Translate

Telusuri via Blog Ini

Sabtu, 27 Agustus 2011

HARI KEMERDEKAAN, PUASA RAMADHAN, IDUL FITRI


Kemerdekaan   arti bahasa “ Kebebasan”  .  Kemerdekaan  bangsa atau Negara  artinya   bebas dari penjajahan  bangsa  lain.  Tetapi  “pengertian  kemerdekaan”   saat ini  telah menjadi absurd/bias.  Penjajahan  tidak berarti  lagi secara fisik- tanah air di duduki  dan diperintah  bangsa lain, tetapi  menjadi “ujud siluman” , penguasaan/hegemoni politik, ekonomi, keamanan, social-budaya    oleh bangsa lain terhadap  “pemimpin atau rezim  pemerintah” atau  rakyat  suatu bangsa  oleh  bangsa lain. Hilang  jati diri  dan kemandirian suatu bangsa  dan tergantung  dengan  Negara lain  adalah  bentuk Penjajahan  “gaya baru”   atau Ambisi  tatanan  dunia baru yang dipaksakan  oleh  bangsa yang  kuat secara  Militer, Politik,Ekonomi, Sosial Budaya terhadap  bangsa lain  yang  lemah adalah bentuk  Hegemoni  yang  menghancurkan dan  menjajah  bangsa-bangsa  tidak  mau bekerja  sama . Apakah   Kemerdekaan  Indonesia   telah menjadi  “wujud”  seperti   yang dicita-citakan  saat  lahirnya Negara  Republik  Indonesia, menciptakan  Bangsa  yang makmur dan sejahtera   berdasarkan  Pancasila yang menjadi landasan  Berbangsa dan Negara bagi  rakyat dan pemimpin rakyat  Indonesia?.   Sepertinya   belum   “wujud”, karena persoalan  jatidiri  “bangsa”   seperti  “bias”,  seperti kehilangan  jatidiri sebagai  bangsa  yang  agamis; Negara   seperti  menganut “paham sekuler” …. Menjadikan  Ruh  agama    jauh dari kehidupan   berbangsa dan bernegara. Pemimpin  seolah  -olah  mengolah  Negara dan  menjalankan pemerintahan   mengikuti  “ grand-design”  Kapitalis  untuk   membangun   kesejahteraan   dan kemakmuran rakyat;  mengikuti  agenda-agenda   Negara-negara  kapitalis   dengan  menjadikan   kekayaan alam-darat –laut  di “kuras”  keluar  melalui   investasi  asing  yang  -bukan  untuk mensejaterahkan rakyat seperti  di amanatkan UUD 1945. Akibatnya   Bangsa  ini   hanya menonton  dan  tergantung dengan  belas kasih . kelimpahan  sumber alam –tambang, minyak,  pertanian  bukan di kuasai  pemerintah  atau rakyat tetapi  kekuatan  ekonomi asing – yang menjalankan  ekonomi  pasar-Kapitalis.  Jauh dari   harapan , pemimpin  menjadi  lupa  dengan  budaya yang subur  akibat  system  ekonomi kapitalis yaitu  Korupsi, Kolusi. Ajaran   agama  dianggap tidak terkait dengan  system  pemerintahan dalam masalah  ekonomi, politik, keamanan, social budaya  yang terjadi  dalam proses pembangunan. Justru   gesekan  antara  ajaran agama dengan kehidupan  berbangsa yang  berorientasi  dengan system kapitalis   seperti  gesekan   antara  “Kemandekan”  dan “kemajuan”.  Agama   dianggap menghambat  kemajuan - antidemokrasi atau bukan  system  yang dapat  membangun Negara-bangsa yang modern. Tetapi  ketika   perilaku –perilaku Pemimpin, pejabat pejabat yang menjadi  koruptor, maka   di kaitkan dia  dengan  latarbelakang  agamanya- seolah –agamanya  ikut bersalah-menjadikan  dia  menjadi koruptor atau penjahat. Agama  dibutuhkan   ketika  masuk penjara, ketika sakit  atau kematian; “ agama menjadi  kambing hitam”. Realitasnya - Agama   dipinggirkan (marginal) menjadi  urusan pribadi, ritual, seremonial, terlokalisir pada  ruang  sempit.    
*      Selalu  saja   diperdebatkan, tanpa mau  menyadari  dari kesalahan yang  berulang bahwa  landasan    budaya  bangsa ini adalah  agama  rakyat –tradisi  yang dibangun   dengan  kreativitas  masyarakat   dengan  tuhan  penguasa  alam- langit dan bumi. Ruh budaya    bangsa   sejak  nenek moyang  selalu terkait dengan kepercayaan  kepada Tuhan, sampai  jaman  kemerdekaan  tercetus. Semangat  hidup dan membangun  melawan penjajah  berdasarkan  Ruh  agama yang di gelorahkan  para pemimpin  , ulama.  Lahirnya Negara Kesatuan Republik  Indonesia   adalah  perjalanan panjang  dari  para pejuang  mulai  pangeran Diponogoro, imam Bonjol, Antasari, Hasannudin,     …sampai  Wahidin Sudiro Husodo, Cokro Aminoto, KH Ahmad Dahlan, KH  Hashim Asy’ari, KH. Agus salim, KH  Hajar Dewantara sampai  Bung Tomo, Jenderal Sudirman, dll.   dalam mempertahankan  kemerdekaan.  Pembukaan  UUD 1945  menjadi saksi , adanya pengakuan  para  pemimpin berdiri  Negara Republik Indonesia  adalah  Berkat  Rahmat Allah SWT.  Pengakuan  “dari  keberadaan   yang  lemah  menjadi kuat dan ada  “ oleh karena  semangat dan doa serta perjuangan  yang  dilandasi  “ruh  agama”, Keyakinan  /Kepercayaan  yang kuat kepada Allah. Bukan  karena  pandangan, sikap dan perilaku   sekuler  pemimpin atau rakyat Indonesia.
*    Momentum  sejarah  yang berulang, dapat menjadi titik kebangkitan “kemerdekaan”  bangsa  Indonesia yang sejatinya  mulai  saat ini-  seperti cita-cita Proklamasi Kemerdekaan  17 Agustus 1945. Semangat  Ramadhan 1432 Hijriah  yang  bersamaan  dengan 17 Ramadhan  dengan hari kemerdekaan RI ke  66 tahun, dapat menjadi semangat  bangsa Indonesia  menjadi bangsa yang kembali ke Fitrahnya sebagai bangsa yang melaksanakan  ajaran agama  kedalam seluruh aspeks kehidupan berbangsa dan bernegara; Bangsa  yang melaksanakan  cita-cita  kemakmuran dan kesejahteraan sesuai tujuan ajaran agamanya – mencapai kebahagian di Dunia dan Akhirat, bukan  atas kehendak  ideologi paham  manusia atau ajaran sekulerisme yang menjadikan manusia “bersikap dan perilaku  mendua” – Hipokrit dan berkepribadian Ganda (Schizophrenia).
*    Bulan Ramadhan , Bulan Ibadah Puasa   umat Islam, bulan  rekontruksi, reparasi, promosi, prestasi  seorang menjadi  muslim yang bertaqwa; bulan kepatuhan  makhluk kepada Penciptanya, bulan  kembali pada ekstensi fitrah manusia sebagai makhluk Allah. Sebulan penuh arena  pergulatan  fisik-jiwa-spiritual menjadikan “Ruh manusia” kepada kejadian asalnya, sebagai  “Hamba Allah” yang hanya patuh dan tunduk  serta mengabdi kepada Allah –yang Maha Pencipta, yang Maha  Tinggi. Kembali ke Fitrah manusia berarti kembali pada kehidupan yang menuruti  printah agama atau Syareat Allah yang dibawah Para-nabi dan Rasulullah. Segala  sikap-perilaku hidup hanya berlandaskan Syareat agama. Inilah  momen kembali ke fitrah manusia sejati, fitrah  bangsa Indonesia sejati. Momen  kembali pada Jati diri yang kuat,teguh. Momen  kembali kepada “Kemerdekaan   yang sesungguhnya”  dari Bangsa dan Negara Republik Indonesia sebagai bangsa yang berlandaskan Ketuhanan yang Maha Esa, dalam hal ini umat islam dapat mewarnai  kehidupan  berbangsa dan bernegara  dengan melaksanakan  Syareat Islam  secara kaffah. Kemerdekaan  melaksanakan   ajaran  agama   sesungguhnya  adalah kemerdekaan  Bangsa dan Negara  Indonesia  yaitu  diimplentasikan  ajaran agama  oleh Pemerintah dan Negara  secara konsisten dan menyeluruh dalam aspek kehidupan yang ditetapkan  melalui peraturan, undang-undang  dalam pelaksanaannya secara teknis.
*   Bangsa  yang kuat,  maju, makmur-sejahtera  adalah bangsa yang tidak sakit atau  memiliki ketangguhan, kepercayaan, kecerdasan  dan cita-cita  yang didasarkan semangat ibadah yang tinggi kepada Allah SWT.

Rabu, 24 Agustus 2011

58. QUR’AN SURAH LVIII : AL-MUJADALAH/WANITA YANG MENGGUGAT


XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.

58.        QUR’AN SURAH   LVIII :  AL-MUJADALAH/WANITA YANG MENGGUGAT
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah yang termasuk topik pertama ( 1-6) yang mengetengahkan masalah tentang sikap seorang suami, yang men-zihar isterinya (menganggap isterinya sebagai ibunya). Maka Tuhan menurunkan hukumnya dengan jelas:
R  Memerdekakan seorang budak atau
R  Berpuasa berturut turut selama 2 bulan atau
R  Memberi makan 60 orang miskin
TEMA  SURAH :
Permasalahan antar suami isteri dalam kehidupan, yang dapat menghancurkan keluarga, unit terkecil dari ummah, merupakan masalah yang sangat serius dimata Tuhan, sehingga Tuhan menurunkan hukumnya yang berat. Luas hukum itu sampai mempengaruhi wajah kehidupan social dalam arti hukum itu digunakan untuk memperbaiki masarakat manusia, menghapus perbudakan dan menolong si fakir miskin. Ini suatu bukti bahwa kehidupan keluarga dalam lingkungan kaum muslimin merupakan titik sentral dalam membentukan umat.
SUDUT PANDANG SURAH :
Manusia harus ingat, bahwa tindakannya/perbuatannya yang kecil ruang lingkupnya,  dapat membawa dampak yang sangat luas dalam kehidupan umat. Perbuatan pribadi yang berada dalam dimensi akhlaq akan mendatangkan dampak yang berdimensi sosial atau memakan dimensi waktu yang panjang. Oleh karena itu Agama itu membina manusia mulai dari akhlaq sampai amalannya dalam menyelamatkan kehidupan manusia seluruhnya.
59.        QUR’AN SURAH   LIX :  AL- HASYR/PENGUSIRAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat kedua dari topik pertama (1-10) yang menceriterakan bahwa terusirnya kaum Kafir dari Madinah itu atas kehendak Tuhan sebagai ganti dari azab yang seharusnya ditimpakan pada mereka, karena ke-ingkarannya. Kehendak Tuhan itu di-expressikan dengan adanya rasa takut dalam hati mereka. Topik dibuka dengan pernyataan bahwa semua itu bertasbigh pada Tuhan. Kemudian dilanjutkan dengan pernyataan yang senada tentang kemenangan dalam peperangan dan keuntungan yang diperoleh, yang berupa ghonimah.
Diteruskan dengan hukum ghonimah yang harus dibagi bagi, termasuk orang-orang miskin, sehingga merata. Pengusiran orang orang Madinah itu tidak dapat disamakan dengan peristiwa hijrah Nabi dan para pengikutnya, karena motivasinya yang berbeda, bahkan berlawanan. Hijrah adalah perintah Tuhan untuk meneruskan tugas Rasul, sedangkan pengusiran itu merupakan  bagian dari azab.
TEMA  SURAH :
Tema ini mengungkapkan hakekat dari suatu fenomena, untuk mencegah lahirnya kesombongan dalam hati orang-orang beriman yang telah mampu menguasai Madinah. Nada ungkapannya menyerupai nada keyakinan kaum jabariah, untuk menguatkan keyakinannya terhadap ke-Maha-Kuasa-nya Tuhan.
SUDUT PANDANG SURAH :
Dalam saat kejayaan, surah menyadarkan manusia, bahwa kekuatannya itu sesungguhnya datang dari Tuhan, bukan dari dirinya. Dengan demikian surah ini memandang hasil upaya manusia itu sesungguhnya atas pertolongan Tuhan, sehingga manusia harus menyadari bahwa dirinya tergantung mutlak pada Tuhan  Dengan demikian pandangan ini berguna untuk LEBIH MENANAMKAN KESADARAN KEMAKHLUKAN MANUSIA, yang akan mengikis kesombongan, sumber segala kebathilan dan memberi MAKNA pada kata TAWAKKAL dan SABAR.
60.        QUR’AN SURAH   LX  :  AL-MUMTAHANAH/WANITA YANG DIUJI
TOPIK SENTRAL SURAH:
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 10, sebagai bagian dari topik penutup surah, yang menyatakan, bahwa bila seorang wanita yang meninggalkan suaminya (yang kafir) itu mengaku beriman dan ingin bergabung, maka keimanannya itu harus diuji. Kemudian dilanjutkan dengan ke tentuan, bahwa seorang Muslim diharamkan untuk menikah dengan orang non-muslim ! Selan jutnya dilarang untuk mengambil mereka yang dimurkai Allah sebagai penolong. Surat ini mengan tisipasi keadaan pada waktu ini, 14 abad setelah diturunkan surat ini. Sebagai dalih untuk menga wini atau dikawini oleh orang non-muslim, yang non-muslim itu dijadikan muslim dala satu hari, bahkan I jam dengan diajarkan mengucapkan SYAHADATAIN. Beranikah kita mendustai Allah ?!
TEMA  SURAH :
Kehidupan keluarga yang akan membentuk keturunan darah dan menciptakan suatu kaum, harus ditundukkan pada pembentukan ummat, satu surah lagi yang menyatakan tujuan pernikahan atau pembentukan keluarga.
SUDUT PANDANG SURAH :
Pembentukan UCHUWAH KHOLQIYAH (keturunan darah/ bangsa) harus ditundukkan pada pembentukan UCHUWAH DINIYAH. Inilah landasan untuk menyatukan seluruh umat manusia yang akan mampu mengatasi perbedaan warna kulit, perbedaan keturunan, perbedaan status sosial-ekonomi-politik-budaya yang hasilnya akan mengikis PERBUDAKAN dan status KASTA dan MEMPERSATUKAN MANUSIA dibawah bendera UCHUWAH DINIYAH !!!
61.        QUR’AN SURAH   LXI :  ASH-SHAF/BARISAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 4 sebagai bagian dari topik pertama surah yang menyatakan secara tegas bahwa Tuhan menyukai orang yang berjihad [berjuang mencapai satu tujuan, memenangkan musuh manusia, bukan hanya kelompok manusia lain, tetapi juga kebodohan, kenistaan, kemiskinan dll. karena inilah musuh sejati manusia]. dengan barisan yang rapi dan kokoh. Topik dibuka dengan pernyataan “bertasbighnya seisi alam dan diteruskan dengan kebencian Tuhan terhadap orang orang yang tetap mengingkari perintah-Nya. Ini suatu peringatan Tuhan, bahwa manusia itu termasuk isi Alam, jadi harus ikut bertasbigh.
TEMA  SURAH :
Dalam topik ini kata TASBIGH disejajarkan dengan kata PERANG/BERJUANG/ BERJIHAD dan dipertentangkan dengan kata ‘INGKAR mengikuti perintah-Nya’. Kemudian ditekankan bahwa Tuhan menyukai bila para yang beriman itu membentuk suatu barisan yang rapi dan kokoh, artinya dianjurkan untuk uchuwah/persatuan. Persatuan yang mampu mengatasi pembatas antar manusia, seperti kebangsaan, golongan, kedudukan, kekayaan, ideology, isme juga madzhab dan sebagainya, ialah satu satunya pemersatu UCHUWAH DINIYAH.
SUDUT PANDANG SURAH :
BERTASBIGH diartikan tunduk patuh pada perintah Tuhan, meskipun perintah itu perintah perang [ujian yang berat] Dan sebaiknya bertasbigh itu bersama2 dalam keadaan rapi dan kokoh. Disini ditekankan lagi soal UCHUWAH.
62.        QUR’AN SURAH  LXII :  AL-JUM’AT
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 9, yang termasuk topik terakhir surah (9-11), yang dibuka dengan perintah menyegerakan shalat JUM’AH bila telah mendengar panggilannya dan meninggalkan JUAL-BELI, jangan seperti mereka yang sebaliknya, meninggalkan panggilan shalat Jum’ah, bila ada perniagaan dan permainan.
TEMA  SURAH:
Seruan sembahyang Jum’at harus menghentikan aktivitas jual beli, artinya mencari kehidupan dunia, jangan sebaliknya. Disini dikatakan shalat Jum’at, bukan hanya panggilan shalat. Jadi panggilan shalat Jum’at dipertentangkan dengan panggilan mencari kehidupan dunia dan ini logis, karena keduanya merupakan aktivitas sosial /bermasarakat Jadi harus adanya keseimbangan antara dunia dan acherat secara kebersamaan, inilah gambaran kehidupan ummah.
SUDUT PANDANG SURAH :
Ada 2 macam aktivitas sosial, yang pertama mencari kehdupan dunia dan kedua mengikuti panggilan Tuhan. Antara keduanya, seorang muslim harus mendahulukan panggilan Tuhannya, bagaimanapun kesulitan yang dihadapi dalam kehidupan dunianya..Kedua kehidupan ummah itu selalu digambarkan KEBERSAMAAN-nya/UCHUWAH-nya.
63.        QUR’AN SURAH  LXIII :   AL-MUNAFIKUN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah, yang termasuk topik sentral surah  (ayat 1 s/d 8), yang menerangkan dengan jelas ciri-ciri seorang munafik, ialah orang yang :
R  Menggunakan sumpah sebagai perisai
R  Menghalangi jalan Tuhan
Ini disebabkan karena mereka pernah beriman. Kemudian diterangkan tentang penampilan fisik mereka : sikap menyenangkan dan bicaranya mempesona. Ditutup dengan keadaan para munafikun Madinah yang menginginkan kembalinya para muhajirun keluar dari Madinah kembali ke Mekah..
TEMA  SURAH :
Diuraikan sifat seorang munafik, baik dimensi mental maupun sosialnya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Diingatkan bahwa kita harus berhati-hati dalam MENILAI PENAMPILAN SESEORANG, meskipun ia dikenal sebagai seorang muslim, orang baik, orang menyenangkan dll. Disini Tuhan menggolongkan manusia atas dasar SIKAP MANUSIA TERHADAP AJARAN-NYA. Mengapa mereka diberi kelebihan dalam penampilan fisiknya  ? Untuk menguatkan pengertian bahwa PENILAIAN MANUSIA tidak sama dengan PENILAIAN TUHAN, karena’ landasan penilaianlah’ yang berbeda Manusia lebih melihat lahiriyanya, sedang Tuhan meletakkan penilaian lebih pada mental-spiritualnya.
64.        QUR’AN SURAH  LXIV :   AT-TAGHABUN/HARI DITAMPAKANNYA KESALAHAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 9, yang termasuk topik pertama ( ayat 1-10 ) yang menegaskan tentang pasti datangnya hari Kiamat, hari pembuktian. Topik/surah dibuka dengan pernyataan, bahwa seluruh alam bertasbigh, dan bahwa manusia itu ada yang
TEMA  SURAH :
Hari kiamat ialah hari pembuktian tentang apa yang dijanjikan Tuhan itu pasti ditepati.
SUDUT PANDANG SURAH :
Hari Kiamat harus DISADARI manusia sebagai salah satu REALITA kehidupan yang harus diperhitungkan dalam menjalani hidup ini.
65.        QUR’AN SURAH  LXV :   ATH-THALAQ
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama , topik pertama ( ayat 1-7), yang ditujukan pada Nabi, yang menerangkan hukum talak :
1.        Waktu menceraikan isterinya, harus memikirkan kepentingan yang ditalak. Misalnya jangan mengganggu masa idahnya dengan menunggu waktu isterinya bersih. (jangan berhubungan sebelum menalaknya)
2.        Jangan mengeluarkan mereka dari rumah’ (alasannya mungkin tuhan menunjukkan sesuatu yang baru, misalnya mau rujuk kembali, kalau baru talak satu.)
3.        Kalau waktu idahnya berakhir, maka rujukilah dengan baik, kalau masih ingin rujuk. Atau lepaskanlah dengan baik.
4.        Putusan itu harus dipersaksikan oleh 2 saksi yang adil
5.        Idah, waktunya 3bulan, juga bagi mereka yang tidak haid lagi
6.        Tempatkan mereka ditempatmu semula, jangan menyusahkan mereka.
7.        Mereka harus diberikan nafkah tgt kekuatan mantan suami.
TEMA  SURAH :
Tema sentral surah ini ialah ketentuan Tuhan tentang talak, artinya pembinaan keluarga bila tidak dapat dipertahankan lagi. Retak atau cerai-berainya kehidupan keluarga, artinya rusaknya uchuwah kholqiyah harus tidak merusak uchuwwah diniyah.
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah memandang kehidupan dari sudut unit kehidupan yang terkecil ialah keluarga. Rusaknya unit ini tidak boleh merusak kehidupan ummah. Surah ini ditujukan pada Nabi, karena Nabilah manusia yang paling tunduk pada KETENTUAN-NYA. Ini berarti bahwa Tuhan TIDAK MEMAKSAKAN KEHENDAKNYA, menghormati perasaan manusia. Kalau manusia masih ingin bermain-main dengan ketentuan-Nya, apakah ia tidak patut di-adzab ?

By  A Baghowi Bachar

(Posting  24 Agustus  2011/24RAMADHAN 1432 H)

Minggu, 21 Agustus 2011

50. QUR’AN SURAH L : QAAF


XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.
50.        QUR’AN SURAH   L :  QAAF
TOPIK SENTRAL SURAH:
Nama judul berupa huruf Q dari abjad huruf Hijazi dan diikuti dengan sumpah dengan Al-Qur’an yang mulia dan dilanjutkan dengan suatu pernyataan akan ke-tercengang-an manusia karena tiap rasul itu berasal dari kaumnya sendiri. Diteruskan dengan akan ungkapan keraguan manusia tentang hari kiamat. Kemudian dilanjutkan dengan pernyataan Tuhan supaya manusia itu mengamati alam sekitarnya, apakah fenomena itu bukan sesuatu yang men-tercengankan manusia? Kenyataan alam itu riil, dapat dilihat, didengar, dipegang dan dirasakan oleh manusia. Inilah topik sentral surah (ayat 1 s/d 11 ).
TEMA  SURAH :
Mengapa manusia mempercayai keperiadaannya alam, namun meragukan akan hari kiamat dan para utusan Tuhan ? Sedang semua itu datang dari Tuhan yang sama. Kesimpulan yang dapat diambil ialah, bahwa para rasul dan hari kiamat itu merupakan suatu REALITA seperti keperiadaan alam semesta ini. Inilah keyakinan yang akan menyelamatkan kehidupan manusia.
SUDUT PANDANG SURAH :
Rosul dan kiamat itu suatu rialitas, seperti riilnya alam semesta ini. Sikap manusia dalam kehidupan ini harus dilandaskan pada realita itu, bukan pada citra manusia sendiri.
51.        QUR’AN SURAH   LI :  ADZ- DZARIAAT/YANG MENERBANGKAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama yang digunakan sebagai sumpah untuk konfirmasi bahwa janji Tuhan pasti benar dan hari pembalasan itu pasti ada. (5-6). Dilanjutkan dengan sumpah dengan ruang angkasa bahwa manusia itu berbeda-beda pendapat dan terkutuklah para pembohong, yang dibelokkan dari kebenaran , yang hanyut dalam kelalaian dan kebodohan. Topik diteruskan dengan balasan pada mereka yang beriman, ialah:
R  Mereka yang tidak banyak tidur diwaktu malam;
R  Waktu sahur memohon ampunan; dan
R  Mengakui bahwa pada waktu malam tidak banyak tidur dan
R  Pada hartanya ada hak bagi si miskin dan fakir.
Topik ditutup dengan diulangi kembali akan kepastian hari kiamat (23).
TEMA  SURAH :
Manusia yang meragukan janji-janji Tuhan dan datangnya hari kiamat disebut sebagai lalai dan bodoh, yang disebut pembohong, dibandingkan dengan sifat-sifat mereka yang beriman. Ini berarti bahwa untuk menjadi beriman orang harus selalu belajar dan sadar diri. Berbohong dihubungkan dengan lalai dan bodoh. Sumpah yang digunakan ialah fenomena alam yang tiap hari dapat disaksikan manusia, suatu realita yang tidak mungkin diabaikan manusia ; seperti itulah seharusnya kita menyadari akan kematian dan kiamat yang merupakan suatu realita yang harus disadari manusia, sehingga tidak lagi lalai dan berbuat bodoh dalam menjalani kehidupan ini.
SUDUT PANDANG SURAH :
Lalai (bukan LUPA) dan bodoh disebut BOHONG/DUSTA. Lalai biasanya disebabkan oleh pesona keinginan dan bodoh karena tidak mau belajar/bertanya. Bagi manusia lalai itu dianggap ringan/tidak serius, sesuatu yang tidak penting dan bodoh bukan dianggap suatu kesalahan, tetapi sesuatu yang taken for granted’. Namun Tuhan berpendapat lain, keduanya itu disebut DUSTA. Disini larangan MABUK, EKSTASI , LUPA DARATAN mempunyai arti.
52.        QUR’AN SURAH   LII :  ATH-THUR
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah digunakan sebagai sumpah bersama dengan kitab, baitul makmur dan laut untuk mengkonfirmasikan kepastian datangnya kiamat dan kecelakaan bagi para pendusta, ialah mereka yang terbenam dalam kebatilan. Dilanjutkan dengan lukisan balasan Tuhan bagi mereka dan bagi yang beriman.
TEMA  SURAH :
Temanya serupa dengan tema surah terdahulu, hanya pendustakan kiamat dilukiskan sebagai “yang terbenam dalam kebathilan”, Karena hubbud dunia, cinta dunia. 
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah ini memperkuat surah terdahulu, karena dilanjutkan dengan “terbenam dalam kebatilan’. Artinya tanpa menggunakan KIAMAT sebagai REALITA, manusia tidak pernah memperhitungkan AKIBAT AKHIR dari ulahnya dalam hidup ini.

53.        QUR’AN SURAH   LIII :  AN-NAJM/BINTANG
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah digunakan sebagai sumpah untuk membenarkan kerasulan Muhammad, wahyu yang diterimanya dan adanya malaikat Jibril, serta sidratul muntaha, dimana Muhammad menyaksikan ke-Maha Kuasa-nya Tuhan. Dengan mempelajari kosmologi, manusia mempunyai gambaran bahwa jagad/universe itu terbatas (karena makhluk), tetapi tak bertepi. Allah ada diluar yang terbatas !
TEMA SURAH :
Fenomena alam lagi yang digunakan sebagai sumpah untuk menguatkan kebenaran yang ghoib. Ini berarti bahwa kita harus menyakini dan menyadari yang ghoib itu seperti kita menyakini dan menyadari yang nyata dan perbuatan kita itu disesuaikan dengannya. Kalau yang nyata itu suatu REALITA, maka yang ghaib itu juga suatu REALITA.
SUDUT PANDANG SURAH :
Apa yang diungkapkan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang GHOIB, harus ditangkap manusia sebagai suatu REALITA, se-riil fenomena alam. Artinya harus ikut diperhitungkan dalam mengambil tindakan.
54.        QUR’AN SURAH   LIV :  AL-QOMAR/BULAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama, sebagai bagian dari topik pertama (1-8) yang menerangkan telah dekatnya kiamat, dengan tandanya ialah terbelahnya bulan. Dilanjutkan dengan sifat mereka yang mengingkari wahyu, ialah mereka yang mengikuti nafsunya, dan mengingkari ancaman Tuhan yang sesungguhnya merupakan Hikmah yang dalam. Dilanjutkan dengan perintah pada para mukmin untuk meninggalkan mereka. Topik ditutup dengan keadaan orang-orang kafir waktu dihidupkan kembali dari kuburnya.(1-8)
TEMA  SURAH :
Surah ini mengandung konfirmasi lagi tentang kiamat dan diikuti dengan pernyataan bahwa peringatan dan ancaman itu sesungguhnya HIKMAH yang dalam. Orang yang mendapatkan hikmah ialah mereka yang diberi kebaikan yang banyak, jadi ungkapan di atas mengandung arti bahwa, bila kita menggunakannya dengan benar, maka kita akan mendapatkan kebaikan yang banyak.
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah melanjutkan dengan mengemukakan arti dari makna mengakui yang GHOIB sebagai suatu REALITA YANG RIIL, ialah bahwa kesadaran itu mengandung HIKMAH, artinya memberi kemampuan MOTIVASI manusia untuk memilih jalan Tuhan, daripada jalan yang lain.
55.        QUR’AN SURAH   LV :  AR-RAHMAN/YANG MAHA PEMURAH
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah untuk menegaskan dari siapa datangnya Al-Qur’an, ialah dari Tuhan yang Rahman, Maha Pemurah dan Penyanyang, yang menciptakan manusia  dan mengajarkan berbicara. Kemudian dilanjutkan dengan ujud caiptaan yang lain ialah alam semesta dengan segala isinya yang semuanya untuk kepentingan manusia. Topik ditutup dengan suatu pertanyakan yang menghunjam dalam benak dan nurani manusia :” Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan ? Ditengah tengah topik disisipkan perintah untuk menegakkan timbangan  dengan ADIL. ( ayat 1 s/d 13). Timbangan disini bukan hanya bersifat materiil, tetapi juga yang immaterial, seperti adil, bijak, lurus dll.
TEMA SURAH :
Al-Qur’an disejajarkan dengan alam yang diciptakan Tuhan untuk kenikmatan manusia. Apakah yang terjadi bila alam diambil kembali oleh Tuhan ?  Manusia pada hakekatnya membutuhkan wahyu seperti membutuhkan alam ! Jadi manusia harus mencintai dan menggunakan wahyu, seperti dia mencintai dan menggunakan alam yang telah diakui manusia sebagai nikmat yang diberikan Tuhan padanya, maka pertanyaan :
“Maka nikmat Tuhan manakah yang manusia dustakan ?” 30 ayat dari 78 ayat surah ini berupa pertanyaan itu. Suatu cara menanamkan kebenaran yang otentik dan unik !
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah ini memandang “FUNGSI”  WAHYU sejajar dengan ALAM, ialah sebagai NIKMAT yang diberikan Tuhan pada manusia. Maka selayaknya bila manusia yang MENCINTAI MATERI / KEHIDUPAN DUNIA ini juga MENCINTAI WAHYU/KEHIDUPAN UCHROWI.
56.        QUR’AN SURAH   LVI :  AL-WAQI’AH/KIAMAT
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama yang melukiskan fenomena hari kiamat, kemudian diikuti dengan apa yang terjadi pada manusia. Manusia akan terbagi dalam 3 golongan :
R  Golongan kanan
R  Golongan kiri
R  Golongan yang paling dulu beriman
Ayat 14 menyatakan bahwa gol. ketiga bukan hanya mereka yang terdahulu beriman (pada zaman Nabi), tetapi juga mereka (pada zaman paska Nabi) yang bersigera meyakini wahyu, tidak menunda-nunda. (14-26). Ayat 40 menerangkan bahwa pada zaman sekarang, hanya golongan kecil yang menyegerakan mempelajari dan meng-imani wahyu dan merekalah yang akan mendapatkan surga, seperti juga gol. pertama, sedangkan gol. kedua mendapat azab. ( 1- 57).
TEMA  SURAH :
Manusia pada hari kiamat, hari peradilan, hanya akan digolongkan menjadi 3 golongan. Penggolongan ini berdasarkan : sikapnya terhadap wahyu dan sikapnya terhadap waktu yang digunakan untuk menentukan sikap. Waktu keraguannya sampai umur lanjut. Jadi waktu yang digunakan manusia untuk menentukan sikap itu juga penting dalam menentukan golongan. Apakah ini yang menyebabkan waktu kematian itu tidak diberitahukan pada manusia ?! Disinilah makna ragu sebagai kriteria keimanan.
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah tidak hanya memandang pada hasil yang disini dilukiskan sebagai SIKAP, tetapi juga pada WAKTU/KESEMPATAN , sesuatu yang mengandung NIAT dan UPAYA, artinya juga mengandung PROSES (dalam makna becoming) . Inilah anjuran dalam wahyu dengan kata “BERSEGERALAH” mengandung arti.
57.        QUR’AN SURAH   LVII :   AL-HADIID
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul terdapat pada ayat ke 25, yang menyatakan dianugerahkannya besi yang mengandung kekuatan dan banyak manfaat bagi manusia. Sebelumnya telah dinyatakan bahwa Tuhan telah mengutus Rasul dengan membawa kitab dan kriteria supaya manusia menegakkan keadilan. Topik dibuka dengan pernyataan bahwa kehidupan dunia itu hanya sendau gurau, perhiasan, bermegah-megahan dan berlomba dalam harta dan anak-anak, seperti keadaan tumbuh-tumbuhan yang baru kena hujan, hidup subur, tapi toh akhirnya pasti akan mati. Bila manusia mau berlomba, maka berlombalah mencari ampunan Tuhan dan surga. Diingatkan kisah kaum Ibrahim dan kaum rasul sebelum Muhammad, yang selalu ingkar dan dijelaskan melalui ulah kaum Yahudi dan Nasrani, bahwa Tuhan mengutuk mereka, karena mengadakan  mengadakan  lembaga  rahbaniyah. Dan ditutup dengan seruan terhadap Nasrani untuk mengimani Allah dan Rasul-Nya. Inilah topik sentral surah. ( 20-29)
TEMA  SURAH :
Tujuan hidup ini ialah menegakkan keadilan, dengan bersenjatakan kitab dan kriteria yang terkandung dalam wahyu. Digambarkan fenomena  kehidupan dunia ini realitanya hanyalah merupakan perlombaan untuk mencari kekuatan, kekuasaan dan kekayaan. Besi yang dianugerah kan Tuhan yang dapat memberi kekuatan dan manfaat yang banyak,  janganlah digunakan untuk alat perlombaan itu. Gunakanlah untuk berlomba mencari ridlo-Nya. Jadi pesan yang dikandung surah ialah alam yang dianugerahkan Tuhan seharusnya digunakan untuk mencari ridlo-Nya !
SUDUT PANDANG SURAH :
Semua yang danugerahkan Tuhan yang mampu menciptakan suatu kekuatan dan kekuasaan harus digunakan untuk berlomba mencari RIDLO-NYA, bukan untuk memuaskan keinginan dan menguasai manusia maupun makhluk yang lain.


By  A Baghowi Bachar

(Posting  21 Agustus  2011/21  RAMADHAN 1432 H)