|
Penulis:
Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia
sumber :http://www.analisadaily.com
|
Translate
Telusuri via Blog Ini
Sabtu, 26 November 2011
Pesan Tahun Baru 1 Muharam 1433 Hijriah:
Minggu, 13 November 2011
92. QUR’AN SURAH XCII : AL-LAIL/MALAM
XIV. MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK
ATAU SUB-TOPIK SENTRAL YANG MEWARNAI
KANDUNGAN TIAP SURAH ATAU MENENTUKAN
TEMA SURAH.
92.
QUR’AN SURAH XCII :
AL-LAIL/MALAM
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama surah yang
termasuk topik sentralnya (1-10) yang digunakan sebagai sumpah bersama dengan
Tuhan yang menciptakan wanita dan pria untuk menyatakan bahwa upaya manusia
itu bermacam-macam. Dilanjutkan dengan siapa yang menafkahkan
hartanya , Allah akan memudahkan untuk berbuat kebaikan dan siapa
yang bachil,
merasa dirinya kecukupan dan mendustakan balasan yang baik, maka
akan dipersukar jalannya untuk berbuat kebaikan. Topik ditutup dengan
pernyataan bahwa hartanya tidak berguna.
TEMA SURAH :
Tuhan akan membantu meringankan jalan orang-orang yang
berjalan dijalan-Nya dan sebaliknya akan menyulitkan jalan mereka yang
mendustakan-Nya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Manusia
yang menjalankan kebaikan, maka kebaikannya itu akan meringankannya untuk lebih
baik dan sebaliknya.
93.
QUR’AN SURAH XCIII :
AD-DHUHAA/WAKTU MATAHARI SEPENGGALANGAN NAIK
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah,
sekaligus topik sentral surah dan digunakan sebagai sumpah dengan fenomena alam
yang lain untuk menyatakan jaminan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan manusia dan
tidak pula membenci manusia. Topik ditutup dengan pernyataan bahwa akhir
perjuangan itu lebih baik daripada permulaan.
TEMA SURAH :
Dalam saat saat yang berat yang dialami manusia, manusia
harus tetap yakin bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan hamba-Nya dan keadaan
yang berat itu bukan tanda kebencian-Nya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Manusia harus yakin dalam keadaan yang bagaimanapun
beratnya Tuhan tidak akan meningglkan nya, dan keadaan itu bukan tanda
kebencian-Nya. Ingat bahwa akhir kehidupan bukanlah didunia ini, dan itu pasti
lebih baik.
94.
QUR’AN SURAH XCIV : ALAM NASYRAH/MELAPANGKAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah,
sekaligus topik sentral surah yang menegas kan, bukankah Tuhan yang melapangkan dada
manusia, meringankan beban yang memberatkan punggungnya, dan meninggikan
sebutannya, dan menyatakan selanjutnya bahwa disamping kesulitan pasti ada kemudahan,
yang diulang 2 kali. ( 1-6)
TEMA SURAH :
Manusia dalam menghadapi kesulitan selalu berkeluh kesah,
suatu sikap yang merugikan. Diyakinkan Tuhan bahwa disetiap kesulitan pasti ada
kemudahan. Yang menyatakan ini ialah Tuhan yang meringankan manusia dari
bebannya dan melapangkan dadanya dari rasa kesempitan yang menyekik jiwa
manusia.
SUDUT PANDANG SURAH :
Suatu landasan optimistik telah diberikan oleh Tuhan yang
telah melapangkan dada, meringankan beban manusia yang beriman dan bertawakkal.
95.
QUR’AN SURAH XCV :
AT-TIIN/BUAH TIIN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah digunakan sebagai sumpah bersama dengan buah Zaitun, gunung Sinai dan negeri Mekah,
untuk menyatakan bahwa sesungguhnya manusia itu telah diciptakan dalam bentuk
yang paling baik; kemudian dikembalikan ke tempat yang paling rendah, kecuali
YANG BERIMAN DAN BERAMAL SHALEH. ( 1-6)
TEMA SURAH :
Manusia itu sesungguhnya makhluk Tuhan yang diberi bentuk
paling baik, tetapi dapat kembali ke jajaran yang paling rendah, sesuai dengan sikap dan
perbuatannya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Keadaan
manusia itu selalu dalam keadaan yang terombang-ambing, sekali waktu ia berada
pada puncak ketinggian kemakhlukan, waktu yang lain dapat merosot kelembah
terdalam kemakhlukan. Untuk mempertahankan dirinya dalam puncak ketinggian
kemakhlukan manusia harus BERIMAN dan BERAMAL
SHALEH, artinya aktif dalam kancah kehidupan namun tetap dalam norma
kemukminan.
96.
QUR’AN SURAH XCVI :
AL-’ALAQ/SEGUMPAL DARAH
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah
sekaligus topik sentralnya (1-8), yang merupakan perintah untuk :- membaca dengan
nama Tuhan yang menciptakan manusia dari segumpal darah; Tuhan yang paling
Pemurah dan yang mengajarkan manusia dengan kalam apa yang tidak dapat
diketahui manusia. Dilanjutkan dengan pernyataan yang konfirmatif,
bahwa manusia
itu suka MELAMPAUI BATAS, karena ia merasa berkecukupan. Topik
ditutup dengan ketegasan bahwa manusia pasti kembali pada Tuhannya.
TEMA SURAH :
Bahwa
manusia itu suka
melampaui batas, karena ia merasa berkecukupan itu pasti, karena Tuhan yang mengajarkan manusia via
kalam-Nya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Manusia
wajar, patut sampai wajib MEMPERCAYAI apa yang dituliskan dalam wahyu, karena yang
menuliskan itu Tuhan yang Maha Pemurah dan yang menciptakan manusia.
97.
QUR’AN SURAH XCVII :
AL-QADR/KEMULIAAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah terdapat pada pembukanya yang menyatakan bahwa malam diturunkannya Al-Qur’an itu merupakan
malam yang mulia.
TEMA SURAH :
Saat
Wahyu terakhir diturunkan Tuhan saat yang mulia. Kemuliaan ini karena ada
sesuatu yang sangat penting yang terjadi. Jadi suatu kejadian dapat meningkatkan NILAI waktu dan
ruang / tempat kejadian. Waktu
kita kalau tidak kita isi dengan sesuatu tidak bernilai; kalau diisi dengan
amal baik, maka waktu bernilai positif, sebaliknya kalau kita isi dengan
kebatilan, maka nilainya menjadi negative. Begitu pula dengan tempat atau
lingkungan.
SUDUT PANDANG SURAH :
Nilai
lingkungan itu ditentukan oleh suatu kejadia yang mengisinya. Tergantung dari
macam kejadiannya , nilai lingkungan itu dapat tambah atau berkurang, begitu
pula UMUR MANUSIA. Panjang umur tidak
menentukan banyaknya kebaikan seseorang !
By A Baghowi Bachar
(Posting 13 November 2011/ 17 Dh-Hijja 1432 H)
Sabtu, 05 November 2011
Renungan
Makna dan Hikmah Berkorban
Ajaran berkorban sebenarnya telah dilaksanakan sejak awal sejarah kemanusiaan, yaitu oleh Habil dan Qobil, putra Nabi Adam. Kurban Qobil ditolak, karena dilakukan tidak dengan hati yang ikhlas dan bukan harta yang terbaik. Berbeda dengan itu adalah kurban yang dilakukan oleh Habil, diterima oleh Allah. Habil mengorbankan hartanya yang terbaik dan dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Selanjutnya ajaran kurban juga dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Peristiwa yang sangat dahsyat, bahwa yang dikorbankan oleh Nabi Ibrahim adalah satu-satunya putranya, yang sangat dicintai. Tugas berat itu dilaksanakan olehnya untuk memenuhi perintah Tuhan yang diterima lewat mimpi. Keduanya, baik Ismail maupun Ibrahim memenuhi perintah itu, sekalipun tugas itu amat berat, karena di luar batas-batas kemanusiaan.
Melihat sejarah Habil dan Qobil hingga Ibrahim dan Ismail, maka rupanya kurban adalah menjadi pintu yang harus dilalui untuk meraih derajat mulia di sisi Tuhan. Bahwa kemuliaan sejati harus dibayar dengan cara berkorban dan bukan dibeli. Berkorban berbeda dengan membeli. Berkorban adalah memberikan sesuatu miliknya yang terbaik yang didasari oleh rasa ikhlas.
Kemuliaan seseorang tidak bisa didapatkan dari cara membeli, tetapi hanya bisa diperoleh dari berkorban. Betapa mulianya berkorban sebenarnya juga bisa ditangkap dari perjalanan hidup manusia di setiap waktu, tidak terkecuali pada zaman sekarang ini. Orang-orang yang mau berkorban akan selalu mendapatkan kemuliaan. Para pahlawan bangsa hingga nama mereka diingat, sejarah hidupnya selalu dijadikan tauladan, dan kata-katanya dijadikan pegangan hidup adalah karena pengorbanannya.
Pada saat sekarang ini, jiwa dan kesediaan berkorban terasa semakin hilang dan digantikan dengan kebiasaan bertransaksi, atau berjual beli. Tidak sedikit pemimpin tatkala mendapatkan posisinya itu diperoleh dari berkorban, melainkan dari membeli atau bertransaksi, hingga muncul istilah jual beli jabatan. Akibatnya, yang bersangkutan sama sekali tidak mendapatkan kemuliaan dari jabatannya itu. Sebaliknya, justru menjadi nista, yaitu dikejar-kejar kejaksaan, polisi atau KPK dan akhirnya dipenjarakan.
Pada saat sekarang ini, di tengah-tengah hiruk pikuk terjadinya berbagai penyimpangan, korupsi, manipulasi, dan berbagai mafia yang berakibat merendahkan derajat kemanusiaan, maka para pemimpin bangsa seharusnya segera menyeru untuk melakukan gerakan berkorban, dan bukan bertransaksi. Bertransaksi, termasuk transaksi kekuasaan telah terbukti berakibat mensengsarakan dan bahkan menistakan diri yang bersangkutan.
Sejarah Habil, Ibrahim dan Ismail, bahkan juga sejarah para pahlawan bangsa kita telah memberikan tauladan yang sangat mulia, yaitu berkorban dari apa yang terbaik dan dilakukan dengan ikhlas. Jika bangsa ini ke depan ingin mendapatkan kemuliaan, maka tauladan itu harus dijalani. Gerakan berkorban, harus dimulai dari atas, yaitu dari semua kalangan elite bangsa. Sebaliknya, kebijakan berupa meningkatkan fasilitas para pejabat, termasuk berbagai tunjangan, remunerasi yang akan diterima, -------di tengah-tengah rakyat yang belum sepenuhnya makmur seperti sekarang ini, maka perlu dihindari.
Di tengah-tengah rakyat sedang mengalami kesulitan hidup seperti sekarang ini, mestinya para pemimpin dan pejabat pemerintah, bersedia berkorban. Gerakan berkorban sebenarnya adalah juga sekaligus sebagai cara mudah, murah, dan sederhana menghilangkan kebiasaan korupsi dan hidup serakah. Orang yang terbiasa memberi atau berkorban akan menjauhkan diri dari hidup berlebih-lebihan, tamak, dan serakah.
Untuk menghilangkan korupsi di negeri ini harus ada gerakan mengubah budaya. Yaitu budaya menerima harus diubah menjadi budaya memberi. Memberi atau memposisikan tangan di atas akan selalu lebih mulia dari tangan di bawah, apalagi diperoleh dengan cara mencuri atau korupsi. Hari raya kurban yang sebentar lagi tiba, harus dijadikan momentum untuk memulai gerakan mulia itu. Wallahu a’lam
Sumber dari: http://www.uin-malang.ac.id
Senin, 31 Oktober 2011
86. QUR’AN SURAH LXXXVI : ATH-THAARIQ/YANG MUNCUL DI MALAM HARI
XIV. MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK
ATAU SUB-TOPIK SENTRAL YANG MEWARNAI
KANDUNGAN TIAP SURAH ATAU MENENTUKAN
TEMA SURAH.
86.
QUR’AN SURAH
LXXXVI : ATH-THAARIQ/YANG MUNCUL
DI MALAM HARI
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah digunakan sebagai sumpah untuk memperkuat menyadarkan manusia siapa
sesungguhnya manusia itu, dan kemampuan Tuhan untuk membangkitkan manusia
kembali pada hari Kiamat, hari dibukanya semua rahasia. Dan manusia pada hari itu
tidak berdaya
dan tidak ada yang bisa menolong.
TEMA SURAH :
Menyadarkan
manusia tentang hari kiamat dan bahwa manusia itu langsung diawasi Tuhan,
sehingga manusia harus berfikir seratus
kali kalau ingin mengingkari Tuhannya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Manusia
itu selalu dalam pengawasan Tuhan dan suatu waktu semua rahasianya akan dibuka,
sejelas munculnya bintang dimalam hari.
87.
QUR’AN
SURAH LXXXVII : AL-A’LAA/YANG PALING TINGGI
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah
sekaligus pembuka topik ( 1-11), diperintahkan pada manusia untuk bertasbigh
pada Tuhan yang Maha Tinggi , yang menciptakan dan menyempurnakan serta
menentukan ukuran dan memberi petunjuk. Dilanjutkan dengan penegasan tentang
diturunkannya wahyu pada Nabi-Nya dan Nabinya tidak akan lupa apa yang
diturunkan padanya, memberi taufik dan
perintah pada Nabinya untuk memberi peringatan pada manusia. Topik
ditutup dengan pernyataan bahwa mereka yang takut pada Tuahannya akan
mendapatkan pelajaran dari peringatan itu dan mereka yang celaka akan
menjauhinya.
TEMA SURAH :
2
hal yang ditegaskan, ialah :
R Nabi
tidak lupa terhadap wahyu yang diterimanya
R Peringatan
bahwa wahyu hanya berguna bagi mereka yang takut pada Tuhannya, sedangkan yang
celaka akan menjauhinya.
SUDUT PANDANG SURAH:
Kesadaran akan
jati diri, akan melahirkan rasa takut pada Tuhan dan barulah wahyu mempunyai
arti baginya.
88.
QUR’AN
SURAH LXXXVIII : AL-GHAASYIYAH/HARI PEMBALASAN
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah,
sekaligus topik pertamanya (1 -16) yang dengan nada pertanyaan menegaskan akan
kebenaran kiamat, dimana manusia akan dibagi dalam 2 golongan, manusia dengan
muka murung dan bermuka berseri-seri, sebagai hasil dari ulah mereka selama
hidup. Dan mereka akan ditempatkan ditempat masing masing, neraka dan surga.
TEMA SURAH :
Surah
menegaskan akan datangnya hari kiamat, hari pertanggungan jawab dan pembalasan.
SUDUT PANDANG SURAH :
Memperkuat surah surah yang lain yang menegaskan akan
tibanya hari kiamat, hari pertanggungan jawab, hari manusia menyadari apa yang
telah diperbuat selama hidupnya dan hari pembalasan.
89.
QUR’AN
SURAH LXXXIX : AL-FAJR/FAJAR
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah dan
topik pertamanya (1-!4) sebagai sumpah bersama dengan waktu yang lain, seperti malam yang 10,
yang genap dan yang ganjil, untuk mengingatkan kembali apa yang
telah dialami oleh kaum ‘Aad, Iram dan Tsamud serta kaum Fir’aun, karena mereka
mengingkari Rasul dan wahyu yang dibawanya. Topik ditutup dengan menegaskan
bahwa manusia
itu selalu dalam pengawasan Tuhan.
TEMA SURAH :
Haruslah masuk dalam kesadaran manusia bahwa manusia itu
selalu dalam pengawasan, sehingga tidak mungkin manusia memungkiri apa yang
telah diperbuat dalam hidupnya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Kesadaran bahwa dirinya selalu dalam pengawasan akan
memudahkan manusia dalam menjaga diri dan mencegah perbuatan bathil.
90.
QUR’AN
SURAH XC : AL-BALAD/NEGERI
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah
sekaligus topik pertama surah (1-14) yang dugunakan sebagai sumpah ( dengan
negeri yang dimaksud ialah Mekkah)bersama kata bapak dan anak, untuk menyatakan
bahwa hidup ini merupakan suatu perjoangan yang berat bagi manusia. Untuk itu
manusia telah diberi mata, lidah dan bibir ? Manusia mengeluh : aku telah
mengeluarkan harta yang banyak, seolah olah tidak ada seorangpun yang
memperhatikannya. Tuhan memperhati kan manusia! Topik ditutup bahwa manusia
telah diberitahukan adanya 2 jalan, tetapi manusia tidak memilih jalan yang mendaki.
TEMA SURAH :
Demi tempat hidupnya dan keluarganya (manusia
mempertanggung-jawabkan kelurganya) manusia itu harus menghadapi perjoangan
yang berat untuk menyelamatkan kehidupannya di dunia. Tuhan tahu ini, sehingga
menunjukkan adanya 2 macam jalan yang bisa dipilihmya, jalan Tuhan yang mendaki
atau jalan manusia yang datar atau menurun.
SUDUT PANDANG SURAH :
Manusia harus menyadari bahwa untuk menyelamatkan
kehidupannya manusia harus BERJUANG KERAS. Untuk
menyelamatkan seluruh kehidupannya termasuk kehidupan uchrowinya manusia harus MEMILIH JALAN YANG MENDAKI. Bagaimana ujud jalan yang
mendaki itu akan diterangkan dalam topik selanjutnya.
91.
QUR’AN
SURAH XCI : ASY-SYAMS/MATAHARI
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah yang terdapat pada ayat pembuka topik
sentral surah digunakan sebagai sumpah, bersama dengan fenomena alam yang lain
serta jiwa dan
Yang menyempurna - kan untuk menegaskan bahwa Tuhan meng-ilhamkan kefasikan dan ketakwaan pada jiwa itu.
Topik ditutup dengan pernyataan bahwa berbahagialah siapa yang membersihkan jiwa dan merugilah
mereka yang mengotorinya. ( 1- 10).
TEMA SURAH :
Tiap manusia pada hakekatnya telah mengetahui bahwa pada
dirinya bersemayam kefasekan dan ketakwaan. Ini sebagai pilihan Tuhan yang
ditawarkan pada manusia. Dengan demikian manusia yang memilih, maka dia yang
harus mempertanggung-jawabkan,Tergantung dari manusia yang mana yang di
pilihnya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Pada diri manusia itu ada 2 kecenderungan. Tinggal
tergantung dari manusia sendiri kecenderungan yang ingin diikutinya. Ini adalah
REALITA, seperti riilnya matahari bulan, malam
dan siang. Inilah penjabaran, TIDAK ADA PAKSAAN DALAM
BERAGAMA !
By A Baghowi Bachar
(Posting 31 Oktober 2011/04 Dh-Hijja 1432 H)
Sabtu, 22 Oktober 2011
81. QUR’AN SURAH LXXXI : AT-TAKWIR/YG MENGGULUNG
XIV. MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK
ATAU SUB-TOPIK SENTRAL YANG MEWARNAI
KANDUNGAN TIAP SURAH ATAU MENENTUKAN
TEMA SURAH.
81.
QUR’AN
SURAH LXXXI : AT-TAKWIR/YG MENGGULUNG
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah sekaligus pembuka topik sentralnya (ayat 1-14), yang mendiskripsikan fenomena
alamiah, fenomena manusia yang tidak lagi peduli tentang hak miliknya, fenomena
kebangkitan hidup kembali manusia, fenomena sosial dimana para anak anak
perempuan yang dibunuh setelah lahir, ditanya
sebabnya, catatan manusia dibuka
, neraka dipanaskan dan surga didekatkan pada hari kiamat , maka tiap tiap jiwa
akan mengetahui apa yang telah dikerjakan. Fenomena alam, fenomena
sosio-cultural dan fenomena mento-spiritual serta fenomena ghaib jumbuh menjadi
satu.
TEMA SURAH :
Hari
kiamat ialah hari manusia mengetahui tentang perbuatannya selama hidupnya.
SUDUT
PANDANG SURAH :
Datangnya kiamat, hari dimana penyesalan, bahkan
taubatpun menjadi terlambat. Sedikit manusia yang MENYADARI hal
ini. Ingkar terhadap Kiamat menutup pintu hati untuk mempelajari Wahyu.
82.
QUR’AN
SURAH LXXXII : AL-INFITHAAR/TERBELAH
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah,
sekaligus topik sentralnya (ayat 1-9) yang mendiskripsikan fenomena hari
kiamat, dimana manusia dibangkitkan dari kuburnya dan tiap jiwa menyadari apa
yang telah dilakukannya dan apa yang dilalaikannya. (5). Kemunian dilanjutkan
dengan suatu pertanyaan:
“Apakah sesungguhnya yang telah memperdayakan manusia sehingga mendustakan
Tuhannya ? Tuhan yang telah
menciptakan manusia dan menyusun tubuhnya secara sempurna ? Dan sebagai penutup
topik dikatakan : Dan mengapa manusia juga berani mendustakan hari kiamat ?
Suatu pertanyaan yang memojokkan dan menghujat manusia !
TEMA SURAH :
Suatu peringatan yang sangat tajam yang diajukan Tuhan
pada manusia. Apa yang memperdayakan manusia sehingga mendustakan Tuhan dan
datangnya hari pembalasan ?
SUDUT PANDANG SURAH :
Lagi
lagi Tuhan menggunakan datangnya Kiamat sebagai hari pembalasan untuk
menyadarkan siapa manusia dan apa makna dihidupkannya di dunia ini.
83.
QUR’AN
SURAH LXXXIII : AL-MUTHAFFIFIN/ORANG2 YANG CURANG
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka topik sentral
( ayat 1-17) dan sekaligus surah, yang mengecam dengan keras, perbuatan orang
yang minta dipenuhi timbangannya bila menerima , tetapi mengurangi timbangan
bila memberi. Mengurangi timbangan disini bukan hanya dalam alam materi, tetapi
juga dalam immaterial, seperti hukum dll.sehingga mengurangi timbangan dapat
dikonotasikan dengan TIDAK ADIL. Apakah manusia
itu tidak percaya akan ‘hari dibangkitkannya kembali’ dan menghadap Tuhannya
dengan sijjin, kitab isi semua perbuatannya dalam hidup ini. CELAKALAH manusia yang mendustakan hari pembalasan,
ialah mereka yang bila dibacakan ayat ayat Tuhan, mereka mengatakan bahwa itu
hanya dongeng belaka. Topik ditutup dengan menunjukkan tempat orang orang yang
mendustakan Tuhannya.
TEMA SURAH :
Peringatan keras terhadap manusia yang berbuat tidak adil
yang digambarkan sebagai aktivitas perdagangan. Hubungan antar manusia itu
sesungguhnya seperti hubungan jual-beli, hubungan antara 2 manusia yang
sederajad, yang diikat oleh norma norma tertentu. Norma itu tidak lain ialah
suatu perjanjian yang telah disepakati bersama.
SUDUT PANDANG SURAH :
Kehidupan bermasarakat itu suatu aktivitas antar manusia
yang diikat oleh suatu perjanjian yang disebut NORMA.
Surah ini mengancam manusia yang tidak menundukkan diri pada perjanjian,
termasuk perjanjiannya dengan Tuhan.
84.
QUR’AN
SURAH LXXXIV : AL – INSYIQAAQ/TERBELAH
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pertama, topik
pertama (1-6) yang menggambarkan kelakuan ruang angkasa dan bumi yang terbelah
dan mengeluarkan segala isinya sebagai tanda kepatuhan nya pada Tuhan. Topik ditutup
dengan ayat yang mengingatkan manusia, bahwa manusia itu tiap saat yang ia jalani merupakan jalan menuju
kematian, jalan menuju Tuhannya.
TEMA SURAH :
Kepastian
datangnya hari kiamat ialah karena ketundukkan alam pada
Tuhannya sebagai makhluk-Nya, seperti perjalanan hidup manusia
kearah kematiannya.
SUDUT PANDANG SURAH :
Datangnya hari kiamat itu seperti datangnya kematian pada
perjalanan hidup manusia. Bagaimana manusia mau mengingkarinya ?
85.
QUR’AN
SURAH LXXXV : AL-BURUJ/GUGUS BINTANG
TOPIK SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah terdapat pada ayat pertama, topik pertama surah (1-10), dan
digunakan
Sebagai sumpah bersama dengan hari yang dijanjikan dan yang menyaksikan dan
disaksikan. Dilanjutkan dengan kisah tentang orang-orang kafir yang
menyiksa orang-orang mukmin, karena mereka beriman pada Allah, yang Maha
Perkasa lagi Terpuji dan memiliki alam raya dan Yang Maha Mengetahui. Ditutup
dengan pernyataan bahwa Allah pasti akan mengadzab mereka yang menfitnah dan
menyiksa orang-orang beriman, wanita maupun pria dan tidak mau bertaubat.
TEMA SURAH :
3 hal yang digunakan sebagai sumpah : fenomena alam
nyata, fenomena alam ghoib dan perilaku manusia. Ketiganya dianggap penting
oleh Tuhan. Sumpah ini untuk memperkuat kepastian adzab Tuhan terhadap mereka
yang menyiksa dan memfitnah orang orang mukmin.
SUDUT PANDANG SURAH :
Konfirmasi Tuhan bahwa Dia pasti akan mengadzab mereka
yang menyakiti hamba-hambanya yang beriman. Suatu perilaku manusia yang hanya
manusia itu sendiri yang mengetahui. Namun Tuhan itu Maha Mengetahui segala
sesuatu, bagaimana terselubungnya perbuatan manusia.Janganlah manusia merasa
bahwa dia akan dapat menyembunyikan ulahnya dari Tuhan, apa yang mereka
sembunyikan itu bagi Tuhan seperti melihat gugus bintang jelasnya.
By A Baghowi Bachar
Sabtu, 24 September 2011
75 QUR’AN SURAH LXXV : AL-QIYAMAH
XIV. MAKNA NAMA JUDUL TIAP SURAH
TOPIK
ATAU SUB-TOPIK SENTRAL YANG MEWARNAI
KANDUNGAN TIAP SURAH ATAU MENENTUKAN
TEMA SURAH.
75
QUR’AN
SURAH LXXV : AL-QIYAMAH
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah dan “jiwa yang tidak pernah puas”
digunakan sebagai sumpah untuk mengkonfermasikan bahwa hari dibangkitkan
manusia itu pasti datang. Namun manusia masih terus membuat maksiat, bahkan
manusia masih berani bertanya kapan datangnya hari itu. Ketahuilah manusia,
bahwa pada hari itu manusia akan diberitahukan apa yang telah mereka kerjakan
dan apa yang mereka abaikan, dan mereka akan menjadi saksinya sendiri. Tidak
ada satu dalihpun yang dapat dikemukakan.
TEMA
SURAH :
Soal hari kiamat dianggap Tuhan sangat penting
bagi manusia. KESADARAN AKAN DATANGNYA HARI
ITU saja, yang
dapat menahan
manusia dari berbuat maksiat, karena pada hari itu manusia menjadi
saksi untuk dirinya. Suatu hal yang tidak pernah ada dalam kehidupan
duniawinya.
SUDUT
PANDANG SURAH :
Datangnya
hari kiamat, suatu REALITA yang NYATA,
haruslah masuk dalam KESADARAN manusia yang
terdalam. Hanya kesadaran inilah yang mampu menahan manusia dari berbuat
maksiat. Kesadaran ini mengandung kesadaran khas ialah bahwa MANUSIA
AKAN MENJADI SAKSI BAGI DIRINYA, sehingga semua argumentasi tidak
berlaku.
76 QUR’AN
SURAH LXXVI : AL-INSAN
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada topik pertama surah ( ayat
1-22), pada ayat pembukaanya yang menerangkan siapa manusia itu sesungguhnya. Dikatakan,
bahwa ada suatu masa dimana ia tidak dikenal, kemudian diciptakan Tuhan
melalui pertemuan sperma dengan ovum,
dan setelah dia akil baligh, diberikan Tuhan pendengaran dan penglihatan,
diajarkan jalan yang lurus/benar, maka ia akan di-uji. Kemudian bila dia lulus,
Tuhan akan menempatkan dalam surga dengan segala kenikmatan yang didambakan
manusia.
TEMA SURAH :
Surah
menyadarkan manusia siapa manusia itu sesungguhnya dan apa makna hidup
didunia ini. Ada suatu masa, dimana manusia itu tidak dikenal, artinya manusia itu
JAIZ, keperiadaannya TIDAK TERGANTUNG PADA DIRINYA. Siapa yang mampu
membina dirinya menjadi MANUSIA MEAN-TO-BE, manusia menurut yang dikehendaki Penciptanya,
maka ia akan dianugerahi hidup surgawi.
SUDUT
PANDANG SURAH :
KEHIDUPAN DUNIAWI ini pada hakekatnya merupakan suatu UJIAN bagi manusia. Kemudian diterangkan SIAPA hakekat manusia itu, sehingga satu-satu
upaya manusia ialah berusaha untuk LULUS,
artinya mengikuti KEHENDAK PENCIPTANYA.
Jalannya untuk itu telah Tuhan tunjukkan, ialah WAHYU-NYA.
TIDAK ADA JALAN LAIN BAGI MANUSIA , kecuali harus mau mengikuti JALAN-NYA.
77
QUR’AN
SURAH LXXVII : AL-MURSALAT/MALAIKAT2 YG DIUTUS
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah terdapat pada pembuka surah sekaligus pembuka topik sentralnya
(ayat 1- 15), yang digunakan sebagai sumpah untuk menegaskan janji Tuhan itu
past ditepati, ialah datangnya KIAMAT, yang merupakan bahaya yang
besar bagi yang mendustakannya.
TEMA SURAH :
Makna
kiamat yang merupakan hari keputusan bagi manusia bagi mereka yang
mendustakan.
SUDUT
PANDANG SURAH :
Suatu
peringatan yang keras bagi mereka yang mendustakan hari kiamat yang merupakan
hari keputusan/penentuan bagi manusia. Ayat ini diulang 10 kali dari 50 ayat
yang membentuk surah. Seperlima surah digunakan untuk menyadarkan manusia
tentang datangnya hari peradilan manusia.
78
QUR’AN
SURAH LXX VIII : AN-NABAA’[BERITA BESAR]; AD-DAHR
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat kedua yang merupakan
topik pertama surah. (ayat 1-20)., yang merupakan issu besar, yang dipertanyakan dan
diperselisihkan manusia. Ayat selanjutnya merupakan jawaban
sekaligus penegasan Tuhan akan kebenaran adanya KIAMAT, yang merupakan issu itu. Selanjutnya disajikan
fenomena yang terjadi pada hari itu dengan argumentasi ujud dan cara
terciptanya alam serta siapa
penciptanya. Topik ditutup dengan menerangkan makna hari kiamat, ialah hari
akhirnya kehidupan dunia dan masuknya ke kehidupan selanjutnya; hari itu
merupakan yaumil
fashli , hari keputusan.
TEMA SURAH :
Surah ini memperkuat, pasti datangnya hari Kiamat, dengan
ungkapan yang berbeda. Diungkapkan sebagai suatu dialog antara Tuhan dan manusia.
SUDUT
PANDANG SURAH :
Hari kiamat sebagai suatu REALITA
yang harus diakui, disadari dan digunakan sebagai satu variabel kehidupan yang
wajib diperhitungkan manusia.
79 QUR’AN
SURAH LXXIX : AN-NAZI’AT/MALAIKAT2 YG MENCABUT
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Nama
judul surah terdapat pada pembuka surah sekaligus pembuka topik sentral (ayat
1-14) yang digunakan sebagai sumpah bersama dengan fenomena alam pada hari
kiamat dan dilanjutkan dengan ungkapan kesadaran orang-orang kafir akan
datangnya hari dibangkitkan manusia kembali dari kuburnya.
TEMA SURAH :
Menyadarkan
manusia tentang datangnya hari kiamat. Disini disejajarkan antara proses mematikan dengan proses pembangkitan kembali manusia.
Datangnya kiamat itu secepat matinya seseorang, inilah yang harus manusia
sadari.
SUDUT
PANDANG SURAH :
Surah
menggambarkan kedatangan hari kiamat seperti datangnya kematian pada manusia,
bisa secepat kilat hingga manusia menyadarinya terlambat. Manusia pasti akan
menyadari itu, pada waktu itu, namun itu telah terlambat.
80 QUR’AN
SURAH LXXX :
‘ABASA/BERMUKA MASAM
TOPIK
SENTRAL SURAH :
Nama judul surah terdapat pada ayat pembuka surah, (topik
pertama , ayat 1-16) yang menceriterakan celaan terhadap sikap manusia ( cq.Nabi ) yang melecehkan
sesama manusia yang cacad dan seorang no-body. Pada waktu itu Nabi tidak
memperhatikan dan memperdulikan seorang no-body yang menghadapnya, karena
baru berhadapan dengan orang-orang yang mempunyai kedudukan sosial, yang
didiskripsikan dengan mereka yang serba cukup. Perbuatan ini dilarang Tuhan
dengan alasan bahwa orang hina tadi mungkin lebih bersih jiwanya daripada
mereka yang terhormat secara sosial. Topik ditutup dengan
menerangkan bahwa ayat ayat Tuhan/ peringatan ini, yang berupa wahyu yang
disucikan dan ditinggikan dan diturunkan melalui tangan utusan yang dimuliakan
haruslah manusia meyakininya.
TEMA MANUSIA :
Surah
ini memeperingatkan manusia tentang sikap yang tercela, ialah menilai manusia dari
hanya segi lahiriyahnya saja. Yang bersikap demikian berarti bahwa ia juga
tidak mengimani peringatan/wahyu yang diturunkan Tuhannya.
SUDUT
PANDANG SURAH :
Surah memandang manusia dari SIKAPNYA
TERHADAP MANUSIA LAIN, terutama yang didasarkan pada penampilan
lahiriyah dan kedudukan sosialnya. Fenomena kehidupan dari suatu budaya
materialisme yang merangsang hubbud-dunia yang melanda dunia waktu ini.
By A Baghowi Bachar
(Posting 24 September
2011/26 Syawal 1432 H)
Langganan:
Postingan (Atom)