Translate

Telusuri via Blog Ini

Minggu, 10 April 2011

X. AL-QUR’AN

 Citra Manusia Versus Citra Al-Qur’an

Kalau kita ditanya : Seperti Apa  Al-Qur’an Itu Sebenarnya ?.  Pertanyaan yang wajar bagi mereka yang bukan umat Muhammad; bagi umat Muahammad itu suatu pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan, suatu pertanyaan konyol dari seorang yang konyol pula.
Dalam benak kita waktu memikirkan jawaban itu, saya tidak mendapatkan gambaran yang jelas dengan garis garis yang tegas, warna yang terang, suatu gambar yang menonjol dari warna latar belakangnya. Dalam gambaran benak saya terdapat suatu gambar dengan batas yang kabur, bentuk yang remang remang, yang diliputi nuansa sakral, sekaligus asing, dalam suatu keremangan bayangan kabut. Lain masalahnya kalau yang ditanyakan itu: Apa Itu Agama ?. Dalam benak kita tidak terlintas adanya jalinan antara kedua pertanyakan itu.
Yang pertama :
  •  Buku agak kekuning-kuningan, berdebu atau bersih dalam lemari dengan sampul bergambar tinta emas, tersimpan jauh dari jangkauan perhatian manusia
  •  Berisi dongeng dongeng kuno, yang lepas dari kenyataan sejarah, cerita cerita hikayat ; do’a - do’a  bagi mereka yang merasa sengsara hidupnya, tidak berguna bagi mereka yang kaya dan terhormat dst.
  • Terlalu sakral untuk dipikirkan
  • Tidak sembarang orang boleh mengartikan
  • Kumpulan kalimat kalimat, diantaranya ada yang mengandung mantra, jampi jampi, penolak balak
  • Hanya pada bulan puasa kerap dipegang, dibawa mengaji atau taraweh ke mesjid atau musholla
  • Dirumah terletak dimeja, dijamah tapi asing, dibunyikan bukan dikaji, dihormati tanpa dicintai. Tempat harapan diletakkan,… namun  ditinggal dalam aktivitas sehari hari.

Yang kedua:
  • Perintah dan larangan yang membatasi ruang gerak manusia enggan melaksanakan, takut meninggalkan
  • Ditonjolkan dalam lahir, dilecehkan dalam batin
  • Topeng penutup muka dalam pentas sandiwara kehidupan sekali kali menjadi dalih untuk berpesta pora.  .... Dalih untuk ber-ria melanggar kesederhaan dan rendah hati
  • Dalih untuk menghalalkan keinginan-keinginan
  • Slogan -slogan mujarob, namun kosong, pembungkus kebathilan.
  • Mantra-mantra penolak balak
  • Kisah kisah hikayat/legenda antara kenyataan dan khayalan
  • Mithos-mithos pelipur lara dan lain sebagainya.

Gambaran umum ialah agama itu seperti penjara larangan dan perintah, peraturan dan hukum. Inilah citra manusia tentang wahyu dan agama. Keduanya pakaian penghias badan dan kehidupan. Yang pertama aksesori , yang kedua baju. Ada akidah, syare’at, fiqh, iman, ichsan, islam dan 1001 istilah yang merobek-robek makna dien. Gambaran ini telah  membeku dalam benak kebanyakan ummat, suatu idee fixed yang telah berkarat dalam alam pemikirannya.
Kalau saja kita mau membuka hati kita terhadap apa yang ditulis dalam Al-Qur’an, maka jelas bahwa Al-Qur’an  hanya mengandung:
  • 70 Ayat        [Ketentuan Tentang Kehidupan Keluarga]                                 
  •  30 Ayat        [Ketentuan Tentang Hukum Pidana]
  • 13 Ayat        [Ketentuan Tentang Yurisdiksi Dan Prosedur]
  • 10 Ayat        [Ketentuan Tentang Hukum Konstitusi]
  •  25 Ayat        [Ketentuan hubungan internasional]
  • Jumlahnya  148 ayat yang hanya 2,4 % dari  6232 ayat Al-Qur’an.                            (Said Ramadan : Islamic Law.  Geneve 1970)
Selanjutnya Al-Qur’an tidak pernah membagi ajarannya terkotak-kotak, baik keseluruhannya maupun dalam kandungan surah-surahnya. Tiap ayat yang mengandung salah satu aspek kehidupan tadi terjalin erat sebagai satu tenunan tunggal seperti struktur kain. Siapa yang ingin beragama, maka ia harus memakai kain itu secara utuh dalam kehidupan sehari-harinya. Dia tidak dapat mengambil sebagian kain, atau hanya secuwil yang disenangi gambar motif tenunannya dengan menanggalkan yang tidak dikehendaki. Hanya ada 2 pilihan, memakai kain sebagai baju atau sama sekali menanggalkannya , yang dalam terminologi Al-Qur’an, muslim atau musyrik, manusia atau syetan. Siapa yang memilih jalan diantaranya maka dia akan mem-bahayakan orang orang lain, bukan hanya dirinya sendiri, golongan inilah yang disebut kaum munafik. Kepada golongan inilah kebanyakan peringatan dan ancaman Tuhan ditujukan.
Kalau kita memilih jalan pertama, maka kita harus mau memahami surah bahkan tiap ayatnya serta mau melaksanakan dalam aktivitas kehidupan ini, mulai dari sikap batin  sampai perilaku, mulai dari perilaku pribadi, golongan, bangsa sampai seluruh umat manusia. Ini dapat dilaksanakan,  karena tiap ayat/surat itu mengandung system of concepts, system of ideas dan system of values. Dan karena Al-Qur’an itu merupakan hudaa dan furqon, maka wahyu itu harus merupakan suatu problem-solving’s methods melalui sistem tanggap nilai.
AL-QUR’AN adalah ENCYCLOPEDIA KEHIDUPAN. Penulisan sesuatu dalam encyclopedia pasti caranya berbeda dengan  cara penulisan dalam suatu textbook. Dalam Encyclopedia tiap sesuatu dilihat dari hampir seluruh sudut pandang, dari segi makna kata, sejarah kata, lingkungan/ cabang/disiplin ilmu yang menggunakan kata itu, serta diikuti perkembangan makna konotatifnya, dari makna dalam bidang falsafah, ilmu dengan seluruh cabang-cabangnya, seni sastra dengan seluruh cabang-cabangnya, bahkan dihubungkan dengan sesuatu yang dianggap tabu bagi dunia ilmiah, seperti dunia magic, mythologi dan keyakinan, kepercayaan atau agama.
Sebagai salah satu contoh : makna syare’at 
Kerangka yang dihujamkan dalam benak kita ialah bahwa syare’at itu, aturan, hukum  atau tatanan, bahkan banyak manusia yang lebih menyempitkan lagi dengan mengartikannya sebagai hukum positif.
Apa kata Al-Qur’an ?.  Arti kosa katanya ialah “kembali ke air “.  Air dalam pengertian Al-Qur’an ialah asal kehidupan. Jadi syare’at ialah sesuatu yang mampu mengembalikan hidup, atau sesuatu yang menghidupi. Masarakat  yang mengatur dirinya dengan syare’at ialah masyarakat yang HIDUP, artinya suatu  masyarakat yang MENGHIDUPI warganya, suatu baldatun thoyibatun wa robbun ghofur !
Jadi ukuran ke-islam-an suatu masarakat/peradaban/kebudayaan itu diukur dengan keberhasilannya menjabarkan syare’at dalam kehidupannya sehari hari;  seberapa dekatnya kehidupan itu dengan air kehidupan, prinsip-prinsip validitas, legalitas, moral, etika dan estetikanya syare’at Islamiyah. Kalau ini yang dimaksud dengan makna syare’at, maka kata modernisasi hukum hukum Islam tidak perlu ada dan memang TIDAK ADA.  Islam tidak membutuhkan penggunaan terminologi Barat, seperti personal law, demokrasi, emansipasi, hak hak azasi dst. Justru penggunaan ini akan mengaburkan nilai nilai yang dikandung kata syare’at. Terminologi itu hanya boleh digunakan untuk menjelaskan “essensi perbedaan”nya yang melahirkan perbedaan NILAI.

Bagaimana upaya kita supaya mampu melumerkan ide fixed dalam benak kita ?

Idee fixed ini lahir dari sikap taklid kita terhadap pendapat para Ulama terdahulu dan menganggap hasil pemikiran mereka itu suatu panacea yang sempurna, yang tidak memerlukan peninjauan kembali. Jadi kalau kita ingin melepaskan ketaklidan ini, kita harus mempelajari  jalan pemikiran mereka bagaimana mereka sampai mendapatkan hasil yang demikian. Metodologi yang mereka gunakan itulah yang harus kita gali, kemudian kita hadapkan vis a vis dengan kemajuan alam pemikiran yang ada. Sebagai contoh kita ambil upaya  Abu Ishak al-Shatabi pada abad ke XIV M. Dia yakin bahwa perubahan sosial itu terkait erat dengan perubahan legalitas. Menurut dia ada 2 macam perubahan dalam pengamalan agama, ialah :
  • Bid’ah (perubahan dalam syare’at, terutama ubudiyah yang tidak dijalankan oleh Nabi)
  • Adah (kebiasaan atau adat yang lahir dari faktor faktor baru dalam sektor sektor kehidupan, karena adanya kemajuan sistem atau tehnologi) Jadi adah adalah perubahan pengamalan agama, terutama dalam bidang amaliah )

Kedua hal ini sering dikacaukan, sehingga lahir kata bid’ah hasanah, yang pada hakekat kata itu tidak ada. Bid’ah ya bid’ah! Adah yang diperbolehkan oleh syare’at selama tidak melampaui batas batas normatif-nya.
Dengan pengertian ini, tembok hukum dapat ditembus, sehingga kristalisasi yang berkarat dari alam pemikiran dapat dicairkan. Juga kemajuan dalam engineering ataupun tehnologi dapat di-adopsi dalam kerangka syare’at. Ini contoh salah satu metoda yang dapat melumerkan idee fixed yang melahirkan kejumudan alam pemikiran umat. Diantara penerus Shatabi ialah Ziauddin Sardar melalui bukunya Islamic Futures yang secara panjang lebar menguraikan metoda ini. Katakanlah metoda dengan pendekatan sosiologis. Disamping  ini ada jalan lain yang memilih melalui pendekatan teoritis.
Jalan kedua yang dapat menembus ialah dengan mencari alternatif metoda penafsiran yang baru, yang dapat menyempurnakan metoda lama yang dikenal sebagai metoda ‘Ulumul Qur’an ‘. Metoda ini yang menganggap bahwa Al-Qur’an itu hanya berupa konglomerasi dari  6232 ayat dan mengabaikan pembagiannya dalam surah. Alternatif ini pada garis besarnya ialah mencari wajah sistematika Al-Qur’an yang baru. Tokoh Ulama yang terkenal yang merintis kearah ini, diantaranya Al-Khattabi, Al-Baqillani, Jurjani, Zamakshari, Az-Zarkasi, Ar-Rozi, Maududi, Hijazi, Farohi , Islahi, Fazlur Rahman, Tabataba’i, Qutb dll.
Cara mana yang ingin diteruskan terserah pada masing masing orang, tentunya hanya berlaku bagi mereka yang ingin melumerkan kebekuan citranya terhadap Al-Qur’an .
 Inilah Langkah Pertama Jalan Ijtihad/Jihad Intelektual Dimasa Kini Dan Masa Depan
METODE DAKWAH YANG MELAHIRKAN TAKLID HARUS DITINGGALKAN ! 
A BAGHOWI BACHAR

SEPINTAS SEJARAH PENULISAN/KODIFIKASI AL-QUR’AN.

ADENDUM.

SEPINTAS SEJARAH PENULISAN/KODIFIKASI AL-QUR’AN.
1.        PADA ZAMAN NABI :
Nabi memerintahkan Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, Ubai bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabid untuk menuliskan wahyu yang diterimanya pada pelapah pohon kurma, lontar, kulit unta , lempengan batu, potongan tulang. Setelah ditulis maka tulisan itu dibacakan didepan Nabi.
2.      PADA ZAMAN KHALIFAH ABU BAKAR:
Atas desakan ‘Umar, karena banyaknya hafiz yang gugur dalam peperangan Yamamah (Tahun 12 H.), maka Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabid untuk menghimpun/membukukan (kodifikasi) wahyu yang tersebar. Urutan penulisan sesuai dengan urutan penulisan pada zaman Nabi. Naskah kemudian disimpan oleh ‘Umar.
3.      PADA ZAMAN KHALIFAH USTMAN:
Khalifah memerintahkan Zaid bin Tsabid, Abdullah bin Zubair, Saad bin Al-’Ash dan Abdurahman bin Abdullah bin Hisyam untuk menuliskan naskah Al-Qur’an kembali secara baku dalam dialek Quraisy, karena dialek ini yang merupakan induk bahasa Arab. Maka lahirlah Mushaf Ustmani, yang merupakan Kitab Al-Qur’an pertama. Seluruhnya ada 7 naskah, satu disimpan di Madinah yang kemudian disebut Mushaf Imam, yang lain dikirim ke Mekah, Basroh, Damaskus dan Kufah. Cara penulisan yang lain dari Mushaf itu dibakar. Wajah tulisan belum mengguanakan tanda baca, titik pembeda abjad. Jadi masih gundul total.
Kemudian Abu Al-Aswad Al-Dulay memprakarsai dengan tanda baca dan titik pembeda huruf. Selanjutnya Nashr bin ‘Ashim dan Yahya bin Ya’mar, membagi bagi dalam 30 juz, 60 hizib dan 554 ruku’. Ini terjadi pada pemerintahan Abdul Malik bin Marwan pada tahun 63-83 H. atas perintah gubernur Al-Hajjad bin Yusuf Ats-Tsaqofi. Selajutnya pada tahun 800 M., Al-Khalil ibn Ahmad menyempurnakan penulisannya seperti yang ada sekarang.

Sabtu, 09 April 2011

I. KE-UNIK-AN AL-QUR’AN

I.  KE-UNIK-AN AL-QUR’AN
Kata Al-Qur’an kalau digunakan sebagai nama kitab  berarti ‘bacaan’. Istilah ini sama sekali tidak menunjukkan kandungan maupun bidang yang digeluti kitab itu. Kitab dalam pengertian Al-Kitab atau Buku Suci diidentikkan dengan kata scripture yang berarti a body of writings considered as authoritative atau a classically embodying the essence of a way of life, movement, era or nation.
Dalam diskripsi ini, yang membedakan Al-Qur’an dengan buku-buku lain ialah kata ‘authoritative’ yang berarti demanding a submission , dan kata classically yang berarti of the highest quality, having a value or position  recognized and unquestioned.  Ini memberi pengertian bahwa  Al-Qur’an  merupakan suatu bacaan yang menghendaki ketundukkan pembacanya. Jadi siapa yang membaca Al-Qur’an diharapkan memahami, meyakini, menghayati  menundukkan diri, baru melaksanakan apa yang terkandung di dalamnya. Qoro’na wa atho’na.
Darimana datangnya sifat authoritative (otoritas) Al-Qur’an ?
Surat pertama yang diturunkan berbunyi:
“ Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan,
   Menciptakan manusia dari segumpal darah.
   Bacalah ! Tuhanmu yang Maha Pemurah,
   Yang mengajar dengan kalam,
   Mengajar manusia apa yang tidak dapat diketahuinya.....”
Jadi bacaan ini merupakan kalam (tulisan/kata) Ilahi yang mengandung pengetahuan yang tidak dapat digali manusia  dari sumber yang lain. Selain dengan kalam, Tuhan mengajar manusia melalui fenomena  alam. Dengan membaca alam saja manusia tidak dapat mengetahui pengetahuan yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, sifat otoritas yang dimiliki Al-Qur’an  disebabkan  karena kandungannya berasal dari Sang Pencipta dan mengandung suatu pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dengan membaca alam.  Suatu pilihan nama yang Unik.
Bacaan yang merupakan wahyu Ilahi dan berisi pengetahuan yang diperlukan manusia diberikan untuk melengkapi  rahmat-Nya. Kandungan bacaan tersebut diberikan secara bertahap. Sebelum kitab itu lengkap, dikirimkan oleh Nya seorang Rasul, Muhammad, untuk membimbing manusia. Setelah kitab itu lengkap maka Rasul tidak diperlukan lagi dan manusia pasca-Muhammad harus mampu merekayasa kehidupannya tanpa bimbingan langsung. Yang ditinggalkan Rasul hanya berupa pesan lisan dan tauladan yang telah dibukukan oleh ummat terdahulu. Supaya mudah dipahami, Tuhan mengubah tertib susunan wahyu-Nya dari susunan nuzulnya menjadi seperti Al-Qur’an yang kita kenal sekarang. Perubahan tertib susunan itu tidak ditujukan untuk mengubah kandungan atau ajarannya, tetapi bertujuan agar manusia pasca-Nabi mampu memahami ajaran-Nya untuk  merekayasa kehidupannya secara mandiri. Jika pada zaman Nabi pendekatan terhadap wahyu  dilakukan secara edukatif-instruktif,  maka pada zaman pasca-Nabi manusia harus mendekati wahyu secara materiil, suatu pendekatan edukatif-teoritis. Dapat dikatakan bahwa pada zaman Nabi Al-Qur’an berfungsi sebagai handbook/buku penuntun, sedangkan pada zaman pasca-Nabi Al-Qur’an berfungsi sebagai textbook/buku teori.
Bagaimana wahyu bisa mengubah wajahnya dari handbook menjadi textbook ?
Kandungan Al-Qur’an bukan berupa ilmu kehidupan, tetapi berupa hudaa dan furqon-nya kehidupan [petunjuk/pengarah/kompas dan kriteria/norma/nilai] yang dirumuskan sebagai larangan dan perintah. Rumusan ini paling sederhana dan paling mudah dimengerti  dan diikuti oleh semua  manusia dengan tingkat  pendidikan  yang paling rendah sekalipun. Untuk tingkat yang lebih tinggi lagi tuntunan itu dituliskan sebagai  peringatan dan anjuran yang selanjutnya diungkapkan sebagai ajakan, pengingat dan argumen serta contoh contoh kasus, perumpamaan dan mitsal. Untuk mereka yang keras kepala, tuntunannya disertai dengan ancaman dan pembalasan.   
Apa yang di-ingatkan atau diperingatkan Al-Qur’an?
Apa yang disarankan dan dianjurkan  Al-Qur’an ?
Dan apa yang diancamkan dan  dihadiahkan  Al-Qur’an ?
Al-Qur’an memandang kehidupan sebagai suatu intervensi manusia terhadap ‘amr Tuhan. ‘Amr ini diekspresikan sebagai fitrah, takdir dan sunnah-Nya. Jadi manusialah yang merupakan aktor  intelektualisnya kehidupan. Karena itu seluruh kandungan Al-Qur’an ditujukan hanya pada manusia. Dan oleh  karena rekayasa kehidupan itu dimulai dari diri manusia sampai rekayasa  komunitas sosio-kultural, dan juga manusia lah yang merupakan aktor intelektualisnya, maka apa yang dapat merusak atau menunjang sendi-sendi kehidupan itu sesungguhnya  berada dalam diri manusia. Karena kendala, hambatannya hanya ada dalam diri manusia, maka logis bahwa Al-Qur’an mengandung asal-usul, sifat dan kecenderungan, kedudukan manusia dalam kehidupan, contoh contoh kasuistik perjalanan hidupnya serta apa yang menunggunya dikelak kemudian hari. Semua itu menurut Al-Qur’an merupakan realita kehidupan yang harus disadari dan digunakan manusia sebagai pedoman dalam merekayasa  kehidupannya. Realita ini ada yang dapat diketahui sendiri dan ada yang tidak mungkin diketahui manusia , kecuali diberitahukan oleh Tuhan melalui Al-Qur’an, ialah realita yang bersifat ghoib.
Inilah sebabnya Al-Qur’an juga menerangkan tentang kedudukan dan sifat-sifat Tuhan dan memberikan ilustrasi fisik tentang yang ghoib supaya manusia dapat memahaminya. Selanjutnya supaya pembacanya dapat lebih menghayati kandungannya, Al-Qur’an mengemukakan itu secara dialogis. Cara ini juga yang mampu menafikan perbedaan waktu, budaya antara waktu diturunkannya  dengan para pembacanya. Inilah sebabnya maka Al-Qur’an disebut “ BACAAN”, sesuatu yang  dapat disebut ringan sampai yang sangat berat. Sesuatu yang dapat dinikmati dan sekaligus dikaji. Sesuatu yang dapat dibaca oleh mereka yang menggeluti segala macam ragam kehidupan, mulai dari  the man on the street/para awam  sampai  para  cerdik pandai , para pakar,  para khawwam,  para filosof, ilmuwan sampai budayawan.
Suatu nama yang sangat UNIK !
by   A Baghowi Bachar

Selasa, 07 Desember 2010

XI. MAKNA DARI FAKTA

PERUBAHAN TERTIB SUSUNAN AL-QUR’AN.
Kadang kadang manusia lupa atau melupakan suatu fakta yang nyata, sedangkan perintah pertama Tuhan waktu menurunkan Wahyu-Nya yang terakhir dimulai dengan perintah  ‘bacalah‘. Kalau itu penting, mengapa Nabi tidak menerangkannya pada umatnya ?. Karena tentu saja umatnya tidak menanyakan. Mengapa ?, Karena tidak membutuhkan!. Sebab mereka masih memiliki Nabi, dimana segala permasalahan dapat dikembalikan. Para sahabat yang masih dekatpun tidak memerlukannya, karena ingatan akan bimbingan Nabi masih terasakan. Yang telah jauhpun kadang kadang tidak memerlukan karena masih merasa ada penghubungnya, meskipun mereka tidak menyadari bahwa jarak antara penghubungnya telah jauh, dan ada peninggalannya yang dikenal sebagai hadits dan sunnahnya. Para tabi’it tabi’in dan para umat paska sahabat masih memiliki tinggalan yang masih dirasa dekat dengan Nabi dan selanjutnya setelahnya masih ada tinggalan para Ulama yang berupa Buku Kuning.
Namun ada fakta dimana mereka memejamkan mata terhadapnya, mengapa keadaan umat Muhammad tidak berada dibarisan depan lagi setelah abad ke XII M. meskipun masih ada peninggalan para Ulama dan mujadid ? Apakah ini tidak mengandung arti bahwa yang mereka anggap pengganti Rosul itu tidak mampuni untuk membawa umatnya seperti Nabi ? Jangan menyalahkan Nabi, karena Nabi tidak pernah menunjuk siapa yang dapat menggantikan kedudukan-nya; Nabi hanya meninggalkan Al-Qur’an dan Sunahnya. Kedua hal itulah yang mampu menggantikan kedudukannya.
Suatu FAKTA, bahwa WAHYU yang ditinggalkan Nabi, yang dikenal sebagai AL-QUR’AN itu tertib susunan surah dan ayatnya berbeda dengan yang beliau terima dari Tuhan, sedang jumlah kata, ayat, surahnya tetap sama ! Fakta yang kurang mendapatkan perhatian dari umatnya. Mengapa tertib susunan surah dan ayanya  wahyu diubah ? Apakah keadaan demikian, perubahan tertib susunan wahyu yang diterima para Rosul sebelum Muhammad juga diubah tertib susunannya oleh Sang Pencipta ?,  TIDAK !. Apakah dapat disimpulkan, bahwa perubahan tertib susunan wahyu terakhir itu karena tidak akan ada Rosul lagi ?.  Apakah hubungan langsung antara LANGIT – BUMI terputus sampai sekian ?.  Kalau demikian apakah makna yang terkandung dalam fakta ini ?. Yang diubah ialah tertib susunan ayat dan surahnya, sedangkan kata, kalimat, surahnya yang menunjuk pada kandungan dan ungkapan tidak diubah. Ini berarti, bahwa yang diubah ‘cara penggunaan‘ atau dengan terminologi lain ‘cara pendekatan’-nya.
Ini ditopang dengan kenyataan, bahwa Nabi waktu mengadakan transformasi sosio-moral- kultural menggunakan urutan nuzul ; dapat dikatakan bahwa pada waktu itu hubungan langsung antara LANGIT - BUMI terbuka selama 22 tahun, 2 bulan, 20 hari, periode dakwah Nabi. Nabi melalui Wahyu, tahap demi tahap membina masarakatnya menuju ke masarakat yang dikehendaki Tuhan, mengadakan transformasi sosio-moral dari masarakat yang berpola jahiliyah menjadi masarakat yang ber-POLA ILAHIYAH. Proses ini dalam terminologi ilmu sekarang disebut piece-meal social engineering , pendekataannya dapat dikatakan pendekatan edukatif atau dalam suasana Pancasila dikenal sebagai pendekatan TERPIMPIN.  
Sebelum Nabi wafat , atas perintah Tuhan tiap wahyu yang baru diturunkan, harus ditempatkan di tempat yang ditunjukkan Tuhan diantara wahyu yang diturunkan lebih dulu, sehingga tersusun sebagaimana sekarang yang diberi  nama  Al-Qur’an. Setelah Nabi wafat, dan tidak akan diutus Nabi baru dengan wahyu baru, maka umat pasca-Nabi harus melanjutkan mengelola kehidupannya mengikuti wahyu yang ada yang telah dituliskan dan disusun  yang disebut Al-Qur’an. 
Jadi ada 2 hal yang dihadapi umat pasca-Nabi :
  1. Tidak lagi ada hubungan langsung antara LANGIT-BUMI, yang di-ungkapkan dengan Diutusnya Rosul baru
  2. Tidak ada lagi wahyu baru sesudah tersusunnya Al-Qur’an.
Dari kedua hal tersebut dapat disimpulkan, bahwa umat-pasca-Nabi dianggap Tuhan mampu mengelola kehidupan ini menurut POLA  ILAHIYAH yang telah dimulai Nabi dengan bimbingan wahyu yang sama dengan yang ditinggalkanya setelah beliau wafat. Ini berarti bahwa perubahan tertib susunan wahyu dari nuzulnya, menunjuk pada perubahan pendekatan, dari ‘keadaan terbimbing’ menjadi ‘ tanpa bimbingan’ untuk melanjutkan tugas yang sama, menciptakan suatu kehidupan/peradaban yang disimbulkan sebagai baldatun toyyibatun wa Robbul ghofur !
Kalau pendekatan dengan-bimbingan kita sebut pendekatan - terpimpin/edukatif maka pendekatan tanpa-bimbingan dapat kita sebut dengan zelfstudie/belajar mandiri menuju umat yang autodidact/ mandiri. Di-istilahkan dengan terminologi dunia pendidikan dapat disebut dengan kata pendekatan materiil/teoritis.
Selanjutnya PESAN yang dikemas dalam suatu tulisan/naskah itu, kecuali diwarnai oleh tertib susunan kalimat-kalimatnya, juga diwarnai oleh gaya bahasa yang digunakan. Gaya bahasa ini dimaterialisasikan dalam kalimat/phrase/ayat yang merupakan unit struktural terkecil dari suatu bagian/bab/surah-nya. Ungkapan gaya bahasa ini tidak menunjuk pada ‘kandungan’, tetapi pada ‘pendekatan’, katakanlah untuk membedakan dari pendekatan pemahaman kandungan ( yang disebut pendekatan makro), disini kita sebut pendekatan mikro.
Jadi Al-Qur’an memiliki pendekatan mikro dan makro. Pendekatan makro, yang juga disebut pendekatan materiil digunakan untuk cara kita mempelajari kandungan Al-Qur’an, sedangkan untuk mempelajari kandungan surah-surahnya, kita harus menambah dengan pendekatan mikro, atau pendekatan filologik atau sebut saja pendekatan bahasawi. Inilah hubungan antara pendekatan surah dan ayat-ayat yang membentuknya.
Serupa dengn cara pendekatan di atas ialah bila kita mendekati ayat dan unit struktural terkecilnya ialah kosa kata-nya. Oleh karena itu kita sama sekali tidak boleh mencari makna kosa-kata Al-Qur’an dari luar Al-Qur’an. Tiap kosa kata Al-Qur’an mempunyai denotasi & konotasi khusus Qur’ani.
Inilah MAKNA dari FAKTA yang berupa perubahan tertib susunan nuzul ayat dan surah, yang sayang sekali belum mendapatkan perhatian yang memadai dari umat Islam pasca Nabi, sehingga kita mendapatkan kesulitan dalam menciptakan metoda tafsir yang memadai. Bagi mereka yang membaca analisa diatas, mungkin masih ada yang mengganjal dalam benaknya, ialah apakah satu naskah yang didekati dengan 2 pendekatan yang berbeda tidak merubah hasil yang dicapai ?. Mari kita coba melihatnya lebih lanjut.  
Yang dimaksud dengan PENDEKATAN disini ialah cara untuk memahami wahyu, sehingga mampu mulai dari mengerti, memahami sampai melaksanakan pesan yang dikandungnya. Pada zaman Nabi, Nabilah yang merupakan referensi tunggal untuk memahami wahyu, sekaligus melaksanakannya. Kedua, turunnya wahyu itu berangsur-angsur, sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk menangkap reason d’etre-nya, kecuali Nabi yang langsung dibimbing Tuhan. Tiap waktu Nabi menerima wahyu, dia langsung memahami makna yang terkandung didalamnya dan langsung mampu menjabarkan dalam sikap dan perilaku, meskipun Al-Qur’an belum lengkap.
Keadaan ini dapat dilukiskan demikian: dilihat dari cara penerimaan wahyu oleh Nabi, Nabi sekaligus mampu menguasai ke 3 dimensinya, ialah dimensi penguasaan konsep/atau dimensi kognitif , kedua demensi affektif  dan ketiga demensi psychomotor SEKALIGUS dapat diperoleh atau dengan kata lain teori dan pelaksanaannya sekaligus dapat diamalkan atau dengan lain kata : aspect weltanschauung, aspek Ilmu dan aspek teknologi sekaligus dapat dikuasai atau dengan terminologi Al-Qur’an: akidah dan syare’at ubudiyah serta muamalah, atau ilmu, iman  dan amal dapat sekaligus dikuasai.
Masa Nabi telah lalu, tinggallah kenangan yang dirindukan....namun itu telah hilang dan tidak mungkin kembali atau dikembalikan. Pada zaman pasca -Nabi, bimbingan Nabi diwakili oleh apa yang telah diwariskan yang berupa HADITS. tetapi WARISANNYA telah berubah menjadi konsep juga. seperti wahyu yang harus diusahakan aplikasinya. Baik sunnah Nabi maupun Al-Qur’an hanya berupa materi yang mengandung- baik konsep-konsep elementer maupun konsep konsep yang majmuk.
Untuk meng-aplikasikan setiap konsep, maka :
Pengertiannya harus dipahami dahulu, kemudian menemukan cara pelaksanaan nya, baru di-laksanakan, atau dengan kata lain dimensi kognitif harus dikuasai dahulu, di-ikuti penghayatan dimensi affektifnya, baru dapat dikembangkan  dimensi psychomotornya. Atau dengan kata lain : penguasaan weltanschauung/ atau akidah disusul dengan penguasaan ilmunya/ syare’atnya, baru menciptakan alat atau tehnologinya atau sistemnya. Jadi untuk menjadi muslim prosesnya lebih panjang daripada pada zaman Nabi. Pertama harus dikuasai materi wahyu, baru menciptakan ilmunya [karos] diikuti dengan penjabarannya dalam ujud teknologi atau sistem engineering. Memahami ilmu secara demikianlah yang dimaksud dengan pendekatan materiil. Jadi dengan perubahan pendekatan kandungan dengan tujuan wahyu tidak berubah !
Yang menjadi penyebab utama adanya perubahan tertib susunan, ialah tidak diutusnya Rasul dan tidak diturunkannya wahyu lagi !
Perubahan tertib susunan wahyu merupakan tuntunan Tuhan yang dapat menggantikan bimbingan seorang Rasul.
MENGAPA  TIDAK  KITA  TANGGAPI  DENGAN SEMESTINYA ???
 
BY  A BAGHOWI BACHAR

Sabtu, 20 November 2010

Renungan

Menatap   kehidupan  yang berjalan  mengikuti waktu, atau mengejar waktu atau atau meninggalkan  waktu; apa yang "kau cari manusia?"  kesenangan ? kepuasan ? kebahagian? atau kekuatan ? atau ????   " cari jawab mu atau obral pertanyaanmu?".  Dunia seperti lapang kosong atau bola  gundul atau seperti  hutan belantara atau hirup-pikuk kemacetan  manusia dan kendaraan di jalan-jalan  sempit !!??  Waouuooo ngapain aja  kamu !! ?? asyik  sekali  dengan  "BB"mu, eh kamu !! asyik  dengan jari-jemarimu di HP kecilmu, eh  kamu !!?? asyik  dengan TV -nonton gosip-gosip   "murahan".......semua asyik dengan dunia  fatamorgana yang  Hedonistik... Semua -waktu  bermain ..seperti "Game"  di dunia maya atau dunia kebohongan yang di ciptakan oleh kreator-kreator  kehidupan "demi kesenangan, demi  kebahagian, demi  kepuasan..."  katanya... Sungguh  fantasi tercipta  oleh  pikiran-pikiran ....manusia... waouuu  pikiran orang "gila"  waouu   "dalang-dalang   dan wayang-wayang"   edan !!!. Dunia   menjadi  begitu fatamorgana/ begitu  palsu-   Kehidupan  yang penuh "tipu daya".
.....Berjalan .....perlahan-lahan ....semakin  lama semakin  lelah .. dan berhenti......ooohh  kehidupan...

VIII. PESAN YANG TERKEMAS.

Dalam Cerita-Cerita Kandungan Al-Qur’an

Kesan utama bagi mereka yang membaca Al-Qur’an ialah banyaknya cerita- cerita yang dipaparkan dan berkesan tumpul, membosankan, dengan alur cerita yang mirip satu dengan yang lain dan tidak pernah mencapai klimaks cerita, yang memudahkan untuk mengingat kembali. Sulit kita menangkap arti dan maknanya. Untuk memudahkan penggambaran wajah cerita yang disampaikan, kita akan melihat dari apa yang dinyatakan Al-Qur’an tentang dirinya.

Al-Qur’an mengklaim dirinya sempurna, terinci, menjelaskan segala sesuatu, tidak kebengkokan dan pertentangan didalamnya, sebagai hudaa Tuhan untuk merekayasa kehidupan duniawi sepanjang masa. Suatu klaim yang tidak tanggung-tanggung !

Dari pernyataan ini maka mudah dimengerti, bahw Al-Qur’an mengandung :
  1. Kejadian-kejadian kehidupan masa lalu, pada zaman pra-Nabi sebagai DATA yang digunakan sebagai ilustrasi, contoh kasus dan lain sebagainya.
  2. Kejadian kejadian pada zaman Nabi, waktu wahyu diturunkan sebagai FAKTA, yang menunjukkan cara pelaksanaannya dalam proses transformasi sosio-moral sehingga berhasil dengan terbentuknya negara-ummah Madinah, yang oleh peradaban disebut Negara kota/city state
  3. Kejadian kejadian yang bisa terjadi, sebagai suatu INFORMASI yang dapat digunakan untuk mengantisipasi permasalahan permasalahan masa depan, zaman pasca-Nabi
  4. Citra kehidupan yang seharusnya/Life Mean To Be, sebagai jalan keluar dari semua kemelut kehidupan serta jaminan tercapainya tujuan penciptaan manusia dan alam.
  5. Hasil akhir upaya manusia, baik yang berhasil maupun yang gagal sebagai reward system yang berfungsi untuk melahirkan motivasi.

Jadi dalam pandangan Al-Qur’an hanya ada 2 macam hasil yang dapat diperoleh manusia, ialah :
  1. Bila manusia memilih jalan bukan yang dikehendaki Tuhan, yang akan bermuara pada suatu kegagalan total, yang ingin disingkiri tiap insan sehat. Hal ini digambarkan secara allegoris sebagai suatu penderitaan total yang berkepanjangan, baik fisik, mental maupun spiritual yang dilukiskan sebagai NERAKA
  2. Sebaliknya bagi mereka yang memilih jalan Tuhan, akan menikmati suatu keberhasilan sempurna yang didambakan tiap manusia, suatu gambaran utopia di luar jangkauan fantasi akal manusia yang dilukiskan dengan kata SURGA.
    Disamping itu Al-Qur’an juga memberi-tahukan sumber kegagalan yang terdapat dalam diri manusia, karena tidak ada kegagalan diluar diri manusia, namun selalu disertai jalan keluarnya, baik dalam dimensi idiil-falsafati /mental-spiritual maupun dalam dimensi tehnis pelaksanaannya/individual-sosial. Jadi Al-Qur’an memberikan data, fakta dan informasi serta dampak/hasil sebagai variabel yang harus diperhitungkan dalam memahami kehidupan. Inilah kelebihan Al-Qur’an dari ilmu, karena Al-Qur’an mampu memberikan variabel tidak hanya dalam 3 dimensi waktu, masa lalu, masa kini dan masa mendatang, serta gambaran alternatif dampak yang akan diperoleh, yang tidak hanya bersifat spekulatif, yang berupa kemungkinan kemungkinan, tetapi berupa kepastian.
     
    Jadi kelebihan Al-Qur’an, ialah mampu memberikan kecuali pandangan jauh kedepan, juga ramalan yang bersifat profetik. Variabel variabel yang diberikan, kecuali meliputi seluruh dimensi waktu, juga meliputi seluruh dimensi ruang gerak manusia, seperti dimensi spiritual, mental dan perilaku/sosio-kultural.
    Dengan demikian Al-Qur’an mampu memberikan penela’ahan tentang realitas fenomenologi kehidupan secara komprehensif dan tidak problematis. Sebaliknya ilmu pengetahuan selalu memandang objeknya selektif, parsial dan dengan demikian ipso fakto problematis. Kalau ilmu tidak mampu memberikan patokan moral, maka Al-Qur’an sanggup memberikannya, dengan kata lain Al-Qur’an mampu memberikan doktrin penyelamatan. 

    Diskripsi Al-Qur’an tentang fenomena kehidupan, ialah suatu diskripsi yang dicita-citakan oleh Ilmu ilmu sosial, yang dapat menisbahkan antara “yang ada”/“yang bisa ada“/“yang mungkin ada” ( yang “cenderung” ada) dan “yang seharusnya ada” atau “ das sollen”/“mean to be “. Diskripsinya tentang kedua macam realita ini dalam Al-Qur’an bersifat memadai-makna/sine adequat, jelas terpisah, sehingga sedikitpun tidak mengandung nexus/kekaburan antara keduanya. Selanjutnya Al-Qur’an menunjukkan jalan/metoda untuk membawa “ yang cenderung ada “ ke “ yang seharusnya “, mulai dari kehidupan individu sampai ke kehidupan sosio-kultural; metoda inilah yang disebut “jalan keselamatan”.

    Banyak orang menuduh bahwa apa yang diberikan Al-Qur’an itu bersifat utopis, diluar jangkauan akal manusia, karena pada ujung gambarannya tentang masa depan tidak hanya bermuara pada visi keberhasilan sempurna yang didambakan tiap manusia, tetapi juga visi kegagalan total yang tidak pernah dicita-citakan manusia. Dari gambaran global ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
    Al-Qura’an berbicara tentang kehidupan bukan dalam kerangka ilmiah semata, tetapi dalam kerangka hudaa Sang Pencipta, dalam arti makna kehidupan sehari-hari diukur dan ditempatkan dalam “kerangka makna kehendak-Nya” artinya Al-Qur’an mengetengahkan bagaimana seharusnya merekayasa kehidupan seperti Yang DIA kehendaki. Untuk itu logis, bahwa pesan yang disampaikannya mengandung:
    1. Pernyataan, pemberitaan, pemberitahuan dan pekabaran yang bersifat selektif, parsial dan akhirnya dapat menjadi problematik yang dilukiskan dalam ayat-ayatnya..
    2. Unit konsepsi hudaa dan furqon dengan isu-isu sentral yang selektif, namun dengan jangkauan yang komprehensif, yang digambarkan dalam tema surah surahnya.
    3. Cara merekayasa kehidupan dari yang not-mean-to-be menuju yang mean-to-be. Dengan menunjukkan pokok pokok hambatan, kendala yang ada didalam diri manusia dalam topik topik surah surahnya. Rekayasa ini mulai dari rekayasa sikap mental (akidah) sampai rekayasa perilaku (syare’at ).

    Dapatkah kita fahami sekarang mengapa kandungan Al-Qur’an itu secara sepintas memberi kesan bertele-tele ?. Inilah sebabnya maka banyak peringatan Tuhan yang menyatakan supaya manusia dalam mempelajari Al-Qur’an dilarang tergesa-gesa. PESAN yang tidak pernah sampai pada kebanyakan manusia !!

    KETERGESA-GESAAN MENGHALANG MANUSIA UNTUK MEMAHAMI SESUATU
    by  A Baghowi Bachar