Translate

Telusuri via Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Refleksi diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi diri. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Maret 2025

Ayo "SEMANGAT"

Kata "semangat" dalam bahasa Indonesia memiliki makna yang kuat, merujuk pada nafsu, gairah, atau kekuatan batin yang mendorong seseorang untuk berjuang, bekerja, atau melakukan sesuatu dengan antusiasme.

Semangat merupakan perasaan yang sangat kuat yang di alami oleh setiap orang. Rasa yang luar biasa ini dapat dilihat sebagai bagian fundamental dari suatu kegiatan sehingga dapat diartikan sebagai langkah yang berkaitan dengan pengarahan potensi yang menimbulkan, menghidupkan, menumbuhkan tingkat keinginan yang tinggi

Berkaitan dengan semangat, memiliki sinonim berikut ini: Aktif, Antusias, Berapi-api.

Apa bahasa gaul semangat?
Sementara itu, kata 'fighting' dalam bahasa gaul yang sering digunakan di media sosial bermakna semangat. Kata fighting sering digunakan seseorang untuk memberikan semangat dan dukungan kepada orang lain agar terus berjuang.

Apa bahasa Arabnya semangat?
Kata semangat jika diterjemahkan dalam bahasa Arab secara harfiah adalah Hamasah (حماسه). Semangat dalam bahasa Arab jug dapat diterjemahkan menjadi Ghairah (غَيْرَة) dan Nakhwah (نَخْوَة).

Rabu, 20 September 2023

Hubungan Sholat dengan Eksistensi "manusia", dari sebuah renungan

Sholat  Wajib adalah   satu cara  dari ibadah yang di wajibkan bagi seorang muslim dalam waktu lima kali sehari dengan mengikuti tata cara yang dilakukan nabi-rosulullah Muhammad SAW. Selain Sholat Wajib  ada  Sholat -sholat lain sebagai  Sholat Sunnah  dan Wajib bagi laki laki saja, serta Sholat  tambahan, seperti  sholat Jumat, Idul Fitri, Idul Adha, sholat sebelum dan sesudah sholat wajib,  serta lain lainnya.


Sholat  eksistensinya  adalah  hubungan komunikasi manusia (Muslim)  dengan pencipta-nya (ALLAH SWT) dengan mengikuti cara yang sudah ditetapkan dalam tata ibadah agama islam.  Esensinya  sholat juga dianggap sebagai "doa" karena manusia berkomunikasi dengan banyak meminta  dan berharap atas mimpi, rencana,  usaha yang dilakukan atas dirinya  di waktu lalu, saat ini dan akan datang kepada "Allah SWT"

Rukun Sholat ,  dimulai  dari Takbir  sampai  akhir Salam dengan gerakan gerakan  fisik tertentu ( takbir, ruku" sujud, duduk, salam kanan-kiri,  ucapan ayat dan doa, pujian), dan pikiran, kalbu, dalam keadaan "khu'su"  atau  menyatu  jiwa dan raga kepada kehadirat/kehadiran Allah -Sang Maha Tinggi, Maha Pencipta;  merupakan  rangkaian proses  spiritual  yang berulang  dilakukan setiap manusia yang sholat  seperti  rotasi bumi pada  sumbunya selama 24 jam atau  roda berputar  -bergerak pada sumbu "As" nya.

Manusia dari sudut islam  (dalam  sholat) , eksistensinya  secara  ontologis ,  keberadaannya karena "diciptakan(makhluk)" bukan kebetulan ada,  oleh yang maha pencipta(namanya -Allah) , dalam keberadaan nya  di  dunia yang fana ( hidup sementara)  harus menyadari(wajib sholat) keberadaanya sebagai makhluk yang lemah - untuk selalu beribadah  dalam mencapai tujuan hidupnya kepada Penciptanya(Allah SWT).  "kesadaran eksistensial " manusia hanya dapat dijaga dan dipelihara melalui jalan setiap  waktu dengan  "sholat " (wajib dan  sunat)

Dalam   "Sholat"  ada  aktualisasi   dari janji , sumpah  antara   "ruh" keyakinan,  pikiran, hati  secara  fisik  dalam  gerak /aksi pada  kehidupan sehari hari , dalam   diri sendiri,  dalam keluarga, dalam masyarakat, berbangsa- bangsa.

Dalam   setiap sholat , rakaat , ada  "shahadat"  yang menjadi pegangan keyakinan dari setiap  niat,  awal melangkah atau segala tujuan , pedoman, metode  usaha, pekerjaan dan nilai nilai dari kehidupan.  "kesadaran diri"  yang dibangkitkan, yang ditanamkan, diucapkan dengan kata dan aksi di hadapan "Sang Maha Pencipta" berulang -ulang dalam apapun keadaan-  suka dan duka, setiap waktu.  Seperti gugusan benda langit ,  bintang bintang, awan awan yang  selalu ada  setiap waktu dan menunjukan keberadaannya  sebagai  wakil dari  ciptaan dari  Sang Maha  Pencipta kepada manusia.  Sholat  seperti gugusan kehidupan -sistem kehidupan -wadah  interaksi  manusia  dengan maha penciptanya yang spesial tanpa perantara, " hubungan langsung " kepada Allah SWT.  Sholat menghilangkan  kasta kasta -golongan dalam hubungannya antara "makhluk dengan khalik/penciptanya"

Ketika  Sholat  bagian dari sistem kehidupan , maka hakikatnya  sholat bukan lagi terdiri  dari gerak gerakan  fisik yang wajib sebagai  rukun sholat,  tetapi menjadi gerakan gerakan fisik secara bathin  dimana dan kapan saja, seperti perangkat lunak(software) imajiner dalam otak. Gerakan sholat menjadi lebih situasional, bisa  berdiri, duduk, tidur/berbaring, atau apapun keadaannya. Hilanglah ritual seremonial  sholat atau basa basi  sebagai atribut atau simbol agama. 

Sholat bagian dari metode kesuksesan  dalam hidup manusia, mencapai kebahagian ; mencapai kesejahteraan hidup. Persoalan kehidupan,  baik dalam keluarga- hubungan suami-istri, orang  tua -anak , dengan tetangga; teman karib, pekerjaan-nafkah , dsbnya mendapat solusi dengan cara sholat. Semua persoalan atau masalah dikomunikasikan dengan "maha Pencipta/Allah SWT". Keyakinan yang kuat, jiwa yang optimis dan kepasrahan diri terhadap masalah hidup -kehidupan disandarkan atau  digantungkan kepada Allah SWT. Keyakinan semua  datang  dan kembali kepada Allah SWT  dipupuk, dijaga, dilandasi komunikasi melalui sholat sebagai proses  terus menerus - kontinus, sepanjang  waktu(selama hayat). Dalam konteks kehidupan ekonomi-sosial dikatakan "sholat mencegah  perbuatan  fahsya' dan mungkar". Dengan demikian sholat ,  membentuk  kepribadian manusia yang  sholeh atau  berakhlak yang baik.


"Ketika  Marah atau Ada Masalah,  maka   Sholat -lah"

Semoga  kita   jadikan   Sholat , sebagai metode hidup,  kiat hidup mencapai kebahagian dan kesejahteraan 




Jumat, 30 Juni 2023

Intropeksi Diri (self insight/awareness)

 

     


 

Dalam DIAM KU………………....................

 

Suara   hiruk pikuk  terdengar  di telinga, dan mengalir   dalam pikiran , dalam otak

Timbul  hiruk pikuk  - menguak  kalbu, jiwa, kesadaran  yang bergolak… ada apa ? berbagai tanda tanya  menyeruak  bertubi tubi….  dari   apa  sampai mengapa ?  Seperti  isi  otak , bekerja keras , terbakar  dan menguap panas dan menguras  bahan bakar.  Kecamuk  hiruk pikuk membangkitkan kesadaran, siapa  dan bagaimana sikapku ?  dalam kecamuk …  berulang  jeda   , aku dalam keheningan….  Aku diam,….   diam  dan  …bergerak lagi…..  diam lagi , seterusnya. Walaupun  dalam  diam ,   pikiran ini bekerja,- dalam kesadaran penuh,  ibarat gelombang  naik-pasang  -naik turun  dan kala-nya dititik diam.

 

Hiruk pikuk  kehidupan  dari bermacam –macam interaksi dari kejadian –realita,  medsos, antara   harapan dan kenyataannya.

Dalam  diam…..,  

Lintasan waktu, kembali  lagi pada pertanyaan kepada ke peradaan aku,  Siapa aku?  Dimana aku ? ….

Sampai…. Saat  ada dan tiada   - di dunia dan akhirat, apa makna hidup ini ? 

Saat hening… panjang,    kadang terdengar bunyi –bunyi –bersaut , bergelombang, seperti mengiring   menyadarkan diamku atau lamunanku…dan memecah keheningan malam, atau mengingatkan waktu fajar dan subuh akan segera tiba.

Bak  layar film lebar,  lembaran-lembaran peristiwa melintas, mulai saat kecil sampai saat terkini dan melampaui waktunya  hayalan masa datang; tentang kisah sedih dan gembira serta harapan atau mimpi di hari tua. Kisah  menjadi  peran aktor utama, menjadi aktor pengganti, atau sebagai figuran dan penonton, walaupun kadang merasa sebagai sutradara , hanya mimpi sebagai produser. Berbagai  bentuk kisah-peristiwa, seperti potong potongan waktu tentang masa sekolah, masa bermain, masa remaja, masa pacaran, keluarga , tugas dan pekerjaan, dan lainnya. Rangkaian kisah hidup dan kehidupan tak mampu –tertuliskan dalam buku biografi dan juga tak yakin berarti untuk anak-cucu sebagai warisan tertulis. Apalah  aku dan  bukanlah apa apa dan siapa siapa ?. Semakin banyak dorongan mimpi mimpi yang ingin diwujudkan,  semakin disadari   tak berdaya dengan tubuh ini, akhirnya  …. Aku terdiam.

Dalam diam….,

Aku  melihat  diri  seperti di cermin,  sikap dan perilaku terhadap orang tuaku, istri, anak, menantu, besan, cucuku, saudara saudaraku, sepupu sepupuku,  keponakan keponakanku,   teman temanku, pasien pasienku, orang orang disekitarku dan  bangsa –negaraku.

Apa yang telah aku perbuat  terhadapnya..? bagaimana  respon mereka  ? atau

Apa yang  telah mereka perbuat terhadap ku ? bagaimana responku ?

 

Kesadaran  dari diam , dari renungan , dari keheningan  hati dan pikiran  adalah  jadilah orang waras, jiwa –pikiran yang tenang, damailah diri dengan  rasa amarah, pikiran negatif, kehendak nafsu ambisi, iri-dengki…  menjadi   hamba yang tunduk, bersahaja.

 


Ciputat,  30 Juni 2023

Sabtu, 22 April 2023

REFLEKSI DIRI; Waktu berputar Yang menggoyang Jiwa dan Raga

Renungan ..  sebuah perjalanan waktu.

memandang   dunia dari  sudut sejarah dan realitas  hari ini   hingga ramalan hari esok jauh..,  aku  tercenung dengan apa arti kehidupan, kemanusian, dan peradabannya ? .  sejarah manusia dalam damai dan perang, silih berganti  -sejak nabi adam , kelompok suku,  kerajaan , sampai negara demokrasi -saat ini.   manusia seperti sifatnya, karakternya  - mempunyai jiwa atau perangai  baik dan buruk.  sepertinya mengendalikan manusia menjadi pendamai atau pembuat perang/kerusakan. dominasi ada tidaknya  sifat baik atau buruk dalam setiap orang/kumpulan orang, mewarnai kehidupan orang atau kelompok orang, masyarakat,  bahkan kehidupan berbangsa  ataupun  hubungan antara negara. betapa  kehidupan manusia diliputi  pristiwa  perperangan dan juga perdamaian  atau konflik  -pertikaan dan  hubungan rukun -damai. dalam terminologi  bahasa -antara   cinta dan benci  melahirkan  keterikatan  atau sebaliknya  perceraian-penguraian-perpecahan. asal usul  pengetahuan  tentang "  cinta  dan benci " melahirkan   filosofi  kehidupan atau  filsafat   tentang hidup mencapai kebahagian.  pencapaian nilai nilai tertinggi dari sesuatu otoritas yang diyakini yang patut diakui dan dihormati, menjadi  munculnya nilai nilai ketuhanan atau lahirnya  agama  sebagai kepercayaan untuk mengikuti  nilai  cinta, baik  dan menjauhi  nilai benci, buruk, jahat. 

Agama ... menjadi  nilai nilai  kelompok manusia,  suku, bangsa , bahkan  meluas antara   bangsa; bahkan  sejak  lahirnya  sebagai  agama animisme ,  dinamisme sampai  agama  wahyu/ para nabi -  rosul, hakekatnya  mengajarkan  kehidupan yang " penuh cinta, kebaikan " kepada penganutnya, mengajarkan setiap orang menjadi  baik dan  cinta  terhadap manusia , terhadap alam, terhadap yang maha tinggi/kuasa atau yang dianggap sebagai tuhan, dewa. 

Esensi   nilai agama , sebenarnya  hanya berarti dan berguna bagi penganutnya  sebagai  individu, nilai yang menjadi kebutuhan  dalam menjalani realitas kehidupannya, menghadapi masalah kehidupan, bahkan cara memperoleh kehidupan yang damai, bahagia, penuh cinta  terhadap dirinya dan lingkungannya.  namun ... dan aneh , ketika  orang  menggunakan agama  untuk  kepentingan dirinya atau kelompoknya  dengan  berakibat  kepada orang atau kelompok lain  secara negatif,;  timbul kebencian, kekejian, bahkan  membunuh dengan atas nama agama  atau kalimat tuhan.

Timbul peperangan atas agama  atau  antara   agama  karena sifat-sikap- perilaku penganut agama yang kehilangan jatidiri esensi dari agama  itu sendiri.  penganut  agama yang menganggap pemangku tanggung jawab atas nama tuhan  atau mengangkat dirinya  sebagai simbol pemilik  nilai  kebenaran tuhan, sehingga   menggunakan otoritas  dirinya kepada penganut lain untuk mengikuti  hawa nafsunya sendiri; penganut agama yang taklid buta   mengikuti saja fatwa yang ' hakekatnya adalah buah pendapat pribadi, bukan nilai nilai tuhan sebenarnya. Pengikut yang setia  dari "sang imam" menjadi terbiaskan dari esensi  nilai agama dan semakin  jauh hanya mengikuti apakata sang imam- dan sangat sulit menilai  dengan objektif  ; hal tentang nilai baik -buruk,  benar -salah  atau cinta -benci. 

Sungguh...  kelemahan  agama  adalah sudut  orang beragama , apakah agama hanya sebagai atribut atau alat, simbol  untuk  dirinya atau agama sebagai pandangan hidup atau kebutuhan  hidup yang menghidupkan untuk dirinya ? atau kedua-duanya ?

Suatu kondisi  yang harus ada , tidak bisa tidak ada ( qonditio sine quanon) , setiap orang  mempunyai pilihan beragama atau keyakinan; orang  memilih beragama atau tidak beragama , suatu hal yang sama kondisinya.   Orang yang memilih  tidak beragama atau tidak berkeyakinan adalah buah akal, kalbu, pikiran terhadap  dirinya dan alam hidupnya, begitu pula  orang yang memilih beragama atau berkeyakinan.   Sikap, perilaku  dari pilihan itu ,  melahirkan ritual-seremonial ,  gaya hidup,   budaya  dalam kehidupan yang khas,  unik, "bahkan dianggap nyeleneh, tidak masuk akal, dll." bagi  orang yang berbeda pilihan, bahkan  perselisihan,  perkusi, permusuhan, perperangan ;  bahkan  diantara  orang yang sama sama beragama dengan sama pilihan.  Seolah - olah ada  pemeluk pilihan ingin mendominasi yang lain atau beda pilihan  sebagai yang "Benar dia dan yang lain Salah"; bahkan kehidupan  dunia  dibuat menjadi hitam-putih (dunia salah -benar). 

Sebagai manusia yang bersosialisasi, manusia menjadi berkelompok, bermasyarakat, bahkan berbangsa dan bernegara- dengan sendirinya,   timbul aturan sosial atau norma sosial atau perjanjian sosial  tertulis ataupun tidak tertulis - yang kemudian menjadi peraturan, undang-undang, bahkan undang undang dasar berbangsa dan bernegara.  Sebagai individu dan  anggota masyarakat atau warga negara  tentu ada hal yang disepakati bersama  dan ada yang tidak diterima  secara individu,  namun kepentingan bersama dapat menjadi utama dari  pribadi bila memiliki tujuan yang mulia dan  bersama. Nilai nilai individu tidak bisa  dipaksakan begitu saja kepada nilai nilai pentingan masyarakat yang sudah mapan atau bila  sudah menjadi tradisi-budaya yang sangat lama.  
Perubahan sosial terjadi bila  nilai nilai individu yang baru( Pembaruan/Inovasi/Kreasi/Penemuan) dapat diterima  dan bermanfaat  bagi masyarakat; bahkan masyarakat dunia. Namun  secara individu  atau kelompok nilai nilai yang diterima dapat berdampak   berbeda; mungkin  bagi yang lain memberi dampak baik/ positif tetapi bagi yang  lain -justru menjadi  buruk/ negatif.

Perubahan sebagai manusia bersosial, ber-agama/keyakinan, berinovasi-cipta budaya atau ilmu dan tehnologi,   tradisi sosial dan perubahan adaptasi alam berakibat  timbulnya peradaban- generasi peradaban yang berbeda -berselang berapa  abad  kehidupan manusia,  sampai  generasi peradaban milinial/ tehnologi informasi 5.0(5.0 era).  Perubahan   utama akibat  tehnologi digital-informasi,  internet of the thing(IOF),  dimana    transformasi informasi yang  cepat dan tehnologi mekanik-elektrik, digital berbasis printah/ internet of  the thing dengan kecepatan G 5/6 , membuat  semua produk jasa -barang  lebih  efisien-efektif- serba  super dibandingkan 1 dasawarsa sebelumnya,  apalagi jauh kebelakang. Berbasis  Big Data- artificial intelligen (inteljen  artifisial/buatan) atau sebagai mindchips robotic(artificial brain), membuat  mesin  yang dikerjakan manusia bisa bekerja secara   robotik , kendaraan transpor pribadi-umum tanpa  sopir, dan aplikasi  bidang  lainnya. 

Hal  tersebut  menimbulkan perubahan yang mengejutkan atau ledakan perubahan yang  dasyat ( Disruption era)  bagi  semua  manusia di muka  bumi ini-  tanpa perkecualian. perubahan yang berdampak keseluruh  aspek kehidupan manusia dan interaksi manusia dengan alam-lingkunganya ,  bahkan diluar alamnya -seperti luar angkasa. 
Perubahan sudut pandang manusia terhadap perubahan tersebut dapat menjadi tantang bagi agama atau pengikut -pemeluk  agama atau keyakinan yang sudah mapan. Dimana  kedudukan dan peranan  agama  atau pemuka agama atau pengikut agama  terhadap perubahan nilai baru yang timbul? apakah  agama  semakin jauh (degradation) atau menjadi terkuatkan(reinforcement)?  Bila  kesenjangan kesenjangan  makin  timbul dan makin jauh , maka  konflik dalam beragama semakin banyak- dan panjajng,  tetapi   bila semakin hilang, agama  menjadi  rahmat bagi pemeluknya.
Antispasi  kesenjangan sangat  penting dengan cara  merefleksi, mereview, merenovasi - evaluasi semua  kemajuan dengan nilai esensial  dari pesan pesan agama yang universal.

Hakekat dari nilai  universal itu adalah   nilai kemanusian yang di-muliakan, di-utamakan oleh manusia itu sendiri. Memanusiakan-manusia  dari manusia yang mempunyai sifat kehewanan, kebinatangan, dari paham hukum rimba- atau hukum alam -rantai makanan. Kemanusian  yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, bagi makhluk hidup dan lingkungannya.

Keragaman  budaya manusia , agama, keyakinan,  menjadi kekayaan nilai nilai kemanusiaan,  dan menjadi rahmat dan kebahagian bagi seluruh makluk  di planet  bumi ini. Hal ini bukan suatu utopia  dengan era digital  tehnologi informasi 5.0. Hubungan erat  dapat  dijalin dengan jaringan informasi yang terekam, terjamin, terikat dan terenkripsi suatu proses transaksi sosial, ekonomi, hukum, keamanan, budaya, dll,nya.


Sekian...  coba   renungkan kembali   -- dalam kita  beragama  !!!

Jumat, 12 Juni 2020

Menjadi "orang baik", Menjadi "manusia yang kaffah"- sebuah refleksi kehidupan beragama


Kehidupan Ideal, kehidupan  yang menjadi harapan semua orang; kehidupan yang didefinisikan dengan beragam sudut pandang;  apakah kehidupan ideal ? apakah kehidupan puncak dari semua capaian usaha atau kehidupan puncak kepuasan manusia ?.
Pertanyaan pertanyaan itupun menimbulkan pertanyaan baru dan seterusnya - rentetan tanda tanya.

Sudut pandangan manusia dapat dibagi dua kelompok besar dalam melihat aspek dunia-nya,

  • pertama  sudut pandang manusia dari pandangan manusia sendiri dan lingkungannya, 
  • kedua sudut pandang manusia  dari pandangan Tuhan melalui kitab suci atau wahyu tuhan.
Pertama dari sudut pandang , bahwa manusia menentukan kehidupan dunianya berdasarkan nilai nilai manusia yang dihasilkan dari olah pikir, ilmu pengetahuan dan tehnologi yang melahirkan peradaban manusia yang dicita-citakan( ideologi). Pandangan dunia ini melahirkan masyarakat dengan ideologi -ideologi yang menihilkan  peranan -campur tangan tuhan dalam kehidupan manusia dalam urusan dunia; pandangan yang dilahirkan dan melahirkan ideologi komunis, kapitalis materialis dengan masyarakat  sosialis atau  kapitalis liberalis-borjuis 

Pandangan kedua, sebaliknya  menetapkan dan menekanan kehidupan harus  berdasarkan pandangan tuhan yang diwakili kuasa  tuhan di dunia yaitu para ulama agama atau pendeta atau rabbi. pandangan  ini dilahirkan dan melahirkan  ideologi agama dan masyarakat teokrasi yang dipimpin oleh ulama sebagai pemimpin spiritual dan juga imam tertinggi suatu negara atau bangsa. 

Selasa, 02 Juni 2020

Puisi Bapak JOKOWI 2014


-ISLAM RAHMATAN ALAMIN-

“Semua orang boleh ragu dengan agamaku tapi saya tidak ragu dengan iman dan imamku dan saya tidak pernah ragu dengan Islam agamaku.
Saya bukan bagian dari kelompok yang mengaku Islam yang punya tujuan mewujudkan negara Islam.
Saya bukan bagian dari yang mengaku Islam tapi suka menebar teror dan kebencian.
Saya bukan bagian dari kelompok Islam yang sesuka hatinya mengkafirkan saudaranya sendiri.
Saya bukan bagian dari segelintir Islam yang menutupi perampokan hartanya, menutupi pedang berlumuran darah dengan gamis dan sorban.
Saya bukan bagian dari Islam yang membawa ayat-ayat Tuhan untuk menipu rakyat.
Saya bukan bagian dari Islam yang membawa azas partainya untuk korupsi dan hidup bermewah-mewah.
Saya bukan bagian dari Islam yang menciptakan perang bagi sesama Islam.
Saya bukan bagian dari Islam yang menindas agama lain.
Saya bukan bagian dari Islam yang arogan dan menghunus pedang ditangan dan dimulut.
Saya bukan bagian dari Islam yang suka menjejerkan fustun-fustunnya.
Saya Jokowi bagian dari Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Islam yang hidup berketurunan dan berkarya di Negara RI yang memegang teguh UUD 45. Bhinneka Tunggal Ika adalah rahmat dari Tuhan."


Joko Widodo 24 Mei 2014


Menarik  puisi  tersebut  banyak dikomentari  oleh beragam rakyat-nya, antara lain sebagai berikut:

Jumat, 08 Mei 2020

MAKNA "hari ini"

Hari INI , mulai HITUNG langkah- kembali AMAL BAIK....mulai menghitung NIKMAT ALLAH, berbagi, berbuat kebaikkan kepada orang tua, anak, saudara, sesama manusia, hewan, lingkungan/alam...... ATAU ... HARI INI MULAI AMAL BURUK ?

Makna " detik demi detik" waktu kehidupan

ALHAMDULILAH, .........kata yang terucap selalu dalam hati, kata yang terus menurus melantun setiap detik, setiap nafas, setiap langkah, setiap pujian, setiap mata terpejam dan terbuka ....sebagai wujud rasa syukur kepada Allah subhana wa ta'ala  yang telah memberi hidup dan kehidupan bagiku.

makna waktu "detik demi detik" disegala aktifitas hidup memberi sudut pandangan pada makna arti "sebutir jarah" - "materi" dalam teori fisika quantum; dalam kitab suci al Qur'an.

sedetik berbuat baik dan sebaliknya sedetik berbuat jahat; 
sedetik melangkah, sedetik sebab-akibat, sedetik dampak dan hasilnya; 
sedetik denyut nadi dan jantung, sedetik nafas  dan nyawa ,sedetik hidup dan kehidupan;
sedetik bahagia, sedetik dalam sedih-gembira, kaya -miskin;
sedetik  dalam alam dunia dan sedetik dalam alam kubur/akhirat.

pilihan pilihan kehendak bebas  manusia (free will)  adalah pilihan bebas  dalam perilaku hidup atau melakoni hidupnya, mau berperan "sebagai apa, mau menjadi siapa ", bagaimana , dimana peran itu di perankan?  

Dalam soal kehidupan sosial-bermasyarakat,  banyak orang mengambil peran atau posisi "pemegang kebenaran dan kebaikan" dan orang lain diangap sebagai "pemegang keingkaran dan kejahatan" dan menduduki hirarki sosial, lembaga sosial  sebagai  tokoh masyarakat,tokoh adat, ulama, kyai, pendeta, suhu, rahib, rabi(kaum pemuka agamawan). Pemegang warisan nabi atau rasul berarti pemegang kedudukan yang penting sebagai otoritas keagamaan , otoritas fatwa, otoritas norma-moral, spiritual dan juga menjadi tauladan atau panutan dalam masyarakat atau umatnya. 

Kerumitan  masalah sosial masyarakat yang berkembang di era globalisasi atau era milinial , kecepatan -percepatan arus informasi, akulturasi budaya pun sangat mempengaruhi nilai nilai yang sudah mapan sebagai "norma agama atau nilai nilai kebenaran / agama" menjadi terbiaskan atau erosi atau dipertanyakan oleh pelaku pelaku sebagai penganutnya atau sebaliknya tidak menjadi penganutnya lagi atau menjadi  pelaku pelaku yang tidak peduli dengan norma agama atau menjadi pelaku  Atheis. 

Agama bisa menjadi bersifat ritual belaka  ketika pelaku pelaku  agama hanya memahami agama hanya ritual ritual  / upacara -upacara untuk sembahyang atau memuja tuhanya saja. Agama hanya bagian kepatuhan terhadap tatacara tatacara yang harus diikuti dari tahapan awal sampai akhir; kewajiban yang harus dilakukan, dibimbing oleh seorang ketua / imam dan diikuti oleh pelaku/peserta. Kebaikan atau kesolehan  pelaku adalah pelaku yang rajin mengikuti tatacara /ritual /sembahyang.

Agama bisa menjadi bersifat inheren yang tidak terpisahkan antara ibadah ritual- ubudiyah dengan mu'amalah , yang tidak saja menjadikan hubungannya dengan tuhannya  lebih patuh dan dekat tetapi hubungannya dengan sosial masyarakat atau sesama  manusia menjadi sinkron dengan kepatuhan dan dekatnya kepada tuhannya; berbuat baik kepada sesamanya atau makhluk lain semata karena berbuat baik kepada tuhannya yang maha pencipta.

Konsep yang sederhana dalam beribadah menjadi bias atau rumit/kompleks, ketika  ada sekelompok orang atau kelompok atau tokoh menjadikan nilai nilai agama , kebaikan agama , ubudiyah-mu'amalah  "sebagai miliknya", klaim bahwa yang lain " tidak benar atau sesat". 
Pelaku pelaku agama pun, seolah seolah menjadi sulit berbuat kebaikan untuk dirinya - apalagi untuk orang lain; disinilah makna agama menjadi bias, seolah menjadi asing, membingungkan. Hilangnya  wajah atau sifat,  watak  agama  yang ramah, rahmatan alamin, menenangkan, menyejukan dan membahagiakan dari perilaku orang-orang pengaku beragama. Agama berubah seperti makluk, benda, monster  yang berwajah sangar, seram, menakutkan yang mengancam siapa saja bila tidak mengikuti "kata katanya",bahkan mengancam dibunuh bila melanggar aturan hukumnya. Begitukah pelaku pelakunya seperti bangga  menjadi "Algojo" pembela agama, pembela kebenaran tanpa rasa takut, tanpa belas kasihan, tanpa ampun dan sebaliknya bernafsu atas nama agama mengeksekusi setiap orang yang dianggap bersalah; yang miris korbannya berteriak menyebut tuhannya dengan "Allahu akbar".  Kekacauan diantara penganut agama yang sama sama menyebut Allah sebagai tuhannya.  

Wahai diriku..... peperangan terbesar bagimu adalah perang melawan nafsumu; perang melawan egomu, arogansimu, kebodohanmu atau kepintaranmu. engkau merasa kebenaran tuhan  adalah apayang kau pelajari, hasil engkau mengaji dengan guru gurumu yang engkau puji, hasil kemenanganmu dari berdiskusi dan berdebat  soal kebenaran dan kebathilan...dan kini engkaulah pemenang sebagai tokoh, ketua, pemimpin, imam besar; sekarang engkaulah mengklaim otoritas kebenaran dan kebathilan  dari  umat mu. ketika engaku berbicara , ungkapan "kata kata mu" bak seperti fatwa , seperti  norma hukum, seperti kaidah agama yang harus diikuti atau menjadi tuntunan atau referensi kehidupan umat. Wahai....diriku ...jangan lah begitu, ...engkau telah mengambil otoritas tuhan dalam tanganmu dan kau duduki kursi ketuhan untuk menyebarkan  nafsumu sendiri, bukan atas kehendak tuhan sendiri.

sedetik demi detik...tik ..tok..tik..tok... waktu terbaca dalam jarum jam aku terbangun dalam kesadaranku, detik demi detik aku dalam sakit, detik demi detik berharap sembuh, detik demi detik diberi  nafas kehidupan, detik demi detik  beramal kebaikan untuk diriku, detik demi detik berbuat baik buat semua manusia dan alam,  detik demi detik kesadaran ku bangkit dari tidur- dari keterlenaan dan detik demi detik aku menemukan  diriku dalam kasih sayang Allah, dalam  kebaikan agamaku, dalam makna waktu "detik demi detik"

Pesan singkat : 

Alhamdulillah, detik jam terus berbunyi terdengar dalam denyut jantung dan nafasku, berarti aku masih diberi kehidupan di dunia ini  untuk selalu, detik demi detik  berbuat baik dan menjadi rahmat bagi semua makluk Allah.  

Rabu, 23 November 2016

Sosmed untuk "kehidupan bersama"



Berawal dari WA-an jadi mengelitikku untuk  menulisnya kembali
Ini copasnya wa ku 


" Agama utk kehidupan kita, agar menjadi kita orang baik sesuai keyakinan kita.
Tdk bisa orang lain memaksa kita beragama dengan  caranya...
Marilah bersabar dan berlapang dada dengan perbedaan, kemajemukan , kebinekaan indonesia. Hidup indah dan damai , bahagia  diantaranya adalah harapan kita semua , kualitas hidup kita, kualitas kedewasaan diri kita dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Mudah mudahan kita tidak mudah terprovokasi dengan issu issu  sosmed yang  memecah belah kerukunan kita.
Hidup indonesiaku dan  keluarga .....ku"


"Efek samping obat....eh..efek samping sosmed, apalagi tanpa pemakaian yang hati hati, seperti makan obat -ada yang palsu, atau asli  tetapi kedaluarsa... bisa negatif- bagi tubuh kita.
Karena itu sosmed yang positif seperti  obat yang baik-mujarab , memberi kekuatan kesehatan tubuh kita, sebaliknya yang  negatif - dapat membuat kita jadi tambah lemah dan sakit"

Saat ini sebaiknya kita bisa bijaksana makan obat (bersosmed) , agar kehidupan kita tetap terjaga baik, sehat wal afiat, tidak  bermasalah; tidak terjerat hukum atau bahkan masuk penjara.

Era informasi dalam bingkai alam demokrasi di Indonesia(sebagai negara menganut sistem demokrasi) tentu kita beruntung hidup saat ini, dimana keterbukaan, bebas berpendapat dijamin negara; tidak dilarang. apalagi dibanding negara lain yang menganut sistem otoriter atau sosialis komunis; dimana urusan pemerintahan dilaksanakan oleh satu partai dan untuk urusan pemerintahan dan negara tidak bisa dikritik bebas oleh semua rakyat, walaupun globalisasi sudah merasuk dengan perangkat medsos masuk keseluruh rakyatnya; dengan smartphone semakin memudahkan untuk berkomunikasi. tetapi urusan politik tidak bisa  orang sembarangan mengkritik pemerintah atau pejabat negara.

Dalam bersosmed seharusnya kita bisa "bijak" , ber-etika  terutama dalam menyampaikan pendapat, berita, issue. apalagi  apa yang kita sampaikan berdasarkan "sesuatu yang tidak benar,hoaks atau tidak jelas sumbernya". apa yang kita sampaikan bisa mempengaruhi orang dengan "persepsi yang salah atau merugikan"; apalagi bila pendapat tersebut di "share" ke orang lain  lebih banyak lagi dan "viral".

Pandemi Corona virus disease (COVID) 19 saat ini - yang bermula sejak desember 19 di Wuhan,Cina, telah menyadarkan  kita  tentang  makna " viral"  yang selama ini hanya dikenal dalam pengertian virus komputer atau berita yang "banyak dibicarakan atau ditonton" yang tersebar dalam waktu  cepat dan lama; Virus corona  menunjukan eksistensinya sebagai "materi  partikel yang hidup" yang menjadi musuh manusia  seluruh dunia dan merubah perilaku hidup manusia  secara fisik,psikis,
Ketakutan  terhadap COVID 19 melanda semua negara, semua berperang untuk melawan musuh "yang tidak terlihat, seperti melawan Hantu". Perubahan  perilaku manusia , bumi seperti terdiam, semua orang berdiam dirumah saja untuk menghentikan penyebaran virus sebagai usaha  melawan serangan dahsyat virus terhadap manusia. Ekonomi dunia menurun dan seperti lumpuh yang dapat menimbulkan kerawanan sosial-ekonomi, angka kematian meningkat secara  cepat dibandingkan  virus virus  sebelumnya - dalam waktu 6 bulan.
Kita  disadarkan juga,  "berita Hoaks yang viral"  sangat  berbahaya -sama seperti COVID 19   sebagai musuh " tanpa wujud" yang dapat menebarkan ketakutan dan menimbulkan korban secara fisik, psikis.

"pelaku medsos" bisa  menjadi musuh -seperti COVID 19, karena  serangannya, tatanan hidup sosial menjadi rusak dan menghilangkan imun -ketahanan sosial bermasyarakat. Oleh karena itulah, sepatutnyalah kita menjaga  imunitas sosial bermasyarakat, berbangsa negara  agar kuat, sehat wal afiat;  marilah kita jangan  menjadi " covid 19" di dalam kehidupan masyarakat.



















Waaah serius  banget...😬😬😀😁😆😅😅