Translate
Telusuri via Blog Ini
Kamis, 11 April 2013
RENUNGAN
Rumus AMAL SHOLEH = Mengabdi kepada ALLAH SWT + Bermanfaat bagi semua makhluk = manusia, lingkungan = keluarga, orang lain. etc. + Profesional.
Paradigma amal sholeh adalah Ungkapan Syukur kepada ALLAH SWT atas nikmat sebagai makhluk-Nya dan segala Pemberian, Ilmu -Pengetahuan, dan menjadikan manusia Penguasa(pemimpin) di muka bumi atas makhluk lain ciptaan-Nya- alam, makhluk halus, hewan, tumbuhan, dan diberi kemampuan mengolah dan mengatur untuk kehidupan semua makhluk.
" FA BI AYYI ALA IROBBIKUMA TUKADZDZIBAN " (So which of the favors of your Lord would you deny?) " Nikmat Tuhan Yang manakah yang engkau dustakan?".(QS.55:Ar Rahman)
Minggu, 10 Maret 2013
AL QURAN
XIV. MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK
ATAU SUB-TOPIK SENTRAL YANG MEWARNAI
KANDUNGAN TIAP SURAH ATAU MENENTUKAN
TEMA SURAH.
109. QUR’AN SURAH CIX :
AL-KAAFIRUUN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada pembuka surah, sekaligus
topik sentralnya ( 1-5), yang menjelas kan bagaimana seharusnya sikap umat Islam terhadap orang-orang
kafir terhadap penyembahan terhadap Tuhan masing masing.
TEMA SURAH :
Karena Tuhan yang disembah itu BERBEDA,
maka sikap kita harus tegas, ialah kita TIDAK
menyembah TUHAN-MU dan kamu tidak menyembah
Tuhanku. Ini bukan dalam pengertian toleransi, apalagi kompromi, tapi menarik
garis batas yang tegas yang menyatakan TIDAK ADANYA
KESAMAAN.
SUDUT PANDANG SURAH :
Sikap orang muslim terhadap orang orang kafir lahir dari PERBEDAAN TUHAN YANG DISEMBAH dan bukan dari masalah
masalah pribadi.
110. QUR’AN SURAH CX :
AN-NASHR/PERTOLONGAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah
hanya terdiri dari satu topik dan nama judul surah terdapat pada ayat pertama,
yang menegaskan: bila
pada suatu waktu pertolongan Tuhan datang dan kita melihat manusia
berdujun-dujun masuk agama Allah, maka kita
wajib bertasbigh dan mohon ampun, karena Tuhan Maha Penerima taubat. Jadi
bukan kebanggaan, atau merasa lebih !
TEMA SURAH :
Justru
datangnya pertolongan
Tuhan harus disambut dengan tasbigh dan mohon ampun.
SUDUT PANDANG SURAH :
Tiap
datangnya pertolongan Tuhan, yang berarti tiap kemenangan yang kita capai, kita
wajib menyambut dengan TASBIGH dan MOHON AMPUN.
Ini berarti DILARANG
SOMBONG, justru harus LEBIH MERENDAHKAN
DIRI.
111. QUR’AN SURAH CXI :
AL -LAHAB
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 3. ayat penutup
dari topik sentral surah (1-3 )
Pada ayat pertama juga terdapat
nama itu , tetapi digunakan sebagai nama alias/nama ejekan seseorang yang
paling gigih menentang Nabi. Manusia semacam inilah yang akan diazab dineraka,
dalam api yang bergejolak. Dan bagi dia harta benda dan apa yang diusahakannya
tidak ada gunanya sama sekali.
TEMA SURAH :
Bagi
manusia yang menentang Nabi semua apa yang diusahakan tidak berguna sama
sekali.
SUDUT PANDANG SURAH :
Ukuran apa yang diusahakan manusia untuk menilai (bukan
mengadili) manusia lain, ialah SIKAP-nya
terhadap Nabi dan ajarannya.
112. QUR’AN SURAH CXII :
AL-IKHLASH
TOPIK SENTRAL :
Nama judul surah tidak terdapat dalam satu ayat-ayatnya,
sehingga kita harus mencari salah satu ayatnya yang mampu memberi makna pada
nama judulnya. Kapan kita ini bisa bersikap IKHLASH
atau TULUS ? Manusia itu bisa
tulus, bila ia tahu dan sadar akan kemutlakan ketergantungannya pada sesuatu.
Hanya terhadap sesuatu itu dia bisa tulus. Ayat yang paling dekat dengan
pengertian ini ialah ayat ke 2: Allah adalah Tumpuan segala harapan !
TEMA SURAH :
Sifat Tuhan yang bagaimana yang dapat membuat manusia
ikhlas menundukkan dirinya pada-Nya ? Ialah Dia yang merupakan satu satunya
tumpuan harapan manusia. Ketergantungan mutlaknya manusia pada Allah.
SUDUT PANDANG SURAH :
Tauhid, peng-Esa-an Tuhan, bukan untuk Tuhan tetapi
untuk kepentingan manusia. Ilmu inilah yang mampu melahirkan ke-tulusan manusia
dalam menundukkan dirinya pada-Nya.
113. QUR’AN SURAH CXIII :
AL-FALAQ/WAKTU SUBUH
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah
ini hanya terdiri dari satu Topik, dan nama judul surah terdapat pada ayat
pembukanya dan digunakan sebagai salah satu sifat Tuhan, pada siapa manusia patut
memohon perlindungannya terhadap: kejahatan makhluq-Nya; kejahatan gelapnya malam; kejahatan
para penyihir dan kejahatan pendengki waktu ia dengki.
TEMA SURAH :
Paling
patut untuk menjadi pelindung ialah Dia yang menguasai sumber bahaya, ialah Dia yang
MENCIPTAKANNYA.
SUDUT PANDANG SURAH :
Apakah kita patut mencari pelindung selain yang menciptakan sumber bahaya yang
mengancam diri kita manusia ?
114. QUR’AN SURAH CXIV :
AN-NAAS
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah terdapat pada semua ayat ayatnya kecuali pada ayat ke 4. Nama judul
digunakan untuk menunjuk nama Tuhan yang ada hubungannya dengan manusia dan siapa yang
menghadapi bahaya dan darimana datangnya bahaya.
TEMA SURAH :
Seperti
surah terdahulu, untuk memilih pelindung ialah Dia yang menguasai sumber bahaya dan
yang mengetahui darimana asalnya bahaya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah ini menujukkan SIAPA YANG
PATUT menjadi PELINDUNG MANUSIA dan
menunjukkan bahwa BAHAYA YANG MENGANCAM MANUSIA
itu berasal dari JIN dan MANUSIA. Artinya datang
dari luar dan dalam diri manusia.
”INILAH
TEMA
TEMA SURAH DAN SUDUT PANDANG SURAH SURAH
AL-QUR’AN, BUKAN KANDUNGAN SURAH.
DARI TEMA TEMA SURAH INI MANUSIA
AKAN MENDAPATKAN PENGETAHUAN TENTANG CARA
AL-QUR’AN MEMANDANG KEHIDUPAN SEHINGGA MANUSIA AKAN MENDAPATKAN PENGERTIAN, PEMAHAMAN DAN MOTIVASI YANG
AKAN MELAHIRKAN KEKUATAN UNTUK MENUNDUKKAN DIRI SECARA KAFFAH PADA KEHENDAK
ILAHI.
KANDUNGAN SURAHLAH NANTI YANG AKAN
MEMBEBERKAN BENTUK KEHENDAK ILAHI-NYA.”
By A Baghowi Bachar
XIV. MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK
ATAU SUB-TOPIK SENTRAL YANG MEWARNAI
KANDUNGAN TIAP SURAH ATAU MENENTUKAN
TEMA SURAH.
1.
QUR’AN SURAH CIX :
AL-KAAFIRUUN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada pembuka surah, sekaligus
topik sentralnya ( 1-5), yang menjelas kan bagaimana seharusnya sikap umat Islam terhadap orang-orang
kafir terhadap penyembahan terhadap Tuhan masing masing.
TEMA SURAH :
Karena Tuhan yang disembah itu BERBEDA,
maka sikap kita harus tegas, ialah kita TIDAK
menyembah TUHAN-MU dan kamu tidak menyembah
Tuhanku. Ini bukan dalam pengertian toleransi, apalagi kompromi, tapi menarik
garis batas yang tegas yang menyatakan TIDAK ADANYA
KESAMAAN.
SUDUT PANDANG SURAH :
Sikap orang muslim terhadap orang orang kafir lahir dari PERBEDAAN TUHAN YANG DISEMBAH dan bukan dari masalah
masalah pribadi.
2.
QUR’AN SURAH CX :
AN-NASHR/PERTOLONGAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah
hanya terdiri dari satu topik dan nama judul surah terdapat pada ayat pertama,
yang menegaskan: bila
pada suatu waktu pertolongan Tuhan datang dan kita melihat manusia
berdujun-dujun masuk agama Allah, maka kita
wajib bertasbigh dan mohon ampun, karena Tuhan Maha Penerima taubat. Jadi
bukan kebanggaan, atau merasa lebih !
TEMA SURAH :
Justru
datangnya pertolongan
Tuhan harus disambut dengan tasbigh dan mohon ampun.
SUDUT PANDANG SURAH :
Tiap
datangnya pertolongan Tuhan, yang berarti tiap kemenangan yang kita capai, kita
wajib menyambut dengan TASBIGH dan MOHON AMPUN.
Ini berarti DILARANG
SOMBONG, justru harus LEBIH MERENDAHKAN
DIRI.
3.
QUR’AN SURAH CXI :
AL -LAHAB
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 3. ayat penutup
dari topik sentral surah (1-3 )
Pada ayat pertama juga terdapat
nama itu , tetapi digunakan sebagai nama alias/nama ejekan seseorang yang
paling gigih menentang Nabi. Manusia semacam inilah yang akan diazab dineraka,
dalam api yang bergejolak. Dan bagi dia harta benda dan apa yang diusahakannya
tidak ada gunanya sama sekali.
TEMA SURAH :
Bagi
manusia yang menentang Nabi semua apa yang diusahakan tidak berguna sama
sekali.
SUDUT PANDANG SURAH :
Ukuran apa yang diusahakan manusia untuk menilai (bukan
mengadili) manusia lain, ialah SIKAP-nya
terhadap Nabi dan ajarannya.
4.
QUR’AN SURAH CXII :
AL-IKHLASH
TOPIK SENTRAL :
Nama judul surah tidak terdapat dalam satu ayat2nya,
sehingga kita harus mencari salah satu ayatnya yang mampu memberi makna pada
nama judulnya. Kapan kita ini bisa bersikap IKHLASH
atau TULUS ? Manusia itu bisa
tulus, bila ia tahu dan sadar akan kemutlakan ketergantungannya pada sesuatu.
Hanya terhadap sesuatu itu dia bisa tulus. Ayat yang paling dekat dengan
pengertian ini ialah ayat ke 2: Allah adalah Tumpuan segala harapan !
TEMA SURAH :
Sifat Tuhan yang bagaimana yang dapat membuat manusia
ikhlas menundukkan dirinya pada-Nya ? Ialah Dia yang merupakan satu satunya
tumpuan harapan manusia. Ketergantungan mutlaknya manusia pada Allah.
SUDUT PANDANG SURAH :
Tauchid, peng-Esa-an Tuhan, bukan untuk Tuhan tetapi
untuk kepentingan manusia. Ilmu inilah yang mampu melahirkan ke-tulusan manusia
dalam menundukkan dirinya pada-Nya.
5.
QUR’AN SURAH CXIII :
AL-FALAQ/WAKTU SUBUH
TOPIK SENTRAL SURAH :
Surah
ini hanya terdiri dari satu Topik, dan nama judul surah terdapat pada ayat
pembukanya dan digunakan sebagai salah satu sifat Tuhan, pada siapa manusia patut
memohon perlindungannya terhadap: kejahatan makhluq-Nya; kejahatan gelapnya malam; kejahatan
para penyihir dan kejahatan pendengki waktu ia dengki.
TEMA SURAH :
Paling
patut untuk menjadi pelindung ialah Dia yang menguasai sumber bahaya, ialah Dia yang
MENCIPTAKANNYA.
SUDUT PANDANG SURAH :
Apakah kita patut mencari pelindung selain yang menciptakan sumber bahaya yang
mengancam diri kita manusia ?
6.
QUR’AN SURAH CXIV :
AN-NAAS
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah terdapat pada semua ayat ayatnya kecuali pada ayat ke 4. Nama judul
digunakan untuk menunjuk nama Tuhan yang ada hubungannya dengan manusia dan siapa yang
menghadapi bahaya dan darimana datangnya bahaya.
TEMA SURAH :
Seperti
surah terdahulu, untuk memilih pelindung ialah Dia yang menguasai sumber bahaya dan
yang mengetahui darimana asalnya bahaya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah ini menujukkan SIAPA YANG
PATUT menjadi PELINDUNG MANUSIA dan
menunjukkan bahwa BAHAYA YANG MENGANCAM MANUSIA
itu berasal dari JIN dan MANUSIA. Artinya datang
dari luar dan dalam diri manusia.
”INILAH
TEMA
TEMA SURAH DAN SUDUT PANDANG SURAH SURAH
AL-QUR’AN, BUKAN KANDUNGAN SURAH.
DARI TEMA TEMA SURAH INI MANUSIA
AKAN MENDAPATKAN PENGETAHUAN TENTANG CARA
AL-QUR’AN MEMANDANG KEHIDUPAN SEHINGGA MANUSIA AKAN MENDAPATKAN PENGERTIAN, PEMAHAMAN DAN MOTIVASI YANG
AKAN MELAHIRKAN KEKUATAN UNTUK MENUNDUKKAN DIRI SECARA KAAFFAH PADA KEHENDAK
ILAHI.
KANDUNGAN SURAHLAH NANTI YANG AKAN
MEMBEBERKAN BENTUK KEHENDAK ILAHI-NYA.”
By A Baghowi Bachar
Kamis, 24 Januari 2013
Maulid Nabi Muhammad SAW
Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: مولد النبي, mawlid an-nabī), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad. Perayaan Maulid Nabi diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi(1138-1193). Adapula yang berpendapat bahwa idenya justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem dan sekitarnya.(sumber Wikipedia)
Memaknai maulid nabi Muhammad SAW dahulu dan sekarang , bukan sekedar ceremonial saja, dengan acara-acara perayaan di mesjid atau tempat pengajian atau tradisi budaya sebagai kewajiban rutinitas atau bahkan ritual tahunan. Tetapi bagaimana maulid Nabi Muhammad SAW, menjadi momen “spiritual” - lahirnya jiwa kita untuk selalu menjadikan tauladan Rasulullah Nabi Muhammad SAW sepanjang hidup kita.
Secara teologis, Allah SWT “ memudahkan jalan” bagi manusia yang patuh dan tunduk atau beribadah kepada NYA pada massa jaman rasulullah dan sesudahnya dengan memberi contoh tauladan seorang manusia yang bernama “Muhammad” sekaligus mengajarkan berdasarkan wahyu Allah, sebagai nabi dan Rasulullah akhir jaman dengan meninggalkan dua warisan “tata cara kehidupan manusia kepada Allah SWT” berupa AL QURAN dan Al Hadist .
Lahirnya Nabi Muhammad SAW, bukan suatu kebetulan. Allah SWT sudah merencanakan sebagai sosok tauladan manusia dalam menyembah atau mengabdi, atau menjalani kehidupan di dunia dan akhirat kepada Allah yang Maha Pencipta/ Al Khalik. Manusia sebagai yang diciptakan/Makhluk mengemban sebagai makhluk khalifah di muka bumi atas makhluk lain. Manusia perlu tuntunan hidup, tujuan hidup, tata cara kehidupan agar dapat mencapai kehidupan yang hakiki, berakhlak mulia sebagai hamba Allah dengan contoh tauladan kehidupan yaitu lahirnya para Nabi dan Rasulullah sampai kepada nabi –rasulullah akhir jaman: yang bernama Muhammad yang lahir dari Ibu bernama Siti Aminah dan bapaknya Abdullah, Hari kelahiran Rasulullah diyakini oleh sebagian besar umat Islam Indonesia terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awal di tahun gajah.
Hakekatnya makna maulid nabi bagi seorang muslim saat ini adalah suatu qonditio sine qua non- lahirnya sang –sosok tauladan yang mutlak - harus –tidak bisa tidak dalam kehidupan seorang muslim, dengan kata lain yang lain tidak bisa menjadi tauladan dalam menjalani hidup dan kehidupan bermasyarakat,dan kepada Allah ( ber-muamalah dan ber-ubudiyah); tidak ada pilihan dalam contoh manusia dalam kehidupan kita saat dan sampai akhir jaman (kiamat) selain Rasulullah Nabi Muhammad SAW.
Betapa tinggi dan mulianya sosok manusia bernama Nabi Muhammad SAW yang mengemban wahyu Allah / sebagai Rasulullah bagi kita- manusia yang beriman dan beribadah kepada Allah SWT. karena patutlah kita bersyukur atas nikmat Allah, beliau menjadi sosok tauladan dalam berakhlak mulia, menjadi tafsir Alquran berjalan atau Alquran yang hidup bagi manusia pada jamannya dan menjadikan sunnah rasul tata hidup-sejarah beliau bagi yang hidup sampai sekarang ini dan kemudian.
Esensinya kita butuh dan membutuhkan selalu tauladan hidup dan kehidupan dari manusia yang baik, sukses dalam kehidupan dunia dan akhirat, sukses hubungannya dengan Tuhan yang Maha penciptanya. Kita butuh “ sosok –sosok tauladan yang lahir dan lahir “ dalam kehidupan kita tetapi dengan hakekat yang abadi pada satu tujuan, konsisten, istiqomah dalam ketundukan dan kepatuhannya kepada Allah SWT, bukan sebaliknya yang berubah hakekatnya dan menjadi “chaos: bagi kita sendiri. Kehilangan tujuan hidup hakiki.
Hanyalah Kebaikan dan Kasih Sayang Allah SWT kepada kita , sebagai manusia, Allah SWT menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai sosok tauladan yang konstan, abadi sampai akhir jaman.
Dan sekarang….mari kita renungkan, patutkah nabi yang dijadikan “kekasih Allah” direndahkan, dihinakan, dicaci maki, tidak ditauladani oleh manusia yang mengaku beriman atau percaya kepada Tuhan ? kecuali mereka yang mengaku pengikut Syethan atau Atheis.
Semoga kita selalu diberi hidayah dan berkah,atas nikmat berislam dengan mentauladani Nabi Muhammad SAW dalam menjalani Hidup dan Kehidupan ini.
Allah menunjukkan sifat Rasulullah dalam firman-Nya:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin (QS. At-Taubat : 128)
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)
Selasa, 01 Januari 2013
MAKNA TAHUN BARU
Hari INI , mulai HITUNG langkah- kembali AMAL BAIK....mulai menghitung NIKMAT ALLAH, berbagi, berbuat kebaikkan kepada orang tua, anak, saudara, sesama manusia, hewan, lingkungan/alam...... ATAU ... HARI INI MULAI AMAL BURUK ?berganti tahun berganti waktu, berganti hitungan usia, perjalanan aktivitas, produktivitas, sejarah kehidupan orang, masyarakat, bangsa, peradaban manusia. hitungan waktu kalender kehidupan manusia peradapan manusia sejak bangsa indian kuno, maya, mesir, hindu, cina, Kristen, sampai Islam memberi makna filosofi tentang makna waktu bagi umat-umat pemeluknya, pentingnya waktu dalam "ritual keagamaan" atau dalam kehidupan dan kematian.Kehebohan "Kiamat 21-12-2012" berdasarkan perhitungan kalender bangsa Maya dan ber-akhirnya tahun yang dimaknai sebagai hari kiamat , disertai perkiraan ilmiah kemungkinan tumbukan asteroid, benda langit pada saat tanggal 21 desember 2012. Ternyata kehebohan “dunia” tersebut tidak terjadi, berapa dari mereka yang percaya telah mempersiapkan “kematian” dan juga menghindari”kiamat” dengan cara –cara yang “aneh”, walaupun kemudian ternyata perbuatan mereka tersebut suatu yang sia sia dan menggelikan .Mengapa mereka percaya hari kiamat dan saat terjadinya dengan perhitungan waktu? Mengapa hampir sebagian manusia ikut heboh terpengaruh “issue” yang berdasarkan kalender bangsa Indian kuno tersebut atau kepercayaan bangsa Indian kuno ? sedangkan mereka bukan pengikut kepercayaan atau pengguna kalender bangsa Indian, atau mereka menganggap perhitungan kalender bangsa maya yang paling akurat- mengukur umur alam raya sehingga sepatutnya dipercaya.Tahun Masehi, Tahun Imlek, Tahun Jawa, Tahun Hindu,….. sampai Tahun Hijriah sudah dikenal dan menjadi pedoman bagi pengikutnya. System yang bermula dan mempunyai sejarah penanggalan, mempunyai dasar filosofi / akarnya penentuan tahun, apakah berdasarkan bulan atau peredaran matahari dan tujuannya.Seperti misal Tahun Masehi berdasarkan peredaran matahari dan di mulai awal tahun pada saat berakhir musim salju/dingin/ beku ke musim semi atau panas. Atau konon memperingati hari dewa matahari atau symbol dari dunia gelap menjadi terang. Begitu juga hari raya Imlek penentuan didasarkan filosofi Hewan/ Alam.Berbeda sekali filosofi Tahun Hijriah sebagai tahun islam yang berdasarkan peredaran bulan, ditentukan dan dimulai dari peristiwa Hijriah Rasulullah Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin berhijriah dari Mekkah ke Medinah karena perintah Allah, sebagai cara konsolidasi dalam perjuangan dakwah dari serangan fisik-psikologis atau penentangan kaum musyrikin mekkah terhadap Nabi Muhammad SAW yang pengemban wahyu Allah atau ajaran islam kepada manusia dan pengikutnya; peristiwa tersebut oleh Khalifah Umar bin khatab di jadikan awal tahun Islam; tahun yang berarti berhijriah dari jaman jahiliyah ke jaman Islam/Keselamatan/Pencerahan/Pembebasan dari yang bathil; Tahun baru Hijriah, 1 Muharam di maknai sebagai kembali kepada kehidupan yang Benar/Haq / Pencerahan/Keselamatan/ Kembali ke Fitrah Manusia sebagai muslim atau makhluk Allah atau Syareat Allah.Oleh karena itu bagi seorang muslim, merayakan awal tahun baru merupakan evaluasi ibadah – amalan sholeh kepada Allah SWT, menjadikan langkah awal jalan “berhijriah” - dari perbuatan bathil/jahiliyah ke jalan kebenaran/Haq yang diredhoi Allah SWT. Konsolidasi keimanan, ketahuidan setiap tahun, perubahan perubahan “hijriah” menjadi insan yang mukhsin atau nafs muthmainah. Bukan sekedar kesejahteraan fisik –bathin/mental keduniaan saja, tapi juga kesejahteraan akhirat/ukhrowi.Mudah mudahan, waktu menjadi sangat bermakna –dalam detik detak detup nafas kita , menjadi “roda berhijriah” menuju insan yang menghamba pada “dunia dan akhirat” karena Allah SWT, sesuai yang Allah berikan “sebagai tauladan manusia sampai akhir jaman” yaitu Rasulullah Nabi Muhammad SAW dengan mengikuti “ jalan Hidup” yang dituntun oleh kitab suci Al Quran.
Jumat, 25 Mei 2012
Becoming to Muslim
Mengharukan, melihat, menyaksikan....proses seorang menjadi muslim (mualaf). Setelah bersyahadat seorang wanita menangis tersedu-sedu dan dikatakan; "masuknya seorang menjadi islam dan siapa-siapa saja, dengan bersyahadat bukan karena siapa-siapa, bukan karena Nabi Muhammad, Kyai, Ulama, Pendakwah, tetapi karena orang itu sendiri yang mendapatkan HIDAYAH dari ALLAH SWT, bahkan Nabi Muhammad SAW, tidak bisa meng-islamkan pamannya Abu Thalib sampai akhir hayatnya; apalagi dengan rayuan atau iming-iming hadiah agar mau pindah agama masuk islam".
Inilah beda dakwah islam dengan agama lain. Tidak ada paksaan dalam beragama islam, ketika hidayah Allah datang menjadikan seorang menjadi muslim, maka jelas jalan hidupnya memilih syareat islam /syareat ALLAH, tidak ada syareat yang lain selain syareat Allah dan menjadikan Muhammad sebagai contoh hidup dalam menjalankan syareat Allah sehari-hari. "Islam indentik dengan hidayah Allah", bukan simbol atau atribut atau kemasan. "orang yang mendapat hidayah Allah " menjadi "islam" -berarti memilih sikap, cara, perilaku hidup -konsisten pada prinsip / dasar-dasar yang telah Allah tuntunkan dalam Al Quran melalui akhlaq Rasulullah Muhammad SAW dan diwarisi turun temurun oleh orang-orang sholeh sampai akhir zaman sebagai "jalan hidupnya"(way of life).
Bagaimana seorang Mualaf, tampak lebih konsisten, istiqomah dalam menjalankan syareat islam dari kebanyakan mereka yang "islam turunan" tetapi belum pernah bersyahadat dengan "jiwa fitrahnya" atau pergolakan bathin dalam mencari hidayah Allah? Menjadi Muslim bagi seorang Mualaf adalah suatu proses revolusi -perubahan total indentitas "lama-menjadi baru" dengan segala aspek cara-sikap-perilaku hidupnya "menjadi" -cara pandang hidup," way of life" manusia / ilah ilah lain menjadi "Allah yang Maha Esa" dengan mentauladani rasul-rasul-Nya, terutama Muhammad SAW "saja"-tanpa pilihan lain. Oleh karena itu sudah konsekuesi logis, perubahan hidup yang berbeda dari hidup "style/gaya bukan islam dan menjadi islami" pada keseharian seorang mualaf, yang tampak seperti, seolah-olah lebih konsisten dari kebanyakkan orang - yang mengaku muslim, tapi tidak konsisten -karena mempraktekan gaya hidup yang tidak islami. Suatu hal yang luarbiasa dan mengharukan, "kesabaran,kesholihan seorang mualaf" menjadi contoh bagi mereka yang sudah lama "menjadi muslim" dalam menjalankan hidupnya, betapa sebaliknya sering mereka melihat contoh yang tidak sesuai syareat islam dalam umat islam, namun Subhanallah,...mereka memahami yang Haq dan Bathil.. mereka belajar islam untuk di praktekkan dalam kehidupanya.
Pengalaman penulis, yang sejak lahir menjadi muslim dan belajar agama di sekolah negeri dari TK,SD,SMP,sampai SMA, baru merasakan bersyahadat "yang sebenarnya dan menjadi muslim" setelah menjadi Mahasiswa - setelah melalui proses lama yang bergejolak, berdiskusi, dengan mengkaji keislaman secara informal-intens. Sepertinya hidayah Allah itu datang, seolah -olah seperti menjadi manusia yang baru lahir,- tercerahkan - menjadikan hati/qolbu, akal, pikiran terpatri kepada "kebenaranNya" melalui AL QURAN dan HADIST. Hidup lebih tenang, optimis, lebih ringan tanpa beban menyesak dada, semua berjalan seolah-olah Allah yang merencanakan dan mengaturNYA. Semua datang dan kembali dari dan kepada NYA. Penyerahan diri hanya kepada Allah SWT saja, menjadikan hidup ini lebih terasa ringan, mudah, optimis, bahagia, bersyukur atas segala nikmatNya. Betapa kita sangat tergantung kepadaNya.
Allahu akbar...inilah Dienullah yang HAQ.
Allahu akbar...inilah Dienullah yang HAQ.
Tony Blair's sister in law converts to Islam, gives inspiring speech
Minggu, 08 April 2012
105. QUR’AN SURAH CV : AL -FIIL
XIV. MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK
ATAU SUB-TOPIK SENTRAL YANG MEWARNAI
KANDUNGAN TIAP SURAH
ATAU MENENTUKAN
TEMA SURAH.
105. QUR’AN SURAH CV : AL -FIIL
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Surah
ini hanya terdiri dari satu topic. Nama surah terdapat pada ayat pertama yang
menunjuk pada suatu kejadian penyerangan kota Mekah oleh pasukan gajah dari
Afrika. Negara Nasrani.Dilanjutkan bahwa akhirnya penyerangan itu
gagal, karena
Tuhan menolongnya melalui burung burung yang menghujani mereka dengan batu batu
kecil. Tujuan penyerangan itu akan merusak atau memindahkan Ka’bah dari Mekah.
TEMA SURAH :
Disini suatu kejadian sosial-politis dihubungkan
dengan fenomena
alam dan pertolongan Tuhan.
SUDUT
PANDANG SURAH :
Perbedaan pandangan antara pandangan WAHYU dan manusia terhadap suatu fenomen
sosial-politik. Fenomena alam digunakan sebagai “penyambung”.
Ini berdasarkan perbedaan landasan yang digunakan manusia dan wahyu dalam
menginterpretasi suatu kejadian. Fenomena kehidupan menurut manusia : suatu
interaksi antara manusia dan manusia/Alam, sedangkan menurut wahyu: suatu
intervensi manusia terhadap ‘AMR Tuhan.
106. QUR’AN SURAH CVI : AL-QURAISY
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Surah ini juga terdiri dari satu topik, yang
menceriterakan kebiasaan
hidup kaum Quraisy [penyembah berhala], ialah mondar-mandir ke
negeri lain untuk berdagang /mencari hidup. Hendaklah kaum Quraisy itu
menyembah Tuhannya Ka’bah yang memberi makan pada mereka, sehingga tidak
mengalami kelaparan dan mengamankan mereka dari ketakutan.
TEMA SURAH:
Seperti surah sebelumnya disini dihubungkan antara
aktivitas sosial manusia dengan pertolongan Tuhan.
SUDUT
PANDANG SURAH:
Manusia harus sadar, bahwa dia itu makhluk, sehingga
semua yang dihasilkan manusia itu pasti ada hubungannya dengan
ketergantungannya pada Tuhan. Mengulangi, bahwa tiap aktivitas manusia berarti
meng-intervensi terhadap cara Tuhan memelihara makhluk-Nya.
107. QUR’AN SURAH CVII : AL- MAA’UUN/SESUATU YANG BERGUNA
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah terdapat pada ayat penutup surah, sekaligus penutup topik
sentralnya karena surah ini hanya terdiri dari satu topik. Surah dibuka dengan
ayat : Apakah
manusia mengetahui siapa yang dapat disebut mendustakan agama? Dilanjutkan dengan jawabannya dengan
5 sifat orang yang termasuk mendustakan agama. Yang terakhir ialah : mereka yang enggan memberi bantuan yang berguna.
TEMA
SURAH :
5
sifat manusia yang dikategorisasikan dalam mendustakan agama ialah:
R Orang
yang menghardik anak yatim
R Tidak
menganjurkan memberi makan orang miskin
R Orang
yang shalat , tetapi lalai dalam shalatnya
R Orang
orang yang ria dan
R Orang
yang enggan memberi bantuan yang berguna
3
dari 5 sifat itu mengenai kehidupan bermasarakat, 1 hubungan manusia langsung
dengan Tuhannya dan satu hubungan manusia dengan dirinya. Dalam hidup seorang
manusia selalu berhubungan dengan DIRI-nya,
TUHAN-nya dan sesama MANUSIA.
SUDUT
PANDANG SURAH :
Beragama meliputi semua dimensi kehidupan manusia, ialah
dimensi spiritual/keyakinan/akidah, dimensi mental/moral akhlaq syare’at
ubudiyah dan dimensi sosial/syare’at muamalah.
108. QUR’AN SURAH CVIII : AL-KAUTSAR/NIKMAT YANG BANYAK
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka topik,
sekaligus surah yang menyatakan bahwa: Tuhan telah memberi manusia nikmat yang banyak. Kemudian
dilanjutkan bagaimana manusia harus menyikapi keadaan tersebut: mendirikan
shalat dan siap berkorban. Dilanjutkan dengan hasilnya ialah: terputusnya
tali kebencian mereka yang membencinya.
TEMA SURAH :
Terputusnya
tali kebencian antar manusia itu dapat diciptakan dengan mendirikan shalat dan berkorban dalam arti
memperhatikan kepentingan sesamanya atau kepentingan pribadi dikalahkan dengan
kepentingan umum, karena kesadaraannya bahwa sesungguhnya Tuhan
telah memberikan nikmat yang banyak pada manusia.
SUDUT
PANDANG SURAH :
Tali kebencian merupakan sebab kerusakan kehidupan
manusia bersama. Jalan keluarnya ialah mengikis fachsya
dan mungkar
(shalat) dan menciptakan meratakan nikmat yang diberikan Tuhan diantara semua manusia (berkorban = melepaskan
sebagian haknya, yang dimetaforikan dengan mengorbankan kepentingan pribadinya
terhadap kepentingan umum).
By A Baghowi Bachar
(Posting 8 April 2012/6 Jumada I 1433 H)
Sabtu, 18 Februari 2012
8. QUR’AN SURAH XCVIII : AL-BAYYINAH/BUKTI YANG NYATA
XIV. MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK
ATAU SUB-TOPIK SENTRAL YANG MEWARNAI
KANDUNGAN TIAP SURAH ATAU MENENTUKAN
TEMA SURAH.
98. QUR’AN SURAH XCVIII :
AL-BAYYINAH/BUKTI YANG NYATA
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah terdapat pada ayat pertama, topik pertama (1-5) yang isinya
merupakan suatu pernyataan, bahwa diantara orang-orang ahli kitab dan
orang-orang kafir itu baru mau beriman bila telah datang suatu bukti.
Dilanjutkan dengan keterangan bahwa bukti itu telah didatangkan Tuhan ialah
seorang Rosul yang membacakan lembaran lembaran wahyu yang disucikan. Namun
manusia justru menjadi terpecah belah, sedangkan mereka hanya disuruh:
R Menyembah
Allah, menerima tuntunannya,
R Mendirikan
sholat dan membayarkan zakat.
Topik
ditutup dengan pernyataan itulah agama yang lurus.
TEMA SURAH :
Seharusnya
bukti itu meyakinkan manusia, namun manusia bahkan menjadi terpecah belah
karenanya, meskipun apa yang harus diyakini itu sangat sederhana. Mengapa ?
Karena perilaku manusia itu hanya mengikuti nafs-nya, bukan akal dan ilmunya.
SUDUT PANDANG SURAH:
Manusia cenderung mengikuti KEINGINANNYA
SENDIRI/NAFSUNYA bukan akalnya. Namun manusia tidak akan menerima
tuduhan ini, karena nafsunya itu ditutup dengan permainan akalnya.
99. QUR’AN SURAH XCIX : AL-ZALZALAH/KEGONCANGAN
TOPIK SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama ,topik
pertama (1-5) yang melukiskan apa yang terjadi pada hari kiamat. Dilanjutkan
bahwa apa yang terjadi itu karena Tuhan telah memerintah kan bumi untuk mengeluarkan segala
isinya.
TEMA SENTRAL SURAH :
Kejadian berantakannya bumi pada hari kiamat,
didiskripsikan sebagai alam yang mengikuti perintah Tuhannya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Kiamat itu karena KEHENDAK-NYA,
bukan oleh sebab sebab lain, misalnya ulah manusia atau proses alamiah. Dengan demikian maka kiamat diciptakan TIDAK SIA-SIA, artinya pasti mengandung makna.
100. QUR’AN
SURAH C : AL-’AADIYAAT/KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama, topik
pertama (1-8), yang digunakan sebagai sumpah untuk menguatkan pernyataan,
bahwa: manusia
itu ingkar, tidak bersyukur pada Tuhannya dan manusia itu sungguh akan menjadi
saksi sendiri akan keingkarannya dan sesungguhnya manusia itu sangat bachil,
karena lobanya pada harta.
TEMA SURAH :
Topik ini menjelaskan kecenderungan manusia yang pelukisannya seperti
Nafsu yang menguasainya, seperti kuda perang yang dipacu. Dan apa sebab
utamanya manusia menjadi demikian ? karena LOBA akan HARTA. Bukankah fenomena
social-budaya yang ada membernakan diskripsi itu ?
SUDUT PANDANG SURAH :
Manusia haruslah menyadari memiliki kecenderungan yang
dapat merusak kehidupannya ini, karena harus mempertanggung-jawabkan ulahnya.
Kecenderungan ini bukan alasan untuk membela diri.
101. QUR’AN SURAH CI :
AL-QAAR’IAH/HARI KIAMAT
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah terdapat pada ayat pertama, topik pertama surah (1-5) yang
menerang-kan tentang fenomena hari kiamat yang dahsyat.
TEMA SURAH :
Kedahsyatan
hari kiamat yang tidak terbayangkan oleh manusia.
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah
memandang kehidupan dari sisi akhirnya, yang kebanyakan manusia mempercayainya
tetapi TIDAK MENYADARI, sehingga tidak
diperhitungkan dalam membina hidupnya. Percaya dan sadar, jaraknya jauh.
Percaya adanya tanpa tahu maknanya tidak member arti apa apa……..tidak merasa
tersentuh, hanya menyaksikan fenomenanya …… dari suatu jarak!
102. QUR’AN SURAH CII :
AT-TAKATSUR/BERMEGAH – MEGAH
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah terdapat pada ayat pertama, topik pertama (1-3), sebagai satu peringatan yang
sangat keras, bahwa perlombaan memperbanyak kekayaan duniawi ini akan MELALAIKAN manusia
akan makna hidupnya. Ayat penutup topik memperkuat lagi dengan kata
kata : jangan
begitu, nanti kamu akan mengetahuinya.
TEMA SURAH :
Perlombaan
memperkaya diri dalam aspek kehidupan dunia itulah yang melalaikan manusia akan tujuan hidupnya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Sangat
berbahaya bagi manusia bila ia berlomba memperkaya kehidupan dunianya. Suatu
peringatan yang banyak diabaikan manusia.
103. QUR’AN SURAH CIII
: AL-’ASHR/MASA
TOPIK SENTRAL SURAH :
Topik
sentral surah hanya terdiri dari 2 ayat dan nama judul surah digunakan sebagai sumpah untuk
menyatakan bahwa manusia SELALU DALAM
KERUGIAN. Masa itu menunjuk pada waktu dan waktu itu dinamis, ada
perjalanannya, ada permulaan dan ada akhir.
TEMA SURAH :
Tema sentral surah ialah suatu pernyataan bahwa dalam perjalanan
waktu manusia selalu merugi.
SUDUT PANDANG SURAH :
Disini keadaan manusia dihubungkan dengan perjalanan
waktu. Ditegaskan bahwa manusia SELALU dalam
keadaan MERUGI. Mengapa ? Waktu itu selalu
berjalan maju, seperti pepatah Yunani mengatakan PANTA RHEI, semua mengalir. Tidak ada jalan
kembali! Waktu hanya tahu gerak maju, tidak mengenal gerak mundur. Manusia
terbawa dalam arus itu kearah KEMATIAN/AKHIR PERJALANAN,
titik tutup buku bagi seseorang. Al-Qur’an mengartikan waktu sebagai suatu RUANG GERAK, kesempatan yang harus dipergunakan/diisi,
tidak boleh dibiarkan kosong/tidak diisi. Bagaimana seseorang harus me-manage
waktu ? Inilah SOAL
yang diberikan Tuhan.
104. QUR’AN SURAH CIV :
AL-HUMAZAH/PENGUMPAT
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah,
sekaligus pembuka topik pertama yang menyatakan dengan tegas: Celakalah setiap
pengumpat lagi pencela; yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya; dia
mengira bahwa hartanya dapat menyelamatkannya. Topik ditutup dengan pernyataan:
Tidak, sekali-kali tidak. Sesungguhnya ia akan dilempar kedalam huthamah (ayat
1-4).
TEMA SURAH :
Kata
atau sifat pengumpat
dan pencela dihubungkan dengan mengumpulkan harta kekayaan (hubbun dunia) dan
dinyatakan keduanya akan celaka, tidak dapat menyelamatkan manusia. Peringatan
dan ancaman bagi manusia !
SUDUT PANDANG SURAH :
Sifat mengumpat dan mencela disejajarkan dengan
pengumpulan harta. Keduanya merusak
hubungan antar manusia, keduanya menghidupkan fachsya dan mungkar. Iri, dengki
dan perbuatan fasek. Mengumpat dan mencela itu tidak akan menghasilkan apa-apa,
kecuali menyakiti diri.
By A Baghowi Bachar
(Posting 18 Februari 2012/26 Rabi' I 1433 H)
Langganan:
Postingan (Atom)
