Translate

Telusuri via Blog Ini

Minggu, 10 Maret 2013

AL QURAN


XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH

TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.

109.  QUR’AN SURAH  CIX :  AL-KAAFIRUUN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada pembuka surah, sekaligus topik sentralnya ( 1-5), yang menjelas kan bagaimana seharusnya sikap umat Islam terhadap orang-orang kafir terhadap penyembahan terhadap Tuhan masing masing.
TEMA  SURAH :
Karena Tuhan yang disembah itu BERBEDA, maka sikap kita harus tegas, ialah kita TIDAK menyembah TUHAN-MU dan kamu tidak menyembah Tuhanku. Ini bukan dalam pengertian toleransi, apalagi kompromi, tapi menarik garis batas yang tegas yang menyatakan TIDAK ADANYA KESAMAAN.
SUDUT PANDANG SURAH :
Sikap orang muslim terhadap orang orang kafir lahir dari PERBEDAAN TUHAN YANG DISEMBAH dan bukan dari masalah masalah pribadi.
110.  QUR’AN SURAH  CX :  AN-NASHR/PERTOLONGAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah hanya terdiri dari satu topik dan nama judul surah terdapat pada ayat pertama, yang menegaskan: bila pada suatu waktu pertolongan Tuhan datang dan kita melihat manusia berdujun-dujun masuk agama Allah, maka kita wajib bertasbigh dan mohon ampun, karena Tuhan Maha Penerima taubat. Jadi bukan kebanggaan, atau merasa lebih !
TEMA  SURAH :
Justru datangnya pertolongan Tuhan harus disambut dengan tasbigh dan mohon ampun.
SUDUT PANDANG SURAH :
Tiap datangnya pertolongan Tuhan, yang berarti tiap kemenangan yang kita capai, kita wajib menyambut dengan TASBIGH dan MOHON AMPUN. Ini berarti DILARANG  SOMBONG, justru harus LEBIH MERENDAHKAN DIRI.
111.  QUR’AN SURAH  CXI :  AL -LAHAB
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 3. ayat penutup dari topik sentral surah (1-3 )   Pada  ayat pertama juga terdapat nama itu , tetapi digunakan sebagai nama alias/nama ejekan seseorang yang paling gigih menentang Nabi. Manusia semacam inilah yang akan diazab dineraka, dalam api yang bergejolak. Dan bagi dia harta benda dan apa yang diusahakannya tidak ada gunanya sama sekali.
TEMA  SURAH :
Bagi manusia yang menentang Nabi semua apa yang diusahakan tidak berguna sama sekali.
SUDUT PANDANG SURAH :
Ukuran apa yang diusahakan manusia untuk menilai (bukan mengadili) manusia lain, ialah SIKAP-nya terhadap Nabi dan ajarannya.
112.   QUR’AN SURAH  CXII :   AL-IKHLASH
TOPIK SENTRAL :
Nama judul surah tidak terdapat dalam satu ayat-ayatnya, sehingga kita harus mencari salah satu ayatnya yang mampu memberi makna pada nama judulnya. Kapan kita ini bisa bersikap IKHLASH atau TULUS ?  Manusia itu bisa tulus, bila ia tahu dan sadar akan kemutlakan ketergantungannya pada sesuatu. Hanya terhadap sesuatu itu dia bisa tulus. Ayat yang paling dekat dengan pengertian ini ialah ayat ke 2: Allah adalah Tumpuan segala harapan !
TEMA SURAH :
Sifat Tuhan yang bagaimana yang dapat membuat manusia ikhlas menundukkan dirinya pada-Nya ? Ialah Dia yang merupakan satu satunya tumpuan harapan manusia. Ketergantungan mutlaknya manusia pada Allah.
SUDUT PANDANG SURAH :
Tauhid, peng-Esa-an Tuhan, bukan untuk Tuhan tetapi untuk kepentingan manusia. Ilmu inilah yang mampu melahirkan ke-tulusan manusia dalam menundukkan dirinya pada-Nya.
113.   QUR’AN SURAH  CXIII :  AL-FALAQ/WAKTU SUBUH
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah ini hanya terdiri dari satu Topik, dan nama judul surah terdapat pada ayat pembukanya dan digunakan sebagai salah satu sifat Tuhan, pada siapa manusia patut memohon perlindungannya terhadap: kejahatan makhluq-Nya; kejahatan gelapnya malam; kejahatan para penyihir dan kejahatan pendengki waktu ia dengki.
TEMA  SURAH :
Paling patut untuk menjadi pelindung ialah Dia yang menguasai sumber bahaya, ialah Dia yang MENCIPTAKANNYA.
SUDUT PANDANG SURAH :
Apakah kita patut mencari pelindung selain yang menciptakan sumber bahaya yang mengancam diri kita manusia ?
114.   QUR’AN SURAH  CXIV :  AN-NAAS
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada semua ayat ayatnya kecuali pada ayat ke 4. Nama judul digunakan untuk menunjuk nama Tuhan yang ada hubungannya dengan manusia dan siapa yang menghadapi bahaya dan darimana datangnya bahaya.
TEMA  SURAH :
Seperti surah terdahulu, untuk memilih pelindung ialah Dia yang menguasai sumber bahaya dan yang mengetahui darimana asalnya bahaya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah ini menujukkan SIAPA YANG PATUT menjadi PELINDUNG MANUSIA dan menunjukkan bahwa BAHAYA YANG MENGANCAM MANUSIA itu berasal dari JIN dan MANUSIA. Artinya datang dari luar dan dalam diri manusia.


”INILAH TEMA TEMA SURAH DAN SUDUT PANDANG SURAH SURAH AL-QUR’AN, BUKAN KANDUNGAN SURAH.
DARI TEMA TEMA SURAH INI MANUSIA AKAN MENDAPATKAN PENGETAHUAN TENTANG CARA AL-QUR’AN MEMANDANG KEHIDUPAN SEHINGGA MANUSIA AKAN MENDAPATKAN PENGERTIAN, PEMAHAMAN DAN MOTIVASI YANG AKAN MELAHIRKAN KEKUATAN UNTUK MENUNDUKKAN DIRI SECARA KAFFAH PADA KEHENDAK ILAHI.
KANDUNGAN SURAHLAH NANTI YANG AKAN MEMBEBERKAN BENTUK KEHENDAK  ILAHI-NYA.”
   


By  A Baghowi Bachar


XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.

1.        QUR’AN SURAH  CIX :  AL-KAAFIRUUN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada pembuka surah, sekaligus topik sentralnya ( 1-5), yang menjelas kan bagaimana seharusnya sikap umat Islam terhadap orang-orang kafir terhadap penyembahan terhadap Tuhan masing masing.
TEMA  SURAH :
Karena Tuhan yang disembah itu BERBEDA, maka sikap kita harus tegas, ialah kita TIDAK menyembah TUHAN-MU dan kamu tidak menyembah Tuhanku. Ini bukan dalam pengertian toleransi, apalagi kompromi, tapi menarik garis batas yang tegas yang menyatakan TIDAK ADANYA KESAMAAN.
SUDUT PANDANG SURAH :
Sikap orang muslim terhadap orang orang kafir lahir dari PERBEDAAN TUHAN YANG DISEMBAH dan bukan dari masalah masalah pribadi.
2.        QUR’AN SURAH  CX :  AN-NASHR/PERTOLONGAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah hanya terdiri dari satu topik dan nama judul surah terdapat pada ayat pertama, yang menegaskan: bila pada suatu waktu pertolongan Tuhan datang dan kita melihat manusia berdujun-dujun masuk agama Allah, maka kita wajib bertasbigh dan mohon ampun, karena Tuhan Maha Penerima taubat. Jadi bukan kebanggaan, atau merasa lebih !
TEMA  SURAH :
Justru datangnya pertolongan Tuhan harus disambut dengan tasbigh dan mohon ampun.
SUDUT PANDANG SURAH :
Tiap datangnya pertolongan Tuhan, yang berarti tiap kemenangan yang kita capai, kita wajib menyambut dengan TASBIGH dan MOHON AMPUN. Ini berarti DILARANG  SOMBONG, justru harus LEBIH MERENDAHKAN DIRI.
3.        QUR’AN SURAH  CXI :  AL -LAHAB
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 3. ayat penutup dari topik sentral surah (1-3 )   Pada  ayat pertama juga terdapat nama itu , tetapi digunakan sebagai nama alias/nama ejekan seseorang yang paling gigih menentang Nabi. Manusia semacam inilah yang akan diazab dineraka, dalam api yang bergejolak. Dan bagi dia harta benda dan apa yang diusahakannya tidak ada gunanya sama sekali.
TEMA  SURAH :
Bagi manusia yang menentang Nabi semua apa yang diusahakan tidak berguna sama sekali.
SUDUT PANDANG SURAH :
Ukuran apa yang diusahakan manusia untuk menilai (bukan mengadili) manusia lain, ialah SIKAP-nya terhadap Nabi dan ajarannya.
4.        QUR’AN SURAH  CXII :   AL-IKHLASH
TOPIK SENTRAL :
Nama judul surah tidak terdapat dalam satu ayat2nya, sehingga kita harus mencari salah satu ayatnya yang mampu memberi makna pada nama judulnya. Kapan kita ini bisa bersikap IKHLASH atau TULUS ?  Manusia itu bisa tulus, bila ia tahu dan sadar akan kemutlakan ketergantungannya pada sesuatu. Hanya terhadap sesuatu itu dia bisa tulus. Ayat yang paling dekat dengan pengertian ini ialah ayat ke 2: Allah adalah Tumpuan segala harapan !
TEMA SURAH :
Sifat Tuhan yang bagaimana yang dapat membuat manusia ikhlas menundukkan dirinya pada-Nya ? Ialah Dia yang merupakan satu satunya tumpuan harapan manusia. Ketergantungan mutlaknya manusia pada Allah.
SUDUT PANDANG SURAH :
Tauchid, peng-Esa-an Tuhan, bukan untuk Tuhan tetapi untuk kepentingan manusia. Ilmu inilah yang mampu melahirkan ke-tulusan manusia dalam menundukkan dirinya pada-Nya.
5.        QUR’AN SURAH  CXIII :  AL-FALAQ/WAKTU SUBUH
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah ini hanya terdiri dari satu Topik, dan nama judul surah terdapat pada ayat pembukanya dan digunakan sebagai salah satu sifat Tuhan, pada siapa manusia patut memohon perlindungannya terhadap: kejahatan makhluq-Nya; kejahatan gelapnya malam; kejahatan para penyihir dan kejahatan pendengki waktu ia dengki.
TEMA  SURAH :
Paling patut untuk menjadi pelindung ialah Dia yang menguasai sumber bahaya, ialah Dia yang MENCIPTAKANNYA.
SUDUT PANDANG SURAH :
Apakah kita patut mencari pelindung selain yang menciptakan sumber bahaya yang mengancam diri kita manusia ?
6.        QUR’AN SURAH  CXIV :  AN-NAAS
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada semua ayat ayatnya kecuali pada ayat ke 4. Nama judul digunakan untuk menunjuk nama Tuhan yang ada hubungannya dengan manusia dan siapa yang menghadapi bahaya dan darimana datangnya bahaya.
TEMA  SURAH :
Seperti surah terdahulu, untuk memilih pelindung ialah Dia yang menguasai sumber bahaya dan yang mengetahui darimana asalnya bahaya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah ini menujukkan SIAPA YANG PATUT menjadi PELINDUNG MANUSIA dan menunjukkan bahwa BAHAYA YANG MENGANCAM MANUSIA itu berasal dari JIN dan MANUSIA. Artinya datang dari luar dan dalam diri manusia.


”INILAH TEMA TEMA SURAH DAN SUDUT PANDANG SURAH SURAH AL-QUR’AN, BUKAN KANDUNGAN SURAH.
DARI TEMA TEMA SURAH INI MANUSIA AKAN MENDAPATKAN PENGETAHUAN TENTANG CARA AL-QUR’AN MEMANDANG KEHIDUPAN SEHINGGA MANUSIA AKAN MENDAPATKAN PENGERTIAN, PEMAHAMAN DAN MOTIVASI YANG AKAN MELAHIRKAN KEKUATAN UNTUK MENUNDUKKAN DIRI SECARA KAAFFAH PADA KEHENDAK ILAHI.
KANDUNGAN SURAHLAH NANTI YANG AKAN MEMBEBERKAN BENTUK KEHENDAK  ILAHI-NYA.”
   


By  A Baghowi Bachar

Kamis, 24 Januari 2013

Maulid Nabi Muhammad SAW


Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: مولد النبي‎, mawlid an-nabī), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad. Perayaan Maulid Nabi diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi(1138-1193). Adapula yang berpendapat bahwa idenya justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem dan sekitarnya.(sumber Wikipedia)

Memaknai maulid nabi Muhammad SAW dahulu dan sekarang , bukan sekedar ceremonial saja, dengan acara-acara perayaan di mesjid atau tempat pengajian atau tradisi budaya sebagai kewajiban rutinitas atau bahkan ritual tahunan. Tetapi bagaimana maulid Nabi Muhammad SAW, menjadi momen “spiritual” - lahirnya jiwa kita untuk selalu menjadikan tauladan Rasulullah Nabi Muhammad SAW sepanjang hidup kita.
Secara teologis, Allah SWT “ memudahkan jalan” bagi manusia yang patuh dan tunduk atau beribadah kepada NYA pada massa jaman rasulullah dan sesudahnya dengan memberi contoh tauladan seorang manusia yang bernama “Muhammad” sekaligus mengajarkan berdasarkan wahyu Allah, sebagai nabi dan Rasulullah akhir jaman dengan meninggalkan dua warisan “tata cara kehidupan manusia kepada Allah SWT” berupa AL QURAN dan Al Hadist .

Lahirnya Nabi Muhammad SAW, bukan suatu kebetulan. Allah SWT sudah merencanakan sebagai sosok tauladan manusia dalam menyembah atau mengabdi, atau menjalani kehidupan di dunia dan akhirat kepada Allah yang Maha Pencipta/ Al Khalik. Manusia sebagai yang diciptakan/Makhluk mengemban sebagai makhluk khalifah di muka bumi atas makhluk lain. Manusia perlu tuntunan hidup, tujuan hidup, tata cara kehidupan agar dapat mencapai kehidupan yang hakiki, berakhlak mulia sebagai hamba Allah dengan contoh tauladan kehidupan yaitu lahirnya para Nabi dan Rasulullah sampai kepada nabi –rasulullah akhir jaman: yang bernama Muhammad yang lahir dari Ibu bernama Siti Aminah dan bapaknya Abdullah, Hari kelahiran Rasulullah diyakini oleh sebagian besar umat Islam Indonesia terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awal di tahun gajah.

Hakekatnya makna maulid nabi bagi seorang muslim saat ini adalah suatu qonditio sine qua non- lahirnya sang –sosok tauladan yang mutlak - harus –tidak bisa tidak dalam kehidupan seorang muslim, dengan kata lain yang lain tidak bisa menjadi tauladan dalam menjalani hidup dan kehidupan bermasyarakat,dan kepada Allah ( ber-muamalah dan ber-ubudiyah); tidak ada pilihan dalam contoh manusia dalam kehidupan kita saat dan sampai akhir jaman (kiamat) selain Rasulullah Nabi Muhammad SAW.

Betapa tinggi dan mulianya sosok manusia bernama Nabi Muhammad SAW yang mengemban wahyu Allah / sebagai Rasulullah bagi kita- manusia yang beriman dan beribadah kepada Allah SWT. karena patutlah kita bersyukur atas nikmat Allah, beliau menjadi sosok tauladan dalam berakhlak mulia, menjadi tafsir Alquran berjalan atau Alquran yang hidup bagi manusia pada jamannya dan menjadikan sunnah rasul tata hidup-sejarah beliau bagi yang hidup sampai sekarang ini dan kemudian.

Esensinya kita butuh dan membutuhkan selalu tauladan hidup dan kehidupan dari manusia yang baik, sukses dalam kehidupan dunia dan akhirat, sukses hubungannya dengan Tuhan yang Maha penciptanya. Kita butuh “ sosok –sosok tauladan yang lahir dan lahir “ dalam kehidupan kita tetapi dengan hakekat yang abadi pada satu tujuan, konsisten, istiqomah dalam ketundukan dan kepatuhannya kepada Allah SWT, bukan sebaliknya yang berubah hakekatnya dan menjadi “chaos: bagi kita sendiri. Kehilangan tujuan hidup hakiki.

Hanyalah Kebaikan dan Kasih Sayang Allah SWT kepada kita , sebagai manusia, Allah SWT menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai sosok tauladan yang konstan, abadi sampai akhir jaman.
Dan sekarang….mari kita renungkan, patutkah nabi yang dijadikan “kekasih Allah” direndahkan, dihinakan, dicaci maki, tidak ditauladani oleh manusia yang mengaku beriman atau percaya kepada Tuhan ? kecuali mereka yang mengaku pengikut Syethan atau Atheis.

Semoga kita selalu diberi hidayah dan berkah,atas nikmat berislam dengan mentauladani Nabi Muhammad SAW dalam menjalani Hidup dan Kehidupan ini. 

Allah menunjukkan sifat Rasulullah dalam firman-Nya:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ


Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin (QS. At-Taubat : 128)

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)


Selasa, 01 Januari 2013

MAKNA TAHUN BARU


Hari INI , mulai HITUNG langkah- kembali AMAL BAIK....mulai menghitung NIKMAT ALLAH, berbagi, berbuat kebaikkan kepada orang tua, anak, saudara, sesama manusia, hewan, lingkungan/alam...... ATAU ... HARI INI MULAI AMAL BURUK ?
 
berganti  tahun berganti waktu,  berganti hitungan usia, perjalanan   aktivitas, produktivitas, sejarah kehidupan orang, masyarakat, bangsa, peradaban manusia. hitungan  waktu kalender  kehidupan manusia  peradapan manusia  sejak  bangsa  indian kuno, maya, mesir, hindu, cina, Kristen, sampai  Islam  memberi  makna  filosofi  tentang  makna waktu bagi umat-umat pemeluknya, pentingnya waktu dalam "ritual keagamaan" atau dalam kehidupan dan kematian.
Kehebohan  "Kiamat 21-12-2012"  berdasarkan  perhitungan kalender bangsa Maya dan ber-akhirnya  tahun yang dimaknai sebagai  hari kiamat , disertai  perkiraan ilmiah  kemungkinan  tumbukan asteroid, benda langit  pada saat  tanggal 21 desember 2012.  Ternyata kehebohan  “dunia”  tersebut  tidak  terjadi, berapa dari mereka  yang percaya  telah mempersiapkan   “kematian” dan juga menghindari”kiamat”  dengan cara –cara  yang “aneh”, walaupun kemudian ternyata  perbuatan mereka tersebut suatu yang sia sia dan menggelikan .
 
Mengapa mereka percaya  hari kiamat dan saat terjadinya dengan perhitungan waktu? Mengapa  hampir sebagian manusia ikut  heboh  terpengaruh “issue” yang berdasarkan  kalender  bangsa Indian kuno tersebut atau kepercayaan bangsa Indian kuno ? sedangkan  mereka bukan  pengikut kepercayaan atau pengguna kalender  bangsa  Indian, atau mereka  menganggap  perhitungan kalender bangsa  maya yang  paling akurat- mengukur   umur alam raya sehingga sepatutnya  dipercaya.
 
Tahun  Masehi, Tahun  Imlek, Tahun Jawa, Tahun Hindu,….. sampai  Tahun Hijriah sudah   dikenal dan menjadi pedoman bagi pengikutnya. System  yang bermula  dan mempunyai  sejarah penanggalan,  mempunyai dasar filosofi /  akarnya penentuan tahun, apakah berdasarkan  bulan atau peredaran matahari  dan tujuannya.
 
Seperti misal Tahun Masehi berdasarkan  peredaran matahari   dan di mulai  awal tahun pada saat berakhir musim salju/dingin/ beku ke musim semi atau panas. Atau  konon  memperingati  hari dewa matahari atau symbol  dari dunia gelap menjadi terang. Begitu  juga  hari raya  Imlek  penentuan didasarkan filosofi Hewan/ Alam.
 
Berbeda  sekali  filosofi Tahun Hijriah sebagai tahun islam yang berdasarkan peredaran bulan, ditentukan dan dimulai dari peristiwa Hijriah Rasulullah Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin  berhijriah dari Mekkah ke Medinah karena perintah Allah, sebagai cara konsolidasi dalam perjuangan dakwah dari  serangan fisik-psikologis atau penentangan kaum musyrikin mekkah  terhadap Nabi Muhammad SAW yang  pengemban wahyu Allah  atau ajaran  islam kepada  manusia dan pengikutnya; peristiwa  tersebut oleh Khalifah Umar bin khatab  di jadikan awal tahun Islam; tahun  yang  berarti berhijriah dari  jaman jahiliyah ke jaman Islam/Keselamatan/Pencerahan/Pembebasan dari yang bathil; Tahun baru Hijriah, 1 Muharam  di maknai  sebagai  kembali kepada  kehidupan  yang Benar/Haq  / Pencerahan/Keselamatan/ Kembali ke Fitrah Manusia  sebagai muslim atau makhluk Allah atau Syareat Allah.
Oleh  karena itu bagi seorang muslim, merayakan awal tahun baru  merupakan evaluasi ibadah – amalan sholeh kepada Allah SWT, menjadikan langkah awal jalan “berhijriah” - dari perbuatan  bathil/jahiliyah ke jalan kebenaran/Haq yang diredhoi Allah SWT. Konsolidasi  keimanan, ketahuidan  setiap tahun, perubahan perubahan “hijriah” menjadi insan yang mukhsin atau nafs muthmainah. Bukan   sekedar   kesejahteraan  fisik –bathin/mental  keduniaan saja, tapi juga  kesejahteraan  akhirat/ukhrowi.
 
Mudah mudahan, waktu  menjadi sangat  bermakna –dalam  detik detak detup nafas kita , menjadi “roda  berhijriah”  menuju insan yang menghamba  pada “dunia dan akhirat” karena Allah SWT, sesuai yang Allah berikan  “sebagai tauladan manusia sampai akhir jaman” yaitu Rasulullah Nabi Muhammad SAW dengan  mengikuti “ jalan Hidup” yang dituntun oleh kitab suci Al Quran.


Jumat, 25 Mei 2012

Becoming to Muslim

Mengharukan, melihat, menyaksikan....proses seorang menjadi muslim (mualaf). Setelah bersyahadat seorang wanita menangis tersedu-sedu dan dikatakan; "masuknya seorang menjadi islam dan siapa-siapa saja, dengan bersyahadat bukan karena siapa-siapa, bukan karena Nabi Muhammad, Kyai, Ulama, Pendakwah, tetapi karena orang itu sendiri yang mendapatkan HIDAYAH dari ALLAH SWT, bahkan Nabi Muhammad SAW, tidak bisa meng-islamkan pamannya Abu Thalib sampai akhir hayatnya; apalagi dengan rayuan atau iming-iming hadiah agar mau pindah agama masuk islam". 

Inilah beda dakwah islam dengan agama lain. Tidak ada paksaan dalam beragama islam, ketika hidayah Allah datang menjadikan seorang menjadi muslim, maka jelas jalan hidupnya memilih syareat islam /syareat ALLAH, tidak ada syareat yang lain selain syareat Allah dan menjadikan Muhammad sebagai contoh hidup dalam menjalankan syareat Allah sehari-hari. "Islam indentik dengan hidayah Allah", bukan simbol atau atribut atau kemasan. "orang yang mendapat hidayah Allah " menjadi "islam" -berarti memilih sikap, cara, perilaku hidup -konsisten pada prinsip / dasar-dasar yang telah Allah tuntunkan dalam Al Quran melalui akhlaq Rasulullah Muhammad SAW dan diwarisi turun temurun oleh orang-orang sholeh sampai akhir zaman sebagai "jalan hidupnya"(way of life). 

Bagaimana seorang Mualaf, tampak lebih konsisten, istiqomah dalam menjalankan syareat islam dari kebanyakan mereka yang "islam turunan" tetapi belum pernah bersyahadat dengan "jiwa fitrahnya" atau pergolakan bathin dalam mencari hidayah Allah? Menjadi Muslim bagi seorang Mualaf adalah suatu proses revolusi -perubahan total indentitas "lama-menjadi baru" dengan segala aspek cara-sikap-perilaku hidupnya "menjadi" -cara pandang hidup," way of life" manusia / ilah ilah lain menjadi "Allah yang Maha Esa" dengan mentauladani rasul-rasul-Nya, terutama Muhammad SAW "saja"-tanpa pilihan lain. Oleh karena itu sudah konsekuesi logis, perubahan hidup yang berbeda dari hidup "style/gaya bukan islam dan menjadi islami" pada keseharian seorang mualaf, yang tampak seperti, seolah-olah lebih konsisten dari kebanyakkan orang - yang mengaku muslim, tapi tidak konsisten -karena mempraktekan gaya hidup yang tidak islami. Suatu hal yang luarbiasa dan mengharukan, "kesabaran,kesholihan seorang mualaf" menjadi contoh bagi mereka yang sudah lama "menjadi muslim" dalam menjalankan hidupnya, betapa sebaliknya sering mereka melihat contoh yang tidak sesuai syareat islam dalam umat islam, namun Subhanallah,...mereka memahami yang Haq dan Bathil.. mereka belajar islam untuk di praktekkan dalam kehidupanya.

Pengalaman penulis, yang sejak lahir menjadi muslim dan belajar agama di sekolah negeri dari TK,SD,SMP,sampai SMA, baru merasakan bersyahadat "yang sebenarnya dan menjadi muslim" setelah menjadi Mahasiswa - setelah melalui proses lama yang bergejolak, berdiskusi, dengan mengkaji keislaman secara informal-intens. Sepertinya hidayah Allah itu datang, seolah -olah seperti menjadi manusia yang baru lahir,- tercerahkan - menjadikan hati/qolbu, akal, pikiran terpatri kepada "kebenaranNya" melalui AL QURAN dan HADIST. Hidup lebih tenang, optimis, lebih ringan tanpa beban menyesak dada, semua berjalan seolah-olah Allah yang merencanakan dan mengaturNYA. Semua datang dan kembali dari dan kepada NYA. Penyerahan diri hanya kepada Allah SWT saja,  menjadikan hidup ini lebih terasa ringan, mudah, optimis, bahagia, bersyukur atas segala nikmatNya. Betapa kita sangat tergantung kepadaNya. 
Allahu akbar...inilah Dienullah yang HAQ.



Tony Blair's sister in law converts to Islam, gives inspiring speech

They Chose Islam 2011 - Nicole Queen


becoming to muslim


Minggu, 08 April 2012

105. QUR’AN SURAH CV : AL -FIIL


XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  
ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.
105.  QUR’AN SURAH  CV :   AL -FIIL
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah ini hanya terdiri dari satu topic. Nama surah terdapat pada ayat pertama yang menunjuk pada suatu kejadian penyerangan kota Mekah oleh pasukan gajah dari Afrika. Negara Nasrani.Dilanjutkan bahwa akhirnya penyerangan itu gagal, karena Tuhan menolongnya melalui burung burung yang menghujani mereka dengan batu batu kecil. Tujuan penyerangan itu akan merusak atau memindahkan Ka’bah dari Mekah.
TEMA  SURAH :
Disini suatu kejadian sosial-politis dihubungkan dengan fenomena alam dan pertolongan Tuhan.
SUDUT PANDANG SURAH :
Perbedaan pandangan antara pandangan WAHYU dan manusia terhadap suatu fenomen sosial-politik. Fenomena alam digunakan sebagai “penyambung”. Ini berdasarkan perbedaan landasan yang digunakan manusia dan wahyu dalam menginterpretasi suatu kejadian. Fenomena kehidupan menurut manusia : suatu interaksi antara manusia dan manusia/Alam, sedangkan menurut wahyu: suatu intervensi manusia terhadap ‘AMR Tuhan.
106.  QUR’AN SURAH  CVI :   AL-QURAISY
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah ini juga terdiri dari satu topik, yang menceriterakan kebiasaan hidup kaum Quraisy [penyembah berhala], ialah mondar-mandir ke negeri lain untuk berdagang /mencari hidup. Hendaklah kaum Quraisy itu menyembah Tuhannya Ka’bah yang memberi makan pada mereka, sehingga tidak mengalami kelaparan dan mengamankan mereka dari ketakutan.
TEMA  SURAH:
Seperti surah sebelumnya disini dihubungkan antara aktivitas sosial manusia dengan pertolongan Tuhan.
SUDUT PANDANG SURAH:
Manusia harus sadar, bahwa dia itu makhluk, sehingga semua yang dihasilkan manusia itu pasti ada hubungannya dengan ketergantungannya pada Tuhan. Mengulangi, bahwa tiap aktivitas manusia berarti meng-intervensi terhadap cara Tuhan memelihara makhluk-Nya.
107.  QUR’AN SURAH  CVII :  AL- MAA’UUN/SESUATU YANG BERGUNA
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat penutup surah, sekaligus penutup topik sentralnya karena surah ini hanya terdiri dari satu topik. Surah dibuka dengan ayat : Apakah manusia mengetahui siapa yang dapat disebut mendustakan agama? Dilanjutkan dengan jawabannya dengan 5 sifat orang yang termasuk mendustakan agama. Yang terakhir ialah : mereka yang enggan memberi bantuan yang berguna.
TEMA SURAH :
5 sifat manusia yang dikategorisasikan dalam mendustakan agama ialah:
R  Orang yang menghardik anak yatim
R  Tidak menganjurkan memberi makan orang miskin
R  Orang yang shalat , tetapi lalai dalam shalatnya
R  Orang orang yang ria dan
R  Orang yang enggan memberi bantuan yang berguna
3 dari 5 sifat itu mengenai kehidupan bermasarakat, 1 hubungan manusia langsung dengan Tuhannya dan satu hubungan manusia dengan dirinya. Dalam hidup seorang manusia selalu berhubungan dengan DIRI-nya, TUHAN-nya dan sesama MANUSIA.

SUDUT PANDANG SURAH :
Beragama meliputi semua dimensi kehidupan manusia, ialah dimensi spiritual/keyakinan/akidah, dimensi mental/moral akhlaq syare’at ubudiyah dan dimensi sosial/syare’at muamalah.
108.   QUR’AN SURAH  CVIII :  AL-KAUTSAR/NIKMAT YANG BANYAK
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka topik, sekaligus surah yang menyatakan bahwa: Tuhan telah memberi manusia nikmat yang banyak. Kemudian dilanjutkan bagaimana manusia harus menyikapi keadaan tersebut: mendirikan shalat dan siap berkorban. Dilanjutkan dengan hasilnya ialah: terputusnya tali kebencian mereka yang membencinya.
TEMA  SURAH :
Terputusnya tali kebencian antar manusia itu dapat diciptakan dengan mendirikan shalat dan berkorban dalam arti memperhatikan kepentingan sesamanya atau kepentingan pribadi dikalahkan dengan kepentingan umum, karena kesadaraannya bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan nikmat yang banyak pada manusia.
SUDUT PANDANG SURAH :
Tali kebencian merupakan sebab kerusakan kehidupan manusia bersama. Jalan keluarnya ialah mengikis fachsya dan mungkar (shalat) dan menciptakan meratakan nikmat yang diberikan Tuhan diantara semua manusia (berkorban = melepaskan sebagian haknya, yang dimetaforikan dengan mengorbankan kepentingan pribadinya terhadap kepentingan umum).


By  A Baghowi Bachar

(Posting  8 April 2012/6 Jumada I  1433 H)


Sabtu, 18 Februari 2012

8. QUR’AN SURAH XCVIII : AL-BAYYINAH/BUKTI YANG NYATA

XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.

98.     QUR’AN SURAH  XCVIII :  AL-BAYYINAH/BUKTI YANG NYATA
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama, topik pertama (1-5) yang isinya merupakan suatu pernyataan, bahwa diantara orang-orang ahli kitab dan orang-orang kafir itu baru mau beriman bila telah datang suatu bukti. Dilanjutkan dengan keterangan bahwa bukti itu telah didatangkan Tuhan ialah seorang Rosul yang membacakan lembaran lembaran wahyu yang disucikan. Namun manusia justru menjadi terpecah belah, sedangkan mereka hanya disuruh:
R  Menyembah Allah, menerima tuntunannya,
R  Mendirikan sholat dan membayarkan zakat.
Topik ditutup dengan pernyataan itulah agama yang lurus.
TEMA  SURAH :
Seharusnya bukti itu meyakinkan manusia, namun manusia bahkan menjadi terpecah belah karenanya, meskipun apa yang harus diyakini itu sangat sederhana. Mengapa ? Karena perilaku manusia itu hanya mengikuti nafs-nya, bukan akal dan ilmunya.
SUDUT PANDANG SURAH:
Manusia cenderung mengikuti KEINGINANNYA SENDIRI/NAFSUNYA bukan akalnya. Namun manusia tidak akan menerima tuduhan ini, karena nafsunya itu ditutup dengan permainan akalnya.
99.     QUR’AN SURAH XCIX : AL-ZALZALAH/KEGONCANGAN
TOPIK  SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama ,topik pertama (1-5) yang melukiskan apa yang terjadi pada hari kiamat. Dilanjutkan bahwa apa yang terjadi itu karena Tuhan telah memerintah kan bumi untuk mengeluarkan segala isinya.
TEMA SENTRAL SURAH :
Kejadian berantakannya bumi pada hari kiamat, didiskripsikan sebagai alam yang mengikuti perintah Tuhannya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Kiamat itu karena KEHENDAK-NYA, bukan oleh sebab sebab lain, misalnya ulah manusia atau proses alamiah. Dengan demikian maka kiamat diciptakan TIDAK SIA-SIA, artinya pasti mengandung makna.
100.  QUR’AN SURAH  C :  AL-’AADIYAAT/KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama, topik pertama (1-8), yang digunakan sebagai sumpah untuk menguatkan pernyataan, bahwa: manusia itu ingkar, tidak bersyukur pada Tuhannya dan manusia itu sungguh akan menjadi saksi sendiri akan keingkarannya dan sesungguhnya manusia itu sangat bachil, karena lobanya pada harta.
TEMA  SURAH :
Topik ini menjelaskan kecenderungan manusia yang pelukisannya seperti Nafsu yang menguasainya, seperti kuda perang yang dipacu. Dan apa sebab utamanya manusia menjadi demikian ? karena LOBA akan HARTA. Bukankah fenomena social-budaya yang ada membernakan diskripsi itu ?
SUDUT PANDANG SURAH :
Manusia haruslah menyadari memiliki kecenderungan yang dapat merusak kehidupannya ini, karena harus mempertanggung-jawabkan ulahnya. Kecenderungan ini bukan alasan untuk membela diri.

101.  QUR’AN SURAH  CI :  AL-QAAR’IAH/HARI KIAMAT
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama, topik pertama surah (1-5) yang menerang-kan tentang fenomena hari kiamat yang dahsyat.
TEMA  SURAH :
Kedahsyatan hari kiamat yang tidak terbayangkan oleh manusia.
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah memandang kehidupan dari sisi akhirnya, yang kebanyakan manusia mempercayainya tetapi TIDAK MENYADARI, sehingga tidak diperhitungkan dalam membina hidupnya. Percaya dan sadar, jaraknya jauh. Percaya adanya tanpa tahu maknanya tidak member arti apa apa……..tidak merasa tersentuh, hanya menyaksikan fenomenanya …… dari suatu jarak!
102.  QUR’AN SURAH  CII :  AT-TAKATSUR/BERMEGAH – MEGAH
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama, topik pertama (1-3), sebagai satu peringatan yang sangat keras, bahwa perlombaan memperbanyak kekayaan  duniawi ini akan MELALAIKAN manusia akan makna hidupnya. Ayat penutup topik memperkuat lagi dengan kata kata : jangan begitu, nanti kamu akan mengetahuinya.
TEMA  SURAH :
Perlombaan memperkaya diri dalam aspek kehidupan dunia itulah yang melalaikan manusia akan tujuan hidupnya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Sangat berbahaya bagi manusia bila ia berlomba memperkaya kehidupan dunianya. Suatu peringatan yang banyak diabaikan manusia.
103.  QUR’AN SURAH  CIII  :  AL-’ASHR/MASA
TOPIK SENTRAL SURAH :
Topik sentral surah hanya terdiri dari 2 ayat dan nama judul surah digunakan sebagai sumpah untuk menyatakan bahwa manusia  SELALU DALAM KERUGIAN. Masa itu menunjuk pada waktu dan waktu itu dinamis, ada perjalanannya, ada permulaan dan ada akhir.
TEMA  SURAH :
Tema sentral surah ialah suatu pernyataan bahwa dalam perjalanan waktu manusia selalu merugi.

SUDUT PANDANG SURAH :
Disini keadaan manusia dihubungkan dengan perjalanan waktu. Ditegaskan bahwa manusia SELALU dalam keadaan MERUGI. Mengapa ? Waktu itu selalu berjalan maju, seperti pepatah Yunani mengatakan PANTA  RHEI, semua mengalir. Tidak ada jalan kembali! Waktu hanya tahu gerak maju, tidak mengenal gerak mundur. Manusia terbawa dalam arus itu kearah KEMATIAN/AKHIR PERJALANAN, titik tutup buku bagi seseorang. Al-Qur’an mengartikan waktu sebagai suatu RUANG GERAK, kesempatan yang harus dipergunakan/diisi, tidak boleh dibiarkan kosong/tidak diisi. Bagaimana seseorang harus me-manage waktu ? Inilah  SOAL yang diberikan Tuhan.
104. QUR’AN SURAH  CIV :  AL-HUMAZAH/PENGUMPAT
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah, sekaligus pembuka topik pertama yang menyatakan dengan tegas: Celakalah setiap pengumpat lagi pencela; yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya; dia mengira bahwa hartanya dapat menyelamatkannya. Topik ditutup dengan pernyataan: Tidak, sekali-kali tidak. Sesungguhnya ia akan dilempar kedalam huthamah (ayat 1-4).
TEMA  SURAH :
Kata atau sifat pengumpat dan pencela dihubungkan dengan mengumpulkan harta kekayaan (hubbun dunia) dan dinyatakan keduanya akan celaka, tidak dapat menyelamatkan manusia. Peringatan dan ancaman bagi manusia !
SUDUT PANDANG SURAH :
Sifat mengumpat dan mencela disejajarkan dengan pengumpulan harta. Keduanya  merusak hubungan antar manusia, keduanya menghidupkan fachsya dan mungkar. Iri, dengki dan perbuatan fasek. Mengumpat dan mencela itu tidak akan menghasilkan apa-apa, kecuali menyakiti diri.
  
By  A Baghowi Bachar

(Posting 18 Februari 2012/26  Rabi' I 1433 H)


Sabtu, 03 Desember 2011

Artis Terkenal Filipina convert to Islam

Seorang artis terkenal Filipina telah memeluk agama Islam barubaru ini, dan Islamlah yang mendamaikan hidup dan batin kata nya.
“Islam adalah jalan hidup saya sekarang. Selama ini, saya hidup penuh dengan dosa. Namun, Allah SWT memanggil saya pada Islam. Kini, aku begitu dekat dengannya,” tambahnya lagi. Sebagaimana yang dilaporkan abs-cbnnews, 22/11.
Queenie Padilla juga berkata, ayahnya antara orang yang paling sabar dan gembira dengan keputusan yang dibuatnya. Beliau juga berkata “Dalam dunia hiburan seolah berada di persimpangan jalan, antara bahagia dan tersesat”.
Queenie Padilla juga merupakan anak kepada aktor Robin Padilla, “Ayah begitu gembira menunggu saya mengucapkan dua kalimat syahadat,” katanya lagi. Malah dia membuat keputusan untuk mengerjakan haji. Baginya, ibadah haji membantu menyempurnakan keIslamannya.
Beliau juga menyatakan ia mempunyai kewajipan untuk menyebarkan Islam dan ingin bersama sama menikmati keindahan Islam itu bersama masyarakat Filipina khas nya. Beliau menyatakan itu ketika berada di Mekah.
Sekarang beliau sudah berubah dengan mendalami Islam serta berpakaian menutup aurat dan berjilbab. “Saya harus berubah sepenuhnya untuk hidup dengan cara Islam,” tegasnya. Alhamdulillah.http://www.youtube.com/watch?v=YNlN0wlKE8k