Translate

Telusuri via Blog Ini

Kamis, 08 Juni 2017

Memahami Teori Chaos dalam Hubungan Sosial Politik,Sosial Budaya,Sosial Ekonomi

A plot of the Lorenz attractor for values r = 28σ = 10b = 8/3
Teori chaos , Munculnya organisasi dan struktur lainnya
link

Secara umum  Chaos adalah suatu fase kekacauan  yang  terjadi pada sistem keseimbangan-keteraturan yang dinamis, mengikuti   suatu pola atau hukum alam; yang berulang-ulang atau kontinu -atau dengan kata lain, suatu feedback mechanism system dari  teratur menjadi tidak teratur, sebaliknya dari kacau menjadi tidak kacau.

Fase kemapanan akan mengalami ketidakmapanan dan seperti roda berputar-bergulir, fase ketidakmapanan akan mengalami kemapanan. 

Dalam teori Sosial –Budaya-Politik-Keamanan-Ilmu Pengetahuan:

A animation of a double-rod pendulum at an intermediate energy showing chaotic behavior.
link

Chaos adalah fase perubahan dari status quo, konservatif menjadi dinamis, pembaruan, modern.
Perang, kejahatan, kerusuhan, konflik sosial, polemik intelektual, bencana alam, endemik penyakit adalah wujud chaos. Fase chaos dan tidak chaos menjadi fase nyaman dan tidak nyaman; damai dan tidak damai; beradab dan tidak beradab; dan seterusnya. 

Apakah keadaan saat ini di Indonesia seperti chaos?, dan agar indonesia menjadi maju dan sejahtera?

Rabu, 07 Juni 2017

MAKNA BER "AGAMA"

agama agama , beragama ?


Ke unikan, keindahan, kemerduan dari sesuatu, fenomena alam, budi budaya yang ditangkap oleh mata, telinga; diolah oleh perasaan, pikiran menjadi kekaguman, keagungan, kemuliaan, kenikmatan, kebahagian, ... menjadi nilai nilai hidup –kehidupan akan keberadaan yang “maha pencipta”; menjadi keyakinan, kepercayaan akan keberadaan dan hubungannya kepada Maha Pencipta sebagai Tuhan segenap Alam. Keberadaan diri dan kenikmatan-kebahagian hidup tidak lepas dari ketergantungan dan kebutuhan dengan SANG MAHA PENCIPTA dan menjadi Tuhan-nya. Tuhan yang diyakini dan patut disembah, dipuja dan selalu memberi ilham, petunjuk dalam kehidupannya. Itulah hakekat setiap diri –manusia memiliki fitrah beragama sejak dilahirkan sampai dia dewasa. Fitrah kembali ke jatidiri sebagai makhluk tuhan. Kenikmatan dan kebahagiaan –sebagai orang yang beragama, dan patutlah disyukuri ketika kita lahir dengan orang tua telah beragama; walaupun sebagai agama warisan. Namun adanya fitrah beragama setiap manusia menjadikan setiap orang mampu untuk mendapatkan dirinya pada fase memahami agama dari orang tuanya dan agama agama lain dan fase ketika mampu memilih agama yang diyakininya sendiri setelah dewasa- melepas bayang bayang sebagai agama warisan atau KTP dari orang tuanya; fase dimana sebagai awal dia bersyahadat sebagai orang yang beragama. 

Oleh karena itu agama menjadi kebutuhan bagi setiap manusia dan bagian dari nilai nilai kemanusian-manusia. Tanpa beragama- manusia akan kehilangan nilai kemanusianya yang hakiki.

Keyakinan akan adanya Tuhan adalah suatu yang fitrah, dan diakui ketika melihat fenomena alam; keunikan, keindahan; kebesaran alam, dll. Semoga kita menjadikan moment puasa ramadhan sebulan penuh, sebagai bulan intropeksi diri atas eksistensi diri dan kemanusiaan yang sesuai tuntunan agama, dan pengaruh perubahan peradaban manusia atau dinamika kehidupan manusia. Semoga bias buruk yang melekat dalam diri dapat dikoreksi dan dibersihkan dari kehidupan kita kedepan.



Ciputat, 12 Ramadhan 1438 H

Minggu, 28 Mei 2017

RAMADHAN , MEMBANGUN PERADABAN MANUSIA



Bulan Ramadhan atau Ramadhan adalah bulan puasa bagi umat islam di seluruh dunia; suatu kewajiban bagi setiap orang yang beriman dan mampu atau tidak berhalangan untuk menjalankan puasa selama 1 bulan menurun hitungan bulan komariah atau tahun Hijriah. 

Kegiatan selama bulan puasa ramadhan telah dan terus menjadi budaya umat islam yang beragam berbeda diseluruh dunia; dalam konteks tradisi dipengaruhi oleh masing masing budaya lokal atau budaya masyarakat –bangsa, negara. Budaya indonesia, dilatar belakangi rumpun budaya melayu, mirip seperti di malaysia, singapura, brunei, begitu juga yang terjadi di timur tengah, pakistan, india, bangladesh, iran, afganistan, afrika. Keragaman budaya dunia termasuk budaya “barat” atau “timur” mewarnai tradisi puasa bagi umat islam. Dari sisi lama –waktu puasa pun berbeda yang memberi perbedaan pada kegiatan, makna berpuasa bagi mereka yang mengalami perbedaan waktu yang panjang atau pendek; ada yang puasa 20 jam ada yang singkat 6 jam. Perbedaan iklim yang ekstrem, seperti sangat dingin-seperti di kutub, atau sangat panas di padang pasir –daerah ekuator/garis katulistiwa. Tentu perbedaan atau keragaman yang kemudian menjadi tradisi, budaya ini, menjadi perbedaan nilai nilai – makna dari setiap budaya, masyarakat, individu dalam menjalankan puasa ramadhan. 

Bagi seorang yang beriman, puasa menjadi wajib untuk dilaksanakan sebagai perintah dari bagian rukun islam yang telah di firmankan Allah SWT dalam Al Quran –surat al Baqarah 183, “....agar menjadi orang yang bertaqwa”. Oleh karena itu apapun keadaan, perbedaan tempat, waktu, iklim-cuaca, tradisi-budaya, tidak menjadi halangan atau alasan tidak berpuasa. Puasa menjadi syarat berislam, sebagai muslim, sebagai orang yang beriman kepada Allah SWT. Nilai nilai Taqwa bersifat universal, dalam arti sepanjang waktu-peradaban dan berkorelasi dengan kehidupan di dunia dan akhirat. Puasa memberi warna pada kualitas kehidupan manusia, peradaban manusia, khususnya umat islam dan lebih khusus kepada setiap muslim. Setiap berulang tahun, berulang bulan ramadhan, seorang beriman-islam dievaluasi nilai nilai ketakwaannya, nilai kualitas hidupnya dalam mewarnai kehidupan dirinya dan peradaban manusia. Seperti bulan bernilai “1000 bulan”, bulan pemuliaan manusia, bulan kembali kejati diri sebagai hamba-makhluk; bermakna kembali mengemas “menjadi manusia yang baik, individu yang sadar atas keberadan dirinya di dunia, kembali pada fitrahnya sebagai makhluk yang lemah”. Dalam konteks penyadaran diri, puasa adalah cara –Allah memberi waktu-ruang bagi orang islam untuk memahami, mempelajari, mendidik,mempraktekan nilai nilai takwa, nilai nilai alquran, nilai nilai rahmatan alamin, nilai nilai kemanusia-an yang baik –beradab; dengan kata lain nilai ubudiyah, muamalah yang telah di contohkan rosullulah saw dan nilai nilai universal al quran. Ketika tujuan berpuasa tercapai, maka pikiran, nafsu –emosi-mental akan mudah terkendali, teratur, harmoni pada sikap, perilaku benar-salah, baik-buruk dari kehendak bebas manusia(free will). 

Puasa Ramadhan bukan sekedar ritual sholat taraweh, menahan lapar dari makan, haus dari minum, serta hubungan suami-istri, tetapi semua aktifitas yang telah Allah SWT syariatkan sebagai “yang diharamkan”. Dalam arti yang lain, “suatu yang halal - diharamkan atau dibatalkan selama sebulan berpuasa ramadhan-sejak imsak sampai berbuka, termaksuk hal yang sudah diharamkan”. 

Suatu kebutuhan pokok atau yang mendasar, seperti makan , minum, seks, menjadi dorongan manusia untuk mencari nafkah, hidup dan berkeluarga, bermasyarakat- bersosialisasi. Hubungan manusia dan manusia akibat mata-rantai makan-minum-seks menimbulkan rantai ketergantungan ekonomi-sosial; seperti rantai komunikasi, rantai perdagangan. Saling butuh dan membutuhkan, hidup –menghidupkan menimbulkan interaksi antara manusia; interaksi yang kompleks. Nilai nilai yang timbul, menjadi norma, dan norma norma menjadi aturan-tradisi, peraturan, undang-undang. Nilai nilai islam mengatur dan menjadi syariat bagi seorang muslim. Dalam konteks memenuhi kebutuhan pokok hidup, maka seorang muslim hendaknya mampu mengendalikan diri dari keinginan bebasnya(free will) yang tidak terbatas dari perbuatan yang salah, buruk bagi orang lain; sebaliknya menjadikan free willnya sebagai “rahmatan alamin”. 

Secara alamiah manusia, mempunyai kecendrungan ego yang kuat, mementingkan diri sendiri dari orang lain atau sekitarnya. Kecendrungan manusia mengikuti hawa nafsu, pikiran, keyakinan, tradisi-budaya, agama. Apabila kecendrungan tersebut dipengaruhi oleh niat jahat, dendam, benci, ambisi buruk, keyakinan yang salah atau sesat, maka dapat menjadi malapetaka bagi orang lain, masyarakat, bahkan bangsa dan negara. Ketika kerusakan terjadi akibat perang, konflik dalam keluarga, masyarakat, bangsa-negara, maka kualitas hidup manusia juga rusak atau peradaban manusia menjadi “barbar”. Oleh karena itu “hawa nafsu” dapat merusak tatanan hubungan antara manusia. Apa yang terjadi di dunia –dewasa ini, banyak negara miskin - terjadi perang, karena masalah “ rantai makanan”akibat orang orang mengikuti hawa nafsunya sendiri, tidak mampu mengendalikan diri dari pemimpinnya atau negara lain yang lebih kaya/besar.

Esensi dari pengendalian diri manusia - dari kecendrungan ego yang salah-buruk, dari pengaruh kehendak bebas manusia(free will) adalah pengendalian diri melalui puasa, imsak. Ketika kecendrungan free will terkendali, sikap, perilaku seorang muslim akan mudah mengendalikan egonya, dan mampu berpikir luas, bersikap-perilaku yang arif dan bijak dalam hidup dan kehidupannya di dunia dan akhirat. Puasa mengembalikan diri kepada sifat dan sikap kehambaan manusia kepada Maha Penciptanya. Ketika manusia sadar atas jati dirinya, maka hubungan dirinya dan Tuhannya akan menguat atau menyatu atau mesra atau khu’syu atau ma’syuk; tidak ada kekuatiran atau ketakutan dalam beribadah/hidup. Esensi lainnya , Puasa menguatkan cintanya kepada Tuhannya. Orang yang mencinta akan selalu merindukan, galau, gembira, bahagia bahkan mabuk cinta, setiap bertemu, mendengar namanya, jauh darinya, ketika dia berkata-kata , ....dsb.nya. Itulah ibarat bulan ramadhan – bulan percintaan, bulan berkasih sayang, bulan memadu kasih, bulan memohon ampun, bulan memaafkan, bulan beramal baik, dsbnya.

Rabu, 10 Mei 2017

A Y A T " IQRA' BACALAH": #HOAX, #BERITA BOHONG

A Y A T " IQRA' BACALAH": #HOAX, #BERITA BOHONG: HOAX , HOAKS , INFORMASI PALSU, BERITA KW ....dalam bingkai MEDIA SOSIAL Kemajuan tehnologi editing atau rekayasa dengan ...

GUNDAH SEBARAN BERITA BOHONG(HOAKS ) DI MEDSOS



HOAX , HOAKS , INFORMASI PALSU, BERITA KW

....dalam bingkai MEDIA SOSIAL



Kemajuan tehnologi editing atau rekayasa dengan aplikasinya seperti camera 360, picArt photo studio, prisma, photosoft, photo scan, adobe premiere clip, magisto, powerDirector, coreldraw, dll. ; mampu memanipulasi berita, gambar, foto, map, yang asli jadi palsu atau yang palsu menjadi seperti asli ; atau komparasi objek dengan objek lain yang hampir sama seperti unplag, writecheck, copyscape, plagscan, duplichecker, dll. ; mampu mendeteksi “ karya tulis asli atau plagiat”. 

Media sosial (medsos) via Android, iOS, atau lainnya dengan aplikasinya, menjadi alat atau tempat menyebarkan/share/upload/download dari “karya asli atau palsu”, ” berita , foto asli atau palsu” - yang “palsu” sekarang menjadi viral dengan istilah “hoax”; berita atau isi ujaran atau dan gambar palsu- telah menjadi “ senjata fitnah “ senjata cemoohan, senjata hinaan, dsbnya kepada orang atau kelompok, bahkan bangsa dan negara. Berita Hoax yang bersifat “SARA” sangat berbahaya; akibatnya terjadi perpecahan di negara timur tengah – seperti irak, suriah, palestina, mesir, afghanistan, burma, banglades. Dahulu hoax dikenal sebagai ” propaganda, agitasi, intimidasi secara langsung terhadap bangsa atau negara yang dianggap musuh atau berbeda ideologi agar terjadi perpecahan di dalam masyarakatnya atau pemerintahannya menurut keinginan bangsa atau negara lain, tetapi sekarang untuk merebut “ pengaruh “ secara politik, ekonomi, sosial, budaya, keamanan secara langsung per-orangan, keluarga, kelompok, partai atau rezim. 

Dalam politik istilah “ black campaign” lebih sering atau intensitas hoax lebih tinggi dari pada bidang ekonomi, sosial, lainnya. Sepertinya menjadi suatu metode untuk melumpuhkan lawan dalam ber “demokrasi” atau sesuatu yang “sah saja” dalam memenangkan “kekuasaan” dalam demokrasi. 

Kemampuan membuat “Hoax” juga seperti “ mata pencaharian bagi pembuatnya” agar menjadi viral; artinya orang terus menshare secara masif, sehingga ribuan – bahkan jutaan, sebagai berita yang benar, sampai orang sadar itu hoax; walaupun itu sudah disadari sebagian orang hoax, sebagiannya lagi masih menganggap benar atau belum menyadari hoax, sehingga terus bergulir, bahkan di “buzzer” makin bertambah orang mensharenya pada kesempatan lain atau waktu yang lain sesuai kepentingan atau tujuan dibuatnya hoax.

Apakah disadari atau tidak secara agama atau norma –etika sosial bahwa pembuat hoax atau menyebarkannya merusak tatanan sosial bermasyarakat, bahkan berbangsa dan negara. Hilangnya kepercayaan antara individu, kelompok, masyarakat, rakyat dan pemerintah dapat merusak kesatuan dan persatuan bangsa dan negara. Berita yang benar dianggap hoax dan sebaliknya yang hoax dianggap benar. Pada dasarnya atau hakekat nya hoax timbul berasal dari orang yang tidak jujur, khianat, iri dengki, benci, keji, hasut; atau dengan kata lain, suka berbohong, memfitnah, menghasut, menghalalkan segala cara untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok/golongannya. Betapa malangnya ketika jatuh korban atau banyak korban akibat hoax baik yang menyebarkannya, dan yang menjadi sasarannya ketika disadari atau diketahui bahwa “itu hanyalah hoax atau bukan hal yang benar”; sudah terjadi perpecahan, konflik, perang, dsbnya.

Kalau itu pelakunya negara atau bangsa lain-adikuasa terhadap bangsa lain, atau pemerintah terhadap rakyatnya, seperti dianggap berlalu saja dengan hanya minta maaf atau kesalahan inteljen atau hanya dianggap perang ideologi, proxy war, information war.

Kalau itu pelakunya individu, atau kelompok terhadap masyarakat atau kelompok lain, seperti dianggap kelompok lain melakukan hal yang sama; hoax lawan hoax. Hoax hoax yang sudah dibuat seperti amunisi dan menjadi cadangan amunisi yang siap ditembakan kembali apabila pelakunya tidak ditangkap dan diberi sangsi hukum yang sesuai. Hoax seperti diperjual belikan kepada orang atau kelompok atau partai yang berkepentingan untuk tujuan tujuan tertentu. Amunisi amunisi hoax di tembakkan dan secara terus menurus, teratur, bergelombang, sedikit sedikit atau masif melalui senjata medsos; seperti Whatsapp(WA), Facebook(FB), Twitter, Line, Blogger, Instagram, Sms, Mms, Yahoo messenger, Google messenger, Skype, dll. Keadaan ini seperti keadaan antara bangsa atau negara - seperti “war” perang ideologi, proxy war, information war.

Apakah keadaan demikian lazim dalam sistem demokrasi ,atau pertarungan yang juga ada dalam monokrasi, teokrasi, otokrasi ? Apakah sebaliknya hal ini tidak terjadi pada sistem diluar demokrasi ?

Ketika Hoax menjadi sumber berita atau bahan rujukan dalam “pernyataan”, “tulisan” atau “spanduk”, “baliho” untuk di publikasikan tanpa menyaring(filter) kebenarannya, dapat merusak reputasi, kredibilitas, intergritas orang yang menyampaikannya atau membuatnya. Bahkan ketika disampaikan oleh orang yang dianggap “prof”, Doktor, atau Tokoh masyarakat, Ulama, Kyai, Habib, atau orang yang dianggap masyarakat sebagai ‘patut diteladani’ atau pejabat negara, menteri, polisi, tentara, anggota DPR, DPD, bahkan Presiden. Dampak buruknya - terjadi “chaos” dalam masyarakat atau pemerintahan, berbangsa dan negara, bahkan disintergrasi bangsa.

Sebagai senjata, Hoax dapat bersifat seperti pisau, pedang,peluru, bom, yang “mematikan” sasarannya, tidak sekedar kalah dan luka. Oleh karena itu hakekatnya Hoax sama dengan “fitnah”. Seperti idiom “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan”.

Menyaring berita, foto, meme dari medsos yang kemungkinan hoax dan menyetop atau tidak menyebarkan kemungkinan hoax adalah sikap dan tindakan yang bijak - sebagai anggota masyarakat yang baik. Kedewasaan dalam bermedsos penting dipelajari, dengan selalu berhati hati menshare yang dianggap bermanfaat dan benar. Tidak mudah percaya dengan segala bentuk promosi, provokasi- agitasi, pernyataan/deklarasi, himbauan,nasehat, dsbnya. 

Dalam pandangan agama , berbuat merugikan orang lain dengan berbohong, memfitnah , mencemooh, menghina, mencaci maki, memberi riba, mencuri, berkhianat, membunuh dilarang dan dianggap perbuatan dosa, apalagi akibat hoax seorang melakukan perbuatan yang dilarang tersebut, walaupun dan bahkan atas nama agama – membela agama. Bersikap dan bertindak atas nama agama karena pengaruh hoax adalah perbuatan zhalim atau perbuatan bodoh(jahiliyah).

Semaraknya penggunaan smartphone dengan aplikasi yang canggih; memberi kesempatan untuk mengakses berita , informasi, foto, video, lebih cepat , mudah dari dan ke seluruh dunia. Penggunalah yang harus mengendalikan diri dari segala arus yang diterimanya apakah baik dan buruk, apakah benar dan salah, bermanfaat atau tidak. Ketika digunakan pada hal yang bermanfaat-sebagai hiburan, komunikasi, pelajaran, bisnis yang mensejahterakan dan meningkatkan kebahagiaan, serta peradaban hidup dan keluarganya; bahkan bermanfaat kepada kepentingan peradaban manusia. Bukan sebaliknya – merusak sendi sendi hubungan antara manusia baik disekitarnya dan masyarakat dunia maya.

Bagaimana dari sudut pandangan Al Quran, sebagai petunjuk - tentang sikap, perilaku seorang muslim terhadap hal berita, informasi; dalam komunikasi antara manusia, dalam hubungan sosial masyarakat yang heterogen ?. Bagaimana firman Allah dalam ayat ayat al Quran memberi pandangan terhadap hal kejadian kejadian di “dunia media sosial” ?


Al Quran surat 49. Al Hujuraat ayat 6  (QS. Al Hujuraat ayat 6) :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ 


"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

QS. An Nuur ayat 12 dan 15 :

Ayat 12:

"Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”

Ayat 15:

"(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar."

QS. Al-Isra’ ayat 36 :

”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya”. 

QS. Al Hujuraat ayat 11:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan (gelar-gelar yang buruk). Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." 


Pengumpat atau orang yang mencela adalah orang-orang tercela dan terlaknat sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT berikut : 

QS. Al Humazah ayat 1:

"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela” 

Seburuk buruk sifat dan nama panggilan adalah pemberian gelar dengan gelar yang buruk, sebagaimana yang dulu dilakukan pada masa jahiliyyah.

QS.Al-Hujuraat ayat 12:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari keburukan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing satu sama lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

QS.Al Israa' ayat 53:

"Dan katakanlah kepada hamba hamba KU: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

QS. Al-Qashas ayat 55 :

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling dari padanya. Dan mereka berkata: "Bagi kami amal amal kami dan bagimu amal amal mu, semoga selamatlah kamu, kami tidak ingin bergaul dengan orang orang yg jahil"

Dalam Riwayat Hadist (H.R. Al-Bukhari dan Muslim) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” 


Dari kutipan ayat ayat al Quran dalam beberapa surat tersebut, dapat diambil berapa point atau petunjuk pokok bagi seorang muslim dalam berinteraksi dengan sesama muslim atau manusia; atau dalam konteks yang lebih luas - berinteraksi dalam hal bermasyarakat, berbangsa-negara, setiap muslim dalam menyampaikan berita, pesan, berkomunikasi harus bersikap-perilaku jujur, amanah, baik, benar, hati-hati, teliti, arif bijak -persuasip, adil, kasih sayang, pemaaf, penghamba/rendah hati dan sebaliknya. Jadi dalam hal kebohongan - seperti HOAX maka bukan suatu hal dianggap biasa dalam islam, tetapi suatu yang dilarang, zhalim, buruk, bahkan yang bersifat hal penting – seperti fitnah menjadi dosa besar; hal itu bukan sikap perilaku sebagai akhlakul karimah seorang muslim. 

Perpecahan umat atau masyarakat dapat karena berita atau pesan Hoax yang menghasut, membakar emosi penerima pesan - yang menganggap “pesan benar” dan menimbulkan amarah atau menyebarkannya sebagai “hal penting” yang layak diketahui seluruh orang dan menyebarkannya sebagai kewajiban dan amalan baik. Ketika kenyataan diketahui kemudian sebagai “hoax” pun, berita yang sudah menyebar, tidak diantisipasi atau bantahan balik sebagai hoax ; akibatnya berita hoax menjadi liar dan merusak rekatan sendi sendi dalam masyarakat atau hubungan antara manusia.

Dalam kondisi umat islam sekarang yang mendapatkan berita hoax bermacam-macam yang bersifat “sara”, maka sikap terbaik adalah kembali kepada Ajaran Al Quran dan Hadist yang dipesankan Nabi-Rosullah Muhammad saw. Caranya men-tauladani kehidupan beliau ; sikap, perilaku yang menjadi akhlakul karimah; menjadi Al Quran berjalan; menjadi pandangan hidup”way of life”; menjadikan umat “rahmatan alamin” bagi kaumnya dan umat lain di jamannya. Menghadirkan “sosok rasulullah saw” dalam kehidupan sehari hari seperti seorang kekasih yang selalu hadir dalam hati, walaupun jauh, walaupun sudah tiada, dekat dan hidup dalam diri kita. Kecintaan terhadap rosulullah saw, menjadi kecintaan yang abadi yang selalu menguatkan-menginspirasi-memotivasi-merindukan-menirukan sikap-perilaku kita -seperti beliau, dalam kehidupan sehari hari. Tidak ada derajat orang lain yang lebih tinggi untuk menjadi tauladan umat islam, selain rosullulah swa saat ini. Oleh karena itu, umat islam ketika mengalami kehilangan atau kekacauan indentitas atau polusi peradaban, harus kembali kepada tauladan rosulullah yaitu kembali ke Al Quran dan Al Hadist, terutama dalam hal mu’amalah; hubungan antara manusia. Bukan sebaliknya mentauladani yang lain-orang orang fasik atau mentaklidkan diri kepada orang yang mengaku “ulama”, mengaku seperti rabbi/pendeta, “pembawa ajaran agama” tetapi menjadikan agama sebagai alat memenuhi kepentingan peribadi atau duniawi dengan cara yang tidak sesuai ajaran nabi-rosul. Cara cara yang tidak islami seperti “korupsi” , “hoax”, bicara tidak santun, tidak jujur, mencemooh/mengolok-olok, dll.; bukanlah menjadi karakter / kepribadian seorang muslim yang mencinta Allah dan RosulNya. 

Membela Islam ?

Belakangan ini kita di hebohkan dengan jargon “membela islam” yang dilatar belakang tuduhan penistaan agama oleh ahok; yang “diopinikan” sebagai sebagai penistaan agama islam; walaupun konteksnya menimbulkan perdebatan secara hukum, bahasa, agama dan berbau kepentingan politis. Semangat membela agama menggeser arti-makna sesungguhnya dari makna esensinya menjadi makna superfisial dengan cara membela agama melalui ikut demonstrasi, mendukung dengan dana, bekal, panitia, koordinator, menshare ajakan via medsos, dll. Ajakan membela agama seperti dorongan printah agama yang wajib harus dilaksanakan segera; kalau tidak, dianggap bukan muslim yang baik, tidak berhak masuk surga, tidak berhak di sholatkan mayitnya; bahkan dikatakan munafik, fasik, murtad. Seperti perintah pergi perang melawan musuh-kafir quraish; umat islam indonesia dalam keadaan “darurat” sedang menghadapi musuh –“penista agama”; di opinikan penista bagian dari rezim penguasa-pengusaha/pemerintah yang mendukungnya atau membelanya; juga anggap sebagai bagian dari musuh. Demontrasi besar besaran yang digerakan/diorganisasikan berserial 411, 212, 55 untuk melawan, menghukum ahok dan menekan –melawan “pemerintah”. Perlawanan yang dianggap kemenangan pembela islam ketika ahok kalah dalam pilkada DKI dan diputus Hakim sebagai penista dengan hukuman 2 tahun-langsung di penjara, serta ahok harus melepas jabatan gubernur ke wakilnya Djarot. Seperti eforia bagi pemenang bawah perjuangan membela islam berhasil ; bahwa sikap membela islam menihilkan penista. Tetapi dilain pihak tokoh pembela pembela islam dilaporkan ke polisi karena kasus yang sama-pernistaan terhadap negara, orang yang meninggal, bahkan kasus yang lain –melakukan perbuatan asusila. 

Makna membela islam pada konteks ideologis menjadi kabur atau bias ketika tokoh yang dikatakan “ulama, kiyai, ustadz, pemimpin,tokoh” islam memberi tauladan buruk- yang tidak sesuai akhlak rosulullah saw. Dengan kata lain membela islam menjadi kehilangan makna dalam konteks ahoks. Apalagi cara cara atau metode himbauan, hasutan via ceramah, bulletin, pamplet, spanduk, pesan singkat via medsos , bahkan hoaks banyak mempengaruhi sebagian umat islam untuk percaya; membentuk opini dan menggerakan massa dan mudah diarahkan oleh tokoh tokoh penggeraknya. Ketika tokoh tokoh ini tersangkut perkara hukum seperti ahok, mereka membela bahwa ulamanya dikriminalisasi dan berusaha mempersulit pemeriksaan polisi. Ironis sikap-perilaku tersebut tidak menjadi contoh yang baik bagi umat/masyarakat hukum indonesia; seperti yang dicontohkan oleh ahok ketika menjadi tersangka dan terdakwa.

Esensinya membela islam adalah mengamalkan nilai-nilai kehidupan rosululah sebagai norma, etika , hukum dalam sikap-perilaku hidup sebagai muslim sehari-hari (way of life). Dalam konteks ubudiyah – menjadikan nilai nilai tauhid, sholat, sebagai kepatuhan dan ketundukan kepada Allah SWT setiap waktu. Dalam konteks mu’amalah – menjadikan nilai nilai zakat, puasa, haji sebagai kehambaannya kepada Allah SWT dengan berbagi kepada sesama, mengendalikan diri-egoisme dan pengorbanan diri-usaha dengan kepasrahan diri, kesabaran kepada Allah SWT dalam interaksi dalam masyarakat, umat manusia, alam semesta/lingkungannya menjadi rahmatan alamin. Dalam esensi yang sederhana, membela islam menjadi tauladan yang baik bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya sebagai seorang muslim.

Apakah kita sesudah membela islam yang sesungguhnya ?

Ciputat , 10 mei 2017







Senin, 12 Desember 2016

Menjadikan Maulid Nabi, sebagai Refleksi Cinta Rosul

“Hari  senen 12  Desember 2016  libur,  tanggal merah”,   begitu   kata sahabat.  Memangnya  libur apa ?, penasaran kataku. “ Hari Maulid  nabi – 12 rabi'ul- awwal 1438 H...”.  “ Masya Allah “ dalam hatiku,  karena yang ku ingat hanya hari lahir (maulid) anakku dan istriku di bulan Desember.  Aku selalu  merayakan secara sederhana , sebagai rasa syukur , sekeluarga  dengan  makan bersama atau potong kue ulang tahun  yang dipesan di toko kue dan itu  sudah menjadi tradisi keluarga untuk  menguatkan kebersamaan, kasih sayang, mengingatkan tentang sejarah “hidup” sebagai makhluk di dunia.

Menjadi  tradisiku setiap Maulid  Nabi Muhammad SAW, sebagai  hari perayaan “ refleksi diri” bagaimana  sejarah Nabi atau kehidupan Nabi dahulu, bagaimana direfleksikan dalam kehidupan saat ini dan apa yang telah  diamalkan,  seperti telah Beliau contohkan dan harus  menjadi tauladan terbaik / uswatun hasanah bagi setiap muslim / umat muhammad.

Sekilas sejarah, walaupun hari tanggalnya masih berbeda  pendapat, pastinya, hal ini tidak penting  bagiku, apakah tanggal  9  atau 12 rabbiul’awal. Dalam sejarah  mencatat “katanya” sepakat hari senen, tahun gajah, 571 Masehi; sampai sekarang periwayat/sejarahwan islam berbeda pendapat tentang  tanggal bulan maulid.

Para sarjana sejarahwan Islam berbeda pendapat tentang sejarah yang sebenarnya, kelahiran Nabi saw. Hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim hanya menyebut bahwa Nabi Muhammad  SAW lahir pada hari senen tanpa menyebut tanggal bulannya. Dalam buku karya besar sejarah Islam, seperti al-Bidayah wa al-Nihayah oleh al-Imam Ibn Kathir (meninggal 774H) disebutkan  berbagai pendapat tentang hari dan tanggal bulan kelahiran/ maulid  Nabi Muhammad saw.

Apa pun yang penting, sejarahwan Timur atau Barat, Utara atau Selatan tidak pernah berbeda pendapat tentang lahirnya seorang insan bernama Muhammad bin Abdillah yang diikrarkan oleh umat Islam sebagai rasul terakhir yang diutuskan Allah.

Ketidak pastian  atau Kegagalan Ahli sejarahwan untuk mengetahui tanggal bulan Maulid Nabi saw. dikarenakan  antara lain,  para sahabat Nabi saw saat itu, tidak merayakannya. Walaupun dalam sejarah Islam, merekalah generasi yang paling mencintai Nabi saw.  namun mereka tidak membuat perayaan khusus hari maulid Nabi saw disebabkan karena mereka tidak melihat Baginda Rosul melakukan hal yang demikian.

Dalam Fatwa al-Azhar,  diakui bahwa ahli sejarahwan Islam tidak mengetahui , siapa  yang memulai perayaan Maulid Nabi saw, kecuali  zaman dinasti  Fatimiyyah di Mesir yang mengadakannya secara besar-besaran.

Kita semua bersyukur dan bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad saw.  Allah SWT  telah mengabadikan dalam nama surah dalam Al Qur’an; “Muhammad”. Suatu  yang sangat istimewa selain  nama  nama surah lain  dari  para nabi dan rosul Allah, seperti Ibrahim, Yunus,Yusuf, Ali Imran, Maryam, Luqman.

Makna  diturunkan   “wahyu Allah” adalah  dilahirkannya para nabi dan rasul Allah kepada umatnya. Umat  Muhammad  adalah umat manusia dan sekalian alam, yang mendapatkan  tuntunan wahyu ilahi yang terakhir melalui  nabi dan rosul bernama  Muhammad saw. Karena  itu merayakan lahirnya/ maulidnya adalah wujud  rasa syukur dengan refleksi diri umatnya, terhadap tuntunan-petunjuk Allah melalui  kitab  Al Qur’an dan contoh contoh sunnah nabi-rosul, agar selalu  diamalkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari hari,    sampai akhir zaman.

Kita wajib mengetahui dan memaham  tentang sejarah Nabi-Rosullah,Muhammad saw. Setiap tahun kita merayakan maulid, apakah umat Islam bertambah  makin  mentauladani dan berperilaku seperti Beliau, atau sesuai  tuntunan  Al Qur’an dan Sunnah Rosul ?.

Marilah kita  kembali dan kembali  mengulang selalu merefleksikan diri  dengan  memahami dan mengamalkan –kajian ke-islaman kita  dengan belajar setiap waktu.   marilah kita   merefleksikan diri  di hari maulid Nabi, untuk membuka lembaran Qur’an, yaitu surah Muhammad (47),  dalam kajian menggunakan metoda tafsir Sistematika Al Qur’an berikut  ini(kajian dalam Blog  ini): 

QUR’AN SURAH   47 :  MUHAMMAD; AL- QITAL

TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat 2, dari topik pertama surah ( 1 s/d 19 ), yang menerangkan adanya 2 golongan manusia :
  •  Yang kafir dan menghalang-halangi manusia berjalan dijalan Allah
  •  Yang beriman, yang beramal shaleh dan yakin akan kebenaran Al-Qur’an yang diturunkan pada Muhammad,

Amalan golongan pertama akan dihapus oleh Tuhan dan amalan golongan kedua pasti akan diterima-Nya. Nama judul kedua terdapat pada banyak ayat ayat topik kedua ( 20 s/d 38), yang menggolongkan manusia atas dasar perintah perang, menjadi 3 golongan :
  •  Yang patuh mengikuti perintah (21)
  •  Yang  ingkar ( 20) dan murtad ( 25)
  • Yang munafik ( 29-30)

Amalan bagi golongan kedua dan ketiga akan hapus amalannya, hanya yang pertama yang diterima.

TEMA  SURAH :
Berdasarkan nama judul yang pertama, Tuhan menggunakan keyakinan akan kebenaran Al-Qur’an yang diturunkan pada MUHAMMAD sebagai kriteria penggolongan manusia, sedangkan berdasarkan nama judul surah yang kedua, perintah peranglah yang menjadi kriteria-nya. Jadi disini disejajarkan antara keyakinan akan kebenaran wahyu dan perintah perang, untuk memenangkan ajaran Tuhan terhadap ajaran manusia.

SUDUT PANDANG SURAH :

Kesejajaran akan PENGETAHUAN dan TINDAKAN, antara TEORI dan PRAKTEK, antara KEYAKINAN dan PERILAKU, antara ILMU dan AMAL, antara UCAPAN dan TINDAKAN merupakan KRITERIA KE-IMAN-AN. Konsekwensi dan Konsistensi, taqwa dan tawakal disini baru mempunyai arti.

Minggu, 11 Desember 2016

Mengapa Perlu Metoda Tafsir Al Quran?..(2)



Akhirnya apakah ‘ metoda tafsir’ yang dapat digunakan pada abad ini sebagai landasan ijma‘ tidak perlu dicari, karena yang ada pada saat ini hanyalah persyaratan mufassirnya saja ?. Apakah metoda yang ada yang telah dianggap baku, terutama di negara kita ini telah mencukupi ?. Kalau iya, mengapa ijma’ tidak pernah mencapai tujuannya untuk menyatukan pendapat umat ?. Mengapa para ulama kita selalu saja berbeda pendapat tanpa ada usaha maksimal untuk saling mendekati dan mengapa banyak terjadi percekcokan, bahkan permusuhan ?. Mengapa falsafah hidup Qur’an , yang notabene datang dari Sang Pencipta , tidak dapat mengimbangi falsafah hidup dunia(materialisme-liberalisme) yang ada ?.  Mengapa banyak tulisan tulisan yang mengkritik, bahkan banyak pula yang menghujat kitab kitab tafsir, bahkan Al Qur’an yang tidak rasional ?. 

Sekian banyak pertanyaan yang menghujam benak penulis, yang membuat sangat prihatin menghadapi masa depan kehidupan manusia. Sangat tegas dan jelas, bahwa Allah , Pencipta dan Penguasa kehidupan telah menurunkan Wahyu terakhir-Nya, untuk memerintahkan pada seluruh manusia, makhluk-Nya yang telah menirima penugasan untuk mewujudkan kehidupan duniawinya sebagai Peradaban Ilahiyah berdasarkan Al Qur’an.

Namun apa yang terjadi ?, Justru Peradaban Jahiliyah (peradaban sekuler, materialisme-liberalisme ) yang sekarang menguasai kehidupan duniawi manusia. Inilah alasan utama penulis memberanikan diri untuk menuliskan tulisan ini, karena hanya Kitab Wahyu Al Qur’an yang diturunkan untuk seluruh kaum, bangsa manusia.

Mudah mudahan Allah mengampuni penulis , bila tulisan ini justru melahirkan hal hal yang lebih buruk dari sebelumnya dan kalau sekiranya tulisan ada gunanya meskipun sebutir zarrah, mudah mudahan Allah membukakan mata hati kita semua untuk melanjutkan upaya meningkatkan derajad kekaaffahan umat manusia , terutama umat Muhammad, sehingga mampu melaksanakan perintah-Nya yang berbunyi: “liyudz-hira-hu ala ad-dieni kullihi”.

Upaya untuk ini jelas diperlukan perubahan cakrawala beragama, yang dimulai dengan mencoba melihat wajah Al Qur’an dari sekedar sekumpulan 6.236 ayat yang terbagi dalam 114 surah menjadi suatu diskursus lengkap (text book) yang mengandung kehendak Ilahi. Bagaimana manusia seharusnya menata hidup duniawinya. Apakah Al Qur’an dapat difahami melalui pendekatan “ Ilmiah” seperti ilmu ilmu lain, yang mampu melahirkan peradaban pada waktu ini ?. Pandangan ini akan melahirkan perubahan ‘ metoda ilmu tafsir’ yang melahirkan pandangan hidup / weltanschauung theokratik yang mampu menandingi ideologi demkrasi ?.

Diharapkan bawah penemuan Sistematika Al Qur’an akan melahirkan suatu tafsir alternatif yang berupa Tafsir Perspektif ( al-syuri) atau Tafsir Sistematik. Artinya kita akan mampu menggunakan Al Quran untuk menciptakan sistem peradaban Ilahiyah di muka bumi seperti tugas yang diembankan pada umat manusia melalui umat Muhammad ?!

Tafsir ini diharapkan akan dapat melampaui batasan tafsir dari ayat ke ayat, dari surah ke surah yang terkesan fragmentaris dan berulang-ulang, ipso facto ( kenyataan yang ada) selalu bersifat problematis. Sistematika ini harus mampu membangun tafsir tematik dan sistematik sedemikian rupa, sehingga mampu melahirkan konsep universal tentang kehidupan Islami ( dunia, manusia dan sistem ideologi-sosial –ekonomi-politik- budayanya).

Ini berarti bahwa tafsir harus mampu mencakup kemajuan iptek dalam arti bahwa agama islam itu dapat diterima oleh dunia manusia. Dengan demikan akan terasa adanya tali penghubung antara langit dan bumi sebagai disebut dalam QS, Azzukruf (43): 84.

” wa huwalladzii fissamaa’ ilahu wa fil ardhi ilahu wa huwal hakiimul a’lim “
Dan Dia-lah Tuhan (yang disembah) dilangit dan Tuhan (yang disembah) di bumi dan Dia-lah yang Maha bijaksana lagi Maha mengetahui

Jadi melalui metoda tafsir ini diharapkan lahirnya dimensi revolusioner dari khazanah intelektual lama, yang terdiri dari tiga macam ilmu pengetahuan:
  1. Ilmu-ilmu Normatif Rasional (al-ulum al naqliyah al aqliyah), seperti ilmu Usul Al Dien, Usul al Fiqh, ilmu Tasawuf dan seterusnya, sehingga lahir “ falsafah hidup Qur’ani” atau Karos.
  2. Ilmu-ilmu Rasional Semata ( apa yang disebut ilmu kauniyah/logos/ falsafah ilmu sekarang, yang mampu menglah kehidupan ini dari segi fisik (materi) hingga sosial budaya, yang akan melahirkan tehnologi dan sistem perekayasaan kehidupan sosial budaya dalam kerangka Qur’ani dan melahirkan iptek yang lahir dari imtaq.
  3. Ilmu-ilmu Normatif Tradisional ( al naqliyah), seperti ilmu Al Qur’an, hadist, sirah Nabi dan tafsir yang dapat digunakan tiap manusia sebagai penunjang (Jurisprudensi) dalam upayanya memahami wahyu secara mandiri, disamping lahirnya ilmu agama yang hidup, mampu mencakup perubahan perubahan yang dihasilkan oleh hasil perkembangan ilmu pengetahuan sampai falsafah hidup modern dan menjabarkannya dalam kehidupan sehari-harinya. 
Pada saat ini Ilmu tafsir yang dominan hanya yang tradisional, yang ternyata belum mampu menempatkan tingkat ilmiahnya sejajar dengan Sains-Meta, Sains-Falsafah, Hidup-Ideologi, yang melahirkan sistem –sistem kehidupan yang membangun peradaban sekuler yang menguasai kehidupan.

Hasil umat islam tidak lagi merupakan Umatan wasathan dan menjadi umat pinggiran dalam kehidupan ini. Perkembangan ilmu cepat sekali maju mulai Abad XIX yang diupayakan bukan oleh umat islam, sehingga baik yang berupa ranah materi, maupun ranah pemikirannya belum mampu menjamah kehidupan umat. Bahkan sikap umat pada umumnya malah menjauhinya atau membebeknya

Penafsiran Al Qur’an seharusnya mampu melahirkan ilmu agama atau karos yang mampu menghasilkan ranah sistem perekayasaan kehidupan dan ranah penalaran seperti fungsi sains pada waktu ini.

INSHAA ALLAH !

Referensi :
Dari  Pengantar buku:  SISTEMATIKA AL QURAN, Mengungkap Pesan Ilahi  didalam  Susunan Kitab Suci  - by Ahmad Baghowi Bachar.

Mengapa Perlu Metoda Tafsir Al Quran ? (1)

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menghapuskan hyme pemujaan metoda tafsir yang sudah diterima tanpa protes dan kritik (' taken for granted') oleh sebagian besar umat. Sesungguhnya telah banyak Ulama besar yang ada diluar tanah air, mulai 2-3 abad yang lalu, yang telah memulai dengan mencari suatu metoda tafsir alternatif, meskipun mereka belum menyatakannya dalam bahasa yang gamblang, terang dan tegas dan langsung sebagai suatu metoda tafsir. Penulis sangat memprihatinkan keadaan umat pada waktu ini yang kelihatannya makin lemah, karena ukhwah diniyah makin menipis dan banyak organisasi, partai , bahkan negara negara islam , yang telah menerima peradaban sekuler. Islamnya yang tampak, hanya seremonial 'ubudiyah nya. Seremoni pemujaan , seperti agama agama yang lain, kebanyakan umat malah memuja dan mengikuti ideologi sekuler, sehingga saat ini peradaban sekulerlah yang menguasai dunia. 

Sebaliknya mereka yang tidak mau tunduk pada negara atau pemerintahan yang sekuler, mengambil sikap ekstrim dan dikenal sebagai kaum ekstremis, yang saya kira tidak pernah diajarkan Nabi dan ajaran Islam. 

Apakah ini disebabkan karena penafsirannya tentang ajaran Islam melalui Al Qur'an, dengan ilmu tafsir tradisional yang ada, tidak lagi mumpuni untuk melawan globalisasi peradaban sekuler ?. 

Penulis juga tidak mempunyai pretensi, bahwa penulis berani mensejajarkan diri dengan para ulama, para mujahid itu. Tulisan ini lahir dari suatu dorongan keinginan untuk memahami Al Qur'an bagi seorang awam, pendatang baru dalam mencari apa makna beragama menurut Al Qur'an, sebagai satu satunya buku standar bagi seorang muslim. Karena melalui jalan tradisional yang ada, penulis belum mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang selalu menggoda benak. 

Apa yang penulis dapatkan dari cara yang selama ini diperoleh, tidak dapat memberikan kemantapan pemahaman dalam keinginan untuk memahami ajaran agama melalui Al Qur'an. Semua pertanyaan yang diajukan pada para ulama yang dianggap mampu menjawab, penulis belum mendapatkan jawabannya yang dapat penulis gunakan sebagai cara untuk memahami Al Qur'an secara mandiri, karena dalam Islam tidak ada lembaga kependetaan dan taklid diharamkan. 

Jawabannya belum dapat menjawab secara memuaskan penulis, karena semuanya hanya berwujud “barang jadi” yang harus diterima, jauh dari suatu metodologi yang dapat memberi kemampuan untuk dapat mandiri, bebas dari taklid. Karena penulis yakin akan ungkapan Al Qur'an sendiri, bahwa Al Qur'an diturunkan untuk semua manusia, sehingga tiap manusia wajib, harus dan pasti mampu memhami Al Qur'an sendiri, tentu saja sesuai dengan kemampuannya, pasti ada sesuatu metoda sebagai acara untuk mempelajari sendiri, serupa dengan mempelajari ilmu dari naskah tulis ilmiah (text book). 

Apa yang sangat memperihatikan penulis, umat Muhammad tidak akan punah, tetapi akan mengalami kepunahan keislamannya (mindset -imtaqnya), mengalami proses “ fading away “, seperti yang diungkapkan nabi waktu dipanggil kembali Tuhan dengan keluhannya “Ummatii, ummatii...!” 

Permasalah yang menggoda penulis ialah: 

1. Apakah benar Al Qur’an, hanya sebagai kumpulan / kolongmerasi dari 6.236 ayat, seperti yang lazim digambarkan oleh ‘Uummul Qur’an

2. Apakah maknah surah ? Apakah hanya suatu petunjuk tempat ayat ? Nama surah bahkan dapat diganti dengan normor urut saja. Sedangkan nama judul surah itu terasa aneh dan sulit dipahami untuk menebak pokok isi kandungan surahnya/ tema surahnya 

3. Apakah ‘unit fungsional terkecil ‘ Al Qur’an sebagai “ hudaa dan furqan” ? dan apa ‘unit struktural terkecilnya ‘

4. Apakah makna nama judul judul surah

5. Mengapa tertib susunan ayat dan surah wahyu diubah dari tertib susunan nuzul nya menjadi tertib susunan surah dan ayat Al Qur’an ? 

6. Apakah pokok kandungan Al Qur’an ?, Kandungan surah ?, Kandungan ayat 

7. Mengapa kalau dibaca secara selintas isinya terasa tidak runtut?,  Bagaimana cara Al Qur’an mengemas pesannya ? 

8. Mengapa diperlukan ilmu tafsir ?,Apakah tidak cukup dengan alih bahasa saja ? 

9. Apakah itu benar bahasa yang digunakan Al Qur’an itu bahasa ethnis Arab.? 

10. Kalau Al Qur’an mengklaim dirinya berlaku bagi setiap manusia tanpa mengingat budaya dan tingkat pendidikannya/ penalarannya, bagaimana rumusan bahasanya sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pesan yang dikandungnya 

11. Kalau Al Qur’an mengklaim dirinya berlaku sepanjang masa, apakah semua masalah dan permasalahan hidup di masa mendatang itu dapat diantipasi, di prediksi atau dicakup atau dikooptasi oleh Al Qur’an , bagaimana cara mengatasinya ?

Inilah pertanyaan pertanyaan yang penulis belum mendapatkan jawabannya dengan tuntas




(by A Baghowi B.   bersambung....)

Rabu, 23 November 2016

Sosmed untuk "kehidupan bersama"



Berawal dari WA-an jadi mengelitikku untuk  menulisnya kembali
Ini copasnya wa ku 


" Agama utk kehidupan kita, agar menjadi kita orang baik sesuai keyakinan kita.
Tdk bisa orang lain memaksa kita beragama dengan  caranya...
Marilah bersabar dan berlapang dada dengan perbedaan, kemajemukan , kebinekaan indonesia. Hidup indah dan damai , bahagia  diantaranya adalah harapan kita semua , kualitas hidup kita, kualitas kedewasaan diri kita dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Mudah mudahan kita tidak mudah terprovokasi dengan issu issu  sosmed yang  memecah belah kerukunan kita.
Hidup indonesiaku dan  keluarga .....ku"


"Efek samping obat....eh..efek samping sosmed, apalagi tanpa pemakaian yang hati hati, seperti makan obat -ada yang palsu, atau asli  tetapi kedaluarsa... bisa negatif- bagi tubuh kita.
Karena itu sosmed yang positif seperti  obat yang baik-mujarab , memberi kekuatan kesehatan tubuh kita, sebaliknya yang  negatif - dapat membuat kita jadi tambah lemah dan sakit"

Saat ini sebaiknya kita bisa bijaksana makan obat (bersosmed) , agar kehidupan kita tetap terjaga baik, sehat wal afiat, tidak  bermasalah; tidak terjerat hukum atau bahkan masuk penjara.

Era informasi dalam bingkai alam demokrasi di Indonesia(sebagai negara menganut sistem demokrasi) tentu kita beruntung hidup saat ini, dimana keterbukaan, bebas berpendapat dijamin negara; tidak dilarang. apalagi dibanding negara lain yang menganut sistem otoriter atau sosialis komunis; dimana urusan pemerintahan dilaksanakan oleh satu partai dan untuk urusan pemerintahan dan negara tidak bisa dikritik bebas oleh semua rakyat, walaupun globalisasi sudah merasuk dengan perangkat medsos masuk keseluruh rakyatnya; dengan smartphone semakin memudahkan untuk berkomunikasi. tetapi urusan politik tidak bisa  orang sembarangan mengkritik pemerintah atau pejabat negara.

Dalam bersosmed seharusnya kita bisa "bijak" , ber-etika  terutama dalam menyampaikan pendapat, berita, issue. apalagi  apa yang kita sampaikan berdasarkan "sesuatu yang tidak benar,hoaks atau tidak jelas sumbernya". apa yang kita sampaikan bisa mempengaruhi orang dengan "persepsi yang salah atau merugikan"; apalagi bila pendapat tersebut di "share" ke orang lain  lebih banyak lagi dan "viral".

Pandemi Corona virus disease (COVID) 19 saat ini - yang bermula sejak desember 19 di Wuhan,Cina, telah menyadarkan  kita  tentang  makna " viral"  yang selama ini hanya dikenal dalam pengertian virus komputer atau berita yang "banyak dibicarakan atau ditonton" yang tersebar dalam waktu  cepat dan lama; Virus corona  menunjukan eksistensinya sebagai "materi  partikel yang hidup" yang menjadi musuh manusia  seluruh dunia dan merubah perilaku hidup manusia  secara fisik,psikis,
Ketakutan  terhadap COVID 19 melanda semua negara, semua berperang untuk melawan musuh "yang tidak terlihat, seperti melawan Hantu". Perubahan  perilaku manusia , bumi seperti terdiam, semua orang berdiam dirumah saja untuk menghentikan penyebaran virus sebagai usaha  melawan serangan dahsyat virus terhadap manusia. Ekonomi dunia menurun dan seperti lumpuh yang dapat menimbulkan kerawanan sosial-ekonomi, angka kematian meningkat secara  cepat dibandingkan  virus virus  sebelumnya - dalam waktu 6 bulan.
Kita  disadarkan juga,  "berita Hoaks yang viral"  sangat  berbahaya -sama seperti COVID 19   sebagai musuh " tanpa wujud" yang dapat menebarkan ketakutan dan menimbulkan korban secara fisik, psikis.

"pelaku medsos" bisa  menjadi musuh -seperti COVID 19, karena  serangannya, tatanan hidup sosial menjadi rusak dan menghilangkan imun -ketahanan sosial bermasyarakat. Oleh karena itulah, sepatutnyalah kita menjaga  imunitas sosial bermasyarakat, berbangsa negara  agar kuat, sehat wal afiat;  marilah kita jangan  menjadi " covid 19" di dalam kehidupan masyarakat.



















Waaah serius  banget...😬😬😀😁😆😅😅

Sabtu, 18 Juni 2016

Memahami AlQuran dari Sudut Pengulangan Kata-Kalimat


Dalam AlQuran  terdapat  pengulangan kata,kalimat, baik dalam ayat , ayat dalam  surat  dan antara surat dengan surat  untuk menjelaskan atau mendefinisikan “suatu   atau topik atau tema” kehidupan kepada manusia tentang  hubungan makhluk dan Penciptanya(Alkhalik), tentang makhluk dengan makhluk lain, tentang makhluk hidup dan alam sekitarnya –juga alam raya.

Pengulangan kata/kalimat , bermakna  suatu    proses  dan  sebagai “ketetapan”- stationary ; suatu proses dari langkah awal kembali ke awal lagi; kalau itu kata atau kalimat  berarti “penekanan”, memberi bobot kepada  suatu. Kalau itu proses  kimia/fisika / biologi  berarti   keseimbangan aksi-reaksi , siklus fisika, siklus kehidupan/biologi. Kalau  dari kosmologi  berarti orbit  atom, molekul,  senyawa, benda, bulan, bumi, matahari, bintang , galaksi.

Ketika  “ketetapan” pengulangan  tidak terjadi,  maka akan terjadi “kematian”- yaitu dapat “kematian kecil”  dan bila terjadi pada makro kosmos  akan terjadi  kematian alam atau   “kiamat”
Pengulangan dalam proses   sering secara sederhana  digambarkan sebagai lingkaran atau bola, elips atau oval atau secara kompleks sebagai segi banyak. Dengan kata lain Pengulangan  dalam arti proses –memiliki maksud dan tujuan atau arah dan sasaran atau kerangka dan bentuk atau ruang dan waktu yang tetap dan menetap untuk menjaga kelangsungan hidup/kelestarian kehidupan makhluk hidup/keseimbangan alam.

Dalam  ilmu pengetahuan  “arti pengulangan”  memiliki banyak rupa atau bentuk; seperti dalam  biologi  dengan istilah “Siklus Hidup”, fisiologi  - Homeostasis,feedback mechanism, ilmu kimia/farmasi reaksi keseimbangan, ilmu fisika - orbit  atom, keseimbangan energi  atau dalam ilmu sosial – politik-  hubungan manusia dan perubahan sosial-politik atau dalam ilmu ekonomi – hukum neraca  keuangan, dstnya.

Dari  sudut   pandang  ilmu alam  / kauniah  dapat dipahami, Al Quran    banyak  memberikan  “penekanan atau pembobotan”  terhadap  masalah kehidupan manusia  dari segala aspeks  kehidupan; baik  masalah   hubungannya  dengan Maha Pencipta(Ubudiyah) dan  hubungan dengan manusia serta lingkungannya(Mu’amalah) dengan pengulangan kata kata, kalimat di dalam ayat, ayat dalam surat yang sama  atau dalam surat lain; antara surat dengan surat lain  dalam AlQuran; antara  surat makiyah dengan makiyah atau makiyah dengan madinah atau madinah dengan madinah. Dalam konfigurasi “pengulangan” ; Konfigurasi  pengulangan dalam AlQuran adalah suatu ketetapan –yang sesuai dengan ketetapan dengan Ilmu Alam. Pemahaman tentang Al Quran akan lebih mudah dan saling terkait  satu sama lain – seperti siklus atau orbit  atau reaksi  keseimbangan diantara ayat dengan ayat, ayat dengan surat dan interaksi  surat dengan surat didalam menjelaskan suatu masalah kehidupan manusia;  baik masalah sosial, politik, ekonomi, sejarah, tehnologi dan masalah ketuhanan(teologi).

Inilah makna  pengulangan  dalam Alquran  dan kaitan dengan ilmu pengetahuan seperti  “pembaca   diajak berdialog  dari  segala  sudut  pandang” ;  dari segala latar belakang  pembacanya apakah dia beriman atau belum beriman; apakah dia  muslim atau  belum muslim. Memahami  kehidupan  menurut  sudut  perspektif  Al Quran ; bisa dimulai dengan memahami  ilmu pengetahuan- apakah ilmu pasti atau ilmu  sosial atau  ilmu terapan/tehnologi. Pengulangan  kata kata Allah, “apakah kamu tidak berpikir, atau apakah kamu tidak perhatikan...dll”  menunjukan pembaca pemula diajak dialog  melalui  ilmu pengetahuan  untuk mengenal ALLAH. Kemudian  diberi contoh contoh kejadian-kejadian  terdahulu , sekarang , dan akan datang.  Begitulah  dialog   terjadi  berulang –ulang   melalui  ayat –ayat    pendek  atau surat  pendek atau  ayat ayat atau surat panjang.

Pengulangan yang  menyentuh  perasaan,  pikiran atau  menyentuh  hati(qolbu) dan akal/rasio sehingga  pembaca   seperti   membaca  jatidirinya ; siapa dirinya dan hakekat keberadaannya  di dunia  serta  keberadaan  penciptanya. Al Quran menggambarkan keadaan tersebut : ketika hati bergetar saat  membaca  atau mendengar ayat ayat Alquraan; itulah keadaan  hati  orang yang beriman kepada Allah SWT.

Kondisi “beriman” tersebut  adalah proses  yang dinamis , bukan instan. Proses dinamis yang terus diasah, dirawat, dijalankan  dengan  terus menurus  berdialog dengan Sang Maha Pencipta, seperti roda  berputar, seperti orbitnya  bulan terhadap bumi dan  bumi terhadap matahari  agar nilai keimanannya  “ stabil” ;imannya   tetap  hidup dan menghidupkan dalam hatinya  sehingga  Allah memanggil ke Alam  Akhirat.

Karena  itu pula Allah SWT,  mengangkat  derajat  orang yang berilmu pengetahuan dan beriman sebagai Ulil albab. Karena   mereka   terus menurus setiap waktu selalu  menjaga imannya  dengan  selalu mempelajari, memperhatikan kejadian sosial-alam  dan al quran , kemudian beramal   dengan ilmunya kepada  masyarakat.  Subhanallah.

Menjaga  Iman  adalah  suatu proses  selalu  dalam  fitrah manusia  sebagai  hambah  Allah sesuai dengan janji  manusia ketika di alam ruh sebelum lahir  ke dunia atau  dengan  kata  lain   menjalankan  usaha – berulang-ulang   apa yang sudah di syareatkan Allah  dalam Alquran dan disunnahkan oleh rasulullah –Nabi Muhammad dalam praktek kehidupan  sehari hari.
Wallahu’alam.

Ciputat ,13 Ramadhan 1437H/18 Juni 2016


Minggu, 01 Mei 2016

Makna Agama dan Sains Bagiku

"Pembulu darah arteri "


Lapisan dinding pembuluh darah terdiri dari tunika intima, media, adventitia/luar Arteri dan Vena - sangat dipengaruhi oleh "stress" yang berasal dari faktor psikis atau fisik atau lingkungan ; perubahan patologis /penyakit pada pembuluh darah terutama arteri terjadi berlangsung lama akibat "stress". Perubahan terjadi pada lapisan endotel intima, aktifitas hormon, sel fibroblas, serabut elastis, kolagen, sel otot polos dan rangsangan syaraf serta asupan darah dari vasa vasorum . 



Hubungan / Interaksi fisik -psikis dengan gaya hidup(style of life), pandangan hidup(way of life) sangat erat dengan timbulnya penyakit; terutama pembuluh darah. 
Stress Fisik atau Psikis yg berlebihan dapat menimbulkan stress pada pembuluh darah, seperti dapat terjadi penebalan lapisan intima dan pengerasan/pengapuran sehingga menyempitkan diameter arteri atau lepasnya plaks /trombus menjadi embolus dan mengurangi atau menyumbat aliran darah ; bila ke otak terjadi stroke. Bila lapisan media hilang elasitasnya atau kerusakan sel otot polosnya dan lapisan intima mengisi dengan jaringan fibrosis/trombus, maka dapat terjadi pelebaran/ robekan dinding arteri; timbul aneurisma(pelebaran arteri) atau pecahnya (ruptur) pembuluh darah dan berakibat perdarahan, bila tidak cepat ditolong/distop perdarahannya dapat menimbulkan kematian

Oleh karena itu penting mencegah " stress pembuluh darah"
Konsep : "dalam jiwa yang tenang terdapat fisik yang tenang" yang berarti : dalam jiwa sehat terdapat fisik yang sehat dan sebalik dalam fisik yang sehat terdapat jiwa yang sehat. 

Secara sederhana : psikis dan fisik saling mempengaruhi -agar dalam keadaan seimbang, bila baik - baiklah semuanya/tidak ada penyakit, begitu sebaliknya tidak seimbang timbul penyakit. 

Aktifitas psikis , seperti aktifitas spiritual, komunikasi, interaksi -emosi, mental, pikiran yang baik atau aktifitas fisik, seperti makan, minum, kerja, interaksi sosial, tidur-istirahat, olahraga, rekreasi yang baik.

Gaya hidup dan pandangan hidup sangat mempengaruhi "keseimbangan" fisik-psikis yang baik dalam "jangka lama" 

Gaya hidup dipengaruhi sudut pandang hidup atau pandangan hidup; sejatinya "pandangan hidup " adalah "cerminan religius" atau Ajaran/ Pandangan agama/Keyakinan seorang

"Pembuluh darah yang baik " cerminan kesehatan fisik dan psikis yang juga baik atau cerminan sikap, perilaku, perbuatan fisik-psikis yang sehat atau cerminan gaya hidup yang sehat atau cerminan amalan agama yang baik.

Menjaga Kesehatan psikis dan fisik yang baik/sehat adalah Kewajiban dan menjadi Ibadah /amal sholeh; Apalagi bila sakit, wajib untuk memulihkan /berobat. 

(sudut pandang, makna agama bagiku)

Rabu, 25 November 2015

Hari Guru 25 November 2015



Selamat Hari Guru , 

Kembali ke " Ruh Guru " ideal /sejatinya dari bias "realitas hidup" sebagai tuntutan materi yang menjadikan guru tidak ideal; guru sekarang ini seperti menghadapi atau situasi yang berlawanan sebagai tuntutan; seperti pergulatan antara kompetensi vs kesejahteraan, sistem pendidikan vs kebijakan negara/pemerintah, tujuan vs hasil..dstnya ..hal ini seperti rentang panjang ... dalam persimpangan...yang "rancu"... belum ada suatu "titik sama" melangkah... yang sinkron-harmoni ...sebagai "harapan bersama dan berderajat tinggi/sebagi marwah guru.." Hal ini pun terjadi pada pendidikan dokter dan tenaga kesehatan...yang "semraut-paut" ..kehilangan "ruh nya" ...pendidikan ..."manusia indonesia"..menjadi apa saja seperti menjadi "parsial" tidak "total/utuh"...................sangat menyedihkan/memperihatinkan 
Semoga pola pikir guru/dosen selalu diberikan penyadaran kepada hakekat - ruh, tujuan pendidikan dan akhir dari ..tugas -kewajibannya mendidik murid / mahasiswa sebagai pengabdiannya kepada masyarakat, pengemban amanah Allah SWT... mensejahterakan dan memakmurkan dunia melalui ilmu dan tehnologi yang "baik/haq" bukan yang "bathil"/ menyesatkan.
Terima kasih ....Guru guruku dan murid/mahasiswaku.... tanpa MU ...tidak ada  ilmu yang diamalkan , bermanfat dan mensejahterakan...

Rabu, 14 Oktober 2015

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH 1 MUHARAM 1937H



Tahun Rohani, tahun spiritual di mulai dari tahun Hijriah.... tapak tilas keimanan dan perjuangan dalam menuju dan menjalankan amanah Allah sebagai hamba Allah , sebagai khalifah fil ardh dalam mencapai alama semesta yang rahmatan alamin, baldatun wa robbun ghoffur. Hijrah bermakna pembaruan, pencerahan, perubahan lebih baik....dari sikap yang jumud, status quo, jahiliyah...menjadi "move on to Allah" yang di abadikan sebagai waktu dalam hitungan bulan qomariyah- sebagai " tahun Hijriah " ; Tahun Hijriah adalah tahun umat islam dimulai hijrah umat islam dari Mekkah ke Medinah-atas printah Allah melalui wahyuNya  kepada Rasulullah -Nabi Muhammad SAW; Tonggak sejarah ini oleh Umar bin khattab -khulafaurrasyidin ke 2 ditetapkan sebagai awal tahun hijriah.

Jumat, 25 September 2015

SELAMAT IEDUL ADHA 1436 Hijiriah/2015






Idul Adha (di Republik Indonesia, Hari Raya Haji, bahasa Arab: عيد الأضحى) adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim (Abraham), yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, akan mengorbankan putranya Ismail, kemudian digantikan oleh-Nya dengan domba.
Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Ied bersama-sama di tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.
Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam.
Pusat perayaan Idul Adha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Mekkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik Haji.
Hari Idul Adha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim. Terkadang Idul Adha disebut pula sebagai Idul Qurban atau Lebaran Haji.

Makna Iedul Adha adalah hakekat nilai keimanan/keyakinan seorang terhadap Maha Penciptanya tentang nilai nilai hidup, cinta, kepemilikan, godaan, keraguan, ujian , hambatan, permusuhan , kegigihan dan kekuatan dalam kehidupan menjadi seorang muslim yang baik. Pengorbanan disimbolkan dengan kehidupan keluarga , kecintaan terhadap istri/suami dan khususnya anak - darah daging dan simbol kecintaan tersebut diwakili hewan ternak-peliharaan; domba/kambing, sapi/kerbau, kuda, onta. Simbol pengorbanan terhadap anak yang dicintai(nabi ismail), godaan,keraguan, ujian dan sikap gigih -teguh (nabi ibrahim) menghadapi syetan dan permusuhan terhadap syetan adalah setiap muslim diperintahkan berkorban dengan Hewan kurban yang baik, sebagai simbol juga kemenangan melawan syetan dan bukti kecintaan/keimanan terhadap Allah SWT. Daging korban dibagikan sebagai wujud amalan sholeh-kepedulihan bagi orang/masyarakat disekitarnya. Pengorbanan berarti sebagai evaluasi diri setiap muslim atas kecintaannya terhadap duniawi dan hakekat kecintaan terhadap manusia atau Allah. Maha Besar Allah .