Translate

Telusuri via Blog Ini

Kamis, 03 Februari 2022

Memaknai "Pandangan Hidup" beragama dalam berbangsa dan bernegara di Era 4.0/5.0


Manusia  dari sudut pandang - makhluk hidup,  berada pada klas  makhluk  yang tertinggi, berada pada tempat puncak  ciptaaan Tuhan "yang mulia", yang cerdas, berakal, dan  berkehendak -merekayasa kehidupan  disekitarnya  dan "merajai makhluk hidup lainnya".  

Setiap individu manusia/orang  memiliki "kemampuan lahir" sebagai kodrat-takdir - fitrah untuk hidup, bertahan hidup dan merekayasa kehidupan untuk dirinya sendiri dan orang lain, bahkan sebagai pemimpin  merubah lingkungannya dan juga dunia  menjadi beradab , makmur sejahtera  atau sebaliknya - biadab, terpuruk dalam kesengsaraan-kemiskinan. 

Sejak manusia   dalam kandungan dan lahir di kehidupan dunia, kemudian  dari bayi sampai tumbuh dewasa, manusia  belajar  secara alami dan juga secara formal-informal- baik  secara  mandiri dan bersama - berkelompok atau kelas atau organisasi masyarakat/sosial.  Kemampuan dasar hidup  sebagai manusia dibentuk dari lingkungannya dan juga "kehendak akal, pikiran  bebas" yang diinginkan atau "dicita-citakan". Hal yang membuat manusia berbeda -sifat dan karakternyanya dengan "makhluk hidup lainnya"- seperti hewan,  tumbuhan. Manusia  berkembang menjadi  makhluk yang dinamis, agresif, kreatif, inovatif  dan  "mampu menciptakan lingkungan hidupnya yang baru", merekayasa memenuhi kebutuhan hidupnya -berupa makanan-minuman(sandang pangan), rumah, pakain dan membuat  sistem kehidupan yang mengolah  hidup dan kehidupan menjadi peradaban yang terus menerus bertahan untuk hidup selamanya dengan sistem politik-ideologi, pertahanan-keamanan, sosial-ekonomi, hukum, pendidikan,  budaya, dll.

Sejarah Manusia yang panjang, mulai pra-sejarah sampai sejarah itu di tulis di batu - kertas dan digital, menginformasikan  perubahan kehidupan peradaban manusia  secara bertahap- mulai dari sangat primitif  sampai moderen- era internet  of thing ;era 4.0 / 5.0  saat ini.

Ada hal dasar yang utama tidak berubah dari  kebutuhan manusia sejak dulu sampai sekarang, yaitu kebutuhan untuk hidup dan menghidupi;  kebutuhan  hidup makmur-sejahtera, bahagia; kebutuhan  damai-tenang-aman , saling mencintai, saling menghormati dalam keragaman perbedaan dari sistem peradaban masyarakat apapun  bentuknya, zamannya, ideologinya.

Perbedaan dalam perspektif  pandangan hidup sebagai way of life manusia   timbul atau ada karena  perbedaan manusia  melihat "dunia ini seperti apa dan bagaimana ?" 

  • Ada  yang menganggap  dunia sebagai kekuatan alam yang menguasai -nya -sehingga  harus mengikuti kehendak alam tersebut agar  Alam memberi hidup dan kehidupan menjadi sejahtera dan damai-bahagia. 
  • Ada yang menganggap dunia harus ditundukan dengan kekuatan manusia  dengan merubah lingkungan alam menjadi cocok dan membuat manusia jadi sejahtera dan damai- bahagia tanpa  tunduk dengan kekuatan alam.
  • Ada yang  menganggap  dunia hanya tempat sementara manusia hidup dan esensi kehidupan sebenarnya  adalah  kehidupan lain yang abadi; untuk itu manusia harus mengikuti orang yang bisa berhubungan dengan kekuatan alam abadi sebagai pemilik alam agar bisa hidup sejahtera-damai -bahagia di dunia sementara dan abadi. orang yang bisa  berhubungan atau dianggap memiliki kekuatan dengan pencipta alam sebagai pembawa agama(nabi), orang sakti/suci, dukun, dsb.  Semua aktifitas manusia harus mengikuti ritual ritual agar dunia" atas dan bawah"  berjalan seimbang dan mendapat restu/berkah.
  • Ada yang meyakinkan dunia ini fana /sementara,   kehidupan  dunia fana harus mengikuti kitab suci yang diajarkan nabi atau rosul akan membawa manusia pada kehidupan abadi yang  sejahtera-damai-bahagia . manusia yang tidak mengikuti ajaran kitab suci dianggap sesat  walaupun hidup di dunia kaya -sejahtera-damai-bahagia.  norma  norma agama  menjadi dasar  nilai nilai hidup dan kehidupan sejahtera-damai-bahagia di dunia abadi/kekal(surga). 
  • Ada yang menyakinkan  dunia  dilihat dari esensi ajaran kitab suci yang diyakini sebagai nilai nilai benar, baik  dan menguntungkan dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat di dunia fana ini; tanpa mempertentangkan  keyakinan orang lain yang  berbeda; keyakinan  agama sebagai hal yang individu/privasi yang menjadi pandangan hidup; bukan hanya ritual-seremonial sosial atau golongan/kelompok.  " cahaya kebaikan " menjadi  energi kedamaian  kepada setiap orang atau manusia, makhluk hidup, lingkungan disekitar dirinya(  rahmatan lil alamin). 
  • Ada yang meyakinkan dunia ini hanya tempat hidup yang harus dinikmati tanpa peduli pandangan -pandangan agama atau norma norma hukum/budaya masyarakat, yang penting saling  menghormati-toleransi,  hal hal dunia adalah  perspektif  akal-pikiran manusia saja. Pandangan manusia tidak perlu  beragama/ menganut agama tertentu(atheis/agnostik);  walaupun  sebenarnya keyakinan ini bisa  disebut sebagai agama akal/filsafat-yang meng-tuhan dirinya atau agama yang meniadakan agama agama  lain; suatu sikap -perilaku semua agama sama dan sama dengan akal-pikiran baik.
Pandangan manusia  dalam hal agama menjadi  dua bagian besar , yaitu agama  wahyu tuhan (samawi) dan agama non wahyu(sebagai ilham) atau kebudayaan.  Dalam  dunia era 4.0/5.0  sekarang cara  pandangan manusia  banyak berubah walaupun sebagian kecil masih konservatif -yang menekankan  ritual-seremonial agama dalam real kehidupan.  Dunia global yang terbuka dan tanpa batas di era  informasi digital dan era metaverse- virtual reality  membuat interaksi hidup-kehidupan manusia  tidak lagi secara  fisik tetapi sudah banyak nonfisik. dalam  sistem kehidupan masyarakat, berbangsa, bernegara dan internasional.   kemampuan manusia berkompetensi satu sama lain baik bidang ekonomi, pendidikan,  sosial,  budaya, wisata, keamanan, hukum menjadi sangat ketat dan terbuka, siapa yang menguasai kecepatan/waktu , informasi akan menjadi pemenang dalam mencapai tujuan/ kesejahteraan/kemakmuran/ kedamaian/keamanan/kehormatan/kejayaan.  Peranan agama dimana ? apakah masih bisa ditempatkan pada konteks dakwah ritual-seremonial-surga -neraka atau menjadikan agama lebih kontekstual pada eranya /zaman now ?   

Antisipasi  pendakwah  agama  terhadap perubahan zaman  ini yang serba cepat harus segera  dan mampu diatasi dan diantipasi  secara  bijak;  jangan sebaliknya pendakwah terbawah  dampak negatif perubahan tersebut dan menjadi korban atau pelaku negatif -seperti dampak pornografi sebagai pelaku predator seks terhadap santriwatinya. atau menjadi penentang perubahan yang  tidak bijak, tetapi tenggelam dalam kemewahan dengan menjual"isue isue agama " dengan tehnologi canggih medsos yang menghasilkan "pundi pundi  emas" dari ceramah ceramah, podcast, talks show di youtube, facebook, instagram. Wajah agama  menjadi menyeramkan- seperti gagal membentuk karakter  manusia manusia yang "baik-berakhlak mulia".

Intropeksi diri pembawa /pendakwah agama   dalam mengajari masyarakatnya dengan  benar dan baik. menyampaikan hal hal benar -bukan hoaks dalam medsos akan terekam dalam jejak digital selamanya  dan  sebaliknya. Pembelajaran agama  perlu  diberikan secara terbuka - berbagai narasumbernya, kajian kajian yang komparatif  dan luas.

Tantangan  agama agama   besar   dari  sejak dahulu, adalah perubahan  zaman dan peradaban umat  manusia yang  tidak diperangaruhi  agama  atau tidak adanya  dinamika agama  terhadap perubahan waktu terhadap interaksi budaya, tehnologi, sosial-politik, keamanan,  ekonomi antara  manusia dan bangsa/negara  pada  zamannya( hingga  era informasi 4.0/5.0).  Sikap pemuka  agama  yang terbelah menjadi konservatif dan moderate atau progresif-reformatif  menimbulkan  "kesenjangan-keributan" diantara penganut/pengikutnya.  Timbul sikap radikal atau moderate ;  sikap konfrontatif-ofensif  atau  komfromisif-persuasif; berpaham ideologis  atau pragmatis non ideologis.  Dalam konteks   Politik  melahirkan  sikap politik yang berlawanan dengan ideologis agama  dan  non agama. 

Warna kehidupan umat agama dibawah kepada pandangan politik agama  sebagai tujuan dan alat mencapai kehidupan dunia yang "ideal"  dibandingkan  dengan non agama yang "tidak ideal".  Namun implementasi gagasan ideal tersebut hanya wacana saja, konsep diatas kertas  yang gagal diterapkan dalam bentuk "materi, wujud kerja/usaha" pada umatnya dan juga lingkungannya.   Gagasan yang  "asing"  bagi  orang lain  atau penganut  penganut agama atau non agama, kecuali terbatas pada lingkungan kecil pengikutnya.  Kegagalan menjual nilai nilai/norma norma agama yang rahmatan alamin, karena  kontruksi bangun yang ditawarkan tidak sesuai(adaptif) terhadap perubahan peradaban umat manusia. Kegagalan yang menjauhkan umat agama menerima -konsep konsep agama sebagai jalan / metode menuju kehidupan yang lebih baik, sejahtera-damai, bahagia, sebaliknya menolak partai agama  sebagai pilihan dalam kehidupan bermasyarakat/berbangsa;  apalagi bernegara sebagai negara agama; bahkan negara agama sebagai utopia. 

Warna kehidupan umat beragama tidak dilihat dari atributnya saja,   seperti berpakain, sorban, jilbab, jenggot, celana cangkrang atau  aktifitas  ekonomi  seperti jualan kurma, tasbih, pakaian sholat, sejadah,dll. Tetapi dilihat seluruh aspek  kehidupan yang menunjukan kualitas kehidupan masyarakat  baik,  hubungan antara umat yang berbeda rukun dan  baik, tingkat toleransi dengan umat agama lain yang  tinggi, kesejahteraan dan kemakmuran yang adil dirasakan seluruh umat. Tentu realitas  sosial keseharian masyarakat  beraktifitas dengan aman -tanpa rasa takut, karena tidak ada pencuri, penjahat/kriminal  yang menggangu baik waktu pagi sampai malam.

Agama   sebagai  pandangan hidup  menjadi hak -privasi setiap orang yang meyakininya, tidak bisa  diganggu atau dibatasi secara formal dalam menjalankannya , baik oleh pemimpin agama, aparat negara  atau pemerintah;  siapapun ,  sejauh setiap orang tidak melanggar  norma dan peraturan umum yang berlaku. Sebagai pandangan hidup yang diyakini dan menjadi dasar setiap sikap perilaku individu, tidak bisa dipaksakan kepada orang lain atau menghasut  atau menjadi alasan menzolimi -mengkafirkan orang lain yang tidak sepaham dengannya.

Esensi wujud  sikap -perilaku dari keyakinan- pandangan hidup yang  baik adalah akhlak yang mulia,  mensejahterakan diri sendiri dan orang lain/ rahmatan alamin disekitarnya.  Sikap lembut, baik , santun  adalah karakter  dari penganut agama yang baik/sholeh.

Penganut agama  yang  baik adalah warga negara yang baik,  bermasyarakat dan berbangsa mengikuti nilai nilai budaya dan agama yang baik serta berpartisipasi  aktif  memajukan negaranya/peradaban dunia.

Wallahu alam (ciputat, catatanku -dalam renungan terhadap kehidupan bangsaku-indonesia) 

  •   

Tidak ada komentar: