnya dan mereka yang beriman dalam arti
R  Mereka yang bila dibacakan ayat-ayat Tuhan, mereka SUJUD tiarap dan bertasbigh dan mereka TIDAK SOMBONG. (15).
R  Malam hari mereka berdo’a dengan harap-harap cemas dan
R  Mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang diberikan Tuhan padanya, akan diberi-Nya nikmat yang menyenangkan hati.
32.        QUR’AN SURAH  XXXII :   AS-SAJDAH/SUJUD.
TOPIK SENTRAL SURAH:
Nama judul surah terdapat pada ayatnya yang ke 15, yang termasuk topik ke 2 (ayat 12-22), yang menceriterakan tentang keadaan mereka yang berdosa waktu dihadapkan pada Tuhan. Mereka menyatakan : Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar. Maka kembalikan kami ke dunia agar kami beramal sholeh. Sesungguhnya kami yakin”.
Kemudian dilanjutkan dengan kepastian putusan Tuhan, bahwa mereka yang berdosa akan di-azabnya dan mereka yang beriman dalam arti
R  Mereka yang bila dibacakan ayat-ayat Tuhan, mereka SUJUD tiarap dan bertasbigh dan mereka TIDAK SOMBONG. (15).
R  Malam hari mereka berdo’a dengan harap-harap cemas dan
R  Mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang diberikan Tuhan padanya,  akan diberi-Nya nikmat yang menyenangkan hati.
TEMA  SURAH :
Tindakan sujud disini diberi konotasi yang bersifat sosiologik, ialah tidak sombong, menafkahkan sebagian rezkinya dan menggunakan malamnya untuk berdo’a  ........  artinya selalu membuka hubungan dirinya dengan Tuhannya (hablun minallah) dan manusia (hablun minan naas). Suatu pengertian ‘beragama‘ yang benar. Ber-iman diartikan “sujud, bila dibacakan ayat ayat Tuhan” dengan konotasi sami’naa wa atho’naa.
SUDUT PANDANG SURAH:
Mengikis pandangan manusia bahwa beragama itu hanya urusan pribadi. Wahyu ialah hudaa dan furqon untuk MEREKAYASA KEHIDUPAN, artinya beragama ialah membina kehidupan, beraktivitas sosial. Seorang muslim harus AKTIF dalam kancah kehidupan dengan SYARAT, SESUAI dengan kandungan wahyu.
33.        QUR’AN SURAH   XXXIII :  AL - AHZAB/SEKUTU
TOPIK SENTRAL SURAH:
Nama judul surah terdapat pada ayat-ayat 9-27, yang merupakan topik ke 2 yang menceriterakan tentang macam-macam sikap manusia dalam puncak peperangan, suatu situasi ujian yang berat bagi yang mengaku beriman. Keluarlah sikap aselinya yang menujukkan jati diri manusia , apakah dia kuat atau lemah beriman atau munafik (17-20) Sikap Nabi dan orang-orang mukmin tegas. Diteruskan dengan pertolongan Tuhan untuk memenangkan peperangan itu. (25-26). Kemenangan yang mendatangkan keuntungan .
TEMA  SURAH :
Manusia hanya akan memperlihatkan jati dirinya bila menghadapi ujian yang berat. Apa yang sesungguhnya ingin diuji pada manusia dengan perang itu ? Tidak lain ialah apakah manusia itu memegang janjinya atau tidak ! Terutama janji dengan Tuhannya !
SUDUT PANDANG SURAH :
Perintah PERANG digunakan Tuhan untuk menguji manusia apakah ia memegang janji atau tidak. Artinya dalam peranglah manusia harus mengorbankan segala-galanya. Dalam arti yang lebih luas PERANG itu tidak hanya dalam dimensi FISIK, tetapi juga dalam dimensi MENTAL-IDEAL/ KEYAKINAN/PANDANGAN HIDUP, yang diejawantahkan dalam CARA HIDUP, POLA HIDUP atau BUDAYA HIDUP. Peperangan yang paling berat ialah perang terhadap NAFS-nya sendiri, ujar Nabi.
34.        QUR’AN SURAH   XXXIV :  AS-SABA’
TOPIK SENTRAL SURAH:
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 15 yang termasuk topik pertama dan mengungkapkan tentang nasib kaum Saba’, yang tidak mensyukuri nikmat dan mengingkari bimbingan Tuhan. Surah/ topik dibuka dengan pujian terhadap Tuhan pemilik alam raya dan bumi. Dan bagi-Nya segala puji di akherat, Dia yang Maha-Hakim lagi Maha Mengetahui. Dilanjutkan dengan pernyataan orang-orang kafir yang tidak mempercayai akan hari kiamat serta pernyataan Tuhan bahwa pahala bagi mereka yang mengimani dan azab bagi yang mengingkari. Kebanyakan manusia mengingkari dan hanya mereka yang berilmu yang mampu memahami kebenaran wahyu.Topik ditutup dengan pernyataan, bahwa Iblis benar dalam pernyataannya, bahwa akan banyak manusia itu akan mengingkari Tuhannya, meskipun sesungguhnya Iblis tidak berkuasa atas manusia; Tuhan hanya ingin menguji siapa yang mengimani hari akhir dan siapa yang mengingkari.
TEMA  SURAH :
Kebenaran wahyu hanya dapat diketahui oleh mereka yang berilmu. Ini suatu pesan yang banyak diabaikan manusia. Tentu saja ber-‘ilmu  seperti yang dimaksud Tuhan. Kata ‘ilm yang digunakan Al-Qur’an tidak identik dengan kata science dalam kamus manusia.
Ada 750 ayat menyinggung, baik langsung maupun tidak langsung dengan pengertian kata ‘ilmu, hanya ada 250 ayat berhubungan dengan hukum.     
SUDUT PANDANG SURAH :
Ber’ilmu dalam Al-Qur’an tidak identik ber-ip-tek saat ini. Ber’ilmu diartikan mengetahui SIAPA DIRINYA, APA KEDUDUKANNYA DALAM KEHIDUPAN INI dan apa ARTI HIDUP. Jadi dia harus mampu MEMBACA  ALAM disamping  KALAM, sehingga mengenal REALITA yang sebenarnya bukan REALITA menurut CITRA MANUSIA.

By  A Baghowi Bachar

Minggu, 10 Juli 2011

24 QUR’AN SURAH XXIV : AN-NUR/CAHAYA.

XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.

24       QUR’AN  SURAH    XXIV :   AN-NUR/CAHAYA.
TOPIK SENTRAL SURAH:
Nama judul surah terdapat pada pembuka topik ke 2 ( ayat 35 s/d 46 ) yang menerangkan bahwa wahyu Tuhan itu seperti cahaya yang melebihi sifat cahaya matahari, karena tidak memiliki sumber, cahaya di atas cahaya. Dengan cahaya/nur itu Tuhan menjelaskan segala sesuatu, menerangi rumah dimana didalamnya orang bertasbigh siang dan malam dan menerangi mereka yang tak lalai karena pekerjaannya. Bagi orang kafir penerangan itu seperti fata-morgana, keadaan mereka seperti dalam gelap gulita. Kemudian diikuti dengan seruan untuk memperhatikan fenomena alam berkat pemeliharaan Tuhan dan semua saja did alam alam itu sujud dan bertasbigh pada-Nya.
TEMA  SURAH :
Dalam surah ini Tuhan mengumpamakan wahyu-Nya sebagai Nur/cahaya.  Kita ketahui bahwa cahaya matahari itu bersifat : menghidupi [sbg. Ujud photon] dan menerangi isebagai ujud gelombang], artinya tanpa cahaya itu tidak ada kehidupan dalam alam ini dan tanpa cahaya tidak ada penerangan yang mampu memberikan penglihatan. Penglihatan yang dapat menunjukkan jalan dan penglihatan yang mampu membedakan yang benar dan yang salah, yang patut dan yang tidak patut, yang baik dan buruk. Jadi sifat wahyu itu MENGHIDUPI, MENUNJUKKAN/HUDAA dan KRITERIA/FURQON. Dalam surah ini Tuhan menerangkan banyak hukum hukum , sikap dan pandangan hidup yang seharusnya berfungsi sebagai CAHAYA bagi manusia. Apakah persamaan perumpamaan fungsi wahyu dengan cahaya itu juga meliputi ujud struktur/systematikanya ?
SUDUT PANDANG SURAH :
Dalam kehidupan dunia ini, yang berlaku sebagai KRITERIA hanyalah WAHYU bukan pendapat manusia. Pendapat manusia dapat berupa teori ilmu, peraturan, adab, etika , hukum, falsafah hidup dst. Bagaimanapun logis kelihatannya, namun bila tidak sesuai dengan wahyu harus ditinggalkan, karena hanya wahyulah yang menghidupi dan menyelamatkan kehidupan.
25.        QUR’AN  SURAH  XXV :  AL-FURQON/KRITERIA.
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah sebagai topik pertama surah ( 1-34). Surah dibuka dengan : Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqon pada hamba-Nya agar ia memberikan peringatan pada seluruh alam.
Kemudian dilanjutkan dengan sifat Tuhan dan diciptakan segala sesuatu itu dengan ukuran masing masing dengan rapi sekali. Selanjutnya dberitahukan tentang sifat mereka yang mengambil Tuhan selain Allah dan anggapa mereka tentang Al-Qur’an. Selanjutnya topik ditutup dengan apa yang menunggu mereka yang mengingkari dan mengimani kiamat.
TEMA  SURAH :
Tema sentral surah ialah kedudukan Al-Qur’an yang menempati kedudukan sentral dalam kehidupan ini, ialah sebagai satu-satunya KRITERIA/UKURAN/NORMA  segala sesuatu. Surah mengandung pelbagai ukuran tentang, misalnya mereka yang dapat disebut sebagai hamba Allah, apa yang BENAR/SALAH, baik/buruk, menguntungkan/merugikan dst.
Terlalu amat sedikit manusia menganggap Al-Qur’an sebagai kriteria, terlalu banyak yang menganggapnya hanya sebagai hudaa, sedangkan kedudukan kriteria itu lebih sentral daripada hudaa. Disinilah hakekat perbedaan antara  hukum yang diciptakan manusia dengan syare’at ; hukum hanya menentukan  MENANG -- KALAH [ukuran dunia : menang identik dengan benar dan sebaliknya], sedangkan syare’at menentukan BENAR - SALAH [benar identik dengan yang HAK dan salah identik dengan yang BATHIL!]
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah ini memperkuat pandangan surah sebelumnya, yang menyatakan bahwa yang patut, wajar, bahkan wajib digunakan sebagai KRITERIA dalam mengelola kehidupan ini, ialah WAHYU..
26.        QUR’AN  SURAH  XXVI :  ASY-SYU’ARA/PARA PENYAIR - AL- JAMI’AH.
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat 224 - 227 yang merupakan topik penutup surah. Topik dibuka dengan keadaan manusia setelah Al-Qur’an diturunkan, ialah sebagian besar mereka mengingkarinya dan berpesan pada Nabi, bahwa jika umatnya mengingkarinya, maka dia harus menjawab dengan: sesungguhnya aku berlepas tangan dari perbuatanmu”.
Diterangkan selanjutnya bahwa syetan itu mendekati mereka para pendusta yang banyak dosa. Banyak penyair penyair yang diikuti oleh banyak manusia, meskipun mereka mengatakan yang tidak mereka lakukan, kecuali yang beriman dan beramal sholeh. Nama judul kedua berarti kebanyakan’, jadi ditunjukkan oleh Tuhan, bahwa kebanyakan manusia bersifat tidak melakukan apa yang mereka katakan atau BERDUSTA.
TEMA SURAH :
Diperingatkan tentang bahaya yang datang dari para penyair yang suka mengatakan apa yang mereka tidak lakukan. Pada zaman itu merekalah, para penyair yang getol  “berpidato”, bukan seperti keadaan sekarang; yang getol berpidato ialah para politisi, da’i atau orator lain atau deklamator, sehingga contoh kasus yang diambil dalam surah ini, ialah para penyair yang berkiprah ditengah masarakat zaman itu. Pada saat sekarang nama judul surah dapat dikembalikan pada mereka yang suka ceramah, pidato dlsbg. yang harus diwaspadai.
Karena banyaknya manusia yang suka mengambil jalan demikian, maka nama judul kedua Al-Jami’ah/kebanyakan, merupakan suatu peringatan yang tepat. Janganlah kita mengikuti trends/kecenderungan/kebiasaan/mode/umumnya, tanpa menilai apakah itu benar atau salah. Sebab sikap inilah yang menyuburkan bid’ah sampai fitnah.
SUDUT PANDANG SURAH :
Wajib bagi kaum muslimin untuk waspada pada para mereka yang suka berbicara dimuka umum, karena mereka kebanyakan tidak mengerjakan apa yang mereka kemukakan. Pesona terhadap apa yang mereka kemukakan dapat menjerumuskan kita ke jalan kebathilan.
27.        QUR’AN  SURAH  XXVII :  AN - NAML/SEMUT
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat 18-19 yang merupakan topik ke 2 ( ayat 15 s/d 44) yang mnegkisahkan tentang Nabi Daud dan Sulaiman yang banyak diberi kelebihan, diantaranya memahami bahasa binatang. Waktu tentara Sulaiman melewati lembah semut, maka ada semut yang memeperingatkan golongannya untuk menyingkir, karena lembah itu akan dilalui tentara Sulaiman. Katanya : “Hai para semut, masuklah dalam sarangmu agar kamu tidak terinjak oleh tentara Sulaiman, meskipun mereka tidak menyadarinya”. Waktu Sulaiman mendengar itu, maka ia lalu berdo’a mohon diberikan ilham untuk dapat mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan, dan agar dapat beramal shaleh yang Dia ridloi.
TEMA SURAH :
Topik ini menceriterakan tentang kelebihan yang diberikan Tuhan pada Sulaiman, dia tidak menjadi sombong malah berdo’a mohon ditunjukkan cara mensyukurinya dan bagaimana menggunakan kelebihannya untuk beramal yang Dia ridloi. Suatu sikap yang seharusnya dari manusia, bila diberi kelebihan oleh Tuhan. Wahyu dan kisah kisah kaum terdahulu merupakan pelajaran dan pengajaran bagi manusia untuk disyukuri dan digunakan untuk meningkatkan amalnya, bukan untuk dipamerkan dan diperjual-belikan. Disamping itu kisah kaum terdahulu juga merupakan mu’jizat bagi Muhammad akan kebenaran wahyu yang diterimanya, karena kisah kisah itu merupakan apa yang dipertanyakan kaum Yahudi dan Nasrani untuk menguji apakah Muhammad mengetahui tentang kisah kisah itu.
SUDUT PANDANG SURAH :
 Kelebihan yang di-anugerahkan Tuhan pada seseorang harus disukuri, bukan disalahgunakan sebagai alat untuk berbuat kebatilan. Juga tentunya kelebihan bagi suatu kaum, suku bangsa maupun bangsa.Bangsa bangsa yang lebih maju selayaknya membantu bangsa yang terbelakang, bukan menjajah, menguasai dan memerasnya.
28.        QUR’AN  SURAH  XXVIII :  AL- QASHASH/KISAH
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah ini terdapat pada ayat ke 25, yang terdapat pada topik pertama surahnya (ayat 1 s/d 47), yang menceriterakan tentang kelahiran Musa sampai larinya ke Madyan, karena membunuh salah satu anak buah Fir’aun dan bertemu dengan Nabi Syueb. Setelah Musa menceriterakan hal ihwalnya, maka N.Su’eb mengambilnya  sebagai  menantu dengan satu perjanjian. Setelah janji itu dipenuhi maka Musa dengan keluarganya meninggalkan Madyan dan kemudian diangkat Tuhan sebagai Rasulnya dengan tugas menyelamatkan Bani Israil dari cengkeraman Fir’aun.(ayat 30). Topik ditutup dengan pernyataan, bahwa pada Musa diberikan TAURAT sebagai pedoman hidup Bani Israil. Kisah Musa ini diceriterakan Muhammad sebagai bukti akan kebenaran Al-Qur’an. Surah dibuka dengan suatu konfirmasi, bahwa Al-Qur’an merupakan ayat ayat yang menjelaskan/mubin.
TEMA  SURAH :
Pada hakekatnya sejarah itu sesuatu yang ghoib. Manusia hanya dapat mengetahui melalui ceritera lisan/catatan/petilasan (fenomena alam) yang ditinggalkan sebagai bahan interpretasi, sehingga manusia secara mutlak tidak pernah mengetahui hakekat kebenarannya. Sejarah hanya dapat diketahui hakekat maknanya, bila disertai hal ihwalnya, yang hanya didapatkan dari Sang Pelaku, artinya motif yang melandasi fenomena sejarah  tidak mungkin didapatkan dari fenomena social dan alamnya sendiri. Pendapat inilah yang dapat menjawab kritik Alvin Toffler :” mengapa manusia melihat masa depan selalu didasarkan pada masa lampau ?! dengan kata-katanya :” Facts are by definition, phenomena of the past; there are no future-facts. Is pastime a fair sample of all time ?”
Kisah kisah yang dilukiskan Al-Qur’an itu tidak sama dengan kisah sejarah yang ditulis oleh manusia. Kisah dalam Al-Qur’an selalu disertai oleh motif yang jelas, karena mempunyai tujuan yang jelas, sehingga pertanyaan Alvin Toffler dapat dijawab dengan kata “ ya”, bila ‘pastime’ itu diungkapkan dengan motifnya ( niat dan tujuan yang dimiliki actor intelektualisnya, dan sulitnya ‘hanya dia [dan Tuhannya] yang mengetahuinya dengan pasti).
SUDUT PANDANG SURAH :
Kita harus berhati-hati, bila ingin meng-interpretasi fenomena sejarah, karena pada hakekatnya sejarah itu GHOIB, karena MOTIVASI yang ada dibelakangnya tidak pernah dikemukakan. Yang penting ialah tidak adanya UKURAN yang dapat digunakan secara universil, sehingga PENILAIAN-nya hanya didasarkan pada pendapat sipenulis/periwayat. Realita sejarah dalam AL-Qur’an ditulis oleh Sang Pencipta, sehingga Dia dapat mengetahui motivasi si pembuat /pelaku sejarah. Maka inilah sebabnya manusia menemukan hukum hukum sosial, yang dalam Al-Qur’an disebut SUNNATULLAH atau TRADISI TUHAN.
29.        QUR’AN  SURAH  XXIX :  AL-ANKABUT/LABA-LABA
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 41 yang merupakan kesimpulan dari kandungan topik pertama ( 1 s/d 44 ). Surah dibuka dengan peringatan yang sangat keras, meskipun berupa suatu pertanyaan, ialah :manusia akan diuji dengan ke-imanannya, seperti orang -orang terdahulu. Dilanjutkan dengan pernyataan, bahwa apapun yang dilakukan manusia itu semua untuk dirinya. Beriman atau kafir, semua itu dipikul oleh masing-masing orang. Diteruskan dengan kisah Nuh dan Ibrahim yang mengajak manusia untuk memperhatikan fenomena alam. Kemudian ditutup dengan pernyataan bahwa mereka yang mengambil pelindung selain Allah itu sifatnya rapuh, serapuh rumah laba-laba, namun yang mampu memahami itu hanyalah orang-orang yang berilmu.
TEMA  SURAH :
Disini Tuhan memberi suatu perumpamaan tentang sifat musyrik/kufur yang dilukiskan sebagai sesuatu yang sangat rapuh, serapuh rumah laba-laba. Meskipun rumah laba-laba itu rapuh mampu digunakan untuk menangkap mangsanya, artinya masih dapat untuk mempertahankan hidupnya. Salah satu perumpamaan yang dituliskan dalam Al-Qur’an yang dapat kita saksikan, bahwa orang orang kafir masih dapat hidup dengan mudah. Artinya bahwa tidak ada jaminan, bahwa yang BENAR didunia ini akan selalu menang ! Namun itu hanya dapat difahami oleh mereka yang berilmu, ini artinya bahwa yang mampu memahami Al-Qur’an ialah mereka yang berilmu ! Karena argumentasi yang diajukan Al-Qur’an itu selalu mengandung data/fakta/informasi yang memerlukan pemikiran. Suatu peringatan yang banyak diabaikan manusia !!!
SUDUT PANDANG SURAH :
Apapun argumentasi yang digunakan manusia untuk mempertahankan KEMUSYRIKAN/ POLYTHEISME, semua itu bersifat rapuh Manusia boleh berteori, berfalsafah, dengan mendasarkan pada fenomena yang ada, namun pada hakekatnya semua itu sesungguhnya hanya berlandaskan ANGGAPAN, PERKIRAAN manusia. Salah satu hasil dari “anggapan” itu ialah ILMU; tidak banyak manusia sadar tentang hal itu, sehingga kebanyakan manusia mempertuhankan ILMU atau yang dapat digunakan untuk mencari ilmu, ialah Rasio. Inilah yang dibuktikan oleh Era Modern abad XIX.
30.        QUR’AN  SURAH   XXX :  AR-RUM
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 2 yang merupakan bagian dari topik pertama (ayat 1-7) yang meramalkan akan kemenangan kembali bangsa Romawi dalam beberapa tahun mendatang, setelah dikalahkan oleh bangsa Persia.  Meramalkan , karena waktu surah ini diturunkan, bangsa Romawi baru saja dikalahkan oleh bangsa Persia. Bersedihlah umat Muhammad, karena bangsa Rumawi termasuk ahli kitab, sedangkan bangsa Persia waktu itu beragama Majusi. Surah dibuka dengan kalimat ghoib dan setelah dilanjutkan dengan ramalan, bahwa Bangsa Romawi akan segera mendapatkan kemenangannya kembali, itu karena pertolongan Tuhan. Inilah satu satunya kisah yang dikisahkan Al-Qur’an yang dapat dibuktikan dan dialami secara langsung akan kebenarannya. Suatu ramalan dalam jangka pendek yang merupakan JANJI  ALLAH. Kemudian dilanjutkan dengan pernyataan, bahwa manusia tidak banyak yang mau mempercayai akan kandungan/pernyataan wahyu, seperti akan terjadinya hari kiamat. Inipun sesungguhnya merupakan janji Tuhan.
TEMA  SURAH :
Topik ini mengandung pernyataan yang bersifat prediktif, dan dapat langsung dibuktikan karena kebenarannya hanya memakan waktu pendek. Suatu prediksi yang profetik ! Inilah yang ingin disampaikan oleh topik ini, bahwa apa yang dikatakan Al-Qur’an itu PASTI akan TERJADI. Apakah manusia masih meragukan akan kebenaran apa yang dinyatakan Al-Qur’an setelah bukti nyata ini diturunkan ?

SUDUT PANDANG SURAH :
Inilah satu satunya surah yang dapat menunjukkan KEBENARAN JANJI TUHAN    secara langsung. Artinya kebenaran kandungan Al-Qur’an dapat DISAKSIKAN KEBENARANNYA dalam kurang dari satu generasi. Bagi mereka yang MAU BERFIKIR, realisasi  janji janji  Tuhan, meskipun dalam jangkauan jarak jauhnya tidak terbatas, namun mesti  PASTI akan TERJADI. Misalnya akan datangnya hari  KIAMAT.

By  A Baghowi Bachar

Sabtu, 09 Juli 2011

18 . QUR’AN SURAH XVIII : AL-KAHFI/GUA.


XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAHTOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH. 
18 .   QUR’AN  SURAH  XVIII :   AL-KAHFI/GUA.
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah ini terdapat pada ayat 9 s/d 26, yang mengisahkan tentang pemuda pemuda yang bersembunji di Gua, tatkala mereka menghindar dari suatu kekuasaan yang memaksa mereka menyembah selain Allah. Surah ini sesungguhnya suatu surah yang mengandung kisah kisah kaum terdahulu, salah satunya ialah tentang ‘ashabul kahfi’ ini yang selalu diperselisihkan akan kebenarannya oleh kaum Yahudi dan Nasrani, kemudian ditanyakan pada Muhammad untuk menjadi bukti akan kerasulannya. Tuhan kemudian memberitahukan bagaimana sesungguhnya kebenaran kisah kisah itu dalam wahyu-Nya yang Dia turunkan pada Nabi. Kisah tentang ashabul-kahfi ini merupakan subtopik dari topik pertama surah ini (ayat 1-26), yang dibuka dengan menyatakan fungsi Al-Qur’an diantaranya :
R  Isinya tidak simpang siur
R  Memberi bimbingan pada jalan yang lurus
R  Tidak membenarkan pada mereka bahwa allah itu mempunyai anak,  yang menyatakan itu tidak berpengatahuan, lancang dan dusta
R  Kita tidak perlu kesal dan risau terhadap pernyataan mereka karena justru akan membinasakan diri kita sendiri.
Kemudian diteruskan dengan kisah ashabul-kahfi, yang essensinya mengkisahkan tentang beberapa pemuda yang melarikan diri dan berdiam di gua untuk menghindar dari paksaan syirk. Kemudian setelah 3 abad lebih; dibangunkan kembali oleh Tuhan untuk membuktikan: bahwa mereka telah di-mati-kan Tuhan, kemudian dibangkitkan kembali supaya benar benar menyadari , bahwa mereka telah mengalami perubahan dalam kehidupan dunianya yang tidak mereka ketahui, dan bagi orang-orang yang mengingkari akan datangnya hari pembangkitan, akan menjadi bukti akan kebenaran datangnya hari kebangkitan.(ayat 21).
TEMA  SURAH :
Pertama: tentang kandungan kisah ashabul-kahfi. Inilah sikap yang seharusnya diambil oleh mereka yang mengaku beriman. Kalau sekiranya paksaan syirk itu tidak dapat dilawannya, haruslah mereka itu menyingkir/hijrah, tentu tidak dalam arti seperti mereka masuk kedalam gua, tetapi menciptakan benteng di keliling jiwanya sehingga KEIMANAN-nya tidak sedikitpun terjamah oleh KE-MUSYRIK-AN meski masih tetap dalam kehidupan sehari-hari, karena dalam kancah kehidupan sekarang, tidak ada lagi tempat sembunyi.
Kedua:   subtopik ini ditutup ( 22-26), bahwa kita harus menghindari percekcokkan mengenai hal hal khilafiah, dan berpegang teguh pada APA YANG DIKATAKAN TUHAN (= Al-Qur’an), karena tidak ada seorang pelindungpun selain DIA.

SUDUT PANDANG SURAH :
Banyak manusia menganggap bahwa beramal itu pasti melalui suatu aktivitas sosial. Surah ini memberi pandangan lain, bahwa TIDAK BERBUAT-PUN merupakan suatu amal, bila itu mempertahankan keutuhan iman. Sebab KERETAKAN IMAN dapat membuat amalan sia sia.
19.   QUR’AN  SURAH  XIX :   MARYAM
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat 16 s/d 40 yang merupakan bagian dari topik pertama surah. Surah dibuka dengan huruf huruf Hijazi yang maknanya ghoib, dan diteruskan dengan pernyataan Tuhan mengenai  rahmat-Nya yang diberikan pada Nabi Zakariya. Kemudian diikuti dengan kisah Maryam, ibu Nabi ‘Isa. Do’a Zakariya untuk mendapatkan keturunan, meskipun  dia telah tua renta dan isterinya yang mandul, yang menurut sunnatullah tidak lagi dapat mempunyai keturunan, dikabulkan Tuhan dengan kelahiran Yahya. Kisah kedua, juga kisah yang diluar sunnatullah, tentang gadis Maryam, yang mendapatkan anak tanpa pernah disentuh oleh seorang laki-laki, yang melahirkan Nabi ‘Isa.
TEMA  SURAH :
Pada ayat pembuka dinyatakan bahwa surah ini merupakan penjelasan tentang rahmat Tuhanmu pada hamba-Nya. Yang pertama dikabulkannya do’a Zakaria dan yang kedua dianugerahkan anak yang akan jadi Rasul, pada Maryam melalui suatu fenomena diluar kebiasaan alam/sunnatulloh. Sesungguhnya pada Zakaria-pun anugerah Tuhan melalui suatu kejadian diluar kebiasaam alam, karena Zakaria sudah tua renta dan isterinya seorang wanita yang mandul, yang menurut kebiasaan alam yang ada tidak mungkin akan mendapatkan seorang turunan. Jadi kedua kejadian itu pada hakekatnya identik.
Mengapa tanggapan manusia berbeda ? Kalau yang pertama dapat menambah keimanan seseorang, mengapa pada yang kedua justru menjerumuskan orang kealam kemusyrikan ?      
Dua kejadian yang identik dapat melahirkan tanggapan yang berbeda. Topik ditutup dengan peringatan, bahwa siapa yang mengingkari  kejadian yang diterangkan Tuhan akan menghadapi konsekwensi yang sangat berat, pada hari akhir kehidupan dunia ini. Jangan kita sedikitpun meragukan wahyu, hendaklah kita fikirkan benar, jangan mengikuti pendapat orang lain.
Diajarkan disini, bahwa  sebab yang sama dapat melahirkan akibat yang berbeda, bahkan bisa berlawanan sama sekali. Tengoklah pada alam pemikiran posmo. Apakah surah ini bukan suatu ajaran bagi manusia yang mempersekutukan Tuhan dengan RASIO manusia ? Pada abad ke VII.M. Tuhan sudah mengingatkan manusia, bahwa manusia akan mempertuhan RASIONYA atau menganggap dirinya TUHAN kehidupan duniawi ???!!!
SUDUT PANDANG SURAH :
Bagaimanapun TIDAK LOGISNYA AL-QUR’AN MENURUT KITA, diperingatkan Tuhan bahwa pada akhirnya wahyulah yang akan membuktikan dia-lah yang BENAR Banyak manusia terperosok dalam meng-illah-kan RATIO.
20.   QUR’AN  SURAH  XX :  THAHAA
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah ini ialah kalimat ghoib sebagai pembuka surah. Kemudian diikuti dengan pernyataan bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan untuk menyusahkan manusia, karena datang dari Yang Maha Pengasih.
TEMA SURAH :
Kemudian diikuti oleh kisah Musa mulai dari kelahirannya sampai  ia melepaskan Bani Israil dari cengkeraman Fir’aun. Kisah Adam sampai diturunkannya ke dunia dan sebab diturunkannya wahyu. Wahyulah yang dapat mengentaskan Bani Israil dari cengkeraman Fir’aun dan wahyulah yang dapat menyelamatkan kehidupan dunianya Adam ; menentang wahyulah yang menyebabkan hancurnya kaum ‘Aad, Tsamud dan yang lain lain. Hendaklah umat Muhammad menyadari akan hal ini, bahwa hanya Al-Qur’anlah yang akan memudahkan dan menyelamatkan kehidupan duniawi.
SUDUT PANDANG SURAH :
Hanya WAHYU-lah yang akan menyelamatkan kehidupan dunia ini dan kehidupan sesudahnya, meskipun banyak manusia yang menganggap Al-Qur’an itu TIDAK LOGIS, MENYULITKAN   ORANG HIDUP dan MEMBERATKAN JALAN HIDUP.
21.   QUR’AN  SURAH   XXI :  AL  AN-BIYAA’/ PARA NABI
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah tidak terdapat pada ayat-ayatnya, namun dapat difahami, karena surah ini banyak mengandung tentang kisah para Rasul, dialog dialog antara Tuhan , Rasul-Nya dan manusia. Subjek utama yang didialogkan ialah masalah kiamat dan wahyu sebagai hudaa dan furqon yang harus digunakan manusia. Argumentasi dan penjelasan Tuhan selalu didasarkan pada :
R  Tujuan penciptaan kehidupan dan manusia serta
R  Kedudukan manusia sebagai khalifah, sehingga manusia itu penerima amanah yang harus mempertanggung-jawabkannya kelak.
Ternyata meskipun dialog dialog itu menggunakan cara rasional, namun manusia tidak dapat menerimanya, karena manusia lebih banyak mendasarkan tindakannya hanya mengikuti keinginannya, mendasarkan pada anggapan dan persangkaan saja , mengikuti terminologi Al-Qur’an mengikuti nafs-nya.
Kalau kita perhatikan benar disamping dialog-dialog yang bersifat argumentatif, seperti membuktikan ke-maha-kuasanya Tuhan dengan fenomena fenomena alam dan kejadian pada diri manusia, juga ada yang bersifat motivatif, dengan memperlihatkan apa yang terjadi pada mereka yang mengingkari para rasul dan wahyu, dan apa yang pasti akan terjadi dikelak kemudian hari, setelah datangnya hari akhir kehidupan ini.
TEMA SURAH :
Dinyatakan dengan tegas bahwa manusia itu bertindak lebih banyak mengikuti nafsunya daripada akalnya, meskipun manusia telah mampu menggunakan akalnya sehingga dapat menguasai kehidupan dan survive didalamnya. Namun apa yang diciptakan manusia sebagai ilmu, sesungguhnya hanyalah suatu upaya trial and error, karena manusia itu sesungguhnya tidak mengetahui hakekat realita. Manusia lebih banyak mendasarkan tindakannya pada keinginannya dari pada akalnya. Lihat perubahan penggunaan  E (mosional ), Q (uotient) untuk mengganti  I (ntelectual), Q (uotient).
SUDUT PANDANG SURAH:
Surah ini menunjukkan sifat dan hakekat ilmu sebagai hasil olah nalar manusia. Namun ilmu tidak mungkin mencapai kebenaran, karena manusia BERTINDAK LEBIH BANYAK MENDASARKAN PADA  KEINGINAN DARIPADA AKALNYA. inilah sebabnya diutusnya para Nabi untuk digunakan sebagai contoh dan tauladan.
22.   QUR’AN  SURAH    XXII :  AL-HAJ.
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat 26-29 yang merupakan bagian dari topik ke 2 (25-41) yang dibuka dengan
R  Ancaman terhadap siapa yang menghalangi manusia yang berjalan dijalan Allah
R  Ancaman terhadap yang mengerjakan kejahatan di Masjidil Haram yang telah dijadikan tempat beribadah bagi semua manusia, dengan adzab yang berat.
R  Kemudian diikuti perintah pengumuman pada semua manusia untuk menunaikan haji, supaya menyaksikan/memperoleh manfaat-manfaat, dan dilanjutkan dengan tata cara haji.
R  Selanjutnya dijelaskan bagi siapa yang menghormati larangan Tuhan itu, lebih baik dengan mengikuti perintah-Nya dengan ichlas tanpa mempersekutukannya.
R  Seterusnya diterangkan bahwa korban itu disyare’atkan pada semua umat bukan hanya umat Muhammad dan siapa yang berserah diri serta patuh pada-Nya, ialah mereka  yang bergetar hatinya waktu mendengar nama -Nya.akan mendapatkan pahala disisi-Nya.
Topik ditutup dengan idzin berperang bagi orang-orang mukmin yang diperangi, atau diusir dari kampung halamannya tanpa ada alasan dan yang diidzinkan berperang ialah mereka bila diberi kekuasaan dimuka bumi  dan tetap mendirikan shalat, membayar zakat, ber-’amar ma’ruf dan nahi mungkar.
TEMA  SURAH :
Perintah menunaikan ibadah haji ditujukan pada SEMUA MANUSIA, bukan pada para kaum mukmin, untuk mendapatkan manfaat; diyakinkan Tuhan bahwa akan datang manusia berduyun-duyun dari daerah yang dekat maupun jauh. Jadi ibadah haji itu ditujukan bagi semua orang yang mengaku muslim,(karena Mekkah diharamkan bagi manusia non-muslim) untuk memperoleh manfaat dari pengalamannya waktu ber-haji. Berhaji itu berarti : meninggalkan kehidupannya sehari-hari dengan segala macam predikat dan keistimewaannya, meninggalkan semua yang dicintainya, menyaksikan dan menapak-tilasi perjalanan seorang yang HANIF (Nabi Ibrahim), berkumpul dengan semua macam manusia dengan berpakaian dan cara ibadah yang sama kepada Tuhan yang sama.....inilah hal-hal yang dapat ditarik manfaatnya bagi manusia yang telah mengaku muslim. Jadi naik haji bukan MELENGKAPI ibadah yang lain, tetapi MENAMBAH  DALAM  PENGHAYATAN  KESADARAN-KEMAKHLUKAN dan KE-IMANAN, memperkuat UCHUWAH DINIYAH yang kemudian akan meningkatkan ke-musliman-nya. Inilah sebabnya perintah haji itu hanya sekali seumur hidup dan berlaku bagi mereka yang cukup mampu dalam bidang fisik dan sosial-ekonomis.
SUDUT PANDANG SURAH:
Untuk meningkatkan diri sebagai HAMBA/MAKHLUK TUHAN, manusia wajib satu kali meninggalkan kehidupan duniawinya sehari-hari, artinya manusia harus menyediakan waktu untuk kontemplasi. MELAKSANAKA IBADAH HAJI merupakan pelaksanaan kontemplasi UMAT MANUSIA SEDUNIA.
23.   QUR’AN  SURAH  XXIII :  AL-MUKMINUN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada topik pembuka surah ( ayat 1 s/d 11) yang menerangkan sifat-sifat orang-orang mukmin ( 6 sifat utama ) dan mereka itulah yang dijamin Tuhan akan mewarisi surga. Sosok seorang mukmin ialah :
R  Khusyuk dalam sholat,
R  Menghindar dari pembicaraan yang sia-sia,
R  Menunaikan zakat,
R  Menjaga kehidupan sex-nya,
R  Memelihara amanat dan janjinya dan
R  Memelihara shalatnya.
TEMA  SURAH :
Topik sentral surah menggambarkan  sosok seorang mukmin yang mampu menjaga kehidupan ini, ialah mereka yang :
R  Khusuk dalam sholat ialah mereka yang mendirikan sholatnya karena keyakinannya akan menemui Tuhannya kelak/mempertanggung-jawabkan amanah-nya. Sholatnya orang demikian pasti mampu mencapai tujuan sholat ialah mengikis fachsya dan mungkar
R  Menghindari pembicaraan yang sia-sia ialah menjaga diri terjerumus dalam hal-hal yang menuju ke kemungkaran, diantaranya lahirnya fitnah dan gossip
R  Menenuaikan zakat artinya membersihkan hak miliknya dari hak hak orang lain melalui cara mencari dan penggunaan yang benar
R  Menjaga furuj berarti menjaga keturunan dan sendi kehidupan yang terkecil ialah keluarga
R  Memelihara amanat dan janji berarti meneguhkan hubungan antar manusia
R  Memelihara sholatnya berarti, selalu menjaga diri dari fachsya dan kemungkaran
Mereka inilah yang akan mewarisi surga, BUKAN  DUNIA. Masih banyak manusia yang tidak dapat menerima kenyataan,bahwa masih banyak kaum muslim yang hidup sebagai manusia kelas rendah. QS. Al Anbiya’ ayat 105, bumi akan diwarisi oleh mereka yang sholeh; ayatnya ke 94, menyatakan bahwa amal yang tidak sia-sia ialah amal baik (‘amilush-sholichin) dari manusia yang beriman. Jadi ada amal baik (dipandangan manusia) yang sia-sia dipandangan Tuhan.
SUDUT PANDANG SURAH :
Pandangan manusia tentang BAIK DAN BURUK berbeda dengan pandangan Tuhan, karena KRITERIA YANG DIGUNAKAN BERBEDA. Jadi penilaian baik-buruk, untung-rugi harus dilandaskan pada pengertian BENAR-SALAH.

by  A.Baghowi Bachar