Translate

Telusuri via Blog Ini

Kamis, 23 September 2010

VII. REALITA MENURUT AL-QUR’AN.

Dilihat dari sudut manusia oleh manusia, dapatlah dikatakan bahwa manusia secara mandiri mampu mempertahankan hidupnya dimuka bumi tanpa bantuan siapapun. Manusialah yang menguasai bumi; hitam kata manusia, hitam pula wajah kehidupan. Putih kata manusia, putih pula wajah kehidupan. Kemampuan survive manusia ini didasarkan pada kemampuan akalnya yang membuahkan pandangan hidup, yang selanjutnya melahirkan falsafah dan ilmu serta tehnologi yang sanggup menguasai isi kehidupan ini.

Menurut pendapat manusia, ini dikarenakan manusia mampu menemukan hakekat realita, menangkap kebenaran hakiki dari segalanya tanpa bantuan dari luar dirinya. Bahkan manusia merasa mampu memberi makna kehidupan duniawi ini melalui ilmu yang ia ciptakan. Meskipun masih banyak manusia yang mengakui adanya sesuatu kekuatan diluar dirinya, ada Realita tertinggi, namun sifatnya masih dianggap intra-cosmos, dan impersonal yang meliputi yang natural, maupun supranatural.

Manusia itu masih anak kosmos, maka manusiapun diliputi sifat supra-natural juga. Unsur inilah yang merupakan kekuatan manusiawinya,yang mampu melepaskan dirinya dari cengkeraman unsur naturalnya sehingga dia selalu dan akan selalu mampu survive dalam kancah kehidupan ini. Melalui kekuatan pandangannya terhadap alam nyata yang didasarkan pada pengamatan fenomenologik, manusia menyimpulkan pendapatnya :
Alam ini terjadi dengan sendirinya dan berkembang dengan sendirinya, mengikuti suatu hukum yang dapat dibaca oleh manusia dan difahaminya; yang kemudian disebut sebagai hukum alam. Darimana asalnya tidak menjadi masalah. Keperiadaan manusia sendiri juga demikian.
Hanya melalui penguasaan hukum ini manusia mampu survive sebagai anak kosmos. Makin jauh manusia mampu melepaskan diri dari ikatan hukum alam ini, makin besar kesempatannya untuk survive. Akhirnya manusia mampu menguasai hukum itu, sehingga terjamin untuk tidak hanya survive, tetapi sekaligus menaklukkannya. Kerusakan yang ditimbulkan dalam penaklukan alam ini tidak dianggap sebagai suatu kegagalan, tetapi suatu dampak sampingan yang dilahirkan oleh suatu kebetulan. Benarkah demikian ?

Semua ini terjadi karena manusia hanya mengamati segala sesuatu yang menampakkan diri, baik langsung maupun tidak langsung, dalam arti penampakan diri itu hanya melalui jejaknya atau akibat yang ditimbulkannya. Meskipun manusia mampu mempertajam dan meluaskan pengamatannya melalui penemuan tehnologi, namun bila alam tidak menampakkan dirinya, manusia, bagaimanapun canggihnya tidak akan mampu mengamatinya.

Pengamatan manusia tidak mungkin melampaui batasan ruang-waktu, meskipun akalnya mampu melampauinya. Disamping itu segala sesuatu disamping exist/ada , juga mengandung makna. Mampukah manusia menangkap makna sesuatu yang sebenarnya ?. Makna yang tetap ada diluar diri manusia ?. Bukan makna yang dihubungkan dengan kepentingan/interest manusia !. Mampukah manusia mengamati fenomena itu secara lengkap ?. Sebab tiap fenomena itu tidak berdiri sendiri, tetapi berada dalam kerangka fenomena yang lebih luas.
Mungkin manusia mampu melacak fenomena yang terjadi sebelumnya, meskipun tidak mungkin tuntas sampai final cause, tetapi mampukah manusia mendeteksi fenomena yang akan muncul ?. Mungkin hanya mampu mengira dengan memperhitungkan fenomena yang sudah terjadi dan yang kini diamatinya. Suatu perhitungan yang masih banyak pengandaian. Apakah dengan cara ini manusia mampu melihat realita yang sebenarnya ataukah dia hanya melihat CITRA manusia tentang realita ?. Mampukah manusia suatu saat mampu melihat hakekat realita yang sebenarnya ?

Bagaimana Pandangan Al-Qur’an Tentang Realita ?

Al-Qur’an menyatakan bahwa realita ini diciptakan oleh Allah ( QS.7:51 ; 16:40 ) dan diciptakan tidak- tanpa- tujuan. ( QS.3:191 ; 15:85 ; 21:16,17 ; 38:27 ; 39:5 ; 44:38,39 ; 46:3 ; 64:3 ). Dan diciptakan untuk kepentingan manusia ( QS 14:32,34 ; 16:10,14 ;).
Dan realita/alam ini merupakan kitab Tuhan yang juga harus dibaca oleh manusia karena banyak pelajaran yang dapat diambil daripadanya (QS. 16: 65-68), diantaranya merupakan bukti adanya Sang Pencipta (QS. 2:164; 3:25,190; 16:13; 25:45-46; 29:44; 30:46,50; 36:37-41; 67:3) dan bukti kekuasaan Tuhan (QS. 15:16 ; 16:3, 4, 5, 8, 10, 11, 12) dan dipelihara oleh Tuhan/‘amr yang diexpresikan dalam hukum alam. (QS.41:11 ; 55:5,7 ;67:3,5) dan semua bertasbih/tunduk patuh pada Tuhan.( QS. 57:1 ; 59:1 ; 64:1).

Dari pernyataan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pandangan Al-Qur’an terhadap alam/ realita itu lengkap mulai dari asal usul, makna sampai akhirnya.(QS.50:6-10 ).Jadi menurut Al-Qur’an evolusi kehidupan ini dibagi dalam 2 perioda utama, ialah :
  • Kehidupan sebelum diciptakannya manusia, yang berjalan seluruhnya mengikuti cara pemeliharaan/‘amr kholiq, sehingga bumi siap untuk dihuni manusia
  • Kehidupan sesudah diciptakannya manusia dimana jalannya kehidupan tidak lagi seluruhnya mengikuti ‘amr Tuhan, karena adanya intervensi manusia.
Al-Qur’an mendiskripsikan realita yang ada ini dalam kerangka tujuan penciptaannya sehingga mampu memberikan hakekat yang mendasari proses yang ada dan makna fenomena yang tampak. Dengan demikian diskripsi Al-Qur’an itu lebih lengkap dan lebih benar daripada pengamatan manusia tentang realita. Wajarlah bila manusia juga wajib megambil Al-Qur’an untuk menyempurnakan pengamatannya tentang realita. REALITA yang sebenarnya REALITA, bukan CITRA MANUSIA tentang REALITA.

Kesimpulan apa yang dapat kita ambil ?

Dampak pandangan manusia tentang REALITA :
  1. Bahwa alam ini terjadi dengan sendirinya dan berkembang dengan sendirinya mengan-dung arti bahwa keperiadaan alam ini tidak mengandung tujuan. Konsekwensinya pengertian kata kriteria tidak lagi mantap dan mutlak dan hanya menjadi nisbi, temporer dan individuil sehingga akan bersifat egosentris/anthroposentris yang selanjutnya akan melahirkan sifat individualistik dan egoistik.
  2. Alam berjalan secara autochton dan bersifat sebagai suatu automaton. Apakah sumber otomasi itu ada dalam dirinya atau akibat interaksi dengan lingkungannya tidak menjadi masalah. Akibatnya siapa yang menguasai alam dialah yang berkuasa atas kehidupan dialah yang akan menentukan hitam-putihnya kehidupan. Tidaklah terdapat rasa tanggung-jawab kecuali pada dirinya. Ini sama saja dengan tidak di-isyaratkan ketentuan tanggung-jawab.
  3. Keperiadaan manusia tidak berbeda dengan keperiadaan alam. Existensi manusiapun tidak mengenal tujuan, sehingga tidak pula mengenal tanggung-jawab. Lahirlah adagium ‘hidup semau gue’. Inilah sumber kelahiran pragmatisme, positivisme, materialisme dan secularisme.
Sebaliknya apa konsekwensi yang lahir dari pandangan Al-Qur’an  terhadap REALITA ?

Menurut Al-Qur’an REALITA yang ada ini :
  • Diciptakan dengan suatu tujuan, sehingga untuk mencapai tujuan itu Sang Pencipta harus mengatur dan merekayasa-nya. Meskipun dari luar alam itu autochton, namun sumbernya ditentukan oleh Sang Pencipta melalui, menurut terminologi Al-Qur’an , apa yang disebut fitroh & takdir yang dilekatkan pada tiap tiap makhluk-Nya, yang menampakkan diri sebagai hukum alam. Jadi Tuhan mengatur dari dalam diri tiap makhluk-Nya.
  • Demikian pula makhluk manusia. Dia diciptakan dengan suatu tujuan tertentu. Hanya pada manusia di-anugerahkan free-will yang tidak diberikan pada makhluk-makhluk-Nya yang lain. Maka pada manusia diberi tambahan alat pemelihara/‘amr yang berupa dien. Kalau makhluk selain manusia ‘amr Tuhan bersifat imperatif, maka ‘amr Tuhan terhadap manusia disamping yang bersifat imperatif yang berlaku bagi raga/wahana. Untuk Ruh, ada ‘amr tambahan yang bersifat facultative, Kalau makhluk selain manusia menerima ketentuan yang mengikat. Maka manusia menerima amanah. Amanah inilah yang melahirkan tanggung-jawab, waktu bertanggung-jawab, macam pertanggungan-jawab serta reward dan punishment yang berupa surga & neraka.
Apakah manusia tidak ingin melengkapi data data tentang REALITA ini, sehingga mampu merekayasa kehidupannya -yang akan menyelamatkan kehidupan ini- yang berarti juga menyelamatkan dirinya ?. Informasi apa yang harus menusia cari dalam Al-Qur’an, Tentu saja informasi yang tidak disajikan oleh alam, ialah data data yang dikenal dengan istilah ghoib. Sesuatu yang ghoib ialah sesuatu yang tidak mungkin didapat oleh manusia dari pengamatannya terhadap alam. Sesuatu yang ghoib ialah sesuatu yang tidak dapat di-deteksi, tetapi dapat dimengerti, difahami oleh akidah cq. akal setelah diberitahu oleh Sang Pencipta.

WAHYU MELENGKAPI ARTI REALITA !

by A.Baghowi B

VI. KEDUDUKAN PROSES BERFIKIR DALAM AL-QUR’AN

Berfikir !. Tidak ada manusia yang merasa tidak berfikir ! Marahlah manusia kalau dikatakan tidak berfikir. Namun mengapa Al-Qur’an menyatakan pada QS.34:46 :

“ Katakanlah sesungguhnya Aku hanya menasehatkan padamu dengan satu perkara saja: Hadapkanlah dirimu pada ALLAH, berdua-dua atau sendiri sendiri , kemudian berpikirlah ! “

Hanya satu perkara yang dipesankan : berpikir.
Menurut manusia segala apa yang dikerjakan atau di-upayakan ialah hasil pemikiran. Ini memang seharusnya. Kenyataannya/kelihatannya tidak demikian, sehingga Tuhan berpesan seperti yang tercantum dalam ayat tersebut diatas. Sumber berfikir ialah akal, meskipun kata ‘aql sebagai kata benda tidak diketemukan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menggunakan kata kerjanya.

Akal menurut Al-Quran mengandung arti :
  •  Kemampuan spiritual dengan aktivitasnya olah bathin
  •  Kemampuan mental dengan aktivitasnya olah nalar
  •  Kemampuan bertindak dengan aktivitasnya olah lahir

Dengan olah bathin dimaksudkan usaha-usaha memahami dan menghayati konsep-konsep normatif dan sebagai hasilnya ialah lebih ditekankan pada penghayatan nilai yang dikandungnya/mengarah ke proses internalisasi nilai.

Olah nalar ialah upaya memahami konsep teori, baik yang berupa sistem idea maupun sistem nilai. Hasilnya merupakan kerangka teori dan kerangka nilai.
Olah lahir adalah usaha untuk menjabarkan konsep konsep diatas dalam sikap dan perilaku serta alat peraganya yang berupa hasil budaya/tehnologi.

Jangkauan kata ‘aql lebih jauh dari jangkauan kata ratio, sehingga kata ’ilm juga melampaui batas makna ilmu atau science. Olah bathin ini dinyatakan Al-Qur’an dalam QS.26:193,194 dimana manusia memahami sesuatu melalui hatinya. Disinilah berkiprahnya ahli tasawuf. Olah nalar dinyatakan dalam QS 7:52, dimana akal bergerak secara rasional baik dalam bidang ilmu maupun falsafah. Disini bergeraknya para ahli kalam. Olah lahir, disinilah masuk pengertian hikmah yang dapat diartikan dalam bahasa ilmiah mengandung pengertian feasibility dan acceptibility. Disini diperlukan input dari lingkungan yang berupa kendala, tantangan atau penunjang. Inilah yang merupakan bidang jihad/social struggle. sedangkan kedua bidang diatas merupakan bidang ijtihad/intelectual struggle.

Tidak ada satu nash-pun yang mengatur modus operandinya/mekanisme berfikir.
 

Ini berarti Tuhan menyerahkan mekanismenya ini pada manusia melalui fenomena alam yang telah diciptakan-Nya. Disini letak kebebasan manusia karena modus operandi itu tidak menentukan kebenaran hasil. Yang menentukan ialah landasannya.

SAPERE AUDE !!!

by A Baghowi B

Selasa, 21 September 2010

V. PELAJARAN KISAH-KISAH QUR’ANI


Salah satu kesan yang kuat yang diperoleh orang yang membaca Al-Qur’an ialah banyaknya kisah kisah sejarah atau cerita/dongeng, sehingga ALLAH menegaskan bahwa AL-Qur’an bukan buku cerita, dengan pernyataan yang lebih keras, ialah :
‘Orang-Orang Musyrik Menganggap Al-Qur’an Dongengan Purbakala Belaka‘. (QS.8:31).
Pernyataan ini mengandung dua arti :
  • Pertama bahwa kesan itu benar
  • Namun janganlah kita termasuk golongan orang musyrik.
Jadi kita harus mampu memahami kisah/dongeng yang terdapat dalam Al-Qur’an itu sebagai bagian dari Huda dan Furqon. 

Bagaimana cara kita memahaminya ?

Al-Qur’an diturunkan sebagai huda dan furqon untuk merekayasa kehidupan ini.
Salah satu jalan untuk memahami arti dan makna kehidupan ialah melalui pelajaran perjalanan hidup umat manusia, dengan mencoba menafsirkan sejarah.

Pada saat ini ada beberapa aliran penafsiran sejarah :
  • Kelompok manusia beragama: yang menafsirkan sejarah, baik perjalanan evolusi alam -maupun sejarah perjalanan hidup sebagai manifestasi kehendak Tuhan melulu. Kesulitannya dalam memahami konsep ini ialah bahwa manusia tidak pernah mampu memahami kehendak Tuhan.
  • Kelompok yang mendasarkan interpretasinya pada politik. Ulah politik manusialah yang melahirkan fenomena kehidupan. Berpolitik artinya berebut hegemoni dalam bidang kehidupan. Inilah sebabnya sejarah itu di-identikan dengan kisah para penguasa, raja, kaisar, diktator disamping sistem sistem pemerintahan dan hebatnya persenjataan.
  • Kelompok manusia yang condong menggunakan pendekatan kepahlawanan atau heroisme (para pengikut Carlyle). Pendekatan ini sangat erat hubungannya dengan butir diatas, tetapi lebih bersifat individuil. Penggerak sejarah ialah pribadi pribadi para pahlawan.
  • Kelompok yang percaya bahwa penggerak sejarah ialah Idea (pengikut Hegel). Idea kecuali merupakan sumber gerak juga merupakan tujuan. Misalnya kelompok demokrasi. Kelompok ini mengabaikan budaya/peradaban yang melahirkan idea .Idea digunakan sebagai ideologi.
  • Kelompok manusia yang melihat sejarah sebagai rangkaian peperangan. Mereka melihat sejarah sebagai suatu rangkaian perebutan hegemoni, kalau perlu dengan melaui annihilisasi kelompok yang lain.
  • Kelompok Marxis yang mendekati sejarah melalui penafsiran pemenuhan kebutuhan atau ekonomi: produksi, distribusi dan pertukaran barang itulah yang melandasi proses kehidupan. Marx menyatakan bahwa yang terpenting ialah faktor ekonomi yang menentukan suprastruktur peradaban, yang kemudian diperkuat oleh ideologi , politik, keyakinan/agama serta kesusastraan yang seiring.

Dari butir-butir diatas dapat disimpulkan bahwa kecuali butir 1., faktor penggerak utama sejarah lahir dari kesadaran keperiadaan/existensial manusia, yang diujudkan oleh keinginan/kehendak/ irodat-nya. Dengan demikian faktor penggerak bersifat anthropocentris, egosentris dan subjektif manusiawi. Tidak ada ujud kehidupan yang disebut kehidupan-mean-to-be , tidak dikenal istilah das sollen, tidak ada pengertian nilai, tidak ada suatu KEBENARAN, yang ada ialah “yang dianggap benar”. Kalau anggapan ini benar, maka apa yang dapat kita ambil dari mempelajari sejarah , kecuali bahwa hubungan antar manusia itu berupa suatu hubungan permusuhan/pergulatan/persaingan dan hubungan manusia dengan lingkungannya yang bersifat exploitatif/penguasaan . Yang ada dalam benak manusia hanyalah kemenangan, penguasaan, penjajahan untuk dirinya yang berarti pelecehan dan penghinaan serta pemerasan bagi yang lain. Homo homini lupus dan exploitation de l’homme par l’homme !!!

Apa yang kita dapatkan dari cara pendekatan Al-Qur’an terhadap sejarah?

Banyak cerita cerita , kisah kisah ditulis dalam Al-Qur’an, bahkan ada satu surah yang diberi judul Al-Qashshash/cerita cerita/kisah kisah. ( QS.28 ) yang menerangkan makna yang terkandung dalam kisah. Kisah tidak dituliskan sebagai layaknya suatu perjalanan sejarah dengan menyebut tempat dan tahun kejadian dengan jelas, malahan banyak mengandung dialog dialog , sehingga lebih mendekati cerita hikayat /legenda yang terlepas dari space-time-cultural-continuum daripada cerita sejarah. yang lebih realitis. Hikayat ialah suatu cerita tentang kejadian masa lampau yang lebih mengandung hakekat/ inti/nilai/makna daripada fenomena lahiriahnya (Kamus bahasa Indonesia Purwodarminto).
Katakanlah yang dituliskan Al-Qur’an adalah ruhnya sejarah, yang meliputi sikap manusia terhadap Tuhan cq Rasul dan wahyu-Nya. Ini didasarkan pada anggapan Al-Qur’an tentang apa itu kehidupan.

Menurut Al-Qur’an:

Kehidupan ialah INTERVENSI manusia terhadap ‘AMR Tuhan yang dilekatkan pada fitroh dan takdir pada makhluk-makhluk-Nya dan di-expresikan sebagai hukum alam dan sosial. Dengan demikian tiap upaya manusia dalam mengelola kehidupan ini selalu berhadapan langsung dengan Tuhannya. Mudah dimengerti sekarang, bahwa dalam cerita cerita Al-Qur’an, musibah yang dialami mereka yang menentang Rosul dan da’wahnya disebut sebagai balasan/azab Tuhan. Makna yang terkandung dalam pesan yang dilukiskan dalam kisah kisah Al-Qur’an ialah : bahwa siapapun yang menentang hudaa Tuhan pasti akan hancur, kehidupan ini akan rusak.

Apa perbedaan pandangan manusia dan Al-Qur’an terhadap sejarah ?

Pandangan manusia yang dikemukakan dalam 6 butir diatas dapat dibagi dalam 2 golongan,ialah:

  1. Kelompok pertama ini memandang fenomena kehidupan ini merupakan expresi dari ‘amr Tuhan seluruhnya, sehingga manusia itu hanyalah alat belaka., sesuai dengan pandangan kaum jabariyah.
  2. Kelompok kedua yang diwakili kelima kelompok lainnya, menggambarkan bahwa fenomena kehidupan itu seluruhnya merupakan hasil irodat manusia, sejajar dengan pandangan kaum qodariyah.

Al-Qur’an memandang fenomena kehidupan ini sebagai hasil intervensi irodat manusia terhadap ‘Amr Tuhan yang diexpresikan dalam hukum alam dan sosial. Adanya intervensi menunjuk adanya aktor intelektualisnya, faktor yang aktif [makhluk manusia yang dianugrahi iradat] dan faktor yang reaktif [makhluk selain manusia]. Sebelum kita membahas selanjutnya, masih ada satu ganjalan dalam memahami cerita-cerita Al-Qur’an yang kesannya tidak sesuai dengan fenomena kehidupan saat ini.
Kalau dalam Al-Qur’an yang menerima azab itu ialah mereka yang menentang Tuhan cq. Rosul dan ajarannya saja, fenomena saat ini, yang terkena azab merata, yang menentang maupun yang beriman, malahan terkesan lebih banyak daerah umat Islam. Cerita dalam Al-Qur’an ialah cerita perjalanan umat sebelum diturunkan Al-Qur’an, wahyu pada waktu itu hantya diperuntukkan bagi suatu kaum/bangsa, sehingga pemisahan antara orang yang mengikuti Rasul dan yang menentang jelas batasnya. Dengan pembalasan Tuhan terhadap kaum yang menentangnya jelas lokasinya, pembalasan dapat dilakukan pada waktu itu. Sedangkan pada zaman Muhammad, wahyu yang diturnkan untuk seluruh manusia/bangsa dan domisili para yang beriman dan yang menentang jumbuh. Karenanya Tuhan mengundurkan azab- Nya pada zaman paska kerasulan Muhammad sampai hari kiamat.
Mengenai umat zaman dan paska-zaman diturunkan Al-Qur’an, Al-Qur’an melukiskan kerusakan alam lingkungan dan kehidupan itu akibat ulah tangan tangan manusia, dan tidak sebagai azab, karena datangnya azab ditangguhkan setelah kiamat. Sepintas kelihatannya kontradiktif, tetapi kalau kita kaji lebih lanjut kontradiksi ini akan hilang:

  1. Cerita cerita dalam Al-Qur’an itu merupakan contoh- contoh kasuistik yang diangkat untuk umat zaman dan pasca zaman diturunkannya Al-Qur’an
  2. Keadaan umat sebelum Muhammad itu berbeda, karena Rosul hanya diutus untuk satu bangsa, bangsa Rasul, jadi daerah peristiwanya terbatas dan terpisah dari daerah lain.
  3. Al-Qur’an diturunkan untuk seluruh umat manusia sedunia, sehingga batas area yang dihuni umat Muhammad dan umat-non-Muhammad jumbuh
  4. Daya penalaran umat pra-Muhammad jauh berbeda dengan daya penalaran umat-pasca-Muhammad setelah Al-Qur’an membimbing penalaran manusia.

Dengan demikian kalau azab/ujian/akibat intervensi dilaksanakan seperti pada umat pra-Muhammad, kemungkinan seluruh bumi akan rusak. Selanjutnya karena tidak akan ada lagi Nabi atau Rosul yang akan mengingatkan dan memperingatkan manusia, maka Al-Qur’anlah yang mengambil alih tugas Rosul dengan moderatornya uamat Muhammad. Caranya ialah dengan ungkapannya bahwa kerusakan yang terjadi itu karena ulah tangan manusia.
Dengan demikian Al-Qur’an dapat mengambil alih tugas Rosul ! Cakrawala inilah yang diberikan oleh cerita cerita yang banyak dijumpai dalam Al-Qur’an.

By A.Baghowi Bachar

Senin, 20 September 2010

IV. PENALARAN QUR’ANI.

Iradat/kehendak bebas merupakan rahmat Tuhan yang hanya diberikan pada manusia. Modus operandinya melalui akal/penalaran. Maka pantas bila Al-Qur’an memberikan hudaa dan furqon untuk cara penggunaannya. Anehnya yang diberikan bukanlah cara/metoda/mekanisme/modus operandi-nya, tetapi hambatan, kendala, rintangan atau jebakan yang menghadang manusia dalam menggunaan akal.

Bahaya yang dihadapi akal ialah:
  • Paksaan/ikrah, baik melalui usaha usaha intimidasi, brainwashing atau indoktrinasi seperti yang tersebut dalam QS. 2:256. Bentuk yang lebih halus melalui jalan penjajahan budaya, ekonomi dan politik, dimana pemaksaan itu tidak disadari oleh yang dijajah.
  • Ikut-ikutan secara membabi buta/taklid . Bahaya ini didapat melalui peniruan, penjiplakan atau kelatahan seperti yang dinyatakan oleh QS.4:135 ; 38:26.
  • Perkiraan/prasangka/anggapan/dzan yang didorong oleh nafsu, seperti yang tersebut dalam QS.10:36 ; 49:12.
  • Pesona/sihr seperti terdapat pada QS.2:102
  • Angan angan/keinginan seperti pada QS. 22:52
  • Tunduk pada suatu kelembagaan rahbaniah/aliran/isme pada QS. 9:31.
Inilah sebabnya ‘lingkungan hidup Qur’ani’ harus diciptakan, karena lingkungan yang lain, seperti alam demokrasipun belum menjamin akan terwujudnya kemerdekaan berfikir.

Akhir abad XX M. ini, proses globalisasi budaya melanda dunia dimana tiap bangsa terperangkap tidak hanya dalam lingkup sosial ekonomi, politik dan budaya tetapi juga dalam weltanschauung, pandangan hidup dan nilai, tanpa disadari .... suatu penjajahan mental-spiritual yang mempengaruhi alam fikiran. Penjajahan ini dilakukan melalui informasi yang dipercayai sebagai ‘bebas nilai’, melalui iklan, berita berita, film, drama, dan Sains dengan meta-sainsnya serta ideologi yang mengandung doktrin-doktrin.

Dari pernyataan pernyataan Al-Qur’an tersebut diatas, Al-Qur’an yang diturunkan pada abad ke VII.M. telah mampu melihat kedepan untuk memperingatkan manusia terhadap bahaya yang besar dan merusak yang akan melanda kehidupan. Tidak hanya itu, bahkan mampu menunjukkan titik sentral/hakekat musuh manusia. Peradaban yang ada (Barat) telah mengangkat SETINGGI-TINGGINYA sampai memper-tuhan akal/ratio. Setelah Al-Qur’an memperingatkan manusia tentang bahaya penggunaan akal/kemampuan tertinggi manusia, selanjutnya Al-Qur’an memperingatkan tentang sumber pengetahuan/ilmu yang merupakan working’s materials untuk mengelola kehidupan ini.

Menurut Al-Qur’an sumber ilmu itu ada , disamping Alam , diri umat manusia, juga wahyu seperti yang disebut dalam QS. 38:29 dan 47:22. Kalau kita hanya mengambil sebagian dari sumber itu, tentu kita tidak dapat melihat realita seperti yang ada dan pandangan kita akan terperangkap dalam labyrinth struktur penalaran yang kita ciptakan sendiri seperti keadaan kita sekarang. Kita hanya menangkap sebagian dari realita, ialah realita yang tertangkap secara indrawi, realita yang fana, sedangkan realita ghoib, yang hanya mampu kita ketahui melalui informasi yang berasal dari Tuhan tidak dapat kita tangkap. (QS. 96:1-5) Selama informasi yang kita gunakan tidak lengkap, bagaimana kita mampu mengelola kehidupan dengan benar, bagaimanapun cara nalar kita, kita kembangkan. Karena bukan metoda penalaran saja yang akan membawa kita mendekati kebenaran tetapi juga kelengkapan sumber informasinya !

Kalau manusia dalam kehidupan ini tidak mengakui Al-Qur’an, sebaliknya Al-Qur’an mengakuii existensi manusia beserta akalnya sebagai bagian dari alam. Karena itu Al-Qur’an memadukan revelation/wahyu dan reason/nalar, wahyu dan akal, uchrowi dan duniawi, karos dan logos, sakral dan profan, transcendental dan sekular.

Atas dasar ini Al-Qur’an mengarahkan logikanya berdasarkan :
  • BADAHA/Self-Evident Truth , suatu pembuktian secara tautologik. Dalam segala ungkapannya tidak mungkin orang “ mampu mengingkari” kebenaran yang diajukan, atau argumentasi yang digunakan ( QS. 52:35,36; 21:22 dan 23:91 ). Dalam dunia ilmiah, logika inii terdapat pada tingkat matematik. Axioma yang digunakan ialah kandungan akidah/tauchid.
  • NAZAR/MULAHAZA/human observation/sense perception. ( QS. 80: 24-32 ;10:101).Dalam dunia ilmu sesuai dengan tingkatan ilmiah/scientific level of thought
  • TAJRIBA/human experience, termasuk pengalaman dan penghayatan. (lahiriah dan bathiniyah) 
Metoda -Qur’ani ternyata melebihi metoda-Yunani yang hanya bersifat spekulatif. Disamping itu Al-Qur’an tidak membutakan diri terhadap sifat dan kecenderungan manusia yang dapat mempengaruhi cara penalarannya melalui apa yang dikenal sebagai hidden assumptions yang memberi warna pada ilmu yang diciptakannya, yang merusak kehidupan.
Oleh karena itu Al-Qur’an menambahkan kriteria dalam penalarannya, ialah :
  • MASLAHA/kepentingan umum/human interest. ( QS.5:6 ; 29:45 ; 11:85-87 ).                      Cara ini dapat memadukan yang halal/benar dengan yang baik/berguna , dalam terminologi sosekpolbud dirumuskan sebagai formal = legal = benar = baik = berguna = menguntungkan untuk keseluruhan, yang pada waktu ini menjadi berantakan. Yang dimaksud dalam pengertian maslaha ialah meliputi pemeliharaan : hidup/jiwa manusia ; milik/property; keluarga/family life; akal ; semua yang dapat merusak ini dicegah/dilarang/diharamkan.
Selanjutnya Al-Qur’an mengakui existensi nurani/human conscience yang diabaikan oleh dunia ilmiah manusia. Nurani ada diluar akal. Aktivitas nurani dapat dikatakan penalaran bathiniyah, yang perwujudan paling luarnya berupa intuisi dan paling dalam ialah hati/qolb/nurani [S.Q.?] Kalau manusia menggunakan seluruh potensi-nya dalam bernalar dan berperilaku, maka akan terpadu otak dan hati, akal dan nurani, ilmu dan akhlak, hukum dan moral ......... inilah gambaran manusia seutuhnya yang ingin dicapai Al-Qur’an.

Penalaran bathiniyah bukan penalaran abstrak/spekulatif/utopis, tetapi suatu penalaran untuk mendapatkan suatu insight dan makna sesuatu. Pengetahuan maknawi ialah pengetahuan yang mengandung nilai yang akan mewarnai pribadi seseorang. Penalaran semacam ini dinyatakan oleh QS. 17:14 ; 75:14,15 ; 81:8 ,9 ; 49:12 .
Melalui cara penalaran demikian manusia merupakan sosok yang utuh, bulat, suatu gestalt, suatu totalitas, bukan suatu yang terdiri dari bagian bagiannya : akal, indera, hati, nurani, interest, kecenderungan dan imaginasinya dst [aidah] Inilah wajah penalaran Qur’ani yang jauh berbeda dengan penalaran insani.

Akal itu menurut Al-Qur’an sifatnya terbatas. (QS. 27:65 ; 17:85)

Mengapa perintah menalar ditujukan pada seluruh pribadi manusia ? Karena Tuhan menghendaki manusia tidak berhenti pada menalar [mengerti dan memahami ] tetapi harus melanjutkan sampai meyakini dan menjiwai yang melahirkan aktivitas/tindakan/amaliah/perilaku/pelaksanaan. Keperiadaan sesuatu itu tidak mempunyai makna bila berdiri sendiri. Sesuatu akan bermakna bila ia dihubungkan dengan yang lain. Terjadilah inter-relasi sampai inter-dependensi dan ini lahir karena adanya perbedaan. Perbedaanlah yang memberi arti tiap sesuatu, karena melahirkan alternatif. Adanya alternatif berarti ada pilihan yang selanjutnya melahirkan kreativitas yang diexpresikan dalam suatu keinginan sampai kehendak. Kehendak inilah yang kemudian menciptakan tindakan. Inilah sebabnya bahasa Al-Qur’an disebut bahasa maknawi dan penalarannya disebut penalaran maknawi/kreatif atau produktif. 

Tidak ada seorangpun yang menginginkan bahwa penalarannya tidak memberikan apa-apa pada dirinya. Apa beda makna yang diperoleh manusia bila dia menggunakan penalaran Qur’ani dan penalaran ilmiah yang menguasai dunia sekarang ? Dengan penalaran ilmiah manusia melihat kehidupan itu terkotak-kotak [reduksionistis ], sehingga tiap disciplin ilmu menjadi mandiri. Hasilnya memang tidak memuaskan manusia, sehingga manusia mencoba memandang kehidupan secara lebih komprehensif atau hermenuetik, melalui upaya pendekatan inter-, trans- atau multidisipliner. Namun dengan cara demikian tujuan melihat kehidupan secara in toto tidak akan berhasil, karena nilai keseluruhan itu lebih dari jumlah nilai tiap bagiannya.

Pandangan mengkotak-kotakkan kehidupan menjadikan kehidupan “tidak-bermakna”,sehingga manusia berusaha untuk mendapatkan “maknanya “ kembali dengan menghubungkannya langsung dengan diri-nya, keinginannya atau dengan kepentingan kelompok, golongan , bangsa, ideologi dst. Dengan demikian makna ini menjadi bersifat ego- atau golongan- atau interest- centris yang mengambil sifat subjektif. Pengertian makna yang seharusnya terikat pada kehidupan itu sendiri, yang berarti untuk kita semua berubah menjadi untuk aku, kelompok-ku, golongan-ku, bangsa-ku dst. Arti kata makna berubah menjadi guna, sehingga bersifat pragmatis. Bahkan manusia melanjutkan sikap pragmatis ini dari kepentingan manusiawinya ke kepentingan alat yang dia ciptakan, misalnya Ilmu. Lahirlah adagium ilmu-untuk- ilmu bukan lagi ilmu untuk manusia. Apapun akibatnya, manusia tidak lagi peduli !

Al-Qur’an menghubungkan segala sesuatunya dengan tujuan penciptaan, tujuan taklif Kholik pada manusia. Hubungan ini tidak bersifat individuil, kelompok, golongan, bukan pula bersifat sektoral, tetapi universal, global yang disebutnya objektif, jadi bersifat realistis tanpa pragmatis. Dengan demikian maslaha tercapai. Inilah PENALARAN QUR’ANI yang menopang tujuan diturunkannya AD-DIEN. Penalaran Qur’ani akan menyatukan manusia tanpa memperdulikan warna kulit, keyakinannya, status sosialnya dst. Informasi bukan lagi merupakan kekuatan dan kekuasaan, tetapi akan menjadi rahmat.

Pada abad ke XXI M. ini ilmu Informatika telah berkembang dengan cepat, namun apakah ilmu serta implementasinya menjadikan ilmu itu sebagai rahmat ? Alat untuk memudahkan hubungan antar manusia menjamur, sehingga jumlah aliran informasi yang berupa gelombang electromagnetik memenuhi atmosfer kita, sedangkan ilmu kita belum sampai menjangkau apa akibatnya. Bahkan memudahkan ilmu itu untuk menjadi ALAT PENJAJAHAN PERADABAN BARU. Lahirlah DADJJAL baru !!

Mengapa manusia selalu saja mengabaikan AJARAN TUHAN-nya ??

by A.Baghowi Bachar

Kamis, 09 September 2010

Sekilas Tentang Klinik Makmur Jaya

Klinik MakmurJaya berdiri Mei 2009 sampai saat ini dengan Visi menjadi klinik swasta yang melayani pengobatan dasar dan promosi kesehatan masyarakat dengan pendekatan kasih sayang dan empati, serta dengan biaya terjangkau dan murah sesuai kemampuan sosial-ekonomi masyarakat. Misinya. menjadi klinik pengobatan terdepan terutama dalam melayani pasien tidak mampu, pasien ekonomi lemah dan pasien dengan sistem asuransi kesehatan. menjadi klinik dengan pendekatan dokter keluarga khususnya pasien asuransi kesehatan. menjadi klinik dengan pengobatan dasar yang mampu melayani pasien rawat jalan yang tidak perlu rawat inap. menjadi klinik perujukan bagi pengobatan lanjutan yang diperlukan dengan perawatan ke RS.
Saat ini berjalan kedepan, klinik makmurjaya telah melayani pasein dalam waktu 24 jam dengan dokter jaga yang siap ditempat; baik bagi pasien umum atau peserta ASKES, Jamsostek. suatu hal nilai lebih bagi peserta ASKES-Jamsostek adalah waktu pelayanan yang tidak terbatas- baik setiap hari hari kerja atau hari libur. bila dahulu dibatasi pada jam tertentu dan harus antri lama, sekarang bisa lebih lenggang waktunya atau tidak terlalu antri. Kerjasama klinik makmur jaya dengan PT ASKES, JAMSOSTEK merupakan terobosan baru yang dilakukan sebagai bentuk pro-pasien/peserta yang lebih baik dari sebelumnya. hal ini sesuai dengan visi dan misi dari klinik makmurjaya-yang menjadikan pasien bukan sebagai objek tapi sebagai patner, subjek dalam sistem pelayanan kesehatan. diharapkan dengan interaksi klinik-pasien-asuransi terjadi secara baik dengan dimensi timbal-balik, maka tujuan-masing masing dapat tercapai.arti sehat menjadi tidak sekedar mengobati yang sakit secara fisik, tetapi juga dalam arti psikis, sosial-ekonomi, sistem pengolahan kesehatan yang baik. mudah-mudahan klinik makmurjaya menjadi bagian dalam solusi kesehatan masyarakat seterusnya. amin(admin.

Senin, 06 September 2010

III. LOGIKA UNGKAPAN AL-QUR’AN.

Al-Qur’an yang berlaku bagi seluruh manusia sepanjang masa, melukiskan sesuatu itu secara mutlak, dalam arti terlepas dari batasan ruang - waktu dan budaya, ia berada diluar space-time-cultural continuum. Dengan demikian bahasa Al-Qur’an tidak mengenal istilah ‘proses’. Al-Qur’an melukiskan segala sesuatu dengan mengambil titik pangkal dan titik akhir. Manusia sebaliknya, melihat segala sesuatu dalam kerangka ruang dan waktu, tanpa menjangkau titik mula dan titik akhir. Dia melihat segala sesuatu sebagai suatu proses. Melihat sesuatu dalam proses tidak pernah melihat secara tuntas dan sempurna, karena makin diperluas batasnya, baik mengenai ruang atau waktu, makin banyak variabel yang tidak terjangkau, makin sulit ia menarik suatu kesimpulan. Inilah sebabnya manusia cenderung untuk menyederhanakan/reduksionisasi segala sesuatu.

Pengertian proses melahirkan pengertian hubungan kausalitas yang selanjutnya akan melahirkan pengertian sebab - akibat. Sayangnya manusia hanya mampu mengamati rangkaian sebab-akibat itu dalam jangkauan proses yang pendek. Jangkauannya hanya mampu meliput dari apa yang dikenal sebagai efficient cause/sebab langsung sampai direct effect/akibat langsung. Sebaliknya Al-Qur’an melihat sesuatu itu dari titik awal sampai titik akhir atau dari sebab mula/asal usul/final cause/ causale causans sampai akibat akhir atau final effect atau tujuan. Pengamatan manusia hanya berupa moment - opname/pengamatan sewaktu dari suatu proses yang tidak terbatas, sehingga pandangan manusia tidak mampu mencapai suatu pandangan holistik; pandangannya bersifat reduksional.

Dalam menghadapi proses yang kompleks, manusia akan berusaha untuk membagi-bagi proses itu, sehingga menjadi sederhana dengan akibat bahwa yang diperolehnya tidak mungkin menjangkau seluruh realita yang diamatinya, sehingga kesimpulan yang diperolehnya tidak mungkin benar 100%. Meskipun kesimpulan kesimpulan itu dirangkai dalam waktu panjang, di-sistematisir, ilmu yang tersusunpun tidak mungkin menjangkau realita yang utuh, pasti terjadi pembiasan pandangan tentang realita yang diamatinya. Inilah sebabnya dalam perjalanannya, ilmu hanya mampu membuktikan akan kesalahannya.

Al-Qur’an itu melihat segala sesuatu mulai dari titik awal sampai titik akhir, sehingga pandangannya tuntas, holistik, komprehensif dalam kemasan yang sederhana, bukan dalam arti menyederhanakan/ reductionism. Bagi manusia ungkapan Al-Qur’an akan terasa adanya discontuinitas, loncatan loncatan yang tidak runtun. Inilah salah satu hal yang menyulitkan manusia mempelajari Al-Qur’an, ialah diskripsinya yang holistik yang tidak melukiskan ‘efficient cause’ dan ‘direct effect’, yang dapat memperlihatkan adanya rangkaian fenomena yang runtut dalam jangka pendek. 

Kedua: kesederhanaan ungkapan Al-Qur’an yang berbeda dengan kesederhanaan perumusan manusia. Yang pertama lahir justru dari pandangan yang holistik - komprehensif, yang kedua dari reduksionisme sehingga bersifat parsial. Bagaimanapun juga ‘keseluruhan itu berbeda dengan jumlah bagian-bagiannya” 

Kesederhanaan perumusan Al-Qur’an menunjuk pada kompleksitas yang tinggi, sedangkan kesederhanaan perumusan manusia menunjuk pada ketidak-mampuan menggapai keseluruhan realita. Perbedaan pandangan ini akan melahirkan perbedaan logika.

Diskripsi Al-qur’an tentang realita itu suatu diskripsi yang bersifat holistik, sehingga Al-Qur’an tidak pernah berbicara tentang proses, dengan kata lain Al-Qur’an tidak pernah mengangkat modus operandi sesuatu dalam pembicaraannya, karena modus operandi itu tidak menentukan akan kemutlakan kebenaran yang diperolehnya.

Bagaimana Al-Qur’an mengemukakan sesuatu melalui ungkapan yang holistik ? Al-Qur’an mengemukakannya melalui beberapa cara , misalnya:
  • Dengan melalui badaha/self-evident-truth      (QS. 21:22 ; 23:91; 52:35-36 dst )
  • Dengan melalui nazar atau malahaja/human observation/sense perception (QS. 10:101; 80: 24-32 dst).
  • Melalui tajriba / human experience ( QS.10:22-23 ; 56:83-87 dst )
  • Melalui masalah/human interests gain (QS. 5:6 ; 10:108 ; 29:45 dst.)
Semua ini dihubungkan dengan tujuan/final effect (axiologis ?), sedangkan dalam memberikan argumentasi Al-Qur’an selalu mengembalikannya pada sumbernya/final cause (ontologis ?) Melihat butir butir diatas dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an berbicara dengan manusia tidak hanya melalui akal/ratio saja, tetapi berbicara pada manusia dalam kemampuan totalitasnya [afidah] artinya Al-Qur’an berbicara pada nurani, intuisi, imaginasi, keinginan, pengalaman disamping pada kecenderungan-kecenderungan manusia. Manusia sudah terbiasa dengan penalaran sektoralnya, sehingga ini juga menyulitkan manusia dalam memahami Al-Qur’an.

Yang menyulitkan manusia dalam memahami Al-Qur’an bukannya Al-Qur’an tetapi kebiasaan manusia sendiri !

EGOSENTRISME manusia menghalanginya dalam
MEMAHAMI KITABULLAH.

by A.Baghowi Bachar

II. APA YANG DISAJIKAN AL-QUR’AN

Al-Qur’an yang merupakan kalam Ilahi berbentuk tulisan adalah sumber pokok dari dienullah, human-life-engineering-system. Kitab ini diturunkan untuk semua manusia yang memiliki perbedaan bahasa, budaya, pendidikan, profesi, status, kemampuan, kecenderungan dan keinginan. Kitab ini berlaku sepanjang masa mulai dari abad ke VII M. sampai akhir zaman dengan segala tantangan, kendala dan permasalahan yang tidak pernah sama sehingga wajar bila memilikii susunan, gaya, irama dan nada bahasa yang khas. Bahasanya pasti tidak sama dengan bahasa yang dipakai manusia yang hanya mampu digunakan untuk menerangkan yang serba terbatas, baik dalam bidang geraknya maupun dalam luas jangkauan cakrawalanya. Gaya bahasanya pasti tidak mungkin sama dengan gaya bahasa falsafati, ilmiah ataupun sastra yang diciptakan manusia yang melihat kehidupan secara terkotak-kotak dalam aspek dan fasetnya.
Kenyataan telah menunjukkan, bahwa tanpa wahyu, manusia mampu merekayasa kehidupan sampai saat ini - hanya jangan dipersoalkan bagaimana ujud dan hasilnya.

Darimana datangnya kemampuan itu ?

Jawabannya mudah, pada umumnya orang menjawab dengan akal rasionya. Memang akal diakui sebagai suatu kemampuan, tetapi apa yang dapat diperbuat dan dihasilkan oleh suatu kemampuan bila tidak ada bahan yang diolahnya ? Tanpa alam akal/rasio tidak dapat berbuat apa apa, karena alamlah yang menyajikan bahan olahan, working’s materials. Alam tidak hanya menyediakan bahan mentah [ranah materi], tetapi juga menyediakan tatanan hukum yang mampu memberikan cara kerjanya/mekanisme kerjanya [ranah penalaran], sehingga manusia dapat menemukan metoda cara mengelola alam. Metoda ini dapat berupa suatu manipulasi atau suatu intervensi terhadap hukum alam, yang oleh Al-Qur’an disebut TAQDIR, sebagian dari ‘AMR Tuhan. Manusia mengelola kehidupannya melalui suatu intervensi sampai manipulasi hukum alam. Jadi alam menyajikan sekaligus MATERI dan METODOLOGI pada manusia.

Apakah dengan demikian, Ilmu yang disusun manusia itu pasti benar , artinya pasti cocok dengan realita yang disajikan alam ? Apakah upaya mencari ilmu dapat di-identikan dengan mencari kebenaran ?

Memang alam menyediakan semua yang diperlukan manusia sepanjang zaman. Yang diperlukan dalam arti yang dibutuhkan. Namun apa yang terkandung dalam istilah ‘kebutuhan ‘ mencakup :
  • Apa yang diperlukan dalam pengertian needed, atau
  • Apa yang di-inginkan dalam arti wanted atau
  • Apa yang terpaksakan

Dengan demikian, kebutuhan yang seharusnya bersifat objektif dapat berubah menjadi subjektif, apa yang seharusnya bersifat mean-to-be, menjadi apa-yang-di-inginkan. Inilah yang menyebabkan upaya mencari ilmu itu tidak selalu identik dengan mencari kebenaran, apalagi tujuan hanya ditentukan oleh kehendak manusia secara pribadi dan dengan tujuan pribadi [individual/ egosentris atau untuk bangsanya/anthropocentris]. Kebanyakan manusia tahu apa yang di-inginkan, tetapi sedikit manusia yang tahu apa yang dibutuhkan. Ilmu hanyalah ALAT.

Suatu ilustrasi bagaimana manusia memilih makanannya. Seharusnya manusia memilih makanannya menurut yang ia butuhkan, bukan yang ia senangi. Akibatnya, manusia yang seharusnya makan untuk menjadi sehat, tetapi hasilnya malah sebaliknya, penyakit yang ia dapatkan. Demikian pula dalam mencari Ilmu, manusia lebih banyak mengikuti apa yang ia senangi, inginkan, bukan yang ia butuhkan, sehingga ilmu yang didapatkan bukan ilmu yang pasti benar, apalagi dalam implementasinya yang dapat disalah-gunakan, meskipun didasarkan pada working’s materials yang disajikan alam . Ilmu yang seharusnya melahirkan kebahagiaan bagi umat manusia, justru mendatangkan mala-petaka. Untuk mampu membedakan apa yang manusia butuhkan dan manusia inginkan, bagi manusia yang percaya, bahwa dia itu diciptakan oleh Sang Pencipta, mudah sekali untuk menerima kehadiran Wahyu, Ad-Dien, hudaa dan furqon yang diturunkan Sang Pencipta sebagai tuntunan dalam mereka-yasa kehidupan ini. 

Ad-Dien diturunkan sebagai kalam Ilahi, yang disampaikan malaikat Jibril pada Nabi dan diucapkan Nabi dalam bahasa manusia dan dibukukan sebagai kitab kedua dari Tuhan untuk melengkapi kitab pertamanya yang berupa alam semesta. Kedua kitab itu tidak mungkin berlawanan satu dengan yang lain, kedua kitab itu bersifat komplementer dan supplementer, saling mengisi dan melengkapi. Bedanya yang pertama masih terus di-tulisi, sedangkan yang kedua sudah selesai. Ini disebabkan karena yang pertama itu kecuali mengandung teori, juga merangkap sebagai lapangan eksperimentasi. Hasil eksperimentasi manusia, apakah itu berupa fenomena alam, sosial ataupun fenomena fisiologik, fenomena mental spiritual, demi kebaikan manusia sendiri akibatnya atau dampaknya selalu DITUNJUKKAN sebagai fenomena alam/sosial juga, guna membimbing manusia selanjutnya. 

Kitab yang kedua, karena hanya berupa petunjuk dan kriteria tidak memerlukan tambahan karena tidak terjamah oleh proses kehidupan, atau perjalanan waktu, sebab pelakunya itu hanya manusia; manusialah actor intelektualisme kehidupan, karena dianugrahi iradat/free will/ kehendak bebas. Segala macam fenomena kehidupan itu disebabkan oleh perilaku manusia. Hanya manusialah yang merupakan sumber perubahan fenomena kehidupan termasuk perubahan fenomena lingkungan hidup!

Kalau alam memberi manusia apa yang ia butuhkan, baik dalam bentuk bahan mentah maupun bahan siap pakai, maka apa yang diberikan Al-Qur’an pada manusia ?

Al-Qur’an , seperti alam, juga menyajikan bahan bahan yang diperlukan manusia dalam mereka-yasa kehidupan. Kalau alam menyediakan materi, mulai dari unsur unsur dasarnya sampai unsur unsur yang siap pakai, maka Al-Qur’an menyediakan juga unsur unsur dasar dan unsur unsur siap pakai.Unsur dasarnya berupa makna makna baku, arti denotatif yang terdapat dalam kosa-kata dan sistem konsep, idea dan nilai yang terdapat pada ayat ayat muhkamatnya . Unsur unsur inilah yang stabil sepanjang masa seperti unsur unsur dasar dalam alam. Unsur unsur yang dinamis dikandung oleh ayat ayat mutasyabihat dan tema tema surah yang merupakan unsur katalisator dalam proses kimiawi yang memacu proses pembentukan unsur unsur majemuk dalam alam kehidupan. Unsur yang dinamis ini yang mengandung potensi untuk dikembangkan dalam upaya implementasinya, sehingga mampu menghadapi perubahan perubahan. Unsur dasar atau materi dasar ini dalam lingkup Ad-Dien disebut akidah. Disamping ini Al-Qur’an juga menyediakan materi metodologi implementatif yang dikenal sebagai syare’at atau doctrin penyelamatan.

Kalau ilmu yang disusun manusia bisa salah, itu disebabkan karena salah ambil, yang lahir dari salah pilih, yang disebabkan oleh karena manusia lebih banyak mengikuti keinginan daripada kebutuhannya atau di-salah-gunakan. Begitu pula dalam menyusun ilmu dari Al-Qur’an., kesalahannya bukan karena salah pilih, tetapi karena salah tafsir. Kita tidak boleh mengambil referensi dari luar Al-Qur’an untuk memahami makna kosa katanya atau salah memaknai makna judul surahnya yang menentukan TEMA surahnya, sehingga mengacaukan sistim konsep dan ideanya.

Jadi untuk melengkapi dan menyempurnakan ilmu, sehingga mendekati YANG BENAR, artinya TIDAK MERUSAK, manusia harus mengkombinasikan ke 2 kitab Tuhan. Mengapa kita getol membaca Alam, ogah membaca Al-Qur’an ?????


ILMU adalah ALAT untuk memahami AGAMA,
AGAMA menuntun untuk menyusun ILMU.

Einstein
SCIENCE without RELIGION is BLIND,
RELIGION without SCIENCE is LAME.

by. A.Baghowi Bachar

Rabu, 01 September 2010

Puasa Ramadhan, manfaatnya bagi Muslim

Puasa Ramadhan dilaksanakan satu bulan penuh, selama bulan Ramadhan , karena perintah Allah dan berharap Berkah dan Ridho-NYa., tentu berbeda esensinya bila dilihat dari NIAT antara tujuan puasa karena keinginan sendiri dengan apa yang Allah Inginkan kepada Manusia. Karena itu ada kriteria yang diminta Allah khususnya kepada mereka yang mengaku beriman kepadanya dan berharap menjadi manusia dengan sifat-sifat dasarnya /fitrahnya sebagai makhluk ciptaan Allah. orang yang tidak beriman tidak ada kewajiban melaksanakan puasa Ramadhan dengan aturan main yang telah Allah ajarkan melalui Rasulnya -Muhammad SAW.
Hakekatnya puasa itu adalah mengendalikan diri dari sifat ke akuan manusia menjadi mengikuti syareat(Allah), Allah menjadikan miniatur kehidupan selama bulan puasa ramadhan yang menjadi protipe kehidupan islami berdasarkan syareat Allah. yaitu menjadikan nafsu , akal, qolbu berjalan sejalan , serasi, terkendali dengan tata cara beribadah sosial, khususyiah(ubudiyah), tanpa pamrih kepada manusia tapi hanya kepada Allah semata.... Betapa indahya kehidupan itu, berdasarkan fitrahnya mansuia ; yang tunduk dan patuh kepada Al Khaliknya... tida ada kehidupan korupsi, tipu daya, kekerasan, perzinahan, dll. semua terlihat dalam manifestasi kehidupan di dalam puasa ramadhan....inilah hakekat miniatur masyarakat madinah/yang Allah hendaki sesuai tuntunan syareat Islam. tanpa itu kehidupan ini penuh dengan teka-teki, tipuan, kezholiman terhadap diri sendiri dan orang lain.... manfaat puasa dalam aspek kesehatan; menciptakan karakter manusia yang kuat secara fisik dan spiritual. wallahualam bisawab.

Sabtu, 28 Agustus 2010

I. KE-UNIK-AN AL-QUR’AN

UPAYA UNTUK MENGUAK DAN MEMAHAMI KITABULLAH
DARI ASPEK ASPEKNYA YANG TERSEMBUNYI


Kata Al-Qur’an kalau digunakan sebagai nama kitab berarti ‘bacaan’. Istilah ini sama sekali tidak menunjukkan kandungan maupun bidang yang digeluti kitab itu. Kitab dalam pengertian Al-Kitab atau Buku Suci diidentikkan dengan kata scripture yang berarti a body of writings considered as authoritative atau a classically embodying the essence of a way of life, movement, era or nation.

Dalam diskripsi ini, yang membedakan Al-Qur’an dengan buku-buku lain ialah kata ‘authoritative’ yang berarti demanding a submission , dan kata classically yang berarti of the highest quality, having a value or position recognized and unquestioned. Ini memberi pengertian bahwa Al-Qur’an merupakan suatu bacaan yang menghendaki ketundukkan pembacanya. Jadi siapa yang membaca Al-Qur’an diharapkan memahami, meyakini, menghayati menundukkan diri, baru melaksanakan apa yang terkandung di dalamnya. Qoro’na wa atho’na.


Darimana datangnya sifat authoritative (otoritas) Al-Qur’an ?
 
 Surat pertama yang diturunkan berbunyi:
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan,
Menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah ! Tuhanmu yang Maha Pemurah,
Yang mengajar dengan kalam,
Mengajar manusia apa yang tidak dapat diketahuinya.....
Jadi bacaan ini merupakan kalam (tulisan/kata) Ilahi yang mengandung pengetahuan yang tidak dapat digali manusia dari sumber yang lain. Selain dengan kalam, Tuhan mengajar manusia melalui fenomena alam. Dengan membaca alam saja manusia tidak dapat mengetahui pengetahuan yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, sifat otoritas yang dimiliki Al-Qur’an disebabkan karena kandungannya berasal dari Sang Pencipta dan mengandung suatu pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dengan membaca alam.   Suatu pilihan nama yang Unik.

Bacaan yang merupakan wahyu Ilahi dan berisi pengetahuan yang diperlukan manusia diberikan untuk melengkapi rahmat-Nya. Kandungan bacaan tersebut diberikan secara bertahap. Sebelum kitab itu lengkap, dikirimkan oleh Nya seorang Rasul, Muhammad, untuk membimbing manusia. Setelah kitab itu lengkap maka Rasul tidak diperlukan lagi dan manusia pasca-Muhammad harus mampu merekayasa kehidupannya tanpa bimbingan langsung. Yang ditinggalkan Rasul hanya berupa pesan lisan dan tauladan yang telah dibukukan oleh ummat terdahulu. Supaya mudah dipahami, Tuhan mengubah tertib susunan wahyu-Nya dari susunan nuzulnya menjadi seperti Al-Qur’an yang kita kenal sekarang. Perubahan tertib susunan itu tidak ditujukan untuk mengubah kandungan atau ajarannya, tetapi bertujuan agar manusia pasca-Nabi mampu memahami ajaran-Nya untuk merekayasa kehidupannya secara mandiri. Jika pada zaman Nabi pendekatan terhadap wahyu dilakukan secara edukatif-instruktif, maka pada zaman pasca-Nabi manusia harus mendekati wahyu secara materiil suatu pendekatan edukatif-teoritis. Dapat dikatakan bahwa pada zaman Nabi Al-Qur’an berfungsi sebagai handbook/buku penuntun, sedangkan pada zaman pasca-Nabi Al-Qur’an berfungsi sebagai textbook/buku teori.

Bagaimana wahyu bisa mengubah wajahnya dari handbook menjadi textbook ?
 
Kandungan Al-Qur’an bukan berupa ilmu kehidupan, tetapi berupa hudaa dan furqon-nya kehidupan [petunjuk/pengarah/kompas dan kriteria/norma/nilai] yang dirumuskan sebagai larangan dan perintah. Rumusan ini paling sederhana dan paling mudah dimengerti dan diikuti oleh semua manusia dengan tingkat pendidikan yang paling rendah sekalipun. Untuk tingkat yang lebih tinggi lagi tuntunan itu dituliskan sebagai peringatan dan anjuran yang selanjutnya diungkapkan sebagai ajakan, pengingat dan argumen serta contoh contoh kasus, perumpamaan dan mitsal. Untuk mereka yang keras kepala, tuntunannya disertai dengan ancaman dan pembalasan.

Apa yang di-ingatkan atau diperingatkan Al-Qur’an?
Apa yang disarankan dan dianjurkan Al-Qur’an ?
Dan apa yang diancamkan dan dihadiahkan Al-Qur’an ?

Al-Qur’an memandang kehidupan sebagai suatu intervensi manusia terhadap ‘amr Tuhan. ‘Amr ini diekspresikan sebagai fitrah, takdir dan sunnah-Nya. Jadi manusialah yang merupakan aktor intelektualisnya kehidupan. Karena itu seluruh kandungan Al-Qur’an ditujukan hanya pada manusia. Dan oleh karena rekayasa kehidupan itu dimulai dari diri manusia sampai rekayasa komunitas sosio-kultural, dan juga manusia lah yang merupakan aktor intelektualisnya, maka apa yang dapat merusak atau menunjang sendi-sendi kehidupan itu sesungguhnya berada dalam diri manusia. Karena kendala, hambatannya hanya ada dalam diri manusia, maka logis bahwa Al-Qur’an mengandung asal-usul, sifat dan kecenderungan, kedudukan manusia dalam kehidupan, contoh contoh kasuistik perjalanan hidupnya serta apa yang menunggunya dikelak kemudian hari. Semua itu menurut Al-Qur’an merupakan realita kehidupan yang harus disadari dan digunakan manusia sebagai pedoman dalam merekayasa kehidupannya. Realita ini ada yang dapat diketahui sendiri dan ada yang tidak mungkin diketahui manusia , kecuali diberitahukan oleh Tuhan melalui Al-Qur’an, ialah realita yang bersifat ghoib.

Inilah sebabnya Al-Qur’an juga menerangkan tentang kedudukan dan sifat-sifat Tuhan dan memberikan ilustrasi fisik tentang yang ghoib supaya manusia dapat memahaminya. Selanjutnya supaya pembacanya dapat lebih menghayati kandungannya, Al-Qur’an mengemukakan itu secara dialogis. Cara ini juga yang mampu menafikan perbedaan waktu, budaya antara waktu diturunkannya dengan para pembacanya. Inilah sebabnya maka Al-Qur’an disebut “ BACAAN”, sesuatu yang dapat disebut ringan sampai yang sangat berat. Sesuatu yang dapat dinikmati dan sekaligus dikaji. Sesuatu yang dapat dibaca oleh mereka yang menggeluti segala macam ragam kehidupan, mulai dari the man on the street/para awam sampai para cerdik pandai , para pakar, para khawwam, para filosof, ilmuwan sampai budayawan.

Suatu nama yang sangat UNIK !
baca selanjutnya by A Baghowi Bachar

Senin, 28 Juni 2010

Fenomena Mistik Susuk

Dalam dunia " fenomena ghaib" ada seni "menanam susuk magic" untuk orang "kurang PD"..... inilah yg tertangkap Sinar X/Rontgen
ya dengan menggunakan Jin dan mantra ...benda-benda dari emas, berlian,platina tertanam sesuai tujuan ; kalau di dagu/muka biar terlihat cantik, seksi - nyatanya wajahnya kurang begitu cantik kata kebanyakan orang, tetapi setelah pakai susuk seperti "putri ayu"....itulah magic yang masih dan mungkin menjadi 'bisnis' atau dicari orang-orang yang kurang percaya diri atau mencari jalan 'singkat'...waallahu-alam..lihat gambar

MAU RIBUAN TEMAN DI FACEBOOK CUMA COPY PASTE

CARANYA GINI:

KARNA BANYAK YANG GAK NGERTI KALO CARANYA DITULIS DISINI JADI AKU SEDIAKAN DI BLOG PRIBADIKU.. JADI KALO PENASARAN CARA COPY PASTE TEMAN FACEBOOK MU SILAHKAN MELUNCUR KEALAMAT INI

Minggu, 06 Juni 2010

Pendidikan Sekarang Dan Masa Depan

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat.Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.

Tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan". Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis, dan toleran dengan mengutamakan persatuan bangsa dan bukannya perpecahan.

Mempertimbangkan pendidikan anak-anak sama dengan mempersiapkan generasi yang akan datang. Hati seorang anak bagaikan sebuah plat fotografik yang tidak bergambar apa-apa, siap merefleksikan semua yang ditampakkan padanya.

Empat pilar pendidikan sekarang dan masa depan yang dicanangkan oleh UNESCO yang perlu dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal, yaitu: (1) learning to Know (belajar untuk mengetahui), (2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dalam hal ini kita dituntut untuk terampil dalam melakukan sesuatu, (3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan (4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).

Dalam rangka merealisasikan 'learning to know', Guru seyogyanya berfungsi sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan siswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu.

Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Walaupun bakat dan minat anak banyak dipengaruhi unsur keturunan namun tumbuh berkembangnya bakat dan minat tergantung pada lingkungannya. Keterampilan dapat digunakan untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang.

Pendidikan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau kebutuhan dari daerah tempat dilangsungkan pendidikan. Unsur muatan lokal yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan daerah setempat.

learning to be (belajar untuk menjadi seseorang) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif, peran guru dan guru sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri siswa secara maksimal.

Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima (take and give), perlu ditumbuhkembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses "learning to live together" (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Penerapan pilar keempat ini dirasakan makin penting dalam era globalisasi/era persaingan global. Perlu pemupukkan sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama agar tidak menimbulkan berbagai pertentangan yang bersumber pada hal-hal tersebut.

Dengan demikian, tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral manusia Indonesia pada umumnya. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian diharapkan dapat mendudukkan diri secara bermartabat di masyarakat dunia di era globalisasi ini.

Mengenai kecenderungan merosotnya pencapaian hasil pendidikan selama ini, langkah antisipatif yang perlu ditempuh adalah mengupayakan peningkatan partisipasi masyarakat terhadap dunia pendidikan, peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan, serta perbaikan manajemen di setiap jenjang, jalur, dan jenis pendidikan. Untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah, khususnya di kabupaten/kota, seyogyanya dikaji lebih dulu kondisi obyektif dari unsur-unsur yang terkait pada mutu pendidikan, yaitu: (1) Bagaimana kondisi gurunya? (persebaran, kualifikasi, kompetensi penguasaan materi, kompetensi pembelajaran, kompetensi sosial-personal, tingkat kesejahteraan); (2) Bagaimana kurikulum disikapi dan diperlakukan oleh guru dan pejabat pendidikan daerah?; (3) Bagaimana bahan belajar yang dipakai oleh siswa dan guru? (proporsi buku dengan siswa, kualitas buku pelajaran); (4) Apa saja yang dirujuk sebagai sumber belajar oleh guru dan siswa?; (5) Bagaimana kondisi prasarana belajar yang ada?; (6) Adakah sarana pendukung belajar lainnya? (jaringan sekolah dan masyarakat, jaringan antarsekolah, jaringan sekolah dengan pusat-pusat informasi); (7) Bagaimana kondisi iklim belajar yang ada saat ini?.

Mutu pendidikan dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian pembenahan terhadap segala persoalan yang dihadapi. Pembenahan itu dapat berupa pembenahan terhadap kurikulum pendidikan yang dapat memberikan kemampuan dan keterampilan dasar minimal, menerapkan konsep belajar tuntas dan membangkitkan sikap kreatif, demokratis dan mandiri. Perlu diidentifikasi unsur-unsur yang ada di daerah yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi proses peningkatan mutu pendidikan, selain pemerintah daerah, misalnya kelompok pakar, paguyuban mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat daerah, perguruan tinggi, organisasi massa, organisasi politik, pusat penerbitan, studio radio/TV daerah, media masa/cetak daerah, situs internet, dan sanggar belajar.