Translate

Telusuri via Blog Ini

Kamis, 03 Februari 2022

Memaknai "Pandangan Hidup" beragama dalam berbangsa dan bernegara di Era 4.0/5.0


Manusia  dari sudut pandang - makhluk hidup,  berada pada klas  makhluk  yang tertinggi, berada pada tempat puncak  ciptaaan Tuhan "yang mulia", yang cerdas, berakal, dan  berkehendak -merekayasa kehidupan  disekitarnya  dan "merajai makhluk hidup lainnya".  

Setiap individu manusia/orang  memiliki "kemampuan lahir" sebagai kodrat-takdir - fitrah untuk hidup, bertahan hidup dan merekayasa kehidupan untuk dirinya sendiri dan orang lain, bahkan sebagai pemimpin  merubah lingkungannya dan juga dunia  menjadi beradab , makmur sejahtera  atau sebaliknya - biadab, terpuruk dalam kesengsaraan-kemiskinan. 

Sejak manusia   dalam kandungan dan lahir di kehidupan dunia, kemudian  dari bayi sampai tumbuh dewasa, manusia  belajar  secara alami dan juga secara formal-informal- baik  secara  mandiri dan bersama - berkelompok atau kelas atau organisasi masyarakat/sosial.  Kemampuan dasar hidup  sebagai manusia dibentuk dari lingkungannya dan juga "kehendak akal, pikiran  bebas" yang diinginkan atau "dicita-citakan". Hal yang membuat manusia berbeda -sifat dan karakternyanya dengan "makhluk hidup lainnya"- seperti hewan,  tumbuhan. Manusia  berkembang menjadi  makhluk yang dinamis, agresif, kreatif, inovatif  dan  "mampu menciptakan lingkungan hidupnya yang baru", merekayasa memenuhi kebutuhan hidupnya -berupa makanan-minuman(sandang pangan), rumah, pakain dan membuat  sistem kehidupan yang mengolah  hidup dan kehidupan menjadi peradaban yang terus menerus bertahan untuk hidup selamanya dengan sistem politik-ideologi, pertahanan-keamanan, sosial-ekonomi, hukum, pendidikan,  budaya, dll.

Sejarah Manusia yang panjang, mulai pra-sejarah sampai sejarah itu di tulis di batu - kertas dan digital, menginformasikan  perubahan kehidupan peradaban manusia  secara bertahap- mulai dari sangat primitif  sampai moderen- era internet  of thing ;era 4.0 / 5.0  saat ini.

Ada hal dasar yang utama tidak berubah dari  kebutuhan manusia sejak dulu sampai sekarang, yaitu kebutuhan untuk hidup dan menghidupi;  kebutuhan  hidup makmur-sejahtera, bahagia; kebutuhan  damai-tenang-aman , saling mencintai, saling menghormati dalam keragaman perbedaan dari sistem peradaban masyarakat apapun  bentuknya, zamannya, ideologinya.

Perbedaan dalam perspektif  pandangan hidup sebagai way of life manusia   timbul atau ada karena  perbedaan manusia  melihat "dunia ini seperti apa dan bagaimana ?" 

  • Ada  yang menganggap  dunia sebagai kekuatan alam yang menguasai -nya -sehingga  harus mengikuti kehendak alam tersebut agar  Alam memberi hidup dan kehidupan menjadi sejahtera dan damai-bahagia. 
  • Ada yang menganggap dunia harus ditundukan dengan kekuatan manusia  dengan merubah lingkungan alam menjadi cocok dan membuat manusia jadi sejahtera dan damai- bahagia tanpa  tunduk dengan kekuatan alam.
  • Ada yang  menganggap  dunia hanya tempat sementara manusia hidup dan esensi kehidupan sebenarnya  adalah  kehidupan lain yang abadi; untuk itu manusia harus mengikuti orang yang bisa berhubungan dengan kekuatan alam abadi sebagai pemilik alam agar bisa hidup sejahtera-damai -bahagia di dunia sementara dan abadi. orang yang bisa  berhubungan atau dianggap memiliki kekuatan dengan pencipta alam sebagai pembawa agama(nabi), orang sakti/suci, dukun, dsb.  Semua aktifitas manusia harus mengikuti ritual ritual agar dunia" atas dan bawah"  berjalan seimbang dan mendapat restu/berkah.
  • Ada yang meyakinkan dunia ini fana /sementara,   kehidupan  dunia fana harus mengikuti kitab suci yang diajarkan nabi atau rosul akan membawa manusia pada kehidupan abadi yang  sejahtera-damai-bahagia . manusia yang tidak mengikuti ajaran kitab suci dianggap sesat  walaupun hidup di dunia kaya -sejahtera-damai-bahagia.  norma  norma agama  menjadi dasar  nilai nilai hidup dan kehidupan sejahtera-damai-bahagia di dunia abadi/kekal(surga). 
  • Ada yang menyakinkan  dunia  dilihat dari esensi ajaran kitab suci yang diyakini sebagai nilai nilai benar, baik  dan menguntungkan dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat di dunia fana ini; tanpa mempertentangkan  keyakinan orang lain yang  berbeda; keyakinan  agama sebagai hal yang individu/privasi yang menjadi pandangan hidup; bukan hanya ritual-seremonial sosial atau golongan/kelompok.  " cahaya kebaikan " menjadi  energi kedamaian  kepada setiap orang atau manusia, makhluk hidup, lingkungan disekitar dirinya(  rahmatan lil alamin). 
  • Ada yang meyakinkan dunia ini hanya tempat hidup yang harus dinikmati tanpa peduli pandangan -pandangan agama atau norma norma hukum/budaya masyarakat, yang penting saling  menghormati-toleransi,  hal hal dunia adalah  perspektif  akal-pikiran manusia saja. Pandangan manusia tidak perlu  beragama/ menganut agama tertentu(atheis/agnostik);  walaupun  sebenarnya keyakinan ini bisa  disebut sebagai agama akal/filsafat-yang meng-tuhan dirinya atau agama yang meniadakan agama agama  lain; suatu sikap -perilaku semua agama sama dan sama dengan akal-pikiran baik.

Senin, 24 Mei 2021

Solusi Konflik Palestina vs Israel

Palestina, Arab dan Israel  mempunyai hubungan sejarah, sedarah. Dalam sejarah agama  dikatakan  Nabi Adam adalah nabi pertama dan juga manusia pertama di muka bumi ini.  Kemudian  keturunan nabi Adam dan Hawa  berkembang biak dan membentuk  masyarakat serta peradaban. Lahir para nabi mulai dari Nabi Nuh, sampailah Nabi Ibrahim. Keturunan Nabi Ibrahim melahirkan  bangsa  Israel atau Yahudi melalui nabi nabi diantaranya, seperti Ishak, Daud, Musa  dan  bangsa arab melalui nabi Ismail, sampai nabi Muhammad SAW. Dalam sejarah dikisahkan terjadi konflik para nabi dan kaumnya dan juga timbulnya "azab tuhan" terhadap mereka melawan para nabi.   Timbulnya  agama agama bagi kaum bangsa israel atau yahudi dengan kitab-kitabnya; kitab Zabur untuk kaum Nabi Daud, kitab Taurat untuk kaum Nabi  Musa dan juga kitab Injil bagi kaum Nabi Isa.  Nabi Muhammad  SAW. adalah nabi terakhir yang lahir dari orang tua bangsa Arab dan membawa ajaran agama islam melalui  kitab al Quran- yang menyempurnakan kitab kitab sebelumnya.  Kisah kaum Yahudi dengan para nabinya menjadi perhatian dalam sejarah kenabian atau keagamaan, bagaimana kaum Yahudi sebagian menentang agama yang dibawa para nabi dan sebagian mengikutnya sampai lahir islam dengan nabi-rosul dari bangsa bukan mereka, yaitu arab. 

Timbulnya konflik atau pertentangan diantara  kaum yahudi dengan nabi yang diutus kepadanya, kemudian  melebar kepada  para nabi di luar kaum yahudi, terhadap Nabi Isa - nabi kaum nasrani  dan juga Nabi Muhammad - nabi umat islam. Hal yang sejak lama dikisahkan bahwa agama agama  kaum  yahudi, nasrani sampai islam adalah agama samawi,  agama yang di-wahyukan Tuhan kepada para nabi yang memiliki ajaran yang sama.  Namun konflik terjadi bukan karena ajarannya kepada pemeluknya tetapi karena politisasi  agama oleh  sebagian pemeluk atau pemimpin atau ulamanya. Konflik  menimbulkan perperangan "atas agama; yahudi vs nasrani atau nasrani vs islam "  dan "atas  ras : yahudi vs arab" atau " agama vs sekuler ".   

Saat ini,  konflik bangsa Israel dan Palestina sejatinya  konflik satu darah dari turunan Nabi Ibrahim; sejatinya bukan konflik agama, tetapi konflik soal tanah, lahan hidup. Konflik yang terus menerus terjadi karena dibungkus sebagai konflik "atas nama agama" , "atas  nama bangsa pilihan tuhan", "atas kekuatan politik-nasionalisme", " atas kepentingan geopolitik-ideologis"  atau "atas konspirasi kekuatan hegemonik".  Akumulasi senjata  untuk perang disiapkan oleh Israel dan juga Palestina; secara ekonomis dan tehnologis israel memiliki kemampuan lebih besar membuat dan menumpuk senjata senjata penghancur dibandingkan palestina pada saat ini. Apakah  konflik ini  harus selalu diselesaikan dengan "perang" , saling menghancurkan dan melemahkan ?. Rumusan canggih dan sederhana  untuk meng-akhiri konflik adalah " damai".  Kembalilah kepada sejarah sebagai satu darah, satu nabi , satu rumpun ajaran wahyu tuhan; hidup damai dan bahagia dengan kasih sayang. Damai  berarti menghilangkan dendam lama  dan baru, menghilangkan  senjata senjata untuk perang, membangun kerukunan dan kesejahteraan bersama, dll.

Solusi   konflik israel dan palestina  adalah solusi sejarah agama-kenabian, solusi politik pada pemimpin negara- agama dua bangsa dan dunia international(PBB)  untuk hidup damai dua saudara, dua bangsa yang setara-beradab, adil makmur.

Dunia Damai dan Adil Makmur((Bahagia)  dapat  ditandai berkurang dan bahkan hilangnya  senjata senjata perang penghancur massa,  senjata biologi, jumlah tentara, anggaran militer, dan meningkatnya jumlah polisi untuk menjaga masyarakat dan menegakan aturan -ketertiban sosial,  meningkatnya anggaran kesejateraan-sosial dan bantuan negara besar ke negara miskin  sehingga kesenjangan ekonomi-sosial negara kaya-miskin makin berkurang; konflik sosial karena masalah ekonomi berkurang dan menghilang.

" New Era " - dunia  baru dan peradaban baru  adalah  dunia yang penuh damai dan makmur sejahtera ; bukan dunia hemogenik robotik, drones dengan supercanggih tehnologi internet 5/6G dimana yang kuat menguasai dan monopoli ekonomi dunia atau mengeruk ekonomi yang lemah.

Damai untuk kita semua - makhluk yang ada  di bumi - mungkin juga di luar bumi (UFO?)

Senin, 17 Mei 2021

Sel Dendritik sebagai Penyaji Antigen yang mengatur Imunitas dan Toleransi Sel T










Sel dendritik (DC) adalah sel hematopoietik unik, yang menghubungkan respons imun bawaan dan adaptif. Secara khusus, mereka dianggap sebagai sel penyaji antigen paling kuat, mengatur kekebalan dan toleransi sel T. Mengingat kemampuannya yang luar biasa untuk menghadirkan antigen dan berinteraksi dengan sel T, DC memainkan peran berbeda dalam membentuk perkembangan, diferensiasi, dan fungsi sel T. Hasil dari interaksi sel DC-T ditentukan oleh keadaan pematangan DC, jenis subset DC, lingkungan mikro sitokin dan lokasi jaringan. Baik sel T regulator (Treg) dan DC sangat diperlukan untuk menjaga toleransi pusat dan perifer. Selama dekade terakhir, mengumpulkan data menunjukkan bahwa DC berkontribusi penting terhadap diferensiasi dan homeostasis Treg.




Senin, 29 Maret 2021

Terorisme bukan “Ajaran dan Paham” Agama

 

Opini:   Terorisme  bukan “Ajaran dan Paham” Agama

Polemik teroris  beragama  atau tidak ada hubungan dengan agama atau atas nama agama  menjadi "ramai dan perdebatan yang seru!"  apalagi setelah  bapak Presiden Jokowi mengecam terorisme yang terjadi dan menganggapkan  perilaku terorisme tidak ada hubungan dengan paham agama. Perbincangan yang tidak pernah selesai dan terpuaskan atas argumentasi atau jawaban "yang benar atau salah". 
Tergantung  sudut pandang dari mana Terorisme dilihat dan dianalisa, tentu berbeda dari  sisi  agama , politik, sosial , keamanan , ekonomi , dan aspeks lainnya.

Antara  Fakta dan Penafsiran tersirat dan tersurat terhadap  fenomena aksi teroris; siapa pelaku, motif pelaku, alat dan bahan,  tujuan-sasaran dan dampaknya ; waktu dan tempat  serta momentum aksi teroris terjadi. Tentu semua tindakan orang, kelompok, organisasi, badan /korporasi sampai negara mempunyai tujuan dan sasaran serta metode untuk mencapainya(cita cita). Aksi teroris merupakan metode untuk mencapai tujuan-cita cita dengan  cara cara  melawan prosedur hukum yang berlaku atau dianggap tidak benar atau tidak diakui sebagai aturan.  Pelaku pelaku teror atau sebagai teroris adalah orang orang yang melaksanakan printah organisasi atau pemegang cita cita  mencapai tujuan yang sudah didoktrin sebagai tentara/pejuang/ martir/pahlawan. Doktrin untuk melaksanakan "tugas suci" atau "perang suci" melawan "musuh"; keyakinan tersebut menjadikan pelaku "berani mati" dalam tugasnya karena bila mati menjadikannya martir, syuhada. Apakah mereka pelaku memahami atau menyadari "penyimpangan" ideologi dari doktrin dokrin "sang pemimpinnya" atau keyakinannya?. Suatu yang sulit membedakan doktrin agama  atau doktrin tafsir Imam /agama yang menyimpang, dikarenakan intensitas internal yang ditanamkan "kebenaran dari sang imam". Otorisasi kebenaran sang imam sama dengan "kebenaran agama itu sendiri". apa kata imam adalah fatwa agama dan kebenaran, bahkan sebagai ajaran agama yang tidak bisa di tawar dan harus dilaksanakan.  Otoritas imam bagaikan   pemegang kunci surga bagi pengikutnya, apapun  yang tidak direstui sang imam, dapat menjadi "musibah", menutup pintu surga.

Keyakinan yang dibuzzer oleh sang imam membuat pengikutnya siap untuk menjadi pejuang pejuang "atas nama agama"  sebagai  tentara  tentara agama atau pembela agama (ksatria agama), yang akan membela sang imam dan cita cita  organisasi yang di-impikannya 'seperti khalifah" atau negara agama.
Sang Imam yang menjadi deklator  dan otoritas agama, memonopoli kebenaran, sebagai pengganti dan pewaris nabi-rosul, membuat kekuasaan sang imam semakin "duniawi" karena kepentingan atas nama agama, atas nama  tuhan ada dipundak sang imam. Semakin Duniawi  semakin kuat cita cita  mendirikan ideologi agama  untuk mewujudkan negara agama/ kerajaan  tuhan. inilah memunculkan  cara cara  radikal untuk mencapai mimpi / cita citanya dan akhirnya melakukan aksi aksi melawan hukum yang berlaku sebagai aksi agama yang benar atau suci. pembenaran semua aksi  karena alasan agama "untuk perjuangan suci" 

Senin, 22 Maret 2021

Apakah Efek Azitromisin pada Pengobatan COVID 19 ?

Azitromisin untuk pengobatan komunitas yang dicurigai COVID-19 pada orang dengan peningkatan risiko  klinis tertentu  yang merugikan di Inggris: uji coba platform adaptif, terkontrol, label terbuka, acak (Azithromycin for community treatment of suspected COVID-19 in people at increased risk of an adverse clinical course in the UK (PRINCIPLE): a randomised, controlled, open-label, adaptive platform trial)


Latar Belakang Penelitian: 

Azitromisin, antibiotik dengan potensi sifat antivirus dan anti-inflamasi, telah digunakan untuk mengobati COVID-19, tetapi bukti dari uji coba komunitas secara acak masih kurang. Kami bertujuan untuk menilai keefektifan azitromisin untuk mengobati dugaan COVID-19 di antara orang-orang di komunitas yang memiliki peningkatan risiko komplikasi.

Metode:

Dalam uji coba intervensi acak platform yang berbasis di Inggris, perawatan primer, label terbuka, multi-lengan, adaptif terhadap COVID-19 pada orang-orang dengan peningkatan risiko kursus klinis yang merugikan (PRINCIPLE), kami secara acak menugaskan orang-orang yang berusia 65 tahun ke atas. , atau 50 tahun ke atas dengan setidaknya satu penyakit penyerta, yang tidak sehat selama 14 hari atau kurang dengan dugaan COVID-19, ke perawatan biasa ditambah azitromisin 500 mg setiap hari selama tiga hari, perawatan biasa ditambah intervensi lain, atau perawatan biasa saja. Uji coba ini memiliki dua titik akhir coprimary yang diukur dalam 28 hari dari pengacakan: waktu hingga pemulihan yang dilaporkan sendiri pertama kali, dianalisis menggunakan Bayesian secara eksponensial sedikit demi sedikit, dan masuk atau kematian di rumah sakit terkait COVID-19, dianalisis menggunakan model regresi logistik Bayesian. Peserta yang memenuhi syarat dengan data hasil dimasukkan dalam analisis primer, dan mereka yang menerima pengobatan yang dialokasikan dimasukkan dalam analisis keamanan. Uji coba ini terdaftar di ISRCTN, ISRCTN86534580.

Hasil Temuan: 

Peserta pertama direkrut ke PRINSIP pada 2 April 2020. Kelompok azitromisin mendaftarkan peserta antara 22 Mei dan 30 November 2020, di mana 2265 peserta telah ditugaskan secara acak, 540 ke azitromisin plus perawatan biasa, 875 ke perawatan biasa saja, dan 850 untuk intervensi lainnya. 2120 (94%) dari 2.265 peserta memberikan data tindak lanjut dan dimasukkan dalam analisis primer Bayesian, 500 peserta dalam kelompok perawatan azitromisin plus biasa, 823 dalam kelompok perawatan biasa saja, dan 797 dalam kelompok intervensi lain. 402 (80%) dari 500 peserta dalam kelompok azitromisin plus perawatan biasa dan 631 (77%) dari 823 peserta dalam kelompok perawatan biasa saja melaporkan merasa pulih dalam 28 hari. Kami menemukan sedikit bukti dari manfaat yang berarti dalam azitromisin ditambah kelompok perawatan biasa dalam waktu untuk pemulihan pertama yang dilaporkan versus perawatan biasa saja (rasio bahaya 1 · 08, 95% interval kredibilitas Bayesian [BCI] 0 · 95 hingga 1 · 23), menyamakan untuk manfaat yang diperkirakan dalam waktu median untuk pemulihan pertama 0 · 94 hari (95% BCI -0 · 56 ke 2 · 43). Probabilitas bahwa ada manfaat yang bermakna secara klinis dari setidaknya 1 · 5 hari dalam waktu pemulihan adalah 0 · 23. 16 (3%) dari 500 peserta dalam kelompok azitromisin plus perawatan biasa dan 28 (3%) dari 823 peserta dalam kelompok perawatan biasa saja dirawat di rumah sakit (manfaat absolut dalam persentase 0 · 3%, 95% BCI -1 · 7 hingga 2 · 2). Tidak ada kematian di kedua kelompok studi. Hasil keamanan serupa pada kedua kelompok. Dua (1%) dari 455 peserta dalam kelompok azothromycin plus perawatan biasa dan empat (1%) dari 668 peserta dalam kelompok perawatan biasa saja melaporkan masuk ke rumah sakit selama percobaan, tidak terkait dengan COVID-19.

Simpulan: 

Temuan kami tidak membenarkan penggunaan azitromisin secara rutin untuk mengurangi waktu pemulihan atau risiko rawat inap bagi orang yang diduga COVID-19 di masyarakat. Temuan ini memiliki implikasi pengawasan antibiotik yang penting selama pandemi ini, karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat menyebabkan peningkatan resistensi antimikroba, dan ada bukti bahwa penggunaan azitromisin meningkat selama pandemi di Inggris.

Minggu, 21 Maret 2021

"LONG -COVID 19" ; Post Acute Sequelae of SARS CoV-2 (PASC)

CT scan paru paru COVID19


Pemulihan COVID-19 jangka panjang, alias sindrom "long-hauler" COVID, terus menantang dokter dan pasien, dengan bukti tentang cara terbaik untuk mengelola gejala yang paling umum terutama berdasarkan studi lintas bagian dan laporan anekdot.

Sampai gambaran yang lebih jelas muncul dari studi yang lebih besar, prospektif, dan multisenter, para ahli berbagi apa yang diketahui dan bukti apa yang masih sulit dipahami dalam konferensi media 12 Februari yang disponsori oleh Infectious Diseases Society of America.

Untuk dianggap sebagai sindrom pasca-COVID-19, gejala harus bertahan setidaknya selama 4 minggu setelah infeksi SARS-CoV-2 akut. Namun, banyak pasien mengalami gejala yang berlangsung selama 2 hingga 6 bulan atau lebih.

Kelelahan tampaknya paling umum, diikuti oleh dispnea dan komplikasi paru lainnya, Allison Navis, MD, asisten profesor di Divisi Penyakit Infeksi Saraf di Sekolah Kedokteran Icahn di Gunung Sinai di New York City, mengatakan selama pengarahan.

Dr Allison Navis mengatakan: Gejala neurologis, terutama "kabut otak" dan mati rasa atau kesemutan di seluruh tubuh, serta tantangan kesehatan mental termasuk gangguan stres pasca-trauma (PTSD), juga telah dilaporkan secara anekdot, katanya. Gejala sindrom pasca-COVID-19 bisa serupa dengan yang dialami selama infeksi akut.

Infeksi Gejala Mendahului Sebagian Besar Kasus:

Orang yang mengalami infeksi SARS-CoV-2 asimtomatik jarang tampak berkembang menjadi sindrom pasca-COVID persisten, kata Kathleen Bell, MD, Ketua Khusus Kimberly Clark dalam Riset Mobilitas di UT Southwestern Medical Center di Dallas.

Dr Kathleen Bell mengatakan : Namun, "kami pasti melihat orang-orang yang tidak dirawat di rumah sakit yang sakit parah dan menanganinya di rumah" hadir dengan sindrom pasca-COVID, kata Bell, yang juga profesor dan ketua Departemen Pengobatan Fisik dan Rehabilitasi di UT Southwestern.

Navis setuju bahwa menurut pengalamannya, kebanyakan orang dengan efek jangka panjang dapat menangani infeksi akut di rumah atau dirawat di rumah sakit. “Mungkin ada satu atau dua orang yang mungkin mengalami infeksi tanpa gejala dan datang dengan sindrom COVID-panjang ringan,” katanya.

Bahaya Terkait Rawat Inap:

Untuk beberapa pasien, dirawat di rumah sakit karena COVID-19 dengan sendirinya dapat menyebabkan masalah pemulihan jangka panjang. Misalnya, pasien rawat inap yang menghabiskan sebagian besar waktu dalam posisi tengkurap lebih mungkin mengalami neuropati perifer, kata Bell. Kelemahan lengan dan kaki yang terkait bisa menjadi sangat penting pada penderita diabetes.

Gejala sisa pasca-akut Infeksi SARS-CoV-2

Ketika pandemi COVID-19 telah matang, lebih banyak pasien telah melaporkan gejala sisa jangka panjang pasca infeksi. Mayoritas pasien pulih sepenuhnya tetapi mereka yang tidak melaporkan gejala yang merugikan seperti kelelahan, dispnea, batuk, kecemasan, depresi, ketidakmampuan untuk fokus (yaitu, "kabut otak"), masalah pencernaan, kesulitan tidur, nyeri sendi, dan dada nyeri berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah penyakit akut. Studi jangka panjang sedang dilakukan untuk memahami sifat keluhan ini.

Kamis, 17 Desember 2020

Mengenal Gejala Penyakit Meniere; Diantara Penyakit Gangguan keseimbangan dan Pendengaran



Penyakit Meniere adalah suatu kondisi yang menyebabkan vertigo. Beberapa pasien vertigo butuh bantuan- tanpa sadar mengalami gangguan ini. Ini bisa sangat melumpuhkan bagi mereka yang menderita karenanya. Gejala kondisi ini cukup melemahkan, terutama vertigo. Ini dapat berdampak negatif pada kualitas hidup Anda. Selain itu, hal itu dapat menyebabkan Anda melewatkan berbagai acara keluarga, sosial, dan pekerjaan yang penting.

Berikut beberapa gejala yang memengaruhi kehidupan:

  • Sensasi penuh, hidung tersumbat, atau tertekan di telinga yang terkena, seringkali hanya di satu telinga
  • Vertigo - perasaan bahwa Anda atau hal-hal di sekitar Anda tidak terkendali. Persepsi salah itu ada, bahkan saat tidak ada gerakan sama sekali. Episode vertigo terjadi secara tidak terduga dan dapat terjadi setidaknya 20 menit hingga beberapa jam (tetapi tidak lebih dari 24 jam)
  • Mual dan muntah
  • Gangguan pendengaran yang berfluktuasi - tanpa perawatan yang tepat dan segera, hal ini dapat memburuk seiring waktu dan menjadi permanen.
  • Tinnitus - Suara berdengung, berdenging, atau mendesis di telinga
  • Kognitif dan mental berkabut

Penyakit Meniere biasanya menyerang orang yang berusia 20 hingga 50 tahun. Namun, penyakit ini dapat mulai muncul pada siapa pun pada usia berapa pun. Vertigo yang ditimbulkannya memengaruhi orang dengan berbagai cara. Untuk beberapa, serangan vertigo mereka mungkin datang dan pergi. tetapi yang lain, menjadi sengsara karena sering mengalaminya.

Selain itu, serangan vertigo lebih sering terjadi selama musim alergi bagi sebagian orang. Ini dapat membantu menjelaskan mengapa orang dengan penyakit Meniere mengalami perasaan yang mengerikan, tersumbat di telinga mereka. Bukan karena alerginya yang menyebabkannya, melainkan iritasi dari alerginya mempengaruhi tuba Eustachius, yang sudah terasa tertekan, bahkan menimbulkan dampak yang lebih besar.

Faktor faktor  penyebab timbul gejala gejala Penyakit Meniere

Urutan Gejala Penyakit Meniere

Untuk meredakan vertigo, penting untuk dipahami bahwa mengetahui semua gejala penyakit Meniere tidak cukup untuk menunjukkan gambaran keseluruhan. Gejala kondisi ini dapat bervariasi tergantung pada tahap situasi Anda saat ini.

Penyakit Meniere memiliki beberapa fase: aura, tahap awal, tahap serangan, dan di antaranya. Ada juga tahap akhir Meniere. Mari kita lihat gejala apa yang menyertai setiap tahap. Dengan mempelajari gejala ini, Anda dapat melanjutkan untuk pindah ke tempat pribadi yang aman untuk membiarkan serangan Meniere yang sebenarnya berlalu.

Tahap Aura

Ini mungkin termasuk gejala berikut:

  • Sakit kepala
  • Pusing atau vertigo
  • Meningkatnya tekanan telinga
  • Tinnitus
  • Sensitivitas terhadap suara
  • Kehilangan pendengaran
  • Sensasi ketidaknyamanan yang samar-samar
Tahap Awal
Gejala ini mungkin muncul:
  • Tinnitus
  • Vertigo yang hebat dan spontan
  • Telinga terasa penuh (disebut aural fullness)
  • Gangguan pendengaran yang berfluktuasi

Tahap Serangan

Tahap ini terkenal dengan gejala-gejala berikut:

  • Nystagmus - menyentak mata yang tidak terkendali
  • Mual dan muntah
  • Keringat dingin
  • Kecemasan dan panik
  • Denyut jantung cepat
  • Penglihatan kabur
  • Gemetaran
  • Diare
  • Palpitasi jantung

Di Antara Tahap Serangan

Setelah tahap serangan, Anda akan lelah dan mungkin perlu tidur selama beberapa jam untuk pulih. Banyak pasien tetap bebas gejala. Namun, orang lain mungkin terus menunjukkan gejala-gejala ini.

  • Kelelahan atau kantuk
  • Perubahan nafsu makan
  • Sakit kepala
  • Sensasi kepala berat
  • Mudah teralihkan
  • Meraba-raba untuk menemukan kata yang tepat untuk diucapkan
  • Kecanggungan
  • Diare
  • Merasa pingsan atau pusing
  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Sensitivitas terhadap suara
  • Distorsi suara
  • Hilangnya kemandirian dan kepercayaan diri
  • Perasaan mabuk perjalanan, mual, atau mual
  • Kemarahan, ketakutan, kekhawatiran, dan kecemasan
  • Muntah
  • Masalah dengan visi– kabur, memantul, intensifikasi silau, fokus, dll.
  • Merasa tidak stabil– tiba-tiba jatuh, terhuyung-huyung, atau tersandung, kesulitan berjalan, mencari sesuatu untuk dipegang saat berjalan, dan terus menerus melihat ke bawah.

Tahap Akhir Penyakit Meniere

Pada tahap ini, Anda mungkin merasakan yang berikut:

  • Masalah dengan penglihatan dan keseimbangan Anda menggantikan vertigo
  • Telinga tersumbat dan tinitus lebih intens
  • Gangguan pendengaran yang lebih signifikan dan konstan
  • Gejala ini bisa menjadi lebih buruk saat Anda berada dalam pencahayaan redup, kelelahan, atau jika Anda melihat banyak pemandangan yang merangsang secara visual di sekitar Anda.
  • Serangan jatuh terjadi saat Anda jatuh dalam keadaan sadar



Minggu, 29 November 2020

"Cara Allah Menegur Manusia" dengan COVID 19


corona virus disease 2019

Virus adalah agen infeksi berukuran kecil yang bereproduksi di dalam sel inang yang hidup. Ketika terinfeksi, sel inang dipaksa untuk menghasilkan ribuan salinan identik virus asli dengan cepat. Virus sendiri tidak memiliki sel; pembentukan virus-virus baru berlangsung dalam sel inang yang terinfeksi.

Penyakit virus corona (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru-baru ini ditemukan.  Sebagian besar orang yang tertular COVID-19 akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa penanganan khusus.

Virus yang menyebabkan COVID-19 terutama ditransmisikan melalui droplet (percikan air liur) yang dihasilkan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau mengembuskan nafas. Droplet ini terlalu berat dan tidak bisa bertahan di udara, sehingga dengan cepat jatuh dan menempel pada lantai atau permukaan lainnya.

Kita dapat tertular saat menghirup udara yang mengandung virus jika kita berada terlalu dekat dengan orang yang sudah terinfeksi COVID-19. kita juga dapat tertular jika menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut kita. 

Kasus  COVID  19 terjadi secara cepat keseluruh dunia dan  Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan tanggal 12 Maret 2020 sebagai status Pandemi COVID 19. sejak ditemukan pertama kali di Wuhan Cina pada  pertengahan Desember 2019  sampai sekarang , telah tercatat kasus penderita COVID 19 sebanyak 62,3 juta  orang ,  sembuh  39,8 juta orang, meninggal 1,45 juta orang. di Indonesia pertanggal 29 November 2020. tercatat sebanyak sebagai penderita 534,266 orang  , sembuh  445,793 orang, meninggal 16.815 orang



Kasus baru per tanggal  28 November 2020  di Indonesia

Hampir   satu  tahun virus  corona  19 berulang tahun, seluruh negara di  dunia masih dalam ancaman dan serangan COVID 19, serta  masih menerapkan  protokol kesehatan sesuai rekomendasi WHO, untuk melawan COVID 19 dan mulai di cobakan vaksinasi virus dengan obat vaksin khusus covid 19 secara massal ke seluruh dunia - terutama pada tahun 2021. 

Akibat  COVID  19 telah berdampak ke seluruh aspek kehidupan manusia, baik langsung dan tidak langsung. Penerapan  jaga jarak   secara sosial, fisik, karantina virus  merubah kebiasaan semua manusia dalam berinteraksi  termasuk dalam kegiatan ekonomi, sosial, sekolah, seni budaya, kegiatan ibadah, politik  dan keamanan.  Pola  baru diterapkan sebagai budaya atau kebiasaan baru ; "era  new normal",  untuk mengatasi dampak  terhadap ekonomi dan bangkit dari resesi ekonomi karena mandeknya kegiatan  ekonomi akibat dari pembatasan atau karantina wilayah bagi pelaku ekonomi. 

Bagaimana  seluruh elemen masyarakat, pemerintah, tenaga medis-kesehatan, relawan ,  polisi, tentara bekerja untuk  mencegah  agar penyakit   virus ini dapat diatasi dan tidak menyebar -menginfeksi orang orang yang  rentan atau dengan kondisi memiliki penyakit lain yang dapat melemahkan imunnya atau disebut orang dengan komorbid. Bahkan dari mereka  mereka  telah menjadi korban "ganasnya"  virus corona  terutama tenaga medis-dokter, paramedis-perawat, aparat keamanan. 

Dalam perjuangan melawan COVID 19  selama hampir 1 tahun ini, terutama bagi  mereka di garis terdepan -yang merawat pasien Covid 19 di ICU, rawat inap  isolasi -seperti  dokter dan perawat, petugas  kesehatan, staf rumah sakit, sopir ambulan, cleaning service, aparat keamanan -serta Tim Satgas COVID 19. sudah menjadi  resiko yang harus dihadapi setiap harinya. Namun  
masih  ada orang orang yang tidak menyadari dan  membuat hoaks tentang  COVID 19 sebagai hal yang "sepele" dan  bahkan "COVID 19 " itu tidak ada -hanya konspirasi cina,  mafia obat virus, dan lain lain.

Berbagai regulasi dibuat oleh pemerintah pemerintah  / negara negara  di dunia dan  WHO. Regulasi berdasarkan zona    bebas, hijau, kuning, merah dan hitam; ada karantina wilayah dengan menerapkan PSBB(pembatasan sosial berskala besar) bahkan lockdown terutama  pada zone merah dan hitam.  Perang melawan COVID 19 memerlukan komitmen bersama dan  kerjasama dari seluruh komponen masyarakat, bangsa dan negara, tanpa itu maka kita tidak dapat menang melawan COVID  19. dampaknya adalah kehancuran ekonomi, ketepurukan sosial, keamanan dan politik-hukum. 

Kerawanan akibat pelanggaran protokol kesehatan seperti  Kerumunan  massal, tidak menjaga  jarak, tidak memakai masker, tidak mencuci tangan  dapat meningkatkan  kembali penyebaran  virus dan infeksi berulang dan sangat  tinggi resiko kematiannya terhadap orang dengan penyakit  komorbid (seperti, kencing manis, jantung koroner, hipertensi, penyakit imun ). Mereka yang  tanpa komorbid dapat tertular COVID 19 - tanpa gejala ataupun gejala yang  ringan, tetapi dapat menularkan ke orang normal yang belum tertular. Rangkaian penularan ini yang harus terus di putus dengan "gerakan 3 M" yaitu Memakai Masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak + Menghindari Kerumunan. 

Ketidak patuhan atau tidak kepedulian terhadap protokol kesehatan pada kejadian penjemputan massa di bandara , acara pernikahan, pertunjukan musik, olah raga, tempat ibadah, peringatan ulang  tahun, dan lain lain. perlu  dicegah dan diberi sangsi yang tegas. karena  melukai hati mereka yang telah berjuang melawan covid 19 dan memberatkan pemerintah dalam "Pemulihan ekonomi nasional".

Pemerintah mendapat tanggung jawab untuk merawat dan menyembuhkan pasien covid 19 secara gratis; biaya setiap pasien covid 19 rata rata  lebih kurang  80 juta rupiah, bahkan pada kasus berat bisa ratusan juga(400jutaan rupiah). Pemerintah  menanggung  biaya rumah sakit covid 19, sehingga  peningkatan kasus  baru dapat menambah  alokasi dana untuk covid 19 dan mengurangi dana untuk pemulihan ekonomi nasional - memperlambat mengatasi pengangguran  akibat PHK atau tenaga kerja baru yang mencari perkerjaan. 

Pandemi PENYAKIT VIRUS CORONA adalah fenomena  alamiah  atau  sunnahtullah yang berlaku terhadap seluruh manusia,  tanpa kecuali apapun   statusnya -mulai  rakyat kecil-miskin  sampai bangsawan-elite- kaya,  bukan ulama  sampai ulama, bukan pemimpin sampai pemimpin, bahkan status  negara belum maju sampai adidaya-sangat maju. 

Inilah  CARA  ALLAH  SWT  menegur  kesombongan kita -manusia, dengan  makluk mikrokosmos, virus corona, bahkan kita merasakan "kesombongan virus corona 19".  Mudah mudahan kita "menyadari dengan sungguh sungguh" untuk merubah kebiasaan hidup kita lebih baik lagi dengan "alam-lingkungan",  beradaptasi pada kebudayaan baru dunia " new normal  dengan 3 M"


wallahu'alam

protokol kesehatan  di Mesjid/Rumah  Ibadah


Selasa, 24 November 2020

"Beragama" itu Sederhana, Mudah !!.


perilaku baik adalah perilaku orang beragama
"sederhana, mudah dan  bahagia" 

"beragama" membuat diri tercerahkan dan bahagia, juga orang lain, lingkungan ikut tercerahkan dan bahagia. beragama itu sederhana.


Berbagai perilaku orang orang yang mengaku beragama, belakang ini menjadi berita yang viral, heboh. bagaimana rupa "terkesan" orang yang 'tidak mengikuti aturan' , mau enak sendiri, merasa benar sendiri, mudah emosi dan marah, bicaranya kasar dan keras, suka mengancam dan perkusi orang lain, suka dengan kekerasan atas nama tuhan, dan lain lain. "kesan" wajah agama dan orang beragama dengan profil yang seram, angker, menakutkan bagi orang lain atau penganut agama lain. 


Bagaimana pemimpin atau ketua dan pengikut pengajian memahami agama ? bagaimana mempraktekan ajaran dan tauladan beragama dalam hubungan antara sesama manusia(mu'amalah) dan terhadap Tuhannya(ubudiyah) ? 

Realita saat ini menjadikan agama seperti sulit dipraktekkan atau menjadi momok dalam bermasyarakat sehingga mengesankan agama hanya dokrin yang membelenggu, tidak mencerahkan, memaksa dan menghukum pelakunya; akibat lain agama hanya sebagai simbol atau identitas sosial atau bagian kelompok. Agama menjadi wilayah yang sempit, eksklusif, sebagai otoritas ketuhanan. Hanya orang orang tertentu yang beragama mendapat otoritas keagamaan sebagai orang suci, orang yang dekat dengan tuhan. orang lain harus mengikuti jenjang ke-agamaan bila mendapat "status/makam" otoritas keagamaan tertinggi. Bagaimana orang harus belajar, berguru, membaca kitab kitab agama, bersekolah agama dari madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah, S1,S2,S3 ? Bagaimana orang belajar kitab suci dan kitab kitab tafsirnya serta fatwa fatwa ulama ?. Apakah jalan mencapai status taqwa atau otoritas keagamaan harus seperti itu ? Apakah orang yang menempuh jalur akademik saja bisa mencapai status keagamaan tertinggi sebagai orang yang dekat tuhan ? dan pertanyaan pertanyaan lain yang pada hakekatnya adalah betapa "panjang" untuk "beragama". 


Jalan panjang mencapai agama yang dipahami dan dipraktekkan serta realita jaman - sering menimbulkan benturan atau konflik baik berasal dari diri sendiri , maupun didapat dari contoh perilaku tokoh agama atau pemimpin agama atau kelompok kelompok dalam agama. Ruang publik yang terbuka , menjadi tontonan umat, ketika perilaku orang mengataskan agama merusak kerukunan bermasyarakat atau berpolitik dengan menggunakan agama sebagai alat politik identitas. Nilai beragama pada perilaku beragama tidak ada atau tidak sesuai prakteknya, akibatnya umat atau pengikutnya tidak bisa menjadi teladan atau contoh buruk wajah agama. 


Esensi beragama adalah mencerahkan dan membahagiakan hidup dan kehidupan pelakunya; dampaknya bagian orang lain dan lingkungannya juga sama sehingga terwujud suasana -kondisi hidup dan kehidupan penuh kasih sayang, ramah, tentram, damai, sentosa/sejahtera. Wujud itu hanya berasal dari kesadaran diri masing masing pelaku beragama, bukan dari luar kesadaran atau bahasa lain wujud itu automatis timbul mulai dari "alam bawah sadar dan alam sadar" setiap orang beragama yang "baik".


Agama memang dapat sebagai alat, perangkat, metode dalam mencapai tujuan kehidupan yang ideal atau diimpikan tetapi memerlukan tehnologi, cara menggunakannya atau standar operasional prosedur(SOP) baik untuk diri sendiri atau bermasyarakat, berbangsa-bernegara; dari kerangka yang sederhana sampai yang kompleks.


Pada konteks individu, beragama artinya bernilai pada kemampuan mengendalikan diri dan berbuat kebaikan kepada orang lain, berkinerja melayani, membantu, bertanggung jawab pada tugas pokok serta fungsinya(tupoksi), demikian dalam keluarga, bermasyarakat,berbangsa bernegara- patuh terhadap norma masyarakat, peraturan pemerintah dan undang undang negara.


Sederhananya nilai agama mengikat segala perbuatan -kebaikan muamalah dengan nilai ketuhanan (ubudiyah) pelaku orang beragama, yang memberi nilai ketulusan, kepasrahan, kejujuran, ikhlasan, nilai balasan berupa kebaikan yang bertambah(Barokah) dan Pengetahuan -Ilmu yang luas (al-Hikmah) dari Allah subhana wa 'ala.


Itulah beragama, Agama itu mudah, mencerahkan, membahagiakan.

Jumat, 06 November 2020

Syukur atas Nikmat Allah.

 Syukur Nikmat:

Ketika Sakit:

  • Sakit mata ketika bisa melihat
  • Sakit gigi ketika bisa menggigit
  • Sakit muntah dan mual ketika bisa makan dan minum
  • Sakit perut kembung ketika buang angin dan sendawa
  • Sakit tidak bisa BAB ketika bisa
  • Sakit BAB mencret -diare ketika normal
  • Sakit tidak bisa BAK ketika bisa
  • Sakit kencing batu ketika keluar batu
  • Sakit batu kandung empedu ketika hilang
  • Sakit sesak nafas ketika bisa nafas lega
  • Sakit kehilangan keseimbangan badan dan Vertigo ketika bisa berjalan biasa dan bergerak
  • Sakit anggota gerak badan ketika bisa membawa barang atau bergerak luwes
  • Sakit tidak bisa tidur ketika bisa tidur
  • Sakit tidur terus ketika bisa bangun dan beraktifitas
  • Sakit tidak bisa berbicara ketika bisa bicara
  • Sakit banyak bicara ketika bisa sedikit bicara
  • Sakit hati dan sedih ketika bisa tertawa dan bahagia
  • Sakit dari kematian ketika bisa diberi kehidupan(kesembuhan);

    • Sakit tumor ganas ketika sembuh
    • Sakit terinfeksi COVID 19 ketika  sembuh
    • Sakit Koma  ketika sembuh
    • Sakit Perdarahan berat ketika sembuh
    • Sakit Syok berat ketika  sembuh
    • Sakit  Dehidrasi berat ketika sembuh
    • Sakit Sepsis berat ketika sembuh
    • Sakit depresi berat ketika sembuh
  • dst.nya.

Apakah masih kita mendustakan nikmat Allah dg tanpa mensyukurinya ?


Ketika  Sehat :

  • Mata dan indra ketika bisa melihat,merasakan,mengesankan keindahan objek alam, orang, objek hidup, fenomena, buku offline dan online  ilmu-pengetahuan - hasil tehnologi.
  • Mulut dan Gigi ketika bisa makan dan minum  -hal yang lezat dan tidak lezat  masuk kedalam pencernaan tubuh atau hal berupa obat yang dimakan dan minum.
  • Hidung ketika dapat mencium bau harum dan busuk, dapat menghisap udara segar dengan lega.
  • Telinga  ketika dapat mendengar suara yang keras dan lemah, suara yang indah dan fals, suara yang berbeda frekuensi dan temponya
  • Organ (liver, pankreas, kandung empedu,limpa)  dan Saluran pencernaan tubuh(esofagus, gaster,duodenum, small bowel, colon- rektum ketika  mencerna makanan dan minuman , obat , menyerap dan membuang  hasil metabolisme dari dan ke seluruh organ tubuh yang lain dengan baik.
  • Organ Ginjal dan Saluran kemih(ureter, kandung kemih) ketika mengalirkan, menyaring(filter), membuang dan menyerap kembali hasil metabolisme tubuh dalam bentuk cairan yang kotor dan bersih, mengatur keseimbangan cairan tubuh, tekanan darah.
  • Organ Jantung dan pembuluh darah(arteri,vena, lymph) ketika memompa, mengatur -distribusi input-output hasil metabolisme dari dan ke dalam sel sel tubuh dan ruang ruang antara sel  ke seluruh organ tubuh, mulai dari otak sampai ujung kaki, dari permukaan kulit-rambut  sampai  organ organ dalam tubuh; menjaga dalam keadaan keseimbangan hemostasis
  • Otak besar, otak kecil, batang otak ketika  memproses  semua aktifitas organ tubuh yang disadari dan tanpa disadari(volunter-involunter) dan  meng-kontrol -kendali, rencana, dan  action dari input-out data  data yang diterima dari dalam otak(memory idea, pikiran, perasaan, emosi, spiritual) dan luar otak(persepsi  dari interaksi dengan lingkungan).
  • Tubuh dan anggota tubuh  ketika  dapat  bergerak, berjalan, berlari, melompat secara maksimal; memegang, mencekram, menggantung, mengepal, meninju dengan kuat.
Apakah masih kita mendustakan nikmat Allah dg tanpa mensyukurinya ?

  • Tubuh yang sehat:
  • ketika bisa berpikir, mengingat, menghapal, belajar-membaca-melihat-mendengar-merasakan dan  menyimpulkan sesuatu dengan baik dan bijak
  • ketika   dapat  berbagi  kebaikan   dalam bentuk  mengajar -ilmu, mengajar keterampilan, berbagi sedekah, infak, berbagi pikiran dan tenaga  dengan baik
  • ketika dapat bekerja  melayani orang lain dengan profesional 
  • ketika dapat mengikuti perkembangan dan meningkatkan kemampuan profesional 
  • ketika  dapat mengevaluasi diri dan merencanakan dan melaksanakan pekerjaan profesi
  • ketika  dapat  bersosialisasi  dan berkiprah baik dengan  keluarga, tetangga, masyarakat
  • ketika  dapat  menyumbangkan sesuatu kebaikan kepada bangsa dan negara 
  • Ketika miskin  tapi sehat
  • ketika kaya  tapi sakit
Apakah masih kita mendustakan nikmat Allah dg tanpa mensyukurinya ?

 

Minggu, 01 November 2020

"Hack otak " / otak-atik 'OTAK'




"Hack Otak "-  Apa  itu   dan bagaimana ? caranya memprogram "bahasa otak" dengan merubah kalimat afirmasi dari negatif menjadi positif; dari pesimis, sulit, sial, males, pemarah, jahil, dengki, sedih, mental blok, putus asa, sulit belajar, galau, dll. menjadi bahasa yang positif, seperti saya kuat, move on, optimis, sedang belajar maju atau ujian naik kelas, semua masalah ada jalan solusinya, saya selalu bersyukur, saya senang orang lain sukses dan saya yang berikutnya sukses, dstnya.



NLP (neuro linguistic programming) sesuatu metode yang  digunakan untuk  merubah mindset otak yang negatif -yang menyebabkan " "konflik" dalam otak, menjadi positif -menghilangkan konflik/ gangguan sikap- perilaku akibat mindset otak yg salah akibat trauma fisik-psikis masalah lalu atau terus menerus berlangsung yang berhubungan dengan keluarga, masyarakat, lingkungan alam, pendidikan/sekolah; yang kemudian dihubungkan dengan masa depan, yang menimbulkan " kekuatiran hambatan (blok), ketidak berdayaan, perang atau kalah, dll." Aki batnya "pintu rizki, pintu bahagia" seperti tertutup. Berpikir positif dan berusaha berbuat baik, berdoa dengan bahasa bersyukur dapat " memperbaiki atau merubah mindset otak yang salah menjadi benar". Orang lain tidak dapat merubah seseorang jadi baik tetapi hanya orang tersebut yang bisa merubahnya (meng-hack otaknya sendiri). Tepat sekali apa yang dikatakan" musuh yang besar adalah melawan nafsu-kehendak dari dirimu sendiri". 

Melawan artinya ada konflik yg harus dihilangkan. 

Bahagia artinya tidak ada konflik antara harapan dan kenyataan yg menimbulkan rasa syukur. 

(Catatan : hikmah rizki,syukur)


Jumat, 30 Oktober 2020

NLP (Neuro-Linguistic Programming)



Neuro-linguistic programming (NLP) adalah sebuah pendekatan komunikasi, pengembangan pribadi, dan psikoterapi yang diciptakan oleh Richard Bandler dan John Grinder di California, USA pada tahun 1970-an. Penciptanya mengklaim adanya hubungan antara proses neurologi ("neuro"), bahasa ("linguistic") dan pola perilaku yang dipelajari melalui pengalaman ("programming") dan bahwa hal tersebut dapat diubah untuk mencapai tujuan tertentu dalam kehidupan. Bandler dan Grinder mengklaim bahwa ketrampilan seseorang dapat "dimodel" menggunakan metodologi NLP kemudian ketrampilan tersebut dapat dimiliki oleh siapa saja. Bandler dan Grinder juga mengklaim bahwa NLP dapat mengobati masalah seperti pobia, depresi, gangguan kebiasaan, penyakit psikosomatik, miopi, alergi, flu dan gangguan belajar, seringkali hanya dalam satu sesi terapi.  NLP telah diadopsi oleh beberapa hipnoterapis dan dalam seminar-seminar yang dipasarkan untuk bisnis dan pemerintahan.Ulasan penelitian empiris menunjukkan bahwa NLP telah gagal memproduksi hasil yang dapat diandalkan terhadap ajaran intinya. Bukti ilmiah mengungkapkan bahwa NLP didiskreditkan sebagai pseudosains. Ulasan ilmiah menunjukkan adanya beberapa kesalahan faktual, dan gagal untuk menghasilkan hasil yang ditegaskan oleh para pendukungnya. Menurut psikolog klinis Grant Devilly (2005), NLP telah mengalami penurunan dalam prevalensi sejak tahun 1970-an. Kritik telah melampaui kurangnya bukti empiris untuk efektivitas, mengatakan bahwa NLP memamerkan karakteristik pseudosains, judul, konsep dan terminologinya juga. NLP tampil sebagai contoh dari pseudosains untuk memfasilitasi pengajaran literasi sains di tingkat profesional dan universitas. NLP juga muncul pada daftar intervensi yang didiskreditkan berbasis ulasan konsensus ahli. Dalam penelitian yang dirancang untuk mengidentifikasi "faktor dukun" dalam praktik kesehatan mental modern, Norcross et al. (2006) mendaftarkan NLP sebagai kemungkinan didiskreditkan untuk pengobatan masalah perilaku. Norcross et al. (2010) mendaftarkan NLP dalam sepuluh besar intervensi yang paling didiskreditkan, Glasner-Edwards dan Rawson (2010) mendaftarkan terapi NLP sebagai "pasti didiskreditkan"

Sejarah dan konsep

Menurut Bandler dan Grinder, NLP terdiri dari metodologi yang disebut "modeling" dan serangkaian teknik yang berasal dari aplikasi awal yang dikembangkan oleh Bandler dan Grinder. Banyak di antara metode-metode yang dianggap fundamental berasal dari pemodelan oleh Bandler dan Grinder terhadap hasil karya Virginia Satir, Milton Erickson, dan Fritz Perls. Bandler dan Grinder juga menarik teori-teori dari Gregory Bateson, Alfred Korzybski dan Noam Chomsky, terutama transformasi grammar. Bandler dan Grinder mengklaim bahwa terapi "ajaib" yang dilakukan oleh Perls, Satir dan Erickson, dan pada aktivitas manusia yang kompleks, memiliki suatu struktur tertentu yang kemudian dapat dikodifikasikan menggunakan metodologi mereka untuk selanjutnya dapat dipelajari oleh orang lain. Buku mereka pada tahun 1975 berjudul The Structure of Magic I: A Book about Language and Therapy ditujukan untuk menjadi kodifikasi teknik terapi dari Perls dan Satir.

Bandler dan Grinder mengatakan bahwa mereka menggunakan proses pemodelan mereka sendiri untuk memodelkan Virginia Satir sehingga mereka dapat menghasilkan apa yang mereka sebut Meta-Model, model untuk mengumpulkan informasi dan menantang bahasa klien dan pemikiran yang mendasari. Mereka mengklaim bahwa dengan menantang distorsi linguistik, menentukan generalisasi, dan memulihkan informasi yang dihapus dalam pernyataan klien, konsep tata bahasa transformasional dari struktur permukaan menghasilkan representasi yang lebih lengkap dari struktur dalam yang mendasari dan karena itu memiliki manfaat terapeutik. Juga berasal dari Satir adalah penahan, mondar-mandir masa depan dan sistem representasi. 
Sebaliknya, Milton-Model — model dari bahasa Milton Erickson yang konon menghipnotis — digambarkan oleh Bandler dan Grinder sebagai "artfully samar-samar" dan metaforis. Milton-Model digunakan dalam kombinasi dengan Meta-Model sebagai pelembut, untuk menginduksi "trans" dan untuk menyampaikan sugesti terapeutik tidak langsung. 

Namun, dosen tambahan dalam linguistik Karen Stollznow mendeskripsikan referensi Bandler dan Grinder kepada para ahli seperti nameropping. Selain Satir, orang-orang yang mereka sebut sebagai pengaruh tidak bekerja sama dengan Bandler atau Grinder. Chomsky sendiri tidak memiliki hubungan apapun dengan NLP; karya aslinya dimaksudkan sebagai teori, bukan terapi. Stollznow menulis, "[selain meminjam terminologi, NLP tidak memiliki kemiripan otentik dengan teori atau filosofi Chomsky mana pun — linguistik, kognitif, atau politik."

Menurut André Muller Weitzenhoffer, seorang peneliti di bidang hipnosis, "kelemahan utama dari analisis linguistik Bandler dan Grinder adalah bahwa sebagian besar dibangun di atas hipotesis yang belum teruji dan didukung oleh data yang sama sekali tidak memadai." Weitzenhoffer menambahkan bahwa Bandler dan Grinder menyalahgunakan logika formal dan matematika, mendefinisikan ulang atau kesalahpahaman istilah dari linguistik leksikon (misalnya, nominalisasi), membuat façade ilmiah dengan tidak perlu memperumit konsep Ericksonian dengan klaim tidak berdasar, membuat kesalahan faktual, dan mengabaikan atau membingungkan konsep-konsep yang menjadi inti pendekatan Erickson. 

Bandler (Circa 1997), menyatakan, "NLP didasarka, pada mencari tahu apa yang berhasil dan memformalkannya. Untuk memformalkan pola, saya menggunakan segalanya mulai dari linguistik hingga holografi ... Model yang membentuk NLP semuanya adalah model formal berdasarkan matematika, prinsip-prinsip logika seperti kalkulus predikat dan persamaan matematika yang mendasari holografi. " Namun, tidak ada penyebutan matematika holografi maupun holografi secara umum di McClendon, Spitzer, atau Grinder akun dari pengembangan NLP.

Mengenai masalah pengembangan NLP, Grinder mengingat:

Ingatan saya tentang apa yang kami pikirkan pada saat penemuan (berkenaan dengan kode klasik yang kami kembangkan — yaitu, tahun 1973 hingga 1978) adalah bahwa kami cukup eksplisit untuk menggulingkan paradigma dan, misalnya, Saya, untuk satu, merasa sangat berguna untuk merencanakan kampanye ini menggunakan sebagian sebagai panduan karya luar biasa Thomas Kuhn (The Structure of Scientific Revolutions) di mana dia merinci beberapa kondisi yang secara historis diperoleh di tengah-tengah pergeseran paradigma . Misalnya, saya yakin sangat berguna bahwa tidak seorang pun dari kami yang memenuhi syarat di bidang yang pertama kami kejar — psikologi dan khususnya, aplikasi terapeutiknya; ini menjadi salah satu kondisi yang diidentifikasi Kuhn dalam studi historisnya tentang pergeseran paradigma.

Filsuf Robert Todd Carroll menjawab bahwa Grinder belum memahami teks Kuhn tentang sejarah dan filsafat sains, The Structure of Scientific Revolutions. Carroll menjawab: (a) ilmuwan individu tidak pernah atau mereka pernah mampu menciptakan perubahan paradigma secara sukarela dan Kuhn tidak menyarankan sebaliknya; (b) Teks Kuhn tidak memuat gagasan bahwa tidak memenuhi syarat dalam suatu bidang ilmu merupakan prasyarat untuk menghasilkan suatu hasil yang memerlukan pergeseran paradigma dalam bidang tersebut dan (c) Struktur Revolusi Ilmiah terutama merupakan karya sejarah dan bukan teks instruktif tentang menciptakan perubahan paradigma dan teks semacam itu tidak mungkin — penemuan luar biasa bukanlah prosedur yang dirumuskan. Carroll menjelaskan bahwa pergeseran paradigma bukanlah kegiatan yang direncanakan, melainkan merupakan hasil dari upaya ilmiah dalam paradigma (dominan) saat ini yang menghasilkan data yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara memadai dalam paradigma saat ini — karenanya terjadi pergeseran paradigma, yaitu adopsi paradigma baru.

Dalam mengembangkan NLP, Bandler dan Grinder tidak menanggapi krisis paradigmatik dalam psikologi juga tidak menghasilkan data yang menyebabkan krisis paradigmatik dalam psikologi. Tidak ada gunanya Bandler dan Grinder menyebabkan atau berpartisipasi dalam perubahan paradigma. "Apa yang dilakukan Grinder dan Bandler sehingga mustahil untuk terus melakukan psikologi ... tanpa menerima ide-ide mereka? Tidak ada," bantah Carroll.


Komponen utama dan konsep inti




NLP dapat dipahami dalam tiga komponen besar dan konsep utama yang berkaitan dengan:

  1. Subyektivitas. Menurut Bandler dan Grinder
    • :Kami mengalami dunia secara subyektif sehingga kami menciptakan representasi subjektif dari pengalaman kami. Representasi subjektif dari pengalaman ini dibentuk dari panca indera dan bahasa. Artinya, pengalaman sadar subyektif kita adalah dalam pengertian tradisional penglihatan, audisi, taktik, penciuman, dan nafsu sehingga ketika kita — misalnya — melatih suatu aktivitas "di kepala kita", mengingat suatu peristiwa, atau mengantisipasi masa depan kita. akan "melihat" gambar, "mendengar" suara, "merasakan" rasa, "merasakan" sensasi sentuhan, "mencium" bau, dan berpikir dalam beberapa bahasa (alami).  Lebih jauh lagi, diklaim bahwa representasi subjektif dari pengalaman memiliki struktur yang dapat dilihat, sebuah pola. Dalam pengertian inilah NLP kadang-kadang didefinisikan sebagai studi tentang struktur pengalaman subjektif.
    • Perilaku dapat dijelaskan dan dipahami dalam kerangka representasi subjektif berbasis-indra ini. Perilaku secara luas dipahami untuk memasukkan komunikasi verbal dan non-verbal, perilaku tidak kompeten, maladaptif atau "patologis" serta perilaku yang efektif atau terampil.
    • Perilaku (dalam diri sendiri dan orang lain) dapat dimodifikasi dengan memanipulasi representasi subjektif berbasis indra ini.
  2. Kesadaran. NLP didasarkan pada gagasan bahwa kesadaran bercabang menjadi komponen sadar dan komponen bawah sadar. Representasi subjektif yang terjadi di luar kesadaran individu terdiri dari apa yang disebut sebagai "pikiran bawah sadar". 
  3. Belajar. NLP menggunakan metode pembelajaran tiruan — disebut pemodelan — yang diklaim mampu mengkodifikasi dan mereproduksi keahlian seorang contoh dalam domain aktivitas apa pun. Bagian penting dari proses kodifikasi adalah deskripsi urutan representasi sensorik / linguistik dari pengalaman subjektif dari eksemplar selama pelaksanaan keahlian.

Teknik


Sebuah "bagan isyarat mengakses mata" seperti yang muncul sebagai contoh dalam Bandler & Grinder's Frogs into Princes (1979). Enam arah mewakili "konstruksi visual", "ingatan visual", "konstruksi pendengaran", "ingatan auditori", "kinestetik" dan "dialog internal pendengaran".

Menurut sebuah studi dari Steinbach, interaksi klasik dalam NLP dapat dipahami dalam beberapa tahap utama termasuk membangun hubungan, mengumpulkan informasi tentang keadaan masalah mental dan tujuan yang diinginkan, dengan menggunakan alat dan teknik khusus untuk melakukan intervensi, dan mengintegrasikan perubahan yang diusulkan dalam kehidupan klien. Seluruh proses dipandu oleh respon non-verbal klien.Yang pertama adalah tindakan membangun dan mempertahankan hubungan antara praktisi dan klien yang dicapai melalui pacing-leading perilaku verbal (misalnya predikat sensorik dan kata kunci) dan perilaku non-verbal (misalnya matching-mirroring perilaku non-verbal, atau menanggapi gerakan mata) dari klien.

Setelah hubungan terbentuk, praktisi mulai mengumpulkan informasi (misalnya dengan menggunakan pertanyaan Meta-Model) tentang keadaan klien saat ini serta membantu klien menentukan keadaan atau tujuan yang diinginkan untuk interaksi. Praktisi memberi perhatian khusus pada respon verbal dan non-verbal ketika klien mendefinisikan keadaan sekarang dan keadaan yang diinginkan dan setiap "sumber daya" yang mungkin diperlukan untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Klien biasanya didorong untuk mempertimbangkan konsekuensi hasil yang diinginkan, dan bagaimana mereka dapat mempengaruhi kehidupan dan hubungan pribadi atau profesional nya, dengan mempertimbangkan niat positif dari setiap masalah yang mungkin timbul (misal:memeriksa ekologi). Keempat, praktisi membantu klien dalam mencapai hasil yang diinginkan dengan menggunakan alat dan teknik tertentu untuk mengubah representasi internal dan tanggapan terhadap rangsangan di dunia. Akhirnya, perubahan di future-pacing dengan membantu klien untuk berlatih secara mental dan mengintegrasikan perubahan kedalam kehidupannya. Sebagai contoh, klien mungkin diminta untuk "melangkah ke masa depan" dan mewakili (secara mental melihat, mendengar dan merasakan) bagaimana rasanya ketika telah mencapai hasilnya.

Menurut Stollznow (2010), "NLP juga melibatkan analisis fringe discourse dan pedoman praktis untuk meningkatkan komunikasi. Misalnya, satu teks menegaskan ketika Anda mengadopsi kata "tapi", orang akan mengingat apa yang Anda katakan sesudahnya. Dengan menggunakan kata "dan", orang-orang mengingat apa yang Anda katakan sebelum dan sesudahnya.


Komersialisasi dan Evaluasi

Pada akhir 1970-an, gerakan potensi manusia telah berkembang menjadi industri dan menyediakan pasar untuk beberapa ide NLP. Di pusat pertumbuhan ini adalah Institut Esalen di Big Sur, California. Perls telah memimpin banyak seminar terapi Gestalt di Esalen. Satir adalah pemimpin awal dan Bateson adalah guru tamu. Bandler dan Grinder mengklaim bahwa selain sebagai metode terapeutik, NLP juga merupakan studi komunikasi dan mulai memasarkannya sebagai alat bisnis, mengklaim bahwa, "jika ada manusia yang dapat melakukan sesuatu, Anda juga bisa." Setelah 150 siswa membayar $ 1.000 masing-masing untuk lokakarya sepuluh hari di Santa Cruz, California, Bandler dan Grinder berhenti menulis akademis dan menghasilkan buku-buku populer dari transkrip seminar, seperti Frogs into Princes, yang terjual lebih dari 270.000 eksemplar. Menurut dokumen pengadilan yang berkaitan dengan sengketa kekayaan intelektual antara Bandler dan Grinder, Bandler menghasilkan lebih dari $ 800.000 pada tahun 1980 dari bengkel dan penjualan buku.

Sebuah komunitas psikoterapis dan siswa mulai terbentuk di sekitar karya awal Bandler dan Grinder, yang mengarah pada pertumbuhan dan penyebaran NLP sebagai teori dan praktik. Misalnya, Tony Robbins berlatih dengan Grinder dan memanfaatkan beberapa ide dari NLP sebagai bagian dari program self-help dan motivational speaking miliknya.  Bandler memimpin beberapa upaya yang gagal untuk mengecualikan pihak lain dari menggunakan NLP.  Sementara itu, meningkatnya jumlah praktisi dan ahli teori menyebabkan NLP menjadi lebih tidak seragam daripada saat didirikan. [18] Sebelum penurunan NLP, peneliti ilmiah mulai menguji dasar-dasar teoritisnya secara empiris, dengan penelitian menunjukkan kurangnya dukungan empiris untuk teori-teori penting NLP. Tahun 1990-an ditandai dengan lebih sedikit studi ilmiah yang mengevaluasi metode NLP dibandingkan dekade sebelumnya. Tomasz Witkowski mengaitkan hal ini dengan minat yang menurun dalam debat sebagai akibat dari kurangnya dukungan empiris untuk NLP dari para pendukungnya.

sumber:NLP

Kamis, 29 Oktober 2020

Maulid Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammmad SAW adalah seorang yang diutus Allah SWT menjadi Rasulullah setelah menerima Wahyu wahyu-Nya melalui malaikat Jibril dan kumpulan wahyu tersebut dikompilasi menjadi kitab suci yang disebut Al Quran. Orang orang yang mengikuti ajaran rasulullah dan menganutnya disebut sebagai orang islam atau muslim. 

Penganut agama islam meyakini dan mengimani Allah dan Rasul-Nya sebagai rukun islam dan rukun iman. Penganut agama menjadikan agama sebagai petunjuk atau alat untuk mencapai kehidupan yang damai dan bahagia, selamat-sejahtera. Sebagai Ideologi adalah kehidupan ideal yang tertinggi dan yang memuaskan lahir dan bathin. Begitulah kehidupan yang ideal bagi seorang yang mengaku beriman atau berislam; pun penganut agama lain.

Idea atau ajaran agama ditulis dalam kitab suci  agama, seperti agama nabi  Daud - Zabur, agama nabi Musa -Taurat, nabi Isa - Injil dan nabi Muhammad - Al Qur'an. Bagaimana  ajaran agama tersebut menjadi peradaban atau dipraktekkan secara luas ?. Masing  masing  agama  mempunyai metode yang berbeda-beda  sesuai dengan jamannya;dimana kitab suci tersebut dicatat atau diajarkan. Dasarnya  semua agama mengajarkan kebaikan untuk hidup -baik diri sendiri dan bermasyarakat. Contoh -contoh ajaran kebaikan diberikan melalui nabi yang membawa ajaran Tuhan; contoh praktek dalam kehidupan sehari hari sebagai seorang nabi dan keluarganya serta dalam kehidupan nabi bermasyarakat. Kisah kisah  para  nabi dan kaumnya pun menjadi contoh  contoh yang diajarkan dalam kitab suci.

Kelahiran Nabi  Muhammad SAW, menjadi momentum sejarah –lahirnya agama  islam di tanah arab. Secara sejarah kelahiran tersebut menjadi peristiwa  besar dalam masa 1500 tahun yang  lalu, yang menimbulkan perubahan peradaban zaman sebelum kelahiran dan sesudahnya di  jazirah arab secara khusus  dan kemudian peradaban dunia secara luas.

Misi nabi  Muhammad SAW diutus adalah hanya untuk memperbaiki akhlak manusia – masyarakat arab khususnya  kemudian umat manusia secara luas. Penekanan misi - memperbaiki akhlak manusia adalah suatu yang sangat mendasar atau sangat prinsip, bahwa memperbaiki adalah suatu proses dari yang rusak, buruk, negatif menjadi baik – positif. Suatu proses beragama yang  dinamis –intens, konsisten, istikoma, bersinambungan-kontinyu  sehingga  menjadi perilaku-perbuatan yang baik atau disebut akhlakul karimah.  Kehidupan ideal yang diajarkan sebagai muslim adalah nilai nilai  dari akhlakul karimah yang  dicontohkan nabi Muhammad, rasulullah SAW. Nilai  nilai universal kenabian dari Nabi Muhammad,  yang tetap hidup sampai akhir jaman dan juga  melalui tuntunan kitab suci Al  Quranul karim  yang dipahami muslim setelah beliau wafat – sampai masa sekarang. 

Bagaimana kehidupan umat Nabi Muhammad di masa  sekarang ini ?   Apakah menjadi umatan  rahmatan lil alamin  ?.  Apakah sudah tercapai kehidupan manusia yang ideal seperti yang di ajarkan para rosulullah ?

Tentu kita  tidak dapat menjawab secara meyakinkan atau benar. Tidak ada agama pun yang bisa menjawab : “sudah mencapai yang ideal”.  Kalau dikatakan agama itu sebagai  rambu rambu jalan, maka kita bisa mengatakan dengan yakin ”sudah mencapainya atau sesuai rambu “.

Praktek  agama, perspektif agama , tafsir agama, fatwa agama adalah  produk beragama yang  sangat  dipengaruhi oleh tempat dan kebudayaaan, perkembangan ilmu pengetahuan(sains) dan tehnologi manusia(bersifat universal/sunnatullah). Oleh karena itu wajah beragama atau cermin kehidupan beragama sangat dipengaruhi oleh persepsi orang secara individu atau kelompok. Inilah yang menimbulkan “bias beragama” antara   nilai ideal agama(misi agama)  dengan  perilaku (akhlak) real beragama yang tidak sama atau “tidak pas”.  Persepsi  kelompok yang menopoli “kebenaran” dan menafikan kelompok lain dalam satu agama, bahkan memaksakan “kebenaran tersebut” kepada kelompok lain diluar agamanya. Jadilah wajah perilaku beragama yang “seram” sebagai wajah agama atau ajaran agama yang buruk atau negative atau seolah olah itulah ujud asli ajaran agama. Sejarah agama agama mencatat – perilaku perilaku  buruk pemegang “kebenaran tuhan” atas agama. Sejarah kelam-hitam  kemanusian terjadi dibelahan dunia oleh pelaku pelaku atas nama agama ; pelaku sebagai pemegang kebenaran tuhan di dunia dan membunuh  atas nama tuhan serta korban dianggap musuh tuhan atau pendosa agama.

Masa sekarang, “memperbaiki perilaku/akhlak” seperti misi nabi Muhammad SAW diutus Allah SWT. Yang sangat relevan sekali adalah memperbaiki  perilaku membuat “berita bohong, fitnah  atas nama kebenaran atau merebut pengaruh politik(kekuasaan). Seolah hadist nabi mengingatkan (1500 tahun yang lalu) pada jaman ini lebih banyak orang  bekerja berbasis informasi-digital(internet) dengan mudah menyebarkan dengan jari jarinya  berbuat negatif via media social(medsos).  Dengan mudah seorang ilmuwan, ustadz, ulama, pakar agama melalui  podcast(youtube), instagram, facebook, whatsapp, telegram, tik tok , dan aplikasi lainnya  menyebarkan sesuatu yang negative tanpa dapat disaring  bahwa yang disharenya adalah kebohongan atau dapat berdampak negative kepada yang menerima atau membacanya; walaupun juga dapat  berdampak positif sebagai sesuatu  pengetahuan yang  baik atau yang inspiratif.

Maulid  Nabi  Muhammad SAW adalah momen intropeksi diri dan refleksi diri  atas segala  ajaran – nilai nilai  ke-islaman yang patut  tetap  kita  tauladani dari  akhlakul karimah nabi -  dalam kehidupan kita saat ini.  Nilai nilai sederhana yang selalu harus kita tauladani adalah  berbuat kebaikan kepada semua manusia tanpa melihat latar belakangnya; perilaku lembut dalam berbicara, senyum, sopan –santun , rendah hati, pemaaf, pemurah, jujur, sabar (dstnya.)  terhadap semua orang termasuk kepada hewan, tumbuhan dan lingkungan alam. Ini adalah  nilai nilai  islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam ; sebagai  perspektif kehidupan islam.

Marilah kita selalu tauladani kehidupan nabi dan rosulullah Muhammad SAW dalam kehidupan kita sekarang dengan perspektif kehidupan saat ini dengan menerapkan  nilai nilai kenabian  yang merupakan nilai nilai al Quran dalam praktek yang praksis.

 

Kata Kunci:

Wajah beragama adalah wujud persepsi seorang penganut beragama. Ajaran agama adalah ajaran ideal perspektif kehidupan.  Perspektif agama  adalah kebaikan bagi atau untuk penganutnya. Perspektif islam adalah kehidupan rahmatan lil alamin – baldatun thoyyibatun wa rabbun  ghofur





Kamis, 22 Oktober 2020

INFEKSI VIRUS CORONA 19(COVID19)

Masa inkubasi

(Pembaruan terbaru 30 Juni 2020)
Perkiraan saat ini menunjukkan periode inkubasi rata-rata dari lima hingga enam hari untuk COVID-19, dengan rentang dari dua hingga 14 hari. Studi pemodelan menunjukkan bahwa masa inkubasi bisa dari 2,3 hari (95% CI, 0,8-3,0 hari) sebelum onset gejala dan hingga 14 hari.

Patologi dan patogenesis

(Pembaruan terbaru 20 Juni 2020)
Temuan histologis dari paru-paru termasuk kerusakan alveolar difus yang mirip dengan cedera paru-paru yang disebabkan oleh virus pernapasan lain, seperti MERS-CoV dan virus influenza. Ciri khas infeksi SARS-CoV-2 adalah kerusakan vaskular, dengan cedera endotel yang parah, trombosis yang meluas, mikroangiopati dan angiogenesis.

Penumpahan  virus(viral shedding)

(Pembaruan terbaru 10 Agustus 2020)
Penumpahan virus RNA lebih tinggi pada saat onset gejala dan menurun setelah beberapa hari atau minggu. Selama infeksi, RNA virus telah diidentifikasi dalam spesimen saluran pernapasan 1-2 hari sebelum timbulnya gejala dan dapat bertahan hingga delapan hari pada kasus ringan, dan untuk periode yang lebih lama pada kasus yang lebih ringan. kasus yang parah, memuncak pada minggu kedua setelah infeksi. Penumpahan RNA virus yang berkepanjangan telah dilaporkan dari usap nasofaring (hingga 67 hari di antara pasien dewasa) dan dalam tinja (lebih dari satu bulan setelah infeksi pada pasien anak). Virus menular telah terdeteksi hingga hari kedelapan setelah onset penyakit .

Late viral RNA clearance  (≥15 hari setelah onset penyakit), dikaitkan dengan jenis kelamin laki-laki, usia tua, hipertensi, keterlambatan masuk ke rumah sakit, penyakit parah saat masuk, ventilasi mekanis invasif, dan pengobatan kortikosteroid.

Deteksi RNA virus oleh PCR tidak sama dengan infektifitas, kecuali partikel virus infeksius telah dikonfirmasi melalui isolasi virus dan dikultur dari sampel tertentu. Namun, viral load dapat menjadi penanda yang berpotensi berguna untuk menilai tingkat keparahan penyakit dan prognosis: sebuah penelitian menunjukkan bahwa viral load pada kasus yang parah hingga 60 kali lebih tinggi dibandingkan pada kasus ringan. RNA subgenomik virus (sgRNA) memberikan bukti perantara replikatif SARS-CoV-2 dan telah terbukti berkorelasi cukup baik dengan virus menular dalam kultur. Dalam sebuah studi dari Hong Kong yang mencakup kasus COVID-19 yang didominasi ringan, deteksi sgRNA positif hingga delapan hari setelah onset gejala. Sebaliknya, RNA virus dapat dideteksi setelah berminggu-minggu dengan RT-PCR.

Dalam hal profil viral load, SARS-CoV-2 mirip dengan influenza, yang memuncak pada sekitar waktu timbulnya gejala, tetapi berbeda dengan SARS-CoV, yang memuncak pada sekitar 10 hari setelah gejala. onset gejala, dan MERS-CoV yang memuncak pada minggu kedua setelah onset gejala. Usia yang lebih tua juga dikaitkan dengan viral load yang lebih tinggi. Viral load yang tinggi mendekati onset gejala menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 dapat dengan mudah ditularkan pada tahap awal infeksi.

Viral RNA telah terdeteksi di feses, darah utuh , serum, saliva, spesimen nasofaring, urin; cairan mata, ASI dan dalam sampel plasenta atau membran janin. Sebuah korelasi telah disarankan antara isolasi virus yang layak dan viral load awal (yaitu batas siklus [Ct]).

Sejauh ini belum ada laporan penularan COVID-19 melalui zat asal manusia / substances of human origin (SoHO). Bukti lebih lanjut diperlukan untuk menilai pentingnya temuan terbaru dari RNA virus dalam cairan mani  dan ASI  untuk keamanan donasi mereka, karena infektivitas RNA yang terdeteksi dalam ASI dan cairan mani belum terbukti. Tiga organisasi di bidang kedokteran reproduksi bersama-sama mengeluarkan pernyataan tentang dimulainya kembali perawatan kesuburan yang telah dihentikan pada bulan Maret . Rekomendasi dalam pembaruan pertama dokumen teknis ECDC tentang keamanan pasokan SoHO di UE / EEA tetap valid.

Koinfeksi dan infeksi sekunder

(Pembaruan terbaru 30 Juni 2020)
Adanya patogen non-SARS-CoV-2 mungkin tidak memberikan kepastian bahwa pasien juga tidak menderita SARS-CoV-2. Di antara 116 usapan nasofaring pasien COVID-19 yang bergejala di California Utara, 20,7% positif untuk satu atau lebih patogen tambahan. Koinfeksi yang paling umum adalah rhinovirus / enterovirus (6,9%), virus pernapasan syncytial (5,2%), dan coronavirus musiman (4,3%). Pada 62 (8%) dari 806 pasien yang diidentifikasi dalam laporan yang diterbitkan, koinfeksi bakteri atau jamur dilaporkan selama masuk.

Karakteristik Klinis COVID-19(Up date)

Karakteristik klinis COVID-19

Informasi epidemiologis terperinci tentang kasus yang dikonfirmasi laboratorium yang dilaporkan ke Sistem Pengawasan Eropa (TESSy) diterbitkan dalam laporan pengawasan mingguan COVID-19 ECDC.

Angka-angka yang disajikan, menurut negara dan untuk UE / EEA dan Inggris Raya secara keseluruhan, mencakup aspek-aspek termasuk: distribusi gejala berdasarkan usia; risiko khusus usia dan jenis kelamin untuk rawat inap, rawat inap parah, dan kematian; negara dan distribusi usia tertentu dari penundaan waktu perkembangan penyakit, seperti durasi dari onset gejala sampai hasil; dan proporsi kasus dengan kondisi kesehatan dasar yang dilaporkan. Data dari TESSy tidak tersedia pada bagian di bawah ini karena informasi terbaru tersedia secara online.

Gejala dan tanda (Update terbaru 15 Juli 2020)

Sebuah studi observasi terhadap 1..420 pasien dengan penyakit ringan atau sedang menunjukkan bahwa gejala yang paling umum adalah sakit kepala (70,3%), kehilangan penciuman (70,2%), hidung tersumbat (67,8%), batuk (63,2%), astenia (63,3%) ), mialgia (62,5%), rinorea (60,1%), disfungsi gustatori (54,2%) dan sakit tenggorokan (52,9%). Demam dilaporkan sebanyak 45,4%. International Severe Acute Respiratory and Emerging Infections Consortium (ISARIC) melaporkan 25.849 kasus COVID-19 yang dirawat di rumah sakit di seluruh spektrum klinis yang luas. Lima gejala yang paling umum saat masuk rumah sakit adalah riwayat demam, sesak napas, batuk, kelelahan / malaise, dan kebingungan (N = 25.849). Analisis data dari 4.203 pasien yang sebagian besar dari China mengidentifikasi demam, batuk dan sesak (masing-masing 80,5%, 58,3% dan 23,8%) sebagai gejala klinis yang paling umum, dan hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan diabetes (16,4%, 12,1% dan 9,8%, masing-masing) sebagai komorbiditas yang paling umum. Sebuah penelitian terhadap 20133 pasien rawat inap dari rumah sakit perawatan akut di Inggris, Wales dan Skotlandia mengidentifikasi pengelompokan gejala dengan tiga kelompok umum: satu kelompok gejala pernapasan dengan batuk, dahak, sesak napas, dan demam; sekelompok gejala muskuloskeletal dengan mialgia, nyeri sendi, sakit kepala, dan kelelahan; sekelompok gejala enterik dengan sakit perut, muntah, dan diare. Dua puluh sembilan persen (5 384/18 605) pasien datang dengan gejala gastrointestinal saat masuk, sebagian besar berkaitan dengan gejala pernapasan, sementara 4% pasien hanya menunjukkan gejala gastrointestinal. Disfungsi penciuman dan penciuman telah diidentifikasi sebagai gejala umum dengan prevalensi gabungan 52,73% di 10 penelitian dengan ukuran sampel total 1.627 pasien dari Amerika Utara, Eropa dan Asia. Demikian pula, sensasi rasa yang berubah ditemukan di antara 49,8% pasien COVID-19 dalam analisis yang dikumpulkan dari lima penelitian dengan 817 pasien .

Gejala yang paling sering dilaporkan pada anak-anak adalah demam dan batuk. Gejala lain termasuk gejala gastrointestinal, sakit tenggorokan / faringitis, sesak napas, mialgia, hidung tersumbat / hidung tersumbat dan sakit kepala dengan prevalensi yang bervariasi di antara penelitian yang berbeda. Penelitian secara kohort dari 582 kasus pediatrik infeksi SARS-CoV-2 dari 21 negara Eropa, tanda dan gejala yang muncul di institusi layanan kesehatan termasuk demam (65%), infeksi saluran pernapasan atas (54%), sakit kepala (28%) ), infeksi saluran pernapasan bagian bawah (25%) dan gejala gastrointestinal (22%). Sejalan dengan itu, penelitian dari Italia, Jerman, Inggris dan Turki menggambarkan gejala yang sama dan melaporkan demam dan batuk sebagai yang paling umum diamati. Pasien anak-anak juga telah dilaporkan dengan keterlibatan kardiovaskular, yaitu miokarditis, serta disfungsi ginjal.