Kemerdekaan arti bahasa “ Kebebasan” .
Kemerdekaan bangsa atau
Negara artinya bebas dari penjajahan bangsa
lain. Tetapi “pengertian
kemerdekaan” saat ini telah menjadi absurd/bias. Penjajahan
tidak berarti lagi secara fisik-
tanah air di duduki dan diperintah bangsa lain, tetapi menjadi “ujud siluman” , penguasaan/hegemoni
politik, ekonomi, keamanan, social-budaya
oleh bangsa lain terhadap “pemimpin
atau rezim pemerintah” atau rakyat
suatu bangsa oleh bangsa lain. Hilang jati diri
dan kemandirian suatu bangsa dan
tergantung dengan Negara lain
adalah bentuk Penjajahan “gaya baru”
atau Ambisi tatanan dunia baru yang dipaksakan oleh
bangsa yang kuat secara Militer, Politik,Ekonomi, Sosial Budaya
terhadap bangsa lain yang
lemah adalah bentuk Hegemoni yang
menghancurkan dan menjajah bangsa-bangsa
tidak mau bekerja sama . Apakah Kemerdekaan
Indonesia telah menjadi “wujud”
seperti yang dicita-citakan saat
lahirnya Negara Republik Indonesia, menciptakan Bangsa
yang makmur dan sejahtera
berdasarkan Pancasila yang
menjadi landasan Berbangsa dan Negara
bagi rakyat dan pemimpin rakyat Indonesia?.
Sepertinya belum “wujud”, karena persoalan jatidiri
“bangsa” seperti “bias”,
seperti kehilangan jatidiri
sebagai bangsa yang
agamis; Negara seperti menganut “paham sekuler” …. Menjadikan Ruh
agama jauh dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemimpin seolah
-olah mengolah Negara dan
menjalankan pemerintahan
mengikuti “ grand-design” Kapitalis
untuk membangun kesejahteraan dan kemakmuran rakyat; mengikuti
agenda-agenda Negara-negara kapitalis
dengan menjadikan kekayaan alam-darat –laut di “kuras”
keluar melalui investasi
asing yang -bukan
untuk mensejaterahkan rakyat seperti
di amanatkan UUD 1945. Akibatnya
Bangsa ini hanya menonton dan
tergantung dengan belas kasih . kelimpahan sumber alam –tambang, minyak, pertanian
bukan di kuasai pemerintah atau rakyat tetapi kekuatan
ekonomi asing – yang menjalankan
ekonomi pasar-Kapitalis. Jauh dari
harapan , pemimpin menjadi lupa
dengan budaya yang subur akibat
system ekonomi kapitalis
yaitu Korupsi, Kolusi. Ajaran agama
dianggap tidak terkait dengan
system pemerintahan dalam
masalah ekonomi, politik, keamanan,
social budaya yang terjadi dalam proses pembangunan. Justru gesekan
antara ajaran agama dengan
kehidupan berbangsa yang berorientasi
dengan system kapitalis seperti gesekan
antara “Kemandekan” dan “kemajuan”. Agama
dianggap menghambat kemajuan -
antidemokrasi atau bukan system yang dapat
membangun Negara-bangsa yang modern. Tetapi ketika
perilaku –perilaku Pemimpin, pejabat pejabat yang menjadi koruptor, maka di kaitkan dia dengan
latarbelakang agamanya- seolah
–agamanya ikut bersalah-menjadikan dia
menjadi koruptor atau penjahat. Agama
dibutuhkan ketika masuk penjara, ketika sakit atau kematian; “ agama menjadi kambing hitam”. Realitasnya - Agama dipinggirkan (marginal) menjadi urusan pribadi, ritual, seremonial,
terlokalisir pada ruang sempit.
Translate
Telusuri via Blog Ini
Sabtu, 27 Agustus 2011
HARI KEMERDEKAAN, PUASA RAMADHAN, IDUL FITRI
Rabu, 24 Agustus 2011
58. QUR’AN SURAH LVIII : AL-MUJADALAH/WANITA YANG MENGGUGAT
XIV. MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK
ATAU SUB-TOPIK SENTRAL YANG MEWARNAI
KANDUNGAN TIAP SURAH ATAU MENENTUKAN
TEMA SURAH.
58.
QUR’AN
SURAH LVIII : AL-MUJADALAH/WANITA YANG MENGGUGAT
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul
surah terdapat pada ayat pembuka surah yang termasuk topik pertama ( 1-6) yang
mengetengahkan masalah tentang sikap seorang suami, yang men-zihar isterinya
(menganggap isterinya sebagai ibunya).
Maka Tuhan menurunkan hukumnya dengan jelas:
R Memerdekakan
seorang budak atau
R Berpuasa
berturut turut selama 2 bulan atau
R Memberi
makan 60 orang miskin
TEMA SURAH :
Permasalahan
antar suami isteri dalam kehidupan, yang dapat menghancurkan keluarga, unit terkecil dari ummah, merupakan masalah yang
sangat serius dimata Tuhan, sehingga Tuhan menurunkan hukumnya yang berat. Luas
hukum itu sampai mempengaruhi wajah kehidupan social dalam arti hukum itu
digunakan untuk memperbaiki masarakat manusia, menghapus perbudakan dan
menolong si fakir miskin. Ini suatu bukti bahwa kehidupan keluarga dalam
lingkungan kaum muslimin merupakan titik sentral
dalam membentukan umat.
SUDUT PANDANG SURAH :
Manusia harus ingat, bahwa tindakannya/perbuatannya yang
kecil ruang lingkupnya, dapat membawa
dampak yang sangat luas dalam kehidupan umat. Perbuatan pribadi yang berada
dalam dimensi akhlaq akan mendatangkan dampak yang berdimensi sosial atau
memakan dimensi waktu yang panjang. Oleh karena itu Agama itu membina manusia
mulai dari akhlaq sampai amalannya dalam menyelamatkan kehidupan manusia
seluruhnya.
59.
QUR’AN
SURAH LIX : AL- HASYR/PENGUSIRAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat kedua dari topik
pertama (1-10) yang menceriterakan bahwa terusirnya kaum Kafir dari Madinah itu
atas kehendak Tuhan sebagai ganti dari azab yang seharusnya ditimpakan pada
mereka, karena ke-ingkarannya. Kehendak Tuhan itu di-expressikan dengan adanya rasa takut dalam
hati mereka. Topik dibuka dengan pernyataan bahwa semua itu
bertasbigh pada Tuhan. Kemudian dilanjutkan dengan pernyataan yang senada
tentang kemenangan dalam peperangan dan keuntungan yang diperoleh, yang berupa
ghonimah.
Diteruskan dengan hukum ghonimah yang harus dibagi bagi,
termasuk orang-orang miskin, sehingga merata. Pengusiran orang orang Madinah
itu tidak dapat disamakan dengan peristiwa hijrah Nabi dan para pengikutnya,
karena motivasinya yang berbeda, bahkan berlawanan. Hijrah adalah perintah Tuhan
untuk meneruskan tugas Rasul, sedangkan pengusiran itu merupakan bagian dari azab.
TEMA SURAH :
Tema ini mengungkapkan hakekat dari suatu fenomena, untuk
mencegah lahirnya
kesombongan dalam hati orang-orang beriman yang telah mampu menguasai Madinah.
Nada ungkapannya menyerupai nada keyakinan kaum jabariah, untuk menguatkan keyakinannya terhadap
ke-Maha-Kuasa-nya Tuhan.
SUDUT PANDANG SURAH :
Dalam
saat kejayaan, surah menyadarkan manusia, bahwa kekuatannya itu sesungguhnya
datang dari Tuhan, bukan dari dirinya. Dengan demikian surah ini memandang
hasil upaya manusia itu sesungguhnya atas pertolongan Tuhan, sehingga manusia
harus menyadari bahwa dirinya tergantung mutlak pada Tuhan Dengan demikian pandangan ini berguna untuk LEBIH MENANAMKAN KESADARAN KEMAKHLUKAN MANUSIA,
yang akan mengikis kesombongan, sumber segala kebathilan dan memberi MAKNA pada kata TAWAKKAL
dan SABAR.
60.
QUR’AN
SURAH LX :
AL-MUMTAHANAH/WANITA YANG DIUJI
TOPIK SENTRAL SURAH:
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 10, sebagai bagian
dari topik penutup surah, yang menyatakan, bahwa bila seorang wanita yang
meninggalkan suaminya (yang kafir) itu mengaku beriman dan ingin bergabung,
maka keimanannya itu harus diuji. Kemudian dilanjutkan dengan ke tentuan, bahwa
seorang
Muslim diharamkan untuk menikah dengan orang non-muslim ! Selan
jutnya dilarang untuk mengambil mereka yang dimurkai Allah sebagai penolong. Surat
ini mengan tisipasi keadaan pada waktu ini, 14 abad setelah diturunkan surat
ini. Sebagai dalih untuk menga wini atau dikawini oleh orang non-muslim, yang
non-muslim itu dijadikan muslim dala satu hari, bahkan I jam dengan diajarkan
mengucapkan SYAHADATAIN. Beranikah kita
mendustai Allah ?!
TEMA SURAH :
Kehidupan
keluarga yang akan membentuk keturunan darah dan menciptakan suatu kaum, harus
ditundukkan pada pembentukan ummat, satu surah lagi yang menyatakan tujuan pernikahan
atau pembentukan keluarga.
SUDUT PANDANG SURAH :
Pembentukan UCHUWAH KHOLQIYAH
(keturunan darah/ bangsa) harus ditundukkan pada pembentukan UCHUWAH DINIYAH. Inilah landasan untuk menyatukan
seluruh umat manusia yang akan mampu mengatasi perbedaan warna kulit, perbedaan
keturunan, perbedaan status sosial-ekonomi-politik-budaya yang hasilnya akan
mengikis PERBUDAKAN dan status KASTA dan MEMPERSATUKAN
MANUSIA dibawah bendera UCHUWAH DINIYAH !!!
61.
QUR’AN
SURAH LXI : ASH-SHAF/BARISAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 4 sebagai bagian
dari topik pertama surah yang menyatakan secara tegas bahwa Tuhan menyukai
orang yang berjihad [berjuang mencapai satu tujuan, memenangkan musuh manusia,
bukan hanya kelompok manusia lain, tetapi juga kebodohan, kenistaan, kemiskinan
dll. karena inilah musuh sejati manusia]. dengan barisan yang rapi dan kokoh.
Topik dibuka dengan pernyataan “bertasbighnya seisi alam dan diteruskan dengan
kebencian Tuhan terhadap orang orang yang tetap mengingkari perintah-Nya. Ini
suatu peringatan Tuhan, bahwa manusia itu termasuk isi Alam, jadi harus ikut
bertasbigh.
TEMA SURAH :
Dalam
topik ini kata TASBIGH disejajarkan dengan kata PERANG/BERJUANG/
BERJIHAD dan dipertentangkan dengan kata ‘INGKAR
mengikuti perintah-Nya’. Kemudian ditekankan bahwa Tuhan menyukai bila para
yang beriman itu membentuk suatu barisan yang rapi dan kokoh, artinya
dianjurkan untuk uchuwah/persatuan. Persatuan yang mampu mengatasi pembatas
antar manusia, seperti kebangsaan, golongan, kedudukan, kekayaan, ideology,
isme juga madzhab dan sebagainya, ialah satu satunya pemersatu UCHUWAH DINIYAH.
SUDUT PANDANG SURAH :
BERTASBIGH
diartikan tunduk patuh pada perintah Tuhan, meskipun perintah itu perintah
perang [ujian yang berat] Dan sebaiknya bertasbigh itu bersama2 dalam keadaan
rapi dan kokoh. Disini ditekankan lagi soal UCHUWAH.
62.
QUR’AN
SURAH LXII : AL-JUM’AT
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 9, yang termasuk
topik terakhir surah (9-11), yang dibuka dengan perintah menyegerakan shalat JUM’AH bila
telah mendengar panggilannya dan meninggalkan JUAL-BELI, jangan seperti
mereka yang sebaliknya, meninggalkan panggilan shalat Jum’ah, bila ada
perniagaan dan permainan.
TEMA SURAH:
Seruan sembahyang Jum’at harus menghentikan aktivitas
jual beli, artinya mencari kehidupan dunia, jangan sebaliknya. Disini dikatakan
shalat Jum’at, bukan hanya panggilan
shalat. Jadi panggilan shalat Jum’at dipertentangkan dengan panggilan mencari
kehidupan dunia dan ini logis, karena keduanya merupakan aktivitas sosial
/bermasarakat Jadi harus adanya keseimbangan antara dunia dan acherat secara
kebersamaan, inilah gambaran kehidupan ummah.
SUDUT PANDANG SURAH :
Ada
2 macam aktivitas sosial, yang pertama mencari kehdupan dunia dan kedua mengikuti
panggilan Tuhan. Antara keduanya, seorang muslim harus mendahulukan panggilan
Tuhannya, bagaimanapun kesulitan yang dihadapi dalam kehidupan dunianya..Kedua
kehidupan ummah itu selalu digambarkan KEBERSAMAAN-nya/UCHUWAH-nya.
63.
QUR’AN
SURAH LXIII : AL-MUNAFIKUN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah terdapat pada ayat pembuka surah, yang termasuk topik sentral
surah (ayat 1 s/d 8), yang menerangkan
dengan jelas ciri-ciri
seorang munafik, ialah orang yang :
R Menggunakan sumpah sebagai
perisai
R Menghalangi jalan Tuhan
Ini disebabkan
karena mereka pernah beriman.
Kemudian diterangkan tentang penampilan fisik mereka : sikap menyenangkan
dan bicaranya mempesona. Ditutup dengan keadaan para munafikun Madinah yang
menginginkan kembalinya para muhajirun keluar dari Madinah kembali ke Mekah..
TEMA SURAH :
Diuraikan
sifat seorang
munafik, baik dimensi mental maupun sosialnya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Diingatkan bahwa kita harus berhati-hati dalam MENILAI PENAMPILAN SESEORANG, meskipun ia
dikenal sebagai seorang muslim, orang baik, orang menyenangkan dll. Disini
Tuhan menggolongkan manusia atas dasar SIKAP MANUSIA
TERHADAP AJARAN-NYA. Mengapa mereka diberi kelebihan dalam penampilan
fisiknya ? Untuk menguatkan pengertian
bahwa PENILAIAN MANUSIA tidak sama dengan PENILAIAN TUHAN, karena’ landasan penilaianlah’
yang berbeda Manusia lebih melihat lahiriyanya, sedang Tuhan meletakkan
penilaian lebih pada mental-spiritualnya.
64.
QUR’AN
SURAH LXIV : AT-TAGHABUN/HARI DITAMPAKANNYA KESALAHAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah terdapat pada ayat ke 9, yang termasuk topik pertama ( ayat 1-10 )
yang menegaskan tentang pasti datangnya hari Kiamat, hari pembuktian.
Topik/surah dibuka dengan pernyataan, bahwa seluruh alam bertasbigh, dan
bahwa manusia itu ada yang
TEMA SURAH :
Hari
kiamat ialah hari pembuktian tentang apa yang dijanjikan Tuhan itu pasti
ditepati.
SUDUT PANDANG SURAH :
Hari Kiamat harus DISADARI
manusia sebagai salah satu REALITA kehidupan
yang harus diperhitungkan dalam menjalani hidup ini.
65.
QUR’AN
SURAH LXV : ATH-THALAQ
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah terdapat pada ayat pertama , topik pertama ( ayat 1-7), yang
ditujukan pada Nabi,
yang menerangkan hukum talak :
1.
Waktu menceraikan isterinya, harus
memikirkan kepentingan yang ditalak. Misalnya jangan mengganggu masa idahnya
dengan menunggu waktu isterinya bersih. (jangan berhubungan sebelum menalaknya)
2.
Jangan mengeluarkan mereka dari
rumah’ (alasannya mungkin tuhan menunjukkan sesuatu yang baru, misalnya mau
rujuk kembali, kalau baru talak satu.)
3.
Kalau waktu idahnya berakhir, maka
rujukilah dengan baik, kalau masih ingin rujuk. Atau lepaskanlah dengan baik.
4.
Putusan itu harus dipersaksikan oleh
2 saksi yang adil
5.
Idah, waktunya 3bulan, juga bagi
mereka yang tidak haid lagi
6.
Tempatkan mereka ditempatmu semula, jangan
menyusahkan mereka.
7.
Mereka harus diberikan nafkah tgt
kekuatan mantan suami.
TEMA SURAH :
Tema
sentral surah ini ialah ketentuan Tuhan tentang
talak, artinya pembinaan keluarga bila tidak dapat dipertahankan lagi. Retak
atau cerai-berainya kehidupan keluarga, artinya rusaknya uchuwah kholqiyah harus tidak
merusak uchuwwah
diniyah.
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah memandang kehidupan dari sudut unit kehidupan yang
terkecil ialah keluarga. Rusaknya unit ini tidak boleh merusak kehidupan ummah.
Surah ini ditujukan pada Nabi, karena Nabilah manusia yang paling tunduk pada KETENTUAN-NYA. Ini berarti bahwa Tuhan TIDAK MEMAKSAKAN KEHENDAKNYA, menghormati perasaan
manusia. Kalau manusia masih ingin bermain-main dengan ketentuan-Nya, apakah ia
tidak patut di-adzab ?
By A Baghowi Bachar
(Posting 24 Agustus
2011/24RAMADHAN 1432 H)
Minggu, 21 Agustus 2011
50. QUR’AN SURAH L : QAAF
XIV. MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK
ATAU SUB-TOPIK SENTRAL YANG MEWARNAI
KANDUNGAN TIAP SURAH ATAU MENENTUKAN
TEMA SURAH.
50.
QUR’AN
SURAH L : QAAF
TOPIK
SENTRAL SURAH:
Nama judul berupa huruf Q dari abjad huruf
Hijazi dan diikuti dengan sumpah dengan Al-Qur’an yang mulia dan dilanjutkan
dengan suatu pernyataan akan ke-tercengang-an manusia karena tiap rasul
itu berasal dari kaumnya sendiri. Diteruskan dengan akan ungkapan keraguan manusia tentang
hari kiamat. Kemudian dilanjutkan dengan pernyataan Tuhan supaya manusia itu
mengamati alam sekitarnya, apakah fenomena itu bukan sesuatu yang
men-tercengankan manusia? Kenyataan alam itu riil, dapat dilihat, didengar,
dipegang dan dirasakan oleh manusia. Inilah topik sentral surah (ayat 1 s/d 11
).
TEMA SURAH :
Mengapa manusia mempercayai keperiadaannya
alam, namun meragukan akan hari kiamat dan para utusan Tuhan ? Sedang semua itu
datang dari Tuhan yang sama. Kesimpulan yang dapat diambil ialah, bahwa para
rasul dan hari kiamat itu merupakan suatu REALITA seperti keperiadaan alam
semesta ini.
Inilah keyakinan yang akan menyelamatkan kehidupan manusia.
SUDUT
PANDANG SURAH :
Rosul dan kiamat itu suatu rialitas, seperti riilnya alam
semesta ini. Sikap manusia dalam kehidupan ini harus dilandaskan pada realita
itu, bukan pada citra manusia sendiri.
51.
QUR’AN
SURAH LI : ADZ- DZARIAAT/YANG MENERBANGKAN
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama yang digunakan
sebagai sumpah untuk konfirmasi bahwa janji Tuhan pasti benar dan hari pembalasan itu pasti ada. (5-6). Dilanjutkan dengan sumpah dengan ruang angkasa bahwa
manusia itu berbeda-beda pendapat dan terkutuklah para
pembohong, yang dibelokkan dari
kebenaran , yang hanyut dalam kelalaian dan kebodohan. Topik diteruskan dengan balasan pada mereka yang beriman,
ialah:
R Mereka yang tidak banyak tidur diwaktu malam;
R Waktu sahur memohon ampunan; dan
R Mengakui bahwa pada waktu malam tidak banyak tidur dan
R Pada hartanya ada hak bagi si miskin dan fakir.
Topik ditutup dengan diulangi kembali akan kepastian hari kiamat (23).
TEMA SURAH :
Manusia yang meragukan janji-janji Tuhan dan datangnya hari
kiamat disebut sebagai lalai dan bodoh, yang
disebut pembohong, dibandingkan dengan sifat-sifat mereka yang beriman. Ini berarti
bahwa untuk menjadi beriman orang harus selalu belajar dan sadar diri.
Berbohong dihubungkan dengan lalai dan bodoh. Sumpah yang digunakan ialah
fenomena alam yang tiap hari dapat disaksikan manusia, suatu realita yang tidak
mungkin diabaikan manusia ; seperti itulah seharusnya kita menyadari akan
kematian dan kiamat yang merupakan suatu realita yang harus disadari manusia,
sehingga tidak lagi lalai dan berbuat bodoh dalam menjalani kehidupan ini.
SUDUT
PANDANG SURAH :
Lalai (bukan LUPA) dan bodoh disebut BOHONG/DUSTA. Lalai biasanya disebabkan oleh pesona keinginan dan
bodoh karena tidak mau belajar/bertanya. Bagi manusia lalai itu dianggap
ringan/tidak serius, sesuatu yang tidak penting dan bodoh bukan dianggap suatu
kesalahan, tetapi sesuatu yang ‘taken for granted’. Namun Tuhan berpendapat lain, keduanya itu
disebut DUSTA. Disini larangan MABUK, EKSTASI , LUPA DARATAN mempunyai arti.
52.
QUR’AN
SURAH LII : ATH-THUR
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Nama judul surah digunakan sebagai sumpah bersama dengan kitab, baitul makmur
dan laut untuk mengkonfirmasikan kepastian
datangnya kiamat
dan kecelakaan bagi para pendusta, ialah mereka yang terbenam dalam kebatilan.
Dilanjutkan dengan lukisan balasan Tuhan bagi mereka dan bagi yang beriman.
TEMA SURAH :
Temanya serupa dengan
tema surah terdahulu, hanya pendustakan kiamat dilukiskan sebagai “yang terbenam dalam kebathilan”,
Karena hubbud dunia, cinta dunia.
SUDUT
PANDANG SURAH :
Surah ini memperkuat surah terdahulu,
karena dilanjutkan dengan “terbenam dalam kebatilan’. Artinya tanpa menggunakan KIAMAT sebagai REALITA, manusia tidak pernah memperhitungkan AKIBAT AKHIR dari ulahnya dalam hidup ini.
53.
QUR’AN
SURAH LIII : AN-NAJM/BINTANG
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Nama judul surah digunakan sebagai sumpah untuk membenarkan kerasulan Muhammad,
wahyu yang diterimanya dan adanya malaikat Jibril, serta sidratul muntaha, dimana Muhammad menyaksikan ke-Maha Kuasa-nya Tuhan. Dengan
mempelajari kosmologi, manusia mempunyai gambaran bahwa jagad/universe itu terbatas (karena makhluk), tetapi tak bertepi. Allah
ada diluar yang terbatas !
TEMA
SURAH :
Fenomena alam lagi yang digunakan sebagai sumpah untuk
menguatkan kebenaran yang ghoib. Ini
berarti bahwa kita harus menyakini dan menyadari yang ghoib itu seperti kita
menyakini dan menyadari yang nyata dan perbuatan kita itu disesuaikan
dengannya. Kalau yang nyata itu suatu REALITA, maka yang ghaib itu juga suatu REALITA.
SUDUT
PANDANG SURAH :
Apa yang diungkapkan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang GHOIB, harus ditangkap
manusia sebagai suatu REALITA, se-riil fenomena alam. Artinya harus ikut diperhitungkan dalam
mengambil tindakan.
54.
QUR’AN
SURAH LIV : AL-QOMAR/BULAN
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama, sebagai bagian dari
topik pertama (1-8) yang menerangkan telah dekatnya kiamat, dengan tandanya
ialah terbelahnya bulan. Dilanjutkan dengan sifat mereka yang mengingkari
wahyu, ialah mereka yang mengikuti nafsunya, dan mengingkari ancaman Tuhan yang
sesungguhnya merupakan Hikmah yang dalam. Dilanjutkan dengan
perintah pada para mukmin untuk meninggalkan mereka. Topik ditutup dengan
keadaan orang-orang kafir waktu dihidupkan kembali dari kuburnya.(1-8)
TEMA SURAH :
Surah ini mengandung konfirmasi lagi tentang kiamat dan diikuti
dengan pernyataan bahwa peringatan dan ancaman itu sesungguhnya HIKMAH yang dalam. Orang yang mendapatkan hikmah ialah mereka yang diberi kebaikan
yang banyak, jadi ungkapan di atas mengandung arti bahwa, bila kita
menggunakannya dengan benar, maka kita akan mendapatkan kebaikan yang banyak.
SUDUT
PANDANG SURAH :
Surah melanjutkan dengan mengemukakan arti dari makna mengakui
yang GHOIB sebagai suatu REALITA YANG RIIL, ialah bahwa
kesadaran itu mengandung HIKMAH, artinya memberi kemampuan MOTIVASI manusia untuk memilih jalan Tuhan, daripada jalan yang lain.
55.
QUR’AN
SURAH LV : AR-RAHMAN/YANG MAHA PEMURAH
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka
surah untuk menegaskan dari siapa datangnya Al-Qur’an, ialah dari Tuhan
yang Rahman, Maha Pemurah dan Penyanyang, yang menciptakan manusia dan mengajarkan berbicara. Kemudian dilanjutkan dengan ujud caiptaan
yang lain ialah alam semesta dengan segala isinya yang semuanya untuk
kepentingan manusia. Topik ditutup dengan suatu pertanyakan yang menghunjam
dalam benak dan nurani manusia :” Maka nikmat Tuhan manakah yang
kamu dustakan ?’ Ditengah tengah topik disisipkan perintah
untuk menegakkan timbangan
dengan ADIL. ( ayat 1 s/d 13). Timbangan disini bukan hanya bersifat
materiil, tetapi juga yang immaterial, seperti adil, bijak, lurus dll.
TEMA
SURAH :
Al-Qur’an disejajarkan dengan alam yang diciptakan Tuhan untuk
kenikmatan manusia. Apakah yang terjadi bila alam diambil kembali oleh Tuhan
? Manusia pada hakekatnya membutuhkan wahyu
seperti membutuhkan alam ! Jadi manusia harus mencintai
dan menggunakan wahyu, seperti dia mencintai dan menggunakan alam yang telah
diakui manusia sebagai nikmat yang diberikan Tuhan padanya, maka pertanyaan :
“Maka nikmat
Tuhan manakah yang manusia dustakan ?” 30 ayat dari 78 ayat
surah ini berupa pertanyaan itu. Suatu cara menanamkan kebenaran yang otentik
dan unik !
SUDUT
PANDANG SURAH :
Surah ini memandang “FUNGSI”
WAHYU sejajar
dengan ALAM, ialah sebagai NIKMAT yang diberikan Tuhan pada manusia. Maka selayaknya bila manusia yang MENCINTAI MATERI / KEHIDUPAN DUNIA ini juga
MENCINTAI WAHYU/KEHIDUPAN UCHROWI.
56.
QUR’AN
SURAH LVI : AL-WAQI’AH/KIAMAT
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama
yang melukiskan fenomena hari kiamat, kemudian diikuti dengan apa yang terjadi
pada manusia. Manusia akan terbagi dalam 3 golongan :
R Golongan kanan
R Golongan kiri
R Golongan yang paling dulu beriman
Ayat 14
menyatakan bahwa gol. ketiga bukan hanya mereka yang terdahulu
beriman (pada zaman Nabi), tetapi juga mereka (pada zaman paska Nabi) yang bersigera
meyakini wahyu, tidak menunda-nunda. (14-26). Ayat 40 menerangkan bahwa pada zaman sekarang, hanya golongan kecil yang menyegerakan
mempelajari dan meng-imani wahyu dan merekalah yang akan mendapatkan surga, seperti juga gol. pertama, sedangkan gol. kedua mendapat
azab. ( 1- 57).
TEMA SURAH :
Manusia pada hari kiamat, hari peradilan,
hanya akan digolongkan menjadi 3 golongan. Penggolongan ini berdasarkan : sikapnya
terhadap wahyu dan sikapnya terhadap waktu yang digunakan untuk menentukan
sikap. Waktu keraguannya sampai umur lanjut. Jadi waktu yang digunakan manusia untuk menentukan sikap
itu juga penting dalam menentukan golongan.
Apakah ini yang menyebabkan waktu kematian itu tidak
diberitahukan pada manusia ?! Disinilah makna ragu sebagai kriteria keimanan.
SUDUT
PANDANG SURAH :
Surah tidak hanya memandang pada hasil yang
disini dilukiskan sebagai SIKAP, tetapi juga pada WAKTU/KESEMPATAN , sesuatu yang mengandung NIAT dan UPAYA, artinya juga mengandung PROSES (dalam makna becoming) . Inilah anjuran dalam wahyu dengan kata “BERSEGERALAH” mengandung arti.
57.
QUR’AN
SURAH LVII : AL-HADIID
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Nama judul terdapat pada ayat ke 25, yang
menyatakan dianugerahkannya besi yang mengandung kekuatan dan banyak manfaat
bagi manusia. Sebelumnya telah dinyatakan bahwa Tuhan telah mengutus Rasul
dengan membawa kitab dan kriteria supaya manusia menegakkan keadilan. Topik
dibuka dengan pernyataan bahwa kehidupan dunia itu hanya sendau gurau,
perhiasan, bermegah-megahan dan berlomba dalam harta dan anak-anak, seperti
keadaan tumbuh-tumbuhan yang baru kena hujan, hidup subur, tapi toh akhirnya
pasti akan mati. Bila manusia mau berlomba, maka berlombalah mencari ampunan
Tuhan dan surga. Diingatkan kisah kaum Ibrahim dan kaum rasul sebelum Muhammad,
yang selalu ingkar dan dijelaskan melalui ulah kaum Yahudi dan Nasrani, bahwa
Tuhan mengutuk mereka, karena mengadakan mengadakan lembaga rahbaniyah. Dan ditutup dengan seruan terhadap
Nasrani untuk mengimani Allah dan Rasul-Nya. Inilah topik sentral surah. (
20-29)
TEMA SURAH :
Tujuan hidup ini ialah menegakkan keadilan,
dengan bersenjatakan kitab dan kriteria yang terkandung dalam wahyu.
Digambarkan fenomena kehidupan dunia ini
realitanya hanyalah merupakan perlombaan untuk mencari kekuatan, kekuasaan dan
kekayaan. Besi yang dianugerah kan Tuhan yang dapat memberi kekuatan dan
manfaat yang banyak, janganlah digunakan
untuk alat perlombaan itu. Gunakanlah untuk berlomba mencari ridlo-Nya. Jadi
pesan yang dikandung surah ialah alam yang dianugerahkan Tuhan seharusnya digunakan
untuk mencari ridlo-Nya !
SUDUT
PANDANG SURAH :
Semua yang danugerahkan Tuhan yang mampu
menciptakan suatu kekuatan dan kekuasaan harus digunakan untuk berlomba mencari
RIDLO-NYA, bukan untuk memuaskan keinginan dan menguasai manusia
maupun makhluk yang lain.
By A Baghowi Bachar
(Posting 21 Agustus
2011/21 RAMADHAN 1432 H)
Langganan:
Postingan (Atom)