Translate

Telusuri via Blog Ini

Kamis, 23 September 2010

VI. KEDUDUKAN PROSES BERFIKIR DALAM AL-QUR’AN

Berfikir !. Tidak ada manusia yang merasa tidak berfikir ! Marahlah manusia kalau dikatakan tidak berfikir. Namun mengapa Al-Qur’an menyatakan pada QS.34:46 :

“ Katakanlah sesungguhnya Aku hanya menasehatkan padamu dengan satu perkara saja: Hadapkanlah dirimu pada ALLAH, berdua-dua atau sendiri sendiri , kemudian berpikirlah !

Hanya satu perkara yang dipesankan : berpikir.
Menurut manusia segala apa yang dikerjakan atau di-upayakan ialah hasil pemikiran. Ini memang seharusnya. Kenyataannya/kelihatannya tidak demikian, sehingga Tuhan berpesan seperti yang tercantum dalam ayat tersebut diatas. Sumber berfikir ialah akal, meskipun kata ‘aql sebagai kata benda tidak diketemukan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menggunakan kata kerjanya.

Akal menurut Al-Quran mengandung arti :
  •  Kemampuan spiritual dengan aktivitasnya olah bathin
  •  Kemampuan mental dengan aktivitasnya olah nalar
  •  Kemampuan bertindak dengan aktivitasnya olah lahir

Dengan olah bathin dimaksudkan usaha-usaha memahami dan menghayati konsep-konsep normatif dan sebagai hasilnya ialah lebih ditekankan pada penghayatan nilai yang dikandungnya/mengarah ke proses internalisasi nilai.

Olah nalar ialah upaya memahami konsep teori, baik yang berupa sistem idea maupun sistem nilai. Hasilnya merupakan kerangka teori dan kerangka nilai.
Olah lahir adalah usaha untuk menjabarkan konsep konsep diatas dalam sikap dan perilaku serta alat peraganya yang berupa hasil budaya/tehnologi.

Jangkauan kata ‘aql lebih jauh dari jangkauan kata ratio, sehingga kata ’ilm juga melampaui batas makna ilmu atau science. Olah bathin ini dinyatakan Al-Qur’an dalam QS.26:193,194 dimana manusia memahami sesuatu melalui hatinya. Disinilah berkiprahnya ahli tasawuf. Olah nalar dinyatakan dalam QS 7:52, dimana akal bergerak secara rasional baik dalam bidang ilmu maupun falsafah. Disini bergeraknya para ahli kalam. Olah lahir, disinilah masuk pengertian hikmah yang dapat diartikan dalam bahasa ilmiah mengandung pengertian feasibility dan acceptibility. Disini diperlukan input dari lingkungan yang berupa kendala, tantangan atau penunjang. Inilah yang merupakan bidang jihad/social struggle. sedangkan kedua bidang diatas merupakan bidang ijtihad/intelectual struggle.

Tidak ada satu nash-pun yang mengatur modus operandinya/mekanisme berfikir.
 

Ini berarti Tuhan menyerahkan mekanismenya ini pada manusia melalui fenomena alam yang telah diciptakan-Nya. Disini letak kebebasan manusia karena modus operandi itu tidak menentukan kebenaran hasil. Yang menentukan ialah landasannya.

SAPERE AUDE !!!

by A Baghowi B

1 komentar:

iwen mengatakan...

Dok, apa gak perlu di definisikan dulu "Hati" itu apa sebenarnya?