Translate

Telusuri via Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label makna beragama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makna beragama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Juli 2025

MENGUAK DAN MEMAHAMI KITABULLAH, AL QUR'AN

Kata Al-Qur’an kalau digunakan sebagai nama kitab berarti ‘bacaan’. Istilah ini sama sekali tidak menunjukkan kandungan maupun bidang yang digeluti kitab itu. Kitab dalam pengertian Al-Kitab atau Buku Suci diidentikkan dengan kata scripture yang berarti a body of writings considered as authoritative atau a classically embodying the essence of a way of life, movement, era or nation.

 Dalam diskripsi ini, yang membedakan Al-Qur’an dengan buku-buku lain ialah kata ‘authoritative’ yang berarti demanding a submission , dan kata classically yang berarti of the highest quality, having a value or position recognized and unquestioned. Ini memberi pengertian bahwa Al-Qur’an merupakan suatu bacaan yang menghendaki ketundukkan pembacanya. Jadi siapa yang membaca Al-Qur’an diharapkan memahami, meyakini, menghayati menundukkan diri, baru melaksanakan apa yang terkandung di dalamnya. Qoro’na wa atho’na.

 Darimana datangnya sifat authoritative (otoritas) Al-Qur’an ?

Surat pertama yang diturunkan berbunyi:

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan,
Menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah ! Tuhanmu yang Maha Pemurah,
Yang mengajar dengan kalam,
Mengajar manusia apa yang tidak dapat diketahuinya.....

Sabtu, 22 Maret 2025

Aku bersujud.. pada Mu, Tuhanku

Bersujud, artinya menunduk diri atau merendahkan kepala kepada yang lebih "tinggi"

Dalam kehidupan manusia, bersujud bertanda tunduk kepada sesuatu yang"dianggap" lebih berkuasa, lebih kuat, lebih mulia. Kenyataan atau realitas ini , manusia seperti "menuhankan" atau bertuhan kepada yang membuatnya tunduk atau bersujud. bertuhan kepada "kekuasaan raja", "kekuasaan orang kaya-raya", "..kebenaran ilmu atau perangkat artificial intellgence",".. peradaban sosial tercanggih", dll..

Perilaku, sikap manusia dengan ketundukannya "pada sesuatu " , sering terlihat dari penampilan -kebiasaannya dalam sehari hari atau dalam kehidupan sosial masyarakat atau dalam rumah tangga

Kebiasaan menjadi seperti ritual "suci" sebagai wujud ketundukan atau bersujud kepada"nya" , dapat dikatakan seperti "terikat kuat" sulit dilepaskan atau menjadi "kebutuhan pelengkap".

Kebiasaan dalam Islam adalah Sholat wajib 5 waktu, Sholat Sunat, Puasa Ramadhan, Membayar Zakat, Berpergian Umrah, Haji, dan lain lainnya.

Salah satu bagian rukun sholat  adalah sikap dan gerakan "bersujud", bagaimana bersujud ?  yaitu caranya bagian kepala - muka bersentuh dengan tanah atau bumi tempat berpijak ,  dari posisi berdiri kepala tegak, kemudian sampai  bersujud. bila dihitung dalam Sholat wajib  ada 17 raka'at , setiap raka'at -2 kali  sujud atau 34 kali sujud dalam sehari. apalagi bila dilakukan sholat sunat  sebelum-sesudah sholat wajib atau sholat sunat lainnya, seperti sholat la'il-tahajud,  sholat dhuha. 

Rangkaian  ritual suci -dengan sholat yang menjadi sikap-perilaku sebagai seorang muslim sehari hari, merupakan bagian seharusnya dan menjadi kebutuhan dalam hidup.
Dengan  bersujud setiap sholat,  kepala yang menjadi pusat pengaturan aktifitas tubuh kita , seperti di"default" atau di resetting ,  direstore, direformat ,  agar tubuh kita kembali " seperti asal usul penciptaan yang tetap "bekerja baik". 

Dalam atau saat  sujud ,  kata penegas-afirmasi yang  terucap " Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi", menggema berulang ulang dalam otak-perangkat   alam sadar dan dibawah sadar,  seolah olah jalan alam ruh untuk berhubungan dengan Tuhan-penciptanya untuk selalu membangkitkan alam bawah sadar kepada alam sadar, untuk tunduk -patuh kepada Tuhan -Allah SWT. bukan tunduk atau bersujud kepada tuhan tuhan kecil atau menuhankan "sesuatu yang fana"

Sholat  adalah bagian cara Allah SWT , menjadikan seorang muslim kembali pada jalan yang lurus, bukan yang sesat(surat  pembuka "al fatihah")

Semoga  kita diberi "jalan yang lurus, bukan jalan yang  berliku liku dan menyesatkan" 


Senin, 17 Februari 2025

"Pembuka Acara" , mengikat simpul- hubungan Jiwa dan Raga

Bismillahirrohmaanirrohiimi 


"Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.  Aku bersaksi bahwasannya  tiada Tuhan yang  wajib di sembah melainkan Allah, yang menguasai, yang Maha  benar dan yang menjelaskan.  Dan aku beraksi  bahwasannya  Muhammad itu adalah  hambap-Nya dan  utusan-Nya , yang jujur-janjinya lagi terpercaya. Semoga keselamatan dan kesejahteraan  dan berkah tetap terlimpahkan kepada penghulu kita nabi Muhammad dan kepada keluarganya dan para sahabatnya .  Adapun sesudah itu."


Dalam  komunikasi antara pembicara dan pendengar, penyampaian "isi " dari pembicara /penutur/ narasumber, lazim dimulai dengan kata pembuka atau kalimat pembuka. Kelaziman kadang hanya menjadi "lip service"  - sekedar pemanis dari pembicara. Kadangkala antara   esensi "kata pembuka" dengan "isi"  tidak sesuai atau berlawanan atau "kehilangan makna acara - pertemuan dengan pendengar". 

Menghayati atau memaknai esensi "kalimat pembukaan" yang mengandung sikap, janji, sumpah, doa dari pembicara atau penutur kepada pendengar atau "audience", perlu menjadi perhatian setiap pembicara sebagai "point kesadaran" kepada pendengar; sebagai kerangka bersama " pemahaman  bersama yang akan disampaikan pembicara" dalam rangka "kebaikan bersama". Sebaliknya bagi pembicara , harus selalu menyadari esensi "isi" pembicaraan sesuai dengan "kata pembukaan"nya, memberi "kebaikan kepada pendengarnya(audience)". Penyimpangan konteks pembicaraan kepada pendengar sebagai perbuatan buruk atau mendangkalkan nilai nilai moral agama. Menjadi "tradisi baik" bila nilai nilai agama , menjadi bermakna "meninggi" .  Setiap acara kegiatan (seremonial) menjadi kegiatan -jiwa dan raga yang saling mengisi-menguatkan,  dalam kata lain, sebagai ibadah sosial/mu'amalah.

Semoga Kita,  Selalu SEMANGAT  melakukan aktifitas  sosial, akademis-ilmiah, dll.

 

Selasa, 09 April 2024

Catatan Akhir Ramadhan 1445 H, Menemukan indentitas manusia "sholeh"

 Kesholehan, seperti akhir dari tujuan setiap manusia  untuk mengharapkan dan menjadi wujud dari setiap doa yang dipanjatkan sejak kelahirannya sampai tua, diakhir kehidupannya.

Kesholehan memiliki  makna yang dalam;  tidak sekedar sebagai manusia yang baik- taat  kepada ketentuan agama, tetapi mampu komitmen dalam berbagai masalah kehidupan dirinya dan orang lain dan pengaruh  diluar ketentuan agama.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan dua pengertian untuk kata “saleh.” Pertama, “saleh” adalah taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah. Kedua, “saleh” adalah suci dan beriman
Secara etimologis, kata saleh berasal dari bahasa Arab shāliḥ yang berarti terhindar dari kerusakan atau keburukan. Amal saleh berarti amal/perbuatan yang tidak merusak atau mengandung unsur kerusakan. Maka orang saleh berarti orang yang terhindar dari kerusakan atau hal-hal yang bersifat buruk.

Ketentuan agama  mengandung  nilai nilai sikap-perilaku, nilai etika  dalam hubungan dengan Allah maha pencipta(Khalik), dengan manusia dan lingkungannya(muamalah). Dalam hubungan denganTuhannya, manusia dituntun dalam norma  norma melalui petunjuk kitab suci dan pengalaman spiritual dalam ritual agama - rukun agama, rukun islam, rukun iman.  dan juga di contohkan dalam muamalah oleh rosul atau nabi-Nya sebagai tauladan - dengan akhlakul  karimah, melalui sunnah yang diajarkannya.

Sumber Nilai kesholehan dari Kitabullah -kitab suci yang menginspirasi  manusia terhadap semua perilaku dan tindakannya  dalam merekayasa kehidupan-peradaban-budaya manusia. 
Kesholehan menjadi  nilai tidak sekedar hubungan vertikal ke tuhan /langit tetapi horisontal  ke bumi yang  berubah dan maju-berkembang dengan populasi manusia yang  berkembang dan kebutuhan yang  juga  bertambah dengan kompleksitas.  

Dinamika manusia dari era  awal kehidupannya  sehingga  era 2024 Masehi, berubah -rubah dan semakin kompleks dengan segala tantangannya baik  dari aspeks   ekonomi , sosial, politik, keamanan,  budaya, pendidikan,  agama, dan lainya saling mempengaruhi.  Nilai nilai  kesholehan pun berubah dari sudut pandang  agama ; dari nilai nilai yang dipahami sebelumnya.  Kebutuhan manusia atas nilai nilai  spiritual - agama menjadi "dangkal" atau 'lebih dalam"  atau tidak ada ,   bila agama hanya dipahami  sebagai ketentuan masa lalu atau nilai nilai yang sudah  usang-  karena tidak bisa  menjawab masalah perubahan nilai  jaman/peradaban manusia. atau hanya menganggap -agama  sebagai  ritual -seremonial sebagai budaya atau tradisi saja  oleh generasi manusia sekarang.

Kesholehan hanya simbol dalam atribut, panji panji agama dalam tampilan perilaku penganutnya, agama  hanya  sebagai identitas perimodial atau politik, sosial, budaya dan lainnya.

Contoh yang digambarkan dalam peristiwa politik, pemilihan pemilihan pemimpin,  seperti dari ketua OSIS, senat mahasiswa, bupati, gubenur, presiden,   dan lain  lain. 

Identitas agama , seakan akan Tuhan berada dalam dukungannya dari orang yang lain atau Tuhan dijadikan alat untuk mempengaruhi orang lain -untuk mendukung dan memilihnya.








Rabu, 20 September 2023

Hubungan Sholat dengan Eksistensi "manusia", dari sebuah renungan

Sholat  Wajib adalah   satu cara  dari ibadah yang di wajibkan bagi seorang muslim dalam waktu lima kali sehari dengan mengikuti tata cara yang dilakukan nabi-rosulullah Muhammad SAW. Selain Sholat Wajib  ada  Sholat -sholat lain sebagai  Sholat Sunnah  dan Wajib bagi laki laki saja, serta Sholat  tambahan, seperti  sholat Jumat, Idul Fitri, Idul Adha, sholat sebelum dan sesudah sholat wajib,  serta lain lainnya.


Sholat  eksistensinya  adalah  hubungan komunikasi manusia (Muslim)  dengan pencipta-nya (ALLAH SWT) dengan mengikuti cara yang sudah ditetapkan dalam tata ibadah agama islam.  Esensinya  sholat juga dianggap sebagai "doa" karena manusia berkomunikasi dengan banyak meminta  dan berharap atas mimpi, rencana,  usaha yang dilakukan atas dirinya  di waktu lalu, saat ini dan akan datang kepada "Allah SWT"

Rukun Sholat ,  dimulai  dari Takbir  sampai  akhir Salam dengan gerakan gerakan  fisik tertentu ( takbir, ruku" sujud, duduk, salam kanan-kiri,  ucapan ayat dan doa, pujian), dan pikiran, kalbu, dalam keadaan "khu'su"  atau  menyatu  jiwa dan raga kepada kehadirat/kehadiran Allah -Sang Maha Tinggi, Maha Pencipta;  merupakan  rangkaian proses  spiritual  yang berulang  dilakukan setiap manusia yang sholat  seperti  rotasi bumi pada  sumbunya selama 24 jam atau  roda berputar  -bergerak pada sumbu "As" nya.

Manusia dari sudut islam  (dalam  sholat) , eksistensinya  secara  ontologis ,  keberadaannya karena "diciptakan(makhluk)" bukan kebetulan ada,  oleh yang maha pencipta(namanya -Allah) , dalam keberadaan nya  di  dunia yang fana ( hidup sementara)  harus menyadari(wajib sholat) keberadaanya sebagai makhluk yang lemah - untuk selalu beribadah  dalam mencapai tujuan hidupnya kepada Penciptanya(Allah SWT).  "kesadaran eksistensial " manusia hanya dapat dijaga dan dipelihara melalui jalan setiap  waktu dengan  "sholat " (wajib dan  sunat)

Dalam   "Sholat"  ada  aktualisasi   dari janji , sumpah  antara   "ruh" keyakinan,  pikiran, hati  secara  fisik  dalam  gerak /aksi pada  kehidupan sehari hari , dalam   diri sendiri,  dalam keluarga, dalam masyarakat, berbangsa- bangsa.

Dalam   setiap sholat , rakaat , ada  "shahadat"  yang menjadi pegangan keyakinan dari setiap  niat,  awal melangkah atau segala tujuan , pedoman, metode  usaha, pekerjaan dan nilai nilai dari kehidupan.  "kesadaran diri"  yang dibangkitkan, yang ditanamkan, diucapkan dengan kata dan aksi di hadapan "Sang Maha Pencipta" berulang -ulang dalam apapun keadaan-  suka dan duka, setiap waktu.  Seperti gugusan benda langit ,  bintang bintang, awan awan yang  selalu ada  setiap waktu dan menunjukan keberadaannya  sebagai  wakil dari  ciptaan dari  Sang Maha  Pencipta kepada manusia.  Sholat  seperti gugusan kehidupan -sistem kehidupan -wadah  interaksi  manusia  dengan maha penciptanya yang spesial tanpa perantara, " hubungan langsung " kepada Allah SWT.  Sholat menghilangkan  kasta kasta -golongan dalam hubungannya antara "makhluk dengan khalik/penciptanya"

Ketika  Sholat  bagian dari sistem kehidupan , maka hakikatnya  sholat bukan lagi terdiri  dari gerak gerakan  fisik yang wajib sebagai  rukun sholat,  tetapi menjadi gerakan gerakan fisik secara bathin  dimana dan kapan saja, seperti perangkat lunak(software) imajiner dalam otak. Gerakan sholat menjadi lebih situasional, bisa  berdiri, duduk, tidur/berbaring, atau apapun keadaannya. Hilanglah ritual seremonial  sholat atau basa basi  sebagai atribut atau simbol agama. 

Sholat bagian dari metode kesuksesan  dalam hidup manusia, mencapai kebahagian ; mencapai kesejahteraan hidup. Persoalan kehidupan,  baik dalam keluarga- hubungan suami-istri, orang  tua -anak , dengan tetangga; teman karib, pekerjaan-nafkah , dsbnya mendapat solusi dengan cara sholat. Semua persoalan atau masalah dikomunikasikan dengan "maha Pencipta/Allah SWT". Keyakinan yang kuat, jiwa yang optimis dan kepasrahan diri terhadap masalah hidup -kehidupan disandarkan atau  digantungkan kepada Allah SWT. Keyakinan semua  datang  dan kembali kepada Allah SWT  dipupuk, dijaga, dilandasi komunikasi melalui sholat sebagai proses  terus menerus - kontinus, sepanjang  waktu(selama hayat). Dalam konteks kehidupan ekonomi-sosial dikatakan "sholat mencegah  perbuatan  fahsya' dan mungkar". Dengan demikian sholat ,  membentuk  kepribadian manusia yang  sholeh atau  berakhlak yang baik.


"Ketika  Marah atau Ada Masalah,  maka   Sholat -lah"

Semoga  kita   jadikan   Sholat , sebagai metode hidup,  kiat hidup mencapai kebahagian dan kesejahteraan 




Minggu, 10 April 2022

"Kehendak Bebas/ free will" Manusia



Dalam konsep yang ideal -manusia mempunyai “kehendak bebas yang mulia” yang melahirkan rekayasa kehidupan yang beradab, namun- sejarah manusia mencatat, kehendak bebas manusia telah menimbulkan kerusakan dan dianggap “tidak beradab” pada waktu yang lalu dan terus mengancam sampai saat sekarang kehidupan manusia. Timbulnya perperangan/konflik antara suku, bangsa, negara disebabkan adanya “kepentingan kehendak bebas” manusia. Kehendak mulia seolah jauh dari keinginan esensial –eksistensial, manusia sebagai makhluk yang mulia, tetapi sebagai makhluk buas-liar. Pada tataran moral –kehendak bebas manusia diarahkan atau dituntun kepada norma norma yang disepakati bersama(masyarakat) atau keluhuran ajaran agama, namun – nilai nilai tersebut ter-disintergrasi pada nilai nilai individu baru –zaman digital atau era tehnologi informasi-robotik atau virtual reality-game; zaman ekonomi digital-internet of thing dengan gadget/dawai pintar(smarth phone); merubah sikap perilaku bebas manusia lebih terbuka dan saling mempengaruhi.

Perubahan sudut pandang /perspektif manusia terhadap dirinya sendiri dan terhadap dunia/peradaban manusia saat ini sangat drastis , sangat transparan, terbuka, mudah yang dapat melemahkan atau menguatkan sikap-perilaku setiap orang atau banyak orang dalam waktu yang singkat. Perubahan norma norma atau nilai nilai social menjadi bersifat global, sesuatu yang trending –seperti menjadi acuan social kemana arah sikap-perilaku, seperti trending budaya, politik, lifestyle, ekonomi, dll. Perubahan ini mencuat sejak adanya mesin computer pencarian data, seperti google, yahoo, dll. Kemudian berkembang setelah adanya media social via internet seperti youtube, facebook, twitter, skype, whatsapp, dll. Juga game-online, bisnis online, e-commerce hingga semua aktifitas pekerjaan berbasis tehnologi elektronik digital – internet –dari segala urusan administrasi –sampai keamanan berbasis cyber-net. Dunia manusia seperti tidak pernah tidur, gelombang elektronik –internet menerangi malam hari –seolah olah manusia bekerja 24 jam walaupun dalam keadaan tidur, karena computer, smartphone tidak pernah mati. Dunia kertas sudah seperti ditinggalkan, tulisan cantik bukan menjadi nilai kerapihan seorang untuk mendapat pujian sebagai seorang sekretasis, tetapi dokumen atau informasi atau perintah dapat dibagikan dalam format yang singkat, cepat, to the point, melalui smart-phone. Transaksi ekonomi dapat dilakukan secara online melalui aplikasi yang dibuat khusus, seperti membayar listrik, baya pajak, biaya sekolah, bank, pesan dan bayar taksi/transport, menjual, pesan dan bayar makanan-minuman, menjual barang/dagang, dll.

Manusia masa kini, seolah olah mendapatkan “kenikmatan atas kemajuan tehnologi informasi” dengan dimanjakan kehidupan dengan tehnologi internet berbasis 4.0 / 5.0 (kecepatan computer dan internet yang tinggi), semua kebutuhan dan pekerjaan bisa dilakukan secara online dirumah-tanpa harus keluar rumah, kecuali kerjaan bersifat fisik tertentu. Begitu juga pekerjaan berbasis media-sosial yang mendapatkan “fee dari input content” , menjadi trending seperti menjadi youtuber, influencer, endorse –sebagai bintang iklan atau meng-iklan produk jasa-barang.

“ jualan online” menjadi modus ekonomi sejak adanya aplikasi media social dan setiap orang bisa mendapatkan –keuntungan ekonomi digital dalam bentuk uang secara online atau langsung offline. Media elektronik berbasis stasiun televisi sudah berubah pula bentuknya mengikuti basis aplikasi untuk mendapatkan pemirsanya/subscribernya, bila tidak akan tersingkirkan.

Perubahan juga terjadi –cara pandang orang terhadap apa yang sudah “mapan” atau norma atau konsep hidup yang ada. Khususnya terhadap bagian tubuhnya, seperti meng-endorse bagian wajahnya, dadanya, pinggulnya, bahkan bagian sensitive-organ sex di medsos untuk mengisi konten atau mendapatkan followers yang banyak; walaupun ada batasan atau aturan terhadap content yang sensitive dari admin aplikasi. Alasan sisi bisnis, batasan konten –menjadi longgar. Karena aplikasi tersebut mendapatkan keuntungan dari followers dan following yang banyak-juga iklan yang masuk. Orang tanpa malu atau beranggapan “bagian tubuh” adalah komoditas yang dapat menarik perhatian orang dan dapat menghasilkan uang atau bernilai ekonomi, hanya dengan menggunakan smartphone atau smart-camera bisa –meng-upload “gambar/video” dirinya ke aplikasi medsos- dimana dan kapan saja. Ada juga bukan alasan ekonomi, tetapi karena “iseng, kenakalan, narsis, flexing”. Keterbukaan yang global, membuat akses didapat semua orang untuk melihat “upload” yang trending/viral. Setiap orang dapat merespon atau mereaksi “anggapan apa yang baik atau yang buruk” dan hal itu dapat menjadi “content” dalam cannel medsosnya-yang bisa sebagai buzzer atau endorser atau influencer.

Dunia medsos menjadi “area bebas” tak terkendali, bila orang tidak memiliki standar norma –normal atau tanpa norma yang diakui bersama(disepakati bersama), orang bisa meng-eksplotasi dirinya sendiri atau orang lain –tanpa peduli –baik-buruk dampaknya -sikap-perilakunya bagi lingkungan dan masyarakat umumnya. Kegaduhan social-moral,susila, budaya, agama, dll. Dapat terjadi tidak hanya di dunia medsos/maya tetapi dunia nyata dengan sangat cepat dalam hitungan detik. Hal ini hanya terjadi karena jari dari “kehendak bebas/free will” yang mengklik smartphone dengan “kepentingan egonya”.

Kepentingan ego manusia yang sentris (egosentris) menjadi “trending” saat manusia “asyik “ dengan smartphonenya, asyik menyendiri menjadi individual masuk dalam virtual reality(VR) dari lingkungan sekitarnya/masyarakat sekitarnya; Atau sebaliknya dia masuk dalam dunia yang menguasai dirinya, kelompoknya(ego kelompok), yang meniadakan kelompok masyarakat lain. Intoleransi terhadap orang lain atau kelompok dengan kelompok terjadi dengan mudah di era sekarang karena medsos;karena jari pelaku medsos.

Cara pandangan manusia berubah secara positif kearah konstruktif - bahwa manusia memiliki kebutuhan bersama –baik secara individu dan masyarakat disekitarnya-interaksi yang luas dan cepat melalui sebaran informasi yang mudah diakses via internet. Manusia bisa berkunjung –wisata ke bagian dunia yang “unik dan menarik” – dibagian yang ada dan tidak ada di tempat tinggalnya; melalui medsos-internet, umat manusia menjadi lebih bersatu dan saling menghargai-hormati dan toleransi terhadap perbedaan kultur budaya- agama, normal-nilai social, aturan setiap bangsa-negara; tidak ada lagi diskriminasi berdasarkan SARA atau apapun; Dunia tanpa batas dan satu kesatuan manusia sebagai tempat hidup-kehidupan yang damai-sejahtera oleh ikatan jaringan informasi-seluruh aspek /system kehidupan. Internet of the thing sebagai network manusia hidup di era peradaban manusia modern yang serba cepat dan tepat serta terbuka; automatic – robotic dan artificial intelligence. Norma atau nilai nilai agamapun berubah dalam masalah masyarakat. Bagaimana pengajar atau pendakwah mengajarkan atau menyampaikan nilai –norma agama secara baik pada generasi kitab –ebook, milinial, five.zero. Tantangan fiqih terhadap informasi yang terbuka melalui medsos –internet harus dapat mengantispasi- disinformasi atau kebekuan –kebuntuan, kekakuan fatwa ulama.

Manusia dari sisi gender –laki laki dan wanita bukan menjadi masalah, bukan sesuatu yang perlu diperlakukan berbeda karena fisiknya, tetapi sama karena tanggung jawabnya, kesempatan mengaktualisasi dirinya sendiri; wanita dan laki laki memiliki kebutuhan yang sama dan satu sama lain saling membutuhkan dengan derajat/kedudukan yang sama. Perilaku social setiap orang menjadi sama di era digital internet of the thing; kesempatan orang muda dan tua, anak dan orang tua, wanita dan laki laki tidak dibatasi dengan smartphone; tergantung kehendak bebasnya , “mau apa?”. Orang bisa kaya sejak anak anak atau sudah tua sekali/manula; tidak ada istilah usia produktif sebagai usia bekerja. Kekayaaan dalam arti materi atau imateri dapat diwujudkan dalam bentuk uang di dunia nyata atau dunia tidak nyata(virtual reality); pembayaran transaksi bisnis dapat berupa uang elektronik/digital atau uang nominal atau uang crypto-seperti bitcoin.

Sejarah manusia mencatat, betapa orang saat ini –merasa sulit membayangkan kehidupan orang masa lalu – dari sisi informasi-komunikasi , perdagangan-ekonomi dibandingkan era sekarang ini. Bayangkan- dahulu kala, untuk menyampaikan informasi atau perintah atau aturan hukum atau menghantarkan hadiah, upeti –perlu seorang kurir atau kafilah yang berjalan berhari hari, bahkan berbulan bulan sampai ke penerimanya. Sungguh bersyukur lah kita sekarang, bisa menikmati kemudahan kemudahan infromasi –komunikasi, transfer , transportasi melalui sarana yang canggih.

Esensi sejarah dari hidup dan kehidupan peradaban manusia mempunyai nilai nilai perilaku manusia yang patut dan tidak patut, sejak dahulu sampai sekarang adalah sama. Setiap manusia mempunyai dan mendapat pilihan dan kehendak untuk sejahtera, bahagia, kemuliaan atau sebaliknya. Pilihan dan kehendak kita dalam ber-medsos atau ber-internet of the thing , apakah membuat kita sejahtera, bahagia, mulia ? atau sebaliknya kita salah menggunakannya menjadi “jauh” dari sejahtera, bahagia dan mulia.

Smartphone sudah menjadi alat kerja kita dalam kehidupan sehari hari yang tidak terpisahkan di era saat ini, yang memudahkan kerja dan aktifitas kita, namun nilai kehidupan kita tergantung dari kehendak bebas kita; “memilih dan menentukan nilai” baik atau buruk. Dalam bahasa sejarah atau kejadian diungkap dengan kata – “damai, tenang, sejahtera” dan lawan katanya “ konflik, perang, kehancuran” dari hubungan –interaksi kehidupan antara manusia; masyarakat, bangsa, negara dari sejak nabi Adam sampai sekarang. Bahasa medsospun dipenuhi oleh konten yang bersifat damai dan perang, antara berita benar dan bohong/hoaks (dan lain lainnya) yang kemudian tercatat sebagai jejak digital/sejarah setiap pelakunya.

Kesadaran diri bahwa setiap orang menuliskan sejarahnya di medsos dapat merekam semua aktifitas semua orang dan menyimpan dalam “bank data” menjadi “big data” dan “memframing” sebagai “biografi” setiap orang, kelompok, golongan masyarakat, bangsa dan negara, bahkan antara bangsa/negara. Namun “data data di bank data” dapat di hapus atau direkayasa, di”hack” untuk kepentingan “ baik atau jahat” oleh pemilik mesin atau peretas(hacker), virus internet/malware, kerusakan mesin. Keamanan dan system keamanan /perlindungan data pribadi menjadi sangat penting, agar tidak digunakan untuk kepentingan “jahat” atau dimanipulasi orang lain atau pihak lain.
Pada era serba digital dan online dalam kegiatan administrasi, transaksi ekonomi atau alat bayar, kekuatiran data pribadi, alat bayar, kartu pintar/ATM dicuri dengan di hack atau dimanipulasi menjadi masalah atau hal yang utama. Bagaimana ATM yang diblok atau isinya dikuras karena datanya sudah dirubah atau diketahui data dan passwordnya orang lain. Juga masalah koneksi jaringan siber atau internet yang lemah atau terputus karena gangguan sinyal atau listrik mati pada servernya. Antisipasi secara manual masih sangat penting untuk pengisian, pengumpulan dan penyimpanan data melalui kertas/formulir data

Kamis, 29 Oktober 2020

Maulid Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammmad SAW adalah seorang yang diutus Allah SWT menjadi Rasulullah setelah menerima Wahyu wahyu-Nya melalui malaikat Jibril dan kumpulan wahyu tersebut dikompilasi menjadi kitab suci yang disebut Al Quran. Orang orang yang mengikuti ajaran rasulullah dan menganutnya disebut sebagai orang islam atau muslim. 

Penganut agama islam meyakini dan mengimani Allah dan Rasul-Nya sebagai rukun islam dan rukun iman. Penganut agama menjadikan agama sebagai petunjuk atau alat untuk mencapai kehidupan yang damai dan bahagia, selamat-sejahtera. Sebagai Ideologi adalah kehidupan ideal yang tertinggi dan yang memuaskan lahir dan bathin. Begitulah kehidupan yang ideal bagi seorang yang mengaku beriman atau berislam; pun penganut agama lain.

Idea atau ajaran agama ditulis dalam kitab suci  agama, seperti agama nabi  Daud - Zabur, agama nabi Musa -Taurat, nabi Isa - Injil dan nabi Muhammad - Al Qur'an. Bagaimana  ajaran agama tersebut menjadi peradaban atau dipraktekkan secara luas ?. Masing  masing  agama  mempunyai metode yang berbeda-beda  sesuai dengan jamannya;dimana kitab suci tersebut dicatat atau diajarkan. Dasarnya  semua agama mengajarkan kebaikan untuk hidup -baik diri sendiri dan bermasyarakat. Contoh -contoh ajaran kebaikan diberikan melalui nabi yang membawa ajaran Tuhan; contoh praktek dalam kehidupan sehari hari sebagai seorang nabi dan keluarganya serta dalam kehidupan nabi bermasyarakat. Kisah kisah  para  nabi dan kaumnya pun menjadi contoh  contoh yang diajarkan dalam kitab suci.

Kelahiran Nabi  Muhammad SAW, menjadi momentum sejarah –lahirnya agama  islam di tanah arab. Secara sejarah kelahiran tersebut menjadi peristiwa  besar dalam masa 1500 tahun yang  lalu, yang menimbulkan perubahan peradaban zaman sebelum kelahiran dan sesudahnya di  jazirah arab secara khusus  dan kemudian peradaban dunia secara luas.

Misi nabi  Muhammad SAW diutus adalah hanya untuk memperbaiki akhlak manusia – masyarakat arab khususnya  kemudian umat manusia secara luas. Penekanan misi - memperbaiki akhlak manusia adalah suatu yang sangat mendasar atau sangat prinsip, bahwa memperbaiki adalah suatu proses dari yang rusak, buruk, negatif menjadi baik – positif. Suatu proses beragama yang  dinamis –intens, konsisten, istikoma, bersinambungan-kontinyu  sehingga  menjadi perilaku-perbuatan yang baik atau disebut akhlakul karimah.  Kehidupan ideal yang diajarkan sebagai muslim adalah nilai nilai  dari akhlakul karimah yang  dicontohkan nabi Muhammad, rasulullah SAW. Nilai  nilai universal kenabian dari Nabi Muhammad,  yang tetap hidup sampai akhir jaman dan juga  melalui tuntunan kitab suci Al  Quranul karim  yang dipahami muslim setelah beliau wafat – sampai masa sekarang. 

Bagaimana kehidupan umat Nabi Muhammad di masa  sekarang ini ?   Apakah menjadi umatan  rahmatan lil alamin  ?.  Apakah sudah tercapai kehidupan manusia yang ideal seperti yang di ajarkan para rosulullah ?

Tentu kita  tidak dapat menjawab secara meyakinkan atau benar. Tidak ada agama pun yang bisa menjawab : “sudah mencapai yang ideal”.  Kalau dikatakan agama itu sebagai  rambu rambu jalan, maka kita bisa mengatakan dengan yakin ”sudah mencapainya atau sesuai rambu “.

Praktek  agama, perspektif agama , tafsir agama, fatwa agama adalah  produk beragama yang  sangat  dipengaruhi oleh tempat dan kebudayaaan, perkembangan ilmu pengetahuan(sains) dan tehnologi manusia(bersifat universal/sunnatullah). Oleh karena itu wajah beragama atau cermin kehidupan beragama sangat dipengaruhi oleh persepsi orang secara individu atau kelompok. Inilah yang menimbulkan “bias beragama” antara   nilai ideal agama(misi agama)  dengan  perilaku (akhlak) real beragama yang tidak sama atau “tidak pas”.  Persepsi  kelompok yang menopoli “kebenaran” dan menafikan kelompok lain dalam satu agama, bahkan memaksakan “kebenaran tersebut” kepada kelompok lain diluar agamanya. Jadilah wajah perilaku beragama yang “seram” sebagai wajah agama atau ajaran agama yang buruk atau negative atau seolah olah itulah ujud asli ajaran agama. Sejarah agama agama mencatat – perilaku perilaku  buruk pemegang “kebenaran tuhan” atas agama. Sejarah kelam-hitam  kemanusian terjadi dibelahan dunia oleh pelaku pelaku atas nama agama ; pelaku sebagai pemegang kebenaran tuhan di dunia dan membunuh  atas nama tuhan serta korban dianggap musuh tuhan atau pendosa agama.

Masa sekarang, “memperbaiki perilaku/akhlak” seperti misi nabi Muhammad SAW diutus Allah SWT. Yang sangat relevan sekali adalah memperbaiki  perilaku membuat “berita bohong, fitnah  atas nama kebenaran atau merebut pengaruh politik(kekuasaan). Seolah hadist nabi mengingatkan (1500 tahun yang lalu) pada jaman ini lebih banyak orang  bekerja berbasis informasi-digital(internet) dengan mudah menyebarkan dengan jari jarinya  berbuat negatif via media social(medsos).  Dengan mudah seorang ilmuwan, ustadz, ulama, pakar agama melalui  podcast(youtube), instagram, facebook, whatsapp, telegram, tik tok , dan aplikasi lainnya  menyebarkan sesuatu yang negative tanpa dapat disaring  bahwa yang disharenya adalah kebohongan atau dapat berdampak negative kepada yang menerima atau membacanya; walaupun juga dapat  berdampak positif sebagai sesuatu  pengetahuan yang  baik atau yang inspiratif.

Maulid  Nabi  Muhammad SAW adalah momen intropeksi diri dan refleksi diri  atas segala  ajaran – nilai nilai  ke-islaman yang patut  tetap  kita  tauladani dari  akhlakul karimah nabi -  dalam kehidupan kita saat ini.  Nilai nilai sederhana yang selalu harus kita tauladani adalah  berbuat kebaikan kepada semua manusia tanpa melihat latar belakangnya; perilaku lembut dalam berbicara, senyum, sopan –santun , rendah hati, pemaaf, pemurah, jujur, sabar (dstnya.)  terhadap semua orang termasuk kepada hewan, tumbuhan dan lingkungan alam. Ini adalah  nilai nilai  islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam ; sebagai  perspektif kehidupan islam.

Marilah kita selalu tauladani kehidupan nabi dan rosulullah Muhammad SAW dalam kehidupan kita sekarang dengan perspektif kehidupan saat ini dengan menerapkan  nilai nilai kenabian  yang merupakan nilai nilai al Quran dalam praktek yang praksis.

 

Kata Kunci:

Wajah beragama adalah wujud persepsi seorang penganut beragama. Ajaran agama adalah ajaran ideal perspektif kehidupan.  Perspektif agama  adalah kebaikan bagi atau untuk penganutnya. Perspektif islam adalah kehidupan rahmatan lil alamin – baldatun thoyyibatun wa rabbun  ghofur