Translate

Telusuri via Blog Ini

Senin, 06 September 2010

III. LOGIKA UNGKAPAN AL-QUR’AN.

Al-Qur’an yang berlaku bagi seluruh manusia sepanjang masa, melukiskan sesuatu itu secara mutlak, dalam arti terlepas dari batasan ruang - waktu dan budaya, ia berada diluar space-time-cultural continuum. Dengan demikian bahasa Al-Qur’an tidak mengenal istilah ‘proses’. Al-Qur’an melukiskan segala sesuatu dengan mengambil titik pangkal dan titik akhir. Manusia sebaliknya, melihat segala sesuatu dalam kerangka ruang dan waktu, tanpa menjangkau titik mula dan titik akhir. Dia melihat segala sesuatu sebagai suatu proses. Melihat sesuatu dalam proses tidak pernah melihat secara tuntas dan sempurna, karena makin diperluas batasnya, baik mengenai ruang atau waktu, makin banyak variabel yang tidak terjangkau, makin sulit ia menarik suatu kesimpulan. Inilah sebabnya manusia cenderung untuk menyederhanakan/reduksionisasi segala sesuatu.

Pengertian proses melahirkan pengertian hubungan kausalitas yang selanjutnya akan melahirkan pengertian sebab - akibat. Sayangnya manusia hanya mampu mengamati rangkaian sebab-akibat itu dalam jangkauan proses yang pendek. Jangkauannya hanya mampu meliput dari apa yang dikenal sebagai efficient cause/sebab langsung sampai direct effect/akibat langsung. Sebaliknya Al-Qur’an melihat sesuatu itu dari titik awal sampai titik akhir atau dari sebab mula/asal usul/final cause/ causale causans sampai akibat akhir atau final effect atau tujuan. Pengamatan manusia hanya berupa moment - opname/pengamatan sewaktu dari suatu proses yang tidak terbatas, sehingga pandangan manusia tidak mampu mencapai suatu pandangan holistik; pandangannya bersifat reduksional.

Dalam menghadapi proses yang kompleks, manusia akan berusaha untuk membagi-bagi proses itu, sehingga menjadi sederhana dengan akibat bahwa yang diperolehnya tidak mungkin menjangkau seluruh realita yang diamatinya, sehingga kesimpulan yang diperolehnya tidak mungkin benar 100%. Meskipun kesimpulan kesimpulan itu dirangkai dalam waktu panjang, di-sistematisir, ilmu yang tersusunpun tidak mungkin menjangkau realita yang utuh, pasti terjadi pembiasan pandangan tentang realita yang diamatinya. Inilah sebabnya dalam perjalanannya, ilmu hanya mampu membuktikan akan kesalahannya.

Al-Qur’an itu melihat segala sesuatu mulai dari titik awal sampai titik akhir, sehingga pandangannya tuntas, holistik, komprehensif dalam kemasan yang sederhana, bukan dalam arti menyederhanakan/ reductionism. Bagi manusia ungkapan Al-Qur’an akan terasa adanya discontuinitas, loncatan loncatan yang tidak runtun. Inilah salah satu hal yang menyulitkan manusia mempelajari Al-Qur’an, ialah diskripsinya yang holistik yang tidak melukiskan ‘efficient cause’ dan ‘direct effect’, yang dapat memperlihatkan adanya rangkaian fenomena yang runtut dalam jangka pendek. 

Kedua: kesederhanaan ungkapan Al-Qur’an yang berbeda dengan kesederhanaan perumusan manusia. Yang pertama lahir justru dari pandangan yang holistik - komprehensif, yang kedua dari reduksionisme sehingga bersifat parsial. Bagaimanapun juga ‘keseluruhan itu berbeda dengan jumlah bagian-bagiannya” 

Kesederhanaan perumusan Al-Qur’an menunjuk pada kompleksitas yang tinggi, sedangkan kesederhanaan perumusan manusia menunjuk pada ketidak-mampuan menggapai keseluruhan realita. Perbedaan pandangan ini akan melahirkan perbedaan logika.

Diskripsi Al-qur’an tentang realita itu suatu diskripsi yang bersifat holistik, sehingga Al-Qur’an tidak pernah berbicara tentang proses, dengan kata lain Al-Qur’an tidak pernah mengangkat modus operandi sesuatu dalam pembicaraannya, karena modus operandi itu tidak menentukan akan kemutlakan kebenaran yang diperolehnya.

Bagaimana Al-Qur’an mengemukakan sesuatu melalui ungkapan yang holistik ? Al-Qur’an mengemukakannya melalui beberapa cara , misalnya:
  • Dengan melalui badaha/self-evident-truth      (QS. 21:22 ; 23:91; 52:35-36 dst )
  • Dengan melalui nazar atau malahaja/human observation/sense perception (QS. 10:101; 80: 24-32 dst).
  • Melalui tajriba / human experience ( QS.10:22-23 ; 56:83-87 dst )
  • Melalui masalah/human interests gain (QS. 5:6 ; 10:108 ; 29:45 dst.)
Semua ini dihubungkan dengan tujuan/final effect (axiologis ?), sedangkan dalam memberikan argumentasi Al-Qur’an selalu mengembalikannya pada sumbernya/final cause (ontologis ?) Melihat butir butir diatas dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an berbicara dengan manusia tidak hanya melalui akal/ratio saja, tetapi berbicara pada manusia dalam kemampuan totalitasnya [afidah] artinya Al-Qur’an berbicara pada nurani, intuisi, imaginasi, keinginan, pengalaman disamping pada kecenderungan-kecenderungan manusia. Manusia sudah terbiasa dengan penalaran sektoralnya, sehingga ini juga menyulitkan manusia dalam memahami Al-Qur’an.

Yang menyulitkan manusia dalam memahami Al-Qur’an bukannya Al-Qur’an tetapi kebiasaan manusia sendiri !

EGOSENTRISME manusia menghalanginya dalam
MEMAHAMI KITABULLAH.

by A.Baghowi Bachar

Tidak ada komentar: