Translate

Telusuri via Blog Ini

Rabu, 17 Agustus 2011

55. QUR’AN SURAH XLV. AL-JAATSIAH / YANG BERLUTUT


XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.


55.        QUR’AN SURAH   XLV.  AL-JAATSIAH / YANG BERLUTUT
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 28, yang merupakan bagian dari topik kedua ( 27-37) yang menginformasikan tentang kejadian pada hari kiamat. Tiap kaum akan berlutut dihadapan Tuhan untuk menerima penilaian. Orang orang kafir, karena terpedaya oleh kehidupan dunia, yang sombong serta gencar memperolok-olok para Rasul akan menerima balasannya, demikian pula kaum yang beriman.
TEMA  SURAH:
Suatu informasi yang pasti tentang kejadian yang menunggu tiap kaum dihadapan Tuhan.Tiap manusia pasti akan mempertanggung-jawabkan ulahnya waktu hidupnya didunia !
SUDUT PANDANG SURAH :
Kesadaran akan hari kiamat sebagai hari PENILAIAN akan membantu mengarahkan perilaku manusia dalam membina hidupnya.
56.        QUR’AN SURAH   XLVI :  AL-AHQAAF/BUKIT PASIR
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 21, yang menginformasikan tentang nasib  kaum Hud di Al-Ahqaaf, karena keingkarannya. Mereka memilih mengikuti nenek moyangnya daripada Nabinya. Mengapa mereka yang telah diberi pendengaran, penglihatan dan hati masih bertekad mengikuti nenek-moyangnya daripada Rasul ? Topik sentral ini merupakan topik kedua surah. (21 s/d 26 ).
TEMA  SURAH :
Manusia telah diberi pendengaran, penglihatan dan hati/afidah (bukan sekadar mengerti, memahami, tetapi sampai memaknai/menghayati), namun tidak mau memperdulikan ayat ayat Tuhan. Ini berarti bahwa pendengaran, penglihatan dan hati nya tidak digunakan untuk MENDENGARKAN, MEMPERHATIKAN dan MEMPE-LAJARI dan MENJALANKAN tuntunan Tuhannya. Untuk bisa memahami wahyu, maka manusia harus mau menggunakan ke 3 rahmat itu.
SUDUT PANDANG SURAH :
TRADISI/ADAT/KEBIASAAN yang menghalang-halangi manusia dari jalan Tuhan, yang bahkan alat alat seperti penglihatan, pendengaran dan akal dan hatipun yang telah diberikan Tuhan, tidak mampu mengatasinya bagi kebanyakan manusia. Ini berarti bahwa BUKAN ALAT ALAT yang mubadzir, tetapi manusialah yang MENYIA-NYIAKAN RAHMAT itu.
57.        QUR’AN SURAH   XLVII :  MUHAMMAD; AL- QITAL
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat 2, dari topik pertama surah ( 1 s/d 19 ), yang menerangkan adanya 2 golongan manusia :
R  Yang kafir dan menghalang-halangi manusia berjalan dijalan Alloh
R  Yang beriman, yang beramal shaleh dan yakin akan kebenaran Al-Qur’an yang diturunkan pada Muhammad,
Amalan golongan pertama akan dihapus oleh Tuhan dan amalan golongan kedua pasti akan diterima-Nya. Nama judul kedua terdapat pada banyak ayat ayat topik kedua ( 20 s/d 38), yang menggolongkan manusia atas dasar perintah perang, menjadi 3 golongan :
R  Yang patuh mengikuti perintah (21)
R  Yang  ingkar ( 20) dan murtad ( 25)
R  Yang munafik ( 29-30)
Amalan bagi golongan kedua dan ketiga akan hapus amalannya, hanya yang pertama yang diterima.
TEMA  SURAH :
Berdasarkan nama judul yang pertama, Tuhan menggunakan keyakinan akan kebenaran Al-Qur’an yang diturunkan pada MUHAMMAD sebagai kriteria penggolongan manusia, sedangkan berdasarkan nama judul surah yang kedua, perintah peranglah yang menjadi kriteria-nya. Jadi disini disejajarkan antara keyakinan akan kebenaran wahyu dan perintah perang, untuk memenangkan ajaran Tuhan terhadap ajaran manusia.
SUDUT PANDANG SURAH :
Kesejajaran akan PENGETAHUAN dan TINDAKAN, antara TEORI dan PRAKTEK, antara KEYAKINAN dan PERILAKU, antara ILMU dan AMAL, antara UCAPAN dan TINDAKAN merupakan KRITERIA KE-IMAN-AN. Konsekwensi dan Konsistensi, taqwa dan tawakal disini baru mempunyai arti.
58.        QUR’AN SURAH   XLVIII :  AL-FAATH/KEMENANGAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama dari topik pertama ( 1 s/d 7) yang mengandung penegasan tentang: 
R  Jaminan kemenangan bagi Muhammad, 
R  Di-ampuni-Nya dosa-dosanya dimasa lalu dan dimasa mendatang,
R  Dan jaminan bimbingan dalam jalan yang lurus dan jaminan pertolongan-Nya.
Kemudian diteruskan dengan janji akan menurunkan  ketenangan hati pada orang-orang mukmin untuk menambah keimanannya dan azab bagi orang-orang munafik.
TEMA  SURAH :
Agak sulit dimengerti hubungan ayat pertama dan kedua, karena ada kata “supaya”. Namun bila kita mengetahui asbabun nuzulnya, maka kesulitan itu dapat diatasi. Surah ini turun pada saat terjadinya perjanjian Hudaibiyah pada th. ke 6 H. yang banyak menimbulkan keresahan para sahabat-sahabat Nabi. Mereka mempertanyakan mengapa pada  saat kemenangan dengan cepat dapat dicapai, Nabi justru mengadakan perjanjian perdamaian yang secara sepintas merugikan umat Islam saat itu. Isi perjanjian itu ialah :
R  Nabi tidak meneruskan masuk kota Mekah, meskipun pasti bisa dilakukan pada waktu itu
R  Golongan kafir yang ikut ke Madinah akan dikembalikan ke Mekah, sedangkan
R  Golongan Islam yang tertinggal di Mekah tetap berada di Mekah.
Dengan perjanjian itu dapat dicapai :
R  Islam diakui secara de facto di Mekah dan pertempuran yang lebih banyak mendatangkan korban dapat dicegah.
R  Umat tidak yakin akan kemenangan selanjutnya karena dengan perjanjian itu
Dikhawatirkan orang-orang kafir Mekah dapat memperkuat diri untuk peperangan selanjutnya, namun Tuhan menjamin sebaliknya.
Apakah yang diajarkan oleh kejadian ini ? Tidak lain ialah:  how to win the WAR, not the BATTLE. Jadi tujuannya bukan menang pertempuran, tetapi diterimanya ajaran Islam artinya tercapai tujuan perang!
SUDUT PANDANG SURAH :
Surah ini menegaskan : pandangan Tuhan/wahyu jauh lebih lurus/benar dari pandangan manusia. Jadi apapun yang dijelaskan oleh wahyu itu PASTI AKAN TERBUKTI KEBENARANNYA. Kapan ? Disinilah kata SABAR mempunyai makna.

58.         QUR’AN SURAH   XLIX  :  AL-HUJARAT/KAMAR
TOPIK SENTRAL SURAH :     
Nama judul surah terdapat  pada ayat ke 4 yang merupakan bagian dari topik pertama yang merupakan seruan bagi orang-orang beriman :
R  Jangan mendahului Allah dan Rasul-Nya;
R  Jangan mengangkat suara melebihi suara Nabi;
R  Janganlah memanggil Nabi dari luar kamarnya;
R  Jangan mengharapkan Rasul mengikuti kita.
Topik ditutup dengan pernyataan bahwa seruan ini merupakan karunia dan nikmat Allah.
TEMA SURAH :
Apa yang diungkapkan dalam topik itu ialah ADAB [perilaku akhlak] , artinya bagi seorang beriman harus merupakan suatu kebiasaan/kecenderungan alami. Seorang yang beriman tidak akan mendahului Allah dan Rasulnya berarti segala tindakannya harus sesuai/dilandaskan pada Al-Qur’an dan hadits; mengangkat suaranya melebihi Nabi artinya memilih/ mengikuti kemauannya melebihi dari tuntunan Tuhan; memanggil Nabi dari luar kamarnya berarti menempatkan segala sesuatu diluar konteks tuntunan Ilahi dan jangan mengharapkan Nabi mengikuti kita, mengandung arti mengada-ada dan menyatakan bahwa itu bimbingan wahyu dan hadits (bid’ah).
SUDUT PANDANG SURAH :
Jadi sudut pandang surah ialah : wahyu dan hadits harus dihayati demikian sehingga menjadi KECENDERUNGAN ALAMI bagi seorang beriman, atau meng-internalisasikan nilai wahyu dengan sempurna. Menjalankan ajaran wahyu harus menjadi adab dan adat seorang muslim.

By  A Baghowi Bachar

(Posting  17 Agustus  2011/17  RAMADHAN 1432 H)

Kamis, 11 Agustus 2011

43. QUR’AN SURAH XLIII. AZ-ZUHRUF/PERHIASAN


XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.

43.        QUR’AN SURAH   XLIII.  AZ-ZUHRUF/PERHIASAN
TOPIK SENTRAL SURAH:
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 35, yang termasuk topik kedua surah (32-45) yang berbicara tentang rahmat Tuhan yang diberikan pada manusia. Topik dibuka dengan suatu pertanyaan, apakah mereka , orang orang yang mempertanyakan mengapa rahmat Tuhan itu tidak terbagi rata. ( Pertanyaan tsb. pada saat ini, Abad XX / XXI banyak dipertanyakan dan menjadi dalih untuk tidak mempercayai Al-Qur’an ! Orang orang  itu sangat terlambat datangnya, karena Tuhan telah meng-antisipasikan pada abad ke VII) Tuhan menyatakan bahwa itu untuk memberi kesempatan pada yang diberi lebih untuk membantu yang kurang. (32). Kedua: ayat selanjutnya (33-35) menyatakan :
“ Dan kalau tidaklah karena hendak menghindarkan manusia menjadi satu macam umat, tentu Kami buatkan bagi orang orang yang kafir pada Tuhannya Yang Maha Pemurah loteng dan tangga rumahnya dari perak. - Dan pintu-pintu rumah mereka dan sofa sofanya dari perak.- Dan perhiasan-perhiasan. Semua itu untuk kesenangan kehidupan dunia dan kehidupan akherat disisi Tuhan untuk orang-orang yang TAQWA.” Dilanjutkan dengan pernyataan Tuhan, bahwa barang siapa yang tidak mengindahkan ajaran Tuhan, akan diberikan syetan sebagai teman dekatnya. Topik ditutup dengan suatu perintah untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an.
TEMA  SURAH :
Ditegaskan bahwa perhiasaan yang dimiliki seseorang itu hanyalah kesenangan duniawi. Kekayaan duniawi yang merupakan dambaan kebanyakan manusia, tidak lain hanyalah batu ujian bagi manusia. Dan dibayangkan dalam ayat 33-35 , bahwa perhiasan duniawi yang dimiliki manusia itu lebih banyak mendorong kearah KEKUFURAN, daripada sebaliknya.
SUDUT PANDANG SURAH :
PERHIASAN yang didunia dipandang oleh manusia sebagai penentu tinggi-rendahnya DERAJAT  MANUSIA , pada hakekatnya merupakan UJIAN.
44.        QUR’AN SURAH   XLIV.  AD-DUKHAAN/KABUT
TOPIK SENTRAL SURAH: 
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 10, yang merupakan bagian dari topik pertama (1-33) yang berisi, penegasan Tuhan tentang Al-Qur’an yang menjelaskan segala urusan yang berisi hikmah dan bahwa Tuhan telah memberi peringatan, yang diturunkan pada malam yang penuh berkah, namun manusia masih selalu dalam keraguan. Dilanjutkan dengan ancaman, manusia baru akan menyadari kesalahannya waktu langit membawa kabut yang nyata, yang menutupi manusia dan merupakan azab yang berat.Kemudian manusia memohon Tuhan untuk meringankan adzab-Nya. Namun bila Tuhan meringankan sedikit saja, manusia akan kembali mengingkarinya. Dilanjutkan dengan peringatan yang nyata dalam perang Badr dan kisah Fir’aun. Mereka orang2 yang ingkar dibinasakan Tuhan dan langit serta bumi tidak menangisi mereka. Kemudian bumi akan diwariskan pada generasi yang lain.
TEMA  SURAH :
Topik ini menjelaskan tentang fungsi Al-Qur’an, namun masih terlalu banyak manusia yang meragukannya, sehingga diturunkan ancaman Tuhan yang akan membuktikan akan kebenaran Al-Qur’an pada hari waktu langit mengandung kabut yang tebal. 2 hal yang harus diyakini manusia ialah
R  Kebenaran kandungan wahyu dan
R  Akan datangnya kiamat.
SUDUT PANDANG MANUSIA :
2 realita  harus yang DISADARI manusia ialah KEBENARAN AL-QUR’AN dan DATANGNYA KIAMAT. Kesadaran inilah yang seharusnya menjadi landasan PERILAKU MANUSIA dalam mengelola kehidupannya.


By  A Baghowi Bachar

(Posting  11 Agustus  2011/11  RAMADHAN 1432 H)

Minggu, 07 Agustus 2011

Alasan yang membuat wanita jatuh cinta pada Islam

Alasan yang membuat wanita jatuh cinta pada Islam

Rasul Arasy
Ahad, 7 Agustus 2011 15:00:16

(Arrahmah.com) -  Banyak alasan yang membuat kaum wanita jatuh cinta kepada Islam.  Banyak ‘kejutan’ dan respon yang mengungkapkan tentang “ketertindasan” yang dialami kaum wanita di “negara-negara Islam konservatif” terkait masalah jilbab. Sudah ribuan buku dan tulisan yang membahas tentang hal ini.
Namun meskipun demikian, kita tak bisa memungkiri ada ribuan atau bahkan jutaan wanita yang lebih memilih untuk menutup auratnya dengan jilbab (red: hijab) meskipun ia tengah berada dalam komunitas masyarakat yang bebas.
Mengapa permasalahan tentang wanita yang mengenakan hijab terus diwacanakan? Pendapat tentang sepotong “kain” yang mampu menindas kaum wanita adalah opini yang konyol dan mengada-ada. Pada kenyataannya, kebanyakan dari kaum wanita merasa bahwa jilbab (hijab) telah dibebaskan pada mereka dalam banyak cara.
Para perempuan Muslim tidak lagi tunduk pada degradasi seksual perempuan dalam masyarakat jika mereka memakai jilbabnya. Pernahkah Anda mendengar seorang wanita waras meminta untuk ditindas atau rusak? Pastilah tak ada seorang pun yang berpikir demikian. Percayalah inilah yang dirasakan oleh para perempuan Muslim di seluruh dunia.
Tentu saja Islam tidak melulu tentang jilbab. Jilbab adalah suatu aplikasi aktual terhadap keimanan dan ketaatan kepada Allah.  Meskipun demikian, kewajiban akan pemakaian hijab adalah bersifat fardhu ‘ain bagi kaum Hawa.
Iman Islam didasarkan pada beberapa prinsip, yang pertama dan paling penting adalah konsep Allah yang Esa. Agung dan Kekal, Tak Terbatas dan Maha Perkasa, Maha Penyayang dan Pengasih, Pencipta dan Penyedia. Allah tidak memiliki ayah maupun ibu, tidak anak-anak juga. Dia bukanlah ayah dari siapa pun. Tidak ada yang sama dengan-Nya. Ia adalah Allah seluruh umat manusia, bukan dari suku atau ras tertentu.
Konsep ini jelas sangat menarik bagi orang yang mempelajari Islam karena itu adalah logis, sederhana dan adil. Dalam dunia yang kompleks dan sering ceroboh, kesederhanaan sangat menarik bagi wanita. Hal pertama yang menonjol tentang Islam adalah konsep Allah yang Esa, Tauhid.
Selain itu, –yang mungkin menarik bagi kaum wanita– adalah Islam banyak membahas permasalahan terkait wanita. Meskipun tidak hanya terbatas tentang hal itu (wanita). Islam sendiri membahas permasalahan yang terkait dengan seluruh umat manusia, kaum muda, tua, sakit dan orang tak berdaya, dan orang kaya dan kuat. Islam bahkan membahas mengenai kaum non muslim.
Islam juga berlaku di zaman modern. Hal-hal yang ditulis 1400 tahun yang lalu masih bisa diterapkan untuk saat ini dan masa yang akan datang. Hebatnya, banyak permasalahan terkait wanita ditunjukan solusinya melalui Quran dan Sunnah (kehidupan dan ajaran Nabi Muhammad shallalahu alaihi wa salam).
Banyak para wanita yang bertanya-tanya tentang hikmah di balik banyaknya jumlah istri Rasulullah Nabi Muhammad shallalahu alaihi wa salam. Setiap salah satu dari istri beliau memainkan peran tertentu dalam Islam dan sering disebut kembali ketika mencari penyelesaian masalah oleh perempuan.
Sebagai contoh, istri pertama Rasulullah shallalahu alaihi wa salam, Khadijah (ra.) yang jauh lebih tua dari beliau 15 tahun, seorang wanita bisnis kaya. Dalam hal ini terdapat tauladan bagaimana ketika seorang Muslim menikahi seorang wanita yang usia jauh di atasnya dan dengan kekayaan yang lebih besar darinya. Rasulullah SAW memberikan contoh dan tauladan bagaiman menempatkan diri sebagai seorang suami.
Sementara itu, kenyataan lain bagi perempuan adalah fakta bahwa seorang suami dan ayah, serta saudara dan paman diperintahkan untuk melindunginya. Ini merupakan hukum alam terkait seorang wanita. Seorang gadis tumbuh menjadi wanita yang aman ketika ia memiliki keluarga yang melindunginya. Ketika dia melihat pria di sekelilingnya yang kuat, berani dan terhormat ia pun mampu mengembangkan harga diri yang kuat.
Ketika dia tumbuh dan menikah dan menjadi seorang ibu, pasti dia ingin perlindungan suaminya untuk dirinya sendiri dan keturunannya. Jika kita menyangkal bahwa perempuan adalah seperti halnya laki-laki yang mampu dan berperan sama sebagai pelindung, pada dasarnya kita menyangkal hakikat seorang wanita dan menurunkan posisi manusia. Manusia memiliki tempat dan peran dalam keluarga dan begitu juga perempuan.
Beberapa aspek lain dalam Islam yang menarik bagi wanita, misalnya hak untuk bekerja, hak untuk memiliki properti, hak untuk warisan dan seterusnya. Meskipun semua hal-hal ini penting untuk seorang wanita, hal tersebut mungkin tidak terlalu menarik bagi wanita saat ini karena mereka telah mendapatkannya sekarang.
Namun apa yang mengesankan adalah bahwa mereka diberi hak-hak ini 1400 tahun yang lalu saat sejarah perempuan dalam masyarakat Barat dimarjinalkan sebagai “kelompok masyarakat” dengan intelektual lebih rendah dari pria, tetapi juga sumber utama dari penindasan dan kejahatan. Tetapi dalam Islam, sejak kedatangannya wanita telah mendapatkan tempat yang mulia.
Faktor terakhir yang paling menarik bagi seorang wanita terhadap Islam adalah kedudukan seorang istri, ibu dan keluarga. Islam mendudukkan keluarga dan pernikahan dalam status yang tinggi. Ibu mendapatkan posisi tertinggi di “mata” Islam. Ada banyak contoh dalam Al Quran, salah satunya dalam surat Luqmaan 31:14-15:
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Istri diberi berdiri sangat tinggi dan mempunyai ‘kedudukan’ yang sama dengan laki-laki sebagai manusia. seperti yang tersurat dalam Al-Nisa 4:19.
Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.
Dan Nabi shallalahu alaihi wa salam berkata: “Dan perlakukan wanita dengan kebaikan, dan perlakukan wanita dengan kebaikan.”
Dari Abu Hurairah ra ia berkata : Rasulullah shallalahu alaihi wa salam bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik diantara mereka akhlaqnya, dan yang paling baik diantara kamu sekalian adalah orang yang paling baik terhadap istri mereka”. [HR. Tirmidzi]
“Sebaik-baik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik diantara kalian terhadap istriku.” Diriwayatkan oleh al-Tirmidhi, 3895; digolongkan sebagai shahih oleh al-Albani dalam Shahih Al-Jami ‘, 3314.
Saat ini keberadaan sebuah keluarga seolah berada di ambang kehancuran. Hal ini terjadi karena adanya  persimpangan semua perbatasan peradabaan sekuler atas. Keluarga tidak lagi dinilai sebagai wadah dalam membentuk generasi berperadaban, tetapi konsep tentang berkeluarga seolah menjadi momok yang dikoar-koarkan tentang beban berat yang hendak dipikul terkait permasalahan ekonomi dan kebebasan.
Opini tentang pernikahan adalah pasung bagi kaum wanita adalah wacana konyol yang digemboskan oleh kaum feminisme, karena pada faktanya Islam mengatur tentang setiap adab dalam perkawinan dimana wanita diposisikan dengan kedudukan yang mulia dalam hubungan perkawinan dan keluarga.
Tentunya semua wanita menginginkan kemenangan bagi anak-anak mereka dan keluarga. Masyarakat dan kehidupan mungkin telah berubah dalam banyak cara, namun dalam banyak hal esensi keberadaan manusia masih sama.
Kisah berikut adalah contoh moral yang sangat baik tentang bagaimana Islam memandang perempuan. Orang-orang Yunani Iliad karya Homer dan kami memiliki Mu’tasim.
Seorang wanita Muslim diserang oleh orang Romawi di kota Roma. Dia tidak diperkosa seperti saudari kita di Palestina. Dia tidak dibunuh seperti saudara kita di Bosnia. Bayinya tidak diambil dari perutnya, seperti saudara muslim di Bosnia ketika mereka dipotong hidup-hidup. Tidak ada yang seperti itu yang terjadi padanya.
Pelecehan yang terjadi padanya ‘hanyalah’ disibakkannya kerudung penutup kepalanya oleh tentara Romawi, kemudian  dia berteriak minta keadilan agar haknya dilindungi oleh Penguasa Muslim ketika itu, “Ya Mu’tasim”. Dan teriakan itu sampai di telinga Khalifah Mu’tasim Billah.
Dalam suatu riwayat disebutkan Mu’tasim menyuruh adzan keenam yang bertujuan untuk mengumpulkan semua umat Islam di masjid. Dan mereka berkata, “Ada apa?”. Mu’tasim menjawab bahwa “Sebuah laporan telah saya dengar, seorang saudari Muslim dilecehkan kehormatannya di sebuah kota Romawi.”
Ia berkata “Wallahi, aku akan mengirim tentara yang begitu besar sehingga saat mencapai rombongan tentara pertama yang berangkat telah mencapai sana (kota tempat wanita tersebut tinggal, Roma), rombongan tentara lain baru akan meninggalkan pangkalan kami. Dan saya akan mengirimkan tentara ke kota itu.”
Ini adalah respon menentukan dari seorang Khalifah, ketika kehormatan seorang saudari tersentuh. Bahkan kisah ini terus dan tetap menjadi kisah dalam sejarah moral yang tetap sama. Dan hal ini juga adalah alasan mengapa wanita mencintai Islam! Wallahua’lam. (sumber :  rasularasy/arrahmah.com)

Sabtu, 06 Agustus 2011

40. QUR’AN SURAH XL : AL-MUKMIN


XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.


40. QUR’AN SURAH   XL :  AL-MUKMIN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 28, dalam topik kedua (ayat 23 s/d 55 ), yang mengandung kisah Musa yang diutus Tuhan pada Fir’aun. Disini Musa berada di kandang macan. Namun waktu terjadi pertarungan dialog antar Musa dan Fir’aun, ada seorang laki-laki dari keluarga Fir’aun yang membela Musa dengan kata-katanya : Apakah engkau akan membunuh seorang laki-laki karena ia mengatakan “Tuhanku ialah Allah”, padahal ia telah datang padamu membawa keterangan keterangan dari Tuhanmu. Dan bila ia berdusta, maka ialah yang menanggung dosanya dan jika dia benar , maka akan menimpamu sebagian azab dari yang diperingatkannya iyu” ( 28 ). Mereka juga meragukan Yusuf yang datang sebelum Musa. Diteruskan dengan ajakan si Mukmin diatas untuk mengikuti Musa ( 38-44 ). Topik ditutup dengan peringatan tentang apa yang akan terjadi di hari kiamat dan diakhiri dengan perintah bersabar.
TEMA  SURAH :
Dengan ilustrasi yang sangat jelas, dinyatakan ujud sosok seorang MUKMIN, ialah seorang yang dalam keadaan yang bagaimanapun berani menyatakan keyakinannya. Suatu sikap yang mungkin membahayakan dirinya, namun jelas akan mempengaruhi pendapat umum, menerangi hati mereka yang ragu.
SUDUT PANDANG SURAH :
MENYATAKAN SIKAP itulah sifat seorang MUKMIN, apapun yang dihadapinya. Pantang bagi seorang mukmin untuk bersikap RAGU atau MENDUA. Sikap itu banyak macamnya, mulai dari DIAM (tanpa sikap menantang/provokatif), sampai menyampaikan PENDAPAT atau memperlihatkan dengan suatu TINDAKAN.
41. QUR’AN SURAH   XLI :  FUSSILAT/YANG DIJELASKAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 3 , sebagai bagian dari topik pertama ( Ayat 1 s/d 32 ), yang dibuka dengan kalimat ghaib dan diteruskan dengan penegasan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Yang Maha Pemurah, ayat ayatnya jelas/dijelaskan, sebagai kabar gembira dan peringatan. Kebanyakan manusia menutup hatinya, yang diungkapkan dengan kata hati kami tertutup, telinga kami tersumbat dan antara kami dan kamu ada tabir” yang dilanjutkan dengan jawaban Tuhan, bahwa Muhammad itu hanya manusia seperti mereka, tetapi diberi wahyu untuk disampaikan. Ini berarti bahwa manusia hanya mampu memahami wahyu melalui wahyu itu, sebab yang menjelaskan wahyu itu Tuhan melalui wahyu-Nya.
Dilanjutkan dengan penegasan, bahwa celaka bagi kaum musyrik, ialah mereka yang tidak zakat dan tidak percaya pada hari akhir. Diteruskan dengan proses penciptaan Alam. (10-12). Dilarang syirk seperti kaum ‘Aad dan Tsamud. Ditutup dengan peringatan bahwa yang akan menjadi saksi manusia ialah kulitnya, penglihatan dan pendengarannya.
TEMA  SURAH :
Tema surahnya ialah bahwa ayat ayat Al-qur’an itu jelas/dijelaskan, artinya bahwa manusia kalau dia mau, pasti dapat memahami-nya.Siapa yang menjelaskan ? Tuhan. Tentunya melalui wahyu-Nya. Apa yang diterangkan dengan jelas ialah bahwa syirk itu apapun alasannya tidak dapat diterima oleh Tuhan, ialah mereka yang tidak membayar zakat dan tidak menyakini adanya hari kiamat, yang berarti mereka yang mencintai dunia. Manusia tidak mungkin membela dirinya, karena saksinya ialah kulit, penglihatan dan pendengarannya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Tidak ada satupun alasan manusia untuk mengatakan bahwa dirinya tidak mampu memahami Al-Qur’an, karena Tuhan menyatakan bahwa ayat-ayatnya itu JELAS dan MENJELASKAN. Titik berat penekanannya ialah pada SYIRK, mempertuhan disamping Allah dengan gejalanya TIDAK MEMBAYAR ZAKAT dan TIDAK MEYAKINI AKAN ADANYA HARI KIAMAT atau CINTA-DUNIA.
42.  QUR’AN SURAH   XLII :  ASY- SYUURA/MUSYAWARAH
TOPIK SENTRAL SURAH:
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 38, yang termasuk topik kedua ( 30-43 ) yang dibuka dengan penegasan, bahwa musibah yang menimpa manusia itu hasil ulah tangan manusia sendiri dan manusia tidak dapat lepas tangan dimuka bumi. Dilanjutkan dengan peringatan bahwa manusia itu tergantung mutlak pada Tuhan. Kehidupan manusia di bumi ini adalah rahmat Tuhan, namun yang disisi-Nya itu jauh lebih baik bagi mereka yang beriman dan bertawakal, ialah mereka yang :
R  Menjauhi dosa besar dan kemungkaran ;
R  Apabila marah memberi maaf ;
R  Mendirikan sholat; menafkahkan sebagian rezkinya ;
R  Membela diri bila didzalimi ;
R  Memutuskan segala urusannya melalui musyawarah.
TEMA  SURAH :
Digunakan upaya musyawarah dalam memutuskan segala urusan , karena musibah yang menimpa manusia itu akibat ulah manusia sendiri. Artinya bila manusia mau berupaya apapun, dia tidak boleh tidak harus mengingat akan kemaslahatan umum, maka logis harus dimusyawarah kan. Inilah pandangan Al-Qur’an yang menentang individualisme, inilah makna ukhuwah. Selanjutnya karena manusia wajib mendirikan peradaban Ilahiyah (berlakunya syare’at) dimuka bumi, dan dalam upaya meng-impplementasinya syare’at diperlukan akseptibilitas dan fisibilitas, maka untuk mencapai itu harus bermusyawarah. Musyawarah BUKAN UNTUK MENENTUKAN HUKUM/KEBENARAN, tetapi untuk menentukan JUKLAK-NYA SYARE’AT/hukum Tuhan.
SUDUT PANDANG SURAH:
MUSYAWARAH merupakan persyaratan dalam memecahkan permasalahan. Untuk dapat bermusyawarah manusia harus saling menghargai, mengakui perbedaan pendapat, saling mendengarkan dan yang paling VITAL/MENENTUKAN ialah mempunyai PERSAMAAN LANDASAN/KRITERIA. Satu-satunya landasan ialah hukum Tuhan atau Syare’at Diniyah.

By  A Baghowi Bachar

(posting  6 Agustus  2011/ 6 RAMADHAN)

Selasa, 02 Agustus 2011

37. QUR’AN SURAH XXXVII : ASH-SHAFFAAT/BARISAN


XIV.    MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK ATAU SUB-TOPIK SENTRAL  YANG MEWARNAI KANDUNGAN TIAP SURAH  ATAU MENENTUKAN TEMA SURAH.

37.  QUR’AN SURAH   XXXVII :  ASH-SHAFFAAT/BARISAN
TOPIK SENTRAL SURAH:
Nama judul surah terdapat sebagai sumpah untuk menegaskan bahwa Tuhan manusia itu ESA, Tunggal, yang menciptakan alam raya dan menjaganya dari ganguan syetan. Ada 3 hal yang digunakan sebagai sumpah :
R  Barisan yang teratur
R  Rombongan yang bernahi mungkar
R  Rombongan yang mempelajari pelajaran/pengingat/dzikr
Kemudian diikuti dengan ayat, bahwa bagi mereka yang dapat menangkap pembicaraan/kalimat Tuhan/wahyu , mereka itu akan diiringi dengan cahaya yang cemerlang. Dilanjutkan dengan dialog dengan kaum musyrikin Mekah tentang adanya hari kiamat dan apa yang bisa terjadi.
Nama judul yang kedua terdapat pada ayat ke 164 yang termasuk topik akhir dari surah. Topik yang merupakan bantahan yang tegas, bahwa apa yang dituduhkan manusia tentang sifat Tuhan yang mempunyai anak itu tidak berdasar sama sekali. Ayat yang ada nama judul surah itu, pengakuan dari para malaikat, bahwa mereka selalu dalam barisan waktu bertasbigh pada Tuhan.
TEMA  SURAH :
Surah ini menegaskan akan ke-Esa-an Allah dan kebenaran akan adanya Kiamat. Dan menggunakan 3 hal sebagai penguat/sumpah. 3 hal itu ialah 3 sikap manusia yang vital dalam melahirkan keimanan akan ke-ESA-an Tuhan yang diejawantahkan dalam upaya merekayasa kehidupan menuju ke peradaban Ilahiyah/peradaban MONOTHEISTIK .  Disini ditekankan akan fungsi uchuwah, membrantas kebathilan dan mempelajari wahyu. Keadaan manusia selalu sebaliknya: terpecah belah, hanya berbuat baik dan mengabaikan peringatan. Harus diingat, bahwa nahi mungkar jauh lebih vital daripada amar ma’ruf ! Artinya manusia harus MAMPU dan MAU berkata TIDAK !
Topik akhir yang mengandung nama judul surah hanya menguatkan topik pertama.
SUDUT PANDANG SURAH :
Ada beberapa persaratan yang mutlak untuk menciptakan peradaban Ilahiyah dimuka bumi ini. Persaratan inilah yang harus di-upayakan manusia, sehingga tercapai umah yang :
·           Merupakan barisan yang berlapis lapis,
·           Mengikis kebathilan dan
·           Selalu mempelajari wahyu-nya.
Keadaan yang dilupakan kebanyakan umat. Realitas keperiadakan ummat merupakan keadaan yang terbalik : terpecah-belah, menghunjam ayat ayat kalamullah, membebek sekularalisme dst.
38       QUR’AN SURAH   XXXVIII :  SHAAD
TOPIK SENTRAL SURAH   
Nama judul surah berupa huruf hijazi yang merupakan kalimat ghoib dan digunakan sebagai kata pembuka surah, dilanjutkan dengan sumpah Tuhan dengan Al-Qur’an sebagai dzikr/pengingat. Namun orang-orang kafir yang congkak mengingkarinya dan memilih tuhan tuhan nenek moyang mereka untuk disembah. Diteruskan dengan kisah kaum Nuh, ‘Aad, Fir’aun, Tsamud , kaum Luth dan Syu’eb yang dibinasakan Tuhan karena keingkarannya. Topik ditutup dengan konfirmasi bahwa Al-Qur’an itu mengandung penuh keberkatan , ayat ayatnya supaya diperhatikan hingga orang orang yang berfikir mendapatkan pelajaran. ( ayat 1 s/d 29).
TEMA  SURAH :
Fungsi utama Al-Qur’an itu sebagai  PENGINGAT/DZIKR. Mengingatkan siapa manusia itu, siapa Tuhan dan apa itu wahyu, sehingga manusia dapat bersikap benar.
SUDUT PANDANG SURAH :
Fungsi Al-Qur’an yang tidak boleh di-abaikan manusia. Kita harus MENGGUNAKAN  Al-Qur’an sebagai PENGINGAT/DZIKR, artinya selalu diulang-ulang mempelajarinya selama hidup dan selalu digunakan sebagai rujukan/referensi dalam merekayasa kehidupan ini.

39       QUR’AN SURAH   XXXIX :  AZ-ZUMAR/ROMBONGAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat ke 71 dan 73, yang melukiskan tentang keperiadaan orang-orang yang ingkar yang digiring ke neraka ber-rombongan, demikian pula orang-orang yang beriman, ber-rombongan dimasukkan ke surga. Ayat ayat ini termasuk dalam ayat ayat topik penutup surah yang terdiri dari ayat 64 s/d 75 yang menceriterakan tentang hasil akhir yang diperoleh oleh mereka yang ingkar dan mereka yang beriman. Topik ditutup dengan pernyataan bahwa akhir kehidupan ini seluruh kehidupan/alam raya berada digenggaman Tuhan. Topik dibuka dengan bagaimana seharusnya manusia bersikap, bila diajak untuk menyembah selain Allah. Sebab mereka yang menyekutukan Allah pasti akan terhapus semua amalannya dan termasuk orang-orang yang merugi.
TEMA  SURAH :
Topik ini menunjukkan Final effect, bukan final ketentuan manusia. Artinya neraka atau surga itu bukan ketentuan Tuhan, tetapi benar benar AKIBAT ulah manusia sendiri.
SUDUT PANDANG SURAH :
Neraka dan surga adalah hasil ulah manusia sendiri, BUKAN ketentuan Tuhan.

By  A Baghowi Bachar

(Posting  2 Agustus  2011/ 2 RAMADHAN)